Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Hijrah (Kado Terindah Dari Allah)


__ADS_3

Siang ini kuterbangun oleh bunyi ponsel yang berdering. Aku membuka mata, waktu menunjukkan pukul dua belas siang.


“Assalamualaikum,?” jawabku dalam telepon.


“Waalaikum salam. Bee, jemput aku, ya? Hari ini aku sif siang,” jawab Nirani dari dalam ponsel.


“Oke! Tapi aku mandi dulu, ya?”


“Iya, masih ada waktu satu jam lagi kok, santai aja,” jawabnya lalu mematikan telepon.


Aku meletakkan ponsel di atas nakas setelah sambungan terputus. Bergegas mandi, lalu salat dan melesat ke rumah Nirani.


Terlihat Nirani sudah menungguku di kursi teras rumah. Dia terlihat cantik dengan polesan make up natural. Hanya saja ada yang mengganjal di hati, pakaian kerja Nirani yang terlalu seksi.


“Hai Bee!” sapa Nirani ketika aku mematikan mesin motor.


Aku tersenyum, “Assalamualaikum, Honey?”


Pipi Nirani memerah, “Waalaikum salam, Bee,” jawabnya dengan telapak tangan yang menutup wajah cantiknya.


“Sudah siap?” tanyaku pada Nirani.


Nirani mengangguk.


“Eh, ada Nak Naveen?” sapa Ibu paruh baya dari dalam rumah sederhana.


“Iya, Bu!” jawabku sambil mencium lengannya. “Kami berangkat ya, Bu?” pamitku.


“Iya, hati-hati!”


Nirani naik ke jok belakang dan kami melesat ke tempat kerjanya. Nirani merupakan wanita yang baik dan sopan. Hanya saja pekerjaannyanya yang menuntut untuk berpakaian seksi. Ia bekerja sebagai SPG disalah satu perusahaan motor.


Sering sekali aku cemburu, ketika Nirani sedang bekerja. Bagaimana tidak? Dia sering digoda bahkan dirayu oleh customernya.


Setelah mengantar Nirani, aku kembali pulang. Kebetulan, malam ini aku libur bekerja jadi aku berniat untuk menjemput Nirani pulang kerja malam nanti.


***


“Sayang, aku jemput, ya?”


Aku mengirim pesan singkat untuk Nirani.


“Oke!” balasnya singkat.


Aku telah bersiap untuk menjemput Nirani. Memakai celana jeans dan kaos yang kudobel dengan kemeja panjang. Tidak lupa aku menyemprotkan sedikit parfum yang beraroma maskulin, juga menyisir rambut agar terlihat rapi walau akhirnya tertutup helm.


“Mau ke mana, Nav?” tanya Ibu.


“Jemput Nirani,” jawabku sambil memakai sepatu.


“Nirani lagi! Gak ada yang lain?” tanya Ibu dengan nada sinis.


Aku mendongak dan menatap wajah Ibu sesaat.


“Bu, jangan menilai orang dari penampilannya,” jawab Ayah lembut.


“Bagaimana Ibu tidak berburuk sangka? Penampilannya saja seperti itu!” ketus Ibu.


“Percayakan semuanya pada Naveen. Sebagai orang tua wajibnya kita mendoakan yang terbaik untuk anak kita, Bu,” jawab Ayah lembut.


“Terserahlah! Yang jelas Ibu tidak suka terhadap penampilan Nirani!” tegas Ibu yang berlalu pergi ke kamar.


Hati merasa dongkol dengan sikap Ibu yang hanya melihat dari penampilan Nirani saja. Aku pun ingin merubah penampilan Nirani tetapi untuk saat ini tidak bisa. Dia bukan hakku. Dia masih tanggung jawab orang tuanya saat ini.


“Nav, Ayah percaya pilihanmu yang terbaik!” Seulas senyum penyemangat terukir dari bibir Ayah.


Aku tersenyum, mencium tangan Ayah lalu melesat ke tempat kerja Nirani. Tampak dia sedang duduk di halte bus seorang diri.


“Maaf ya, Ran?” ucapku ketika sudah memarkirkan motor di samping halte.


Nirani tersenyum, “Maaf untuk apa?”

