Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
DELUSI


__ADS_3

Senja berwarna jingga terukir indah di atas langit Khatulistiwa. Tergantung indah memanjakan mata, burung-burung telah kembali ke sarangnya karena waktu akan berubah, langit akan menghitam oleh pekatnya malam.


Aku berjalan menuju rumah Haruka. Tidak jauh dari rumah, hanya terhalang beberapa rumah saja untuk sampai di rumahnya. Ia wanita cantik keturunan Indonesia-Jepang, matanya sipit mirip Papanya.


Kami menjalin cinta cukup lama, hingga aku memutuskan untuk menikahinya bulan depan. Tidak sabar rasanya untuk berlabu di pelaminan. Membayangkan dirinya memakai baju pengantin adatku. Jawa. Karena kami telah bersepakat untuk memakai adat tersebut.


Segala persiapan telah disusun dengan matang. Bahkan, sewa gedung, baju pengantin, catering dan lainnya telah kami pesan. Hingga tak terasa, waktu semakin mendekati ke hari pernikahan kami.


.


Haruka meminta izin padaku untuk menjemput Papanya di bandara. Papanya akan datang ke Indonesia karena hari pernikahan kami tinggal menghitung hari. Siang ini aku masih bekerja, tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja bergetar, ternyata ada notifikasi pesan singkat.


“Haruka?”


Aku menggeser layar ponsel yang berada dalam genggaman dan segera membaca pesan darinya.


[Sayang, aku izin jemput Papa di bandara, ya?] isi pesan dari Haruka.


[Loh ... Kamu 'kan lagi dipingit, Sayang. Kok ke luar rumah? Memangnya boleh?] balasku.


Dari adat kami, biasanya kalau akan menikah dalam beberapa hari ada acara adat namanya pingit, yang berarti si mempelai wanita tidak diperkenankan bertemu dengan calon pengantin pria, sekaligus meminimalisir akses keluar rumah.


[Cuma bentar, Sayang. Ke bandaranya juga sama Ibu ‘kok!]


[Ya sudah, hati-hati, ya?]


Kami berbalas pesan karena masih ada dalam acara adat yang mengharuskan kami untuk tidak bertemu beberapa hari sebelum hari pernikahan. Entah, apa maksudnya.


Hingga tak terasa, jam kantor telah usai. Aku pun bersiap untuk pulang, mengistirahatkan badan yang mulai terasa lunglai karena seharian bekerja di kantor. Aku segera memakai jas yang tergantung di belakang kursi kerja, lalu meraih tas yang berisi laptop dan beberapa laporan kantor untuk disalin di rumah. Aku meraih ponsel dan kunci mobil yang tergelak di atas meja kerja.


Tap ... Tap ... Tap ....


Aku melangkah keluar dari ruang kerja menuju tempat parkir. Di sana sudah hampir kosong kendaraan karena jam kantor sudah setengah jam yang lalu telah berakhir. Ponsel pun beberapa kali bergetar, semuanya pesan dari Mama yang menyuruhku cepat pulang.


Aku pun bergegas memacu mobil dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya mobil telah terparkir di pekarangan rumah.


Ceklek!


Pintu mobil terbuka dan aku turun dari dalam mobil. Terlihat Mama berlari ke arahku dengan wajah yang panik.


“Arsen, Ibunya Haruka ---“ katanya terpotong.


“Kenapa dengan Ibunya Haruka, Mam?”


“Ibunya Haruka meninggal,” ujar Mama.


“Apa?”


“Mobil Haruka mengalami kecelakaan dan Ibunya meninggal dunia, sementara Haruka dirawat di rumah sakit,” terang Mama.


Aku segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Haruka. Dalam hati, sudah masa bodo dengan prosesi pingitan kami. Aku kembali memacu mobil ke rumah sakit. Sementara jasad Ibunya Haruka diurus oleh keluarga kami karena mereka tidak mempunyai saudara di sini.