__ADS_1


“Karena telat jemput kamu,” jawabku yang lalu duduk di sampingnya.


Nirani mengangguk dan kembali tersenyum.


“Makan dulu, yuk? Aku lapar!”


Ajakku pada Nirani.


“Ayok!”


Kami melesat ke salah satu rumah makan sederhana. Kebetulan di sana cukup banyak orang. Kami pun segera memesan makan dan minuman. Tidak berselang lama, pesanan datang dan kami menikmati makan malam bersama.


“Nav?” sapa Nirani di sela makan.


“Hem?” jawabku yang masih menikmati makan malamku.


“Wanita seperti apa yang kamu mau?” tanya Nirani.


Aku mendongak lalu menunjuk pada salah satu meja. Di mana ada sekumpulan wanita berhijab yang sedang makan.


“Yang mana? Di sana kan banyak orang, Nav!” jawab Nirani dengan mata terfokus pada meja yang kutunjuk.


“Dia tidak ada di sana. Hanya saja aku menginginkan penampilannya seperti mereka,” jawabku yang seakan penuh dengan teka-teki.


“Maksudnya?” tanya Nirani dengan ekspresi wajah bingung.


Aku mendekatkan wajahku denganya, sangat dekat, “Wanitaku sudah ada di depan mata, mereka hanya gambaran penampilannya saja. Aku ingin kamu menutup auratmu, Hon!” bisikku pelan.


Pipi Nirani memerah kala aku mengutarakan pendapatku tentang wanita idaman.


“Aku sudah yakin, kamu merupakan calon istri yang baik. Aku akan melamarmu entah kapan. Bersiaplah untuk kulamar,” ucapku.


Nirani tidak menjawab apa pun. Hanya terlihat semburat merah di pipinya.


***


Watu terus berganti. Persiapan melamar pun telah aku siapkan semuanya tanpa sepengetahuan Ibu dan Ayah.


“Bu, Yah. Naveen mau melamar Nirani,” ucapku, ketika kami sedang menikmati acara televisi.


“Alhamdulillah,” jawab Ayah penuh dengan rasa syukur.


“Sama siapa?” tanya Ibu.


“Nirani.”


Hening.


“Bolehkan, Bu? Yah?” tanyaku.


“Terserah!” ujar Ibu yang beranjak pergi meninggalkanku.


“Ayah setuju saja, Nav! Karena Ayah percaya terhadap pilihanmu. Kamu bisa memilih wanita yang tidak akan memberatkanmu di akhirat,” ujar Ayah.


“Insya Allah, Yah.”


Beberapa hari ini aku dan Nirani memang tidak pernah bertemu. Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat pertemuan pun sangat susah membagi waktu. Terkadang, waktu bekerja selesai tetapi telah larut malam. Namun, aku bangga. Nirani tidak pernah mempermasalahkan. Kumantapkan hati untuk melamar Nirani malam ini juga.


Aku, Ayah dan Ibu melesat menuju rumah sederhana Nirani. Jujur saja, ini kali pertama Ayah dan Ibu melangkahkan kaki di rumah Nirani. Ada debar di dada. Bukan karena Nirani, tetapi karena wajah Ibu yang sepertinya kurang merestui pertunangan ini.


Hati hanya berharap, semoga semua baik-baik saja dan akan terjalin keluarga yang harmonis antara menantu dan mertuanya kelak.


Bismillah!


Aku turun dari mobil yang diikuti oleh Ibu dan Ayah.


Tiba-tiba di depan pintu rumah Nirani, hatiku berdegup kencang. Ya Allah, belum juga aku meminta Nirani pada Ibunya. Hati ini sudah begitu bergetar. Bagaimana kalau aku sudah bertatapan dengan Ibunya Nirani?


Ayah menepuk pundakku pelan, “Yang tenang, jangan grogi gitu. Kamu sudah yakin kan untuk melamar Nirani?” tanya Ayah dengan seulas senyuman yang terukir dari bibirnya.


Aku hanya bisa tersenyum karena hati sebenarnya sedang merasakan hal yang aneh. Dag dig dug tidak karuan.

__ADS_1


Aku mengetuk pintu.


Ceklek!


Pintu rumah terbuka. Terlihat wanita paruh baya yang menyambut kami dengan senyuman hangat.


“Silakan masuk,” ujarnya lalu membukakan pintu lebar untuk kami.


Aku mengangguk lalu masuk mengikuti Ibunya Nirani.


“Silakan duduk. Sebentar, saya ambilkan minum,” ujar Ibunya Nirani yang berlalu ke belakang.


Sedangkan aku, Ayah dan Ibu duduk di sofa berwarna hitam.


Nirani mana?


Aku melirik ketiap sudut rumah, tetapi Nirani tidak terlihat yang ada malah Ibunya telah kembali dengan minuman dan camilan yang ia bawa.


“Silakan,” ujar Ibu Nirani yang menyuguhkan makanan dan minuman untuk kami.


“Makasih, Bu.”


Hening.


Aku mengumpulkan tenaga untuk meminta izin pada Ibu Nirani untuk melamar putrinya.


Ya Allah, susah banget ni mulut berucap! Padahal pertemuanku dengan Ibunya Nirani bukanlah kali pertama.


“Nav?” ucap Ayah yang mengagetkanku, “Apa mau Ayah yang bilang?” sambungnya.


Aku menggeleng. Menarik napas lalu mulai berkata.


“Bu, Naveen datang ke sini membawa orang tua untuk melamar putri Ibu, Nirani. Apakah Ibu mengizinkan Naveen untuk melamar Nirani?” tanyaku yang diakhiri dengan membuang napas lega.


Ibu Nirani tersenyum, “Ibu kembalikan pada Nirani. Sebentar ya, Nav. Ibu, Bapak,” ujar Ibunya Nirani.


Aku menunggu dengan degup kencang dalam dada. Bukan hanya itu, keringat pun seakan luruh membasahi kemeja yang kukenakan saat ini.


“Assalamualaikum,” ucap wanita dengan suara yang sangat kukenal.


Aku mendongak, “Nirani?”


Mataku membulat melihat penampilan Nirani malam ini. Ia tampak mengenakan hijab dan gamis syar’i sesuai dengan yang kuinginkan. Bibirnya tersenyum ketika ia melihatku.


“Nav?” ucap Ayah yang mengagetkanku.


“Iya?” jawabku sambil melihat Ayah dan Ibu.


Ibu tersenyum melihatku, begitu pun dengan Ayah.


“Jadi melamar enggak?” ujar Ibu dengan bibir tersenyum.


“Oh, iya. Naveen lupa!” jawabku sambil mengusap tengkuk merasa kikuk melihat penampilan baru dari Nirani yang telah berhijrah.


“Ran, malam ini aku ingin melamarmu. Maukah kau menerima lamaran ini untuk menjadi istriku?”


Tanpa menunggu lama, Nirani mengangguk dan disertai ucapan 'Alhamdulillah' dari kedua orang tua kami.


*


Orang tua kami berbincang dalam rumah, sementara aku mengobrol dengan Nirani di teras luar.


“Sejak kapan kamu berhijab?” tanyaku pada Nirani.


“Sejak kita tidak bertemu. Karena dari dulu aku ingin berhijab semenjak aku dekat denganmu. Kini aku sudah keluar dari pekerjaan, aku memantapkan hati untuk berhijab. Aku ingin meringankan tanggung jawab suamiku kelak, dunia dan akhirat,” jawabnya yang membuatku terharu, bahagia.


“Makasih, Ran. Insya Allah, aku akan membimbingmu menuju janah. Ingatkan aku kalau aku keliru mengajarkanmu, karena aku pun hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa,” ujarku yang sedang menatap wajah cantik Nirani.


Nirani mengangguk.


"Nav, Nirani wanita yang baik. Dia meyakinkan Ibu. Dari hijrahnya, Ibu dapat melihat ketulusan hati Nirani. Jaga baik-baik, Nak!" ujar Ibu yang keluar dari rumah sederhana.

__ADS_1


Aku tersenyum, "Insya Allah, Bu!"


Ya Allah, semoga pilihanku ini berasal dari-Mu. Karena aku yakin, pilihan-Mu merupakan yang terbaik.


__ADS_2