Mama juga menceritakan bahwa sebelum kecelakaan itu terjadi, Haruka berbalas pesan dengannya. Haruka mengabarkan bahwa Papanya telah meninggal dunia di sana, dan si pengirim pesan yang mengatas namakan Papanya merupakan Pamannya dari Jepang. Ia yang akan mewakili untuk menyaksikan pernikahan kami, tapi penerbangan dibatalkan hari itu, entah karena apa. Dari situlah, Haruka sepertinya syok mendengar kabar Papanya meninggal. Hingga ia tidak dapat berkonsentrasi ketika membawa mobil, lalu terjadilah kecelakaan. Itu hanya kesimpulan dari Mama, kami juga tidak mengetahui hal yang sebenarnya, karena yang bersangkutan kini terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.


Aku langsung ke ruang IGD setelah menanyakan ke bagian resepsionis rumah sakit itu.


“Sial! Pintu masih tertutup rapat,” keluhku.


Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu di kursi stenlis tepat di samping pintu ruang IGD, walau berkali-kali juga tubuh ini bangkit untuk melihat keadaan Haruka dari celah kaca kecil.

__ADS_1


Menunggu terasa lama. Terlebih menunggu kabar dari orang yang tengah terkujur lemah tak sadarkan diri.


Ceklek!


Akhirnya pintu ruang IGD itu terbuka. Aku menghampirinya.


“Gimana keadaan pasien, Dok?”


“Pasien masih kritis. Ia belum sadarkan diri,” terang dokter.


“Bolehkan saya menemuinya, Dok?”


“Boleh, tapi nanti setelah pasien dipindah ke ruang rawat, ya?”


“Baiklah, terima kasih, Dok!”


Dokter itu tersenyum lalu pergi, menghilang dari pandangan. Sementara aku masih menunggu Haruka untuk dipindahkan ke ruang inap.


Tak berselang lama, tubuh Haruka dibawa ke ruang rawat inap dengan menggunakan brankar. Aku mengikutinya.


Hati merasa resah memikirkan bagaimana keadaan Haruka nanti, ketika ia mendengar bahwa Ibunya telah meninggal dunia.


***


Akhirnya, di hari ke dua Haruka telah sadar dari komanya. Aku senang sekaligus terharu biru melihat sepasang netra sejuk itu kini memandangku. Walau hati merasa takut seumpama ia bertanya tentang Ibunya. Aku harus jawab apa?


“Kamu udah sadar, Sayang?” tanyaku lembut.


“Ibu. Bagaimana keadaan Ibu, Ars?” tanya padaku.


Akhirnya terjadi juga apa yang aku takutkan. Ia menanyakan perihal Ibunya padaku.


Hening.


Aku tertunduk. Mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


“ARSEN!”


Sepertinya Haruka kesal karena aku terlalu lama menjawab pertanyaannya.


“Ibumu ... Ibumu telah meninggal, Sayang,” jawabku dengan lemas.


“Apa?”


Mata teduh itu kini tenggelam oleh genangan air yang akan menetes. Benar saja, selang beberapa detik air bening itu menetes di pipi putihnya.


“Antar aku ke pusara Ibu, Ars!” pintanya.


“Tapi kamu masih ada dalam perawatan dokter, Sayang!”


Aku mencoba mengingatkan.


“Aku enggak peduli! Pliss, antar aku ke pusara Ibu. Kalau kamu tidak mau, aku bisa jalan sendiri!” ancamnya.


“Baik, baik! Tunggu sebentar, aku akan mengurus administrasimu dulu,” ujarku yang langsung mengurus administrasinya.


*


Kami berdua menaiki mobil, melesat ke pemakan umum. Aku mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Haruka, untuk sampai ke pusara Ibunya.

__ADS_1


Ia menjatuhkan badan di depan pusara Mamanya dan meraung, menangis pilu. Hati terasa tersayat mendengar tangisan Haruka.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Haruka kini berubah menjadi sosok yang murung. Tidak seperti dulu, sosoknya begitu periang di mataku.


**


Aku mendatangi rumahnya. Terlihat, Haruka sedang duduk di ruang keluarga. Di mana dulu, ruang keluarga ini yang memberikan ia kenyamanan dan kehangatan, karena ia bisa bermanja dengan Mamanya atau Papanya ketika datang dari Jepang. Maklum, dia anak satu-satunya.


“Sayang, makan dulu, yuk!”


Haruka menggeleng.


“Kenapa? Nanti kamu sakit, Sayang. Aku gak mau kamu sakit. Makan, ya?”


Haruka masih menggeleng.


Hening.


“Ars ....” panggilnya lembut menyebut namaku.


Aku mendongak melihat wajahnya yang mulai kurus.


“Sebentar lagi Papa pulang. Biasanya, kami menghabiskan waktu di sini.”


Jleb!


Aku hanya terdiam. Sedih mendengar kata itu dari bibirnya. Padahal, dia sendiri yang bilang sama Mama kalau Papanya telah meninggal tiga hari yang lalu sebelum dirinya berangkat ke bandara.


“Aku mau makan kalau Papa yang nyuapi,” sambung Haruka.


Aku terdiam. Tanpa terasa, air mata jatuh di pipi.


Saat-saat itu kembali terulang. Haruka terus menunggu Papanya untuk pulang hingga aku emosi dan meluapkan segalanya.


“Har, Papamu sudah meninggal! Kamu harus bangkit dari keterpurukan! itu semua hanya delusi!"


Haruka tersenyum, “Papa belum meninggal, Ars! Dia udah janji mau ke sini. Makanya aku menunggunya.”


Ah, sudahlah. Mungkin suatu saat nanti ia akan menyadarinya.


.


Keesokan hari, aku pun mendatangi rumahnya. Haruka masih duduk di ruang keluarga ia terlihat sedang asyik mengobrol entah dengan siapa. Aku mendekatinya, ternyata tidak ada orang di dekatnya. Terdengar juga tertawa ceria dari bibir Haruka yang membuatku sedih.


“Hai, Ars! Sini gabung sama kami. Ini Papaku. Sesuai dengan janjinya, Papa datang ‘kan?” ucapnya seolah ia tengah menggandeng tangan seseorang.


Aku semakin tersiksa melihat Haruka berlaku seperti ini. Wajah yang dulu cantik terawat, kini semakin kurus dengan mata cekung yang menghiasi wajahnya. Tawa itu telah kembali, tapi terdengar menyiksa batinku. Bagaimana tidak? Ia tertawa di bawah alam sadarnya. Ia merasa, bahwa Papanya masih hidup.


Haruka masih bercengkerama dengan angin. Karena tidak ada Papa di sampingnya. Tawa itu semakin kencang terdengar di telinga. Sesungguhnya, aku menyembunyikan hal ini dari Mama. Tapi, keadaannya malah semakin parah. Aku takut dia menjadi gila, dengan cepat aku meminta Mama untuk menyaksikan sikap Haruka. Berharap, beliau mau membantuku untuk membawa Haruka ke rumah sakit. Masa bodo dengan pernikahan yang kini tinggal sehari. Karena yang ada dalam pikiranku hanya kesembuhan untuk Haruka. Kekasihku.


Aku berlari ke rumah dan menggeret lengan Mama dengan paksa. Walau saat itu Mama sedang memasak, aku tidak peduli. Mama hanya mematikan kompor pada waktu itu dan mengikuti keinginanku.


“Coba Mama liat! Haruka sedang tertawa, padahal di sana tidak ada Papanya ‘kan, Ma? Coba bantu Arsen untuk memberi tahu Haruka kalau Papanya telah tiada, Ma!” ucapku menggebu.


Mama menatapku dengan tatapan melas. Sepertinya tatapan kasihan yang terpancar dalam sorot netra senjanya.


“Ars, Sayang. Ikhlaskan Haruka, ya? Biarkan ia tenang di sisinya.” Mama meneteskan air mata lalu memelukku erat.


.END.

__ADS_1


__ADS_2