
Author : D. Naveen Kenan
Pagi ini, hari pertama menjadi orang tua tunggal, untuk putriku yang bernama Quina Anastasia. Sebenarnya, hari ini merupakan hari berduka untuk kami karena kemarin, Marina telah meninggal dunia.
Marina seorang istri yang salihah. Ia rela keluar dari tempat kerjanya ketika menikah denganku. Walaupun, prestasi di kantornya cukup diperhitungkan kala itu. Kami berusaha untuk selalu bahagia, walau hati merasa kehilangan.
“Papa! Quin lupa bawa handuk!”
Itu teriakan putriku, usianya kini menginjak tiga belas tahun. Quin memang sangat manja. Tak ayal, hampir semua kebutuhannya bergantung pada orang lain.
“Papa! Handuk!” pekiknya lagi.
“Sabar! Papa lagi buat nasi goreng,” teriakku dari dapur.
Karena Quin terus berteriak, akhirnya aku mengalah, mengambil handuk dari dalam lemari dan mengantarkannya ke kamar mandi.
“Makasih, Papa ....” ucapnya sambil tersenyum dari balik pintu kamar mandi.
“Hem ....” jawabku berdehem sambil berlalu meninggalkannya.
Kembali memasak nasi goreng untuk sarapan pagi. Jujur saja, ini kali pertamaku membuat nasi goreng. Hari ini juga, awal aku berjibaku di dapur.
“Hufff! Akhirnya beres juga!”
Sambil mengusap keringat yang ada di dahi.
“Papa!”
Aku memutar bola mata, “Apa lagi?”
“Baju seragam Quin belum disetrika!” teriaknya kembali menggema di telinga.
Ya Allah, Gusti!!!
Aku beranjak ke kamarnya. Semua keperluan Quin, aku yang mengerjakan.
Rin, aku semakin bangga padamu bisa mengatur rumah dan memberikan kasih sayang untuk putri kita. Semoga kau tenang di alam sana.
Tak terasa air bening luruh di pipi, mengingat istri tercinta yang telah pergi untuk selamanya.
“Pa!”
“Apa lagi!” pekik kesal pada Quina.
Quin terdiam di atas ranjang. Mungkin ia tersentak dengan teriakanku barusan. Memandang wajahnya yang tertunduk lesu. Aku menghampirinya dan duduk di samping Quina.
Hening.
Quina enggan menatap wajahku. Aku turun dan berlutut di depannya, seraya menggenggam jemari lentik itu.
“Maafin Papa, ya?” ujarku menatap wajahnya Quina yang tertunduk.
Quin tidak menjawab, bahkan untuk memandang wajahku saja ia tidak mau. Pandangannya terus memandang ke bawah. Hingga aku melihat air bening yang jatuh di lantai.
“Hey?” Aku mencangkup wajahnya, “Maafin Papa, ya? Papa gak bermaksud untuk bentak Quina.” Aku mengusap air mata yang ada di pipi.
Quin masih membisu, air matanya semakin luruh. Bibirnya pun tidak berucap, hanya tangisan yang menggambarkan kekesalannya padaku. Aku menyesal.
“Sarapan, yuk? Kamu udah lapar ‘kan?”
Quina mengangguk.
Quin berjalan dan aku mengekor sambil membawa handuk basah bekas Quina yang digeletakkan di atas ranjang.
Dia duduk dan mulai mengambil nasi goreng yang sudah terhidang. Sedangkan aku berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang sudah bau keringat dan aroma nasi goreng yang menempel pada tubuh ini.
“Pa!” terdengar suara Quina memanggil, tapi dengan suara yang sepertinya ragu. Mungkin takut kalau aku memarahinya.
“Iya! Sebentar, Nak! Papa nanggung lagi mandi!” pekikku dari dalam kamar mandi.
Hening.
Bergegas membersihkan tubuh dari busa sabun dan segera memakai kaos dan handuk yang menutupi bagian pusar hingga lutut ini.
“Ada apa?” tanyaku ketika sudah ada di depan meja makan.
“Nasi gorengnya enggak enak,” ucap Quina dengan bibir meruncing, tanpa melihatku.
Hadeuh ... Udah capek-capek malah dibilang gak enak.
“Masa, sih?” Aku mengernyitkan dahi.
Quin mengangguk, “Coba aja!”
Aku mengambil sesendok nasi dan memasukkan dalam mulut. Mataku membulat ketika mengunyah nasi goreng buatanku sendiri.
“Enak enggak, Pa?” tanya Quina sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, sepertinya ia menyembunyikan tawa di balik telapak tangan itu.
Aku tersenyum, enggan berkomentar, karena memang nasi gorengnya hanya terasa asin. Sangat asin malah.
“Ya udah, makan lontong sayur di depan sekolahmu saja, ya? Kan waktu juga masih pagi,” usulku.
“Iya.” Quina terkekeh. “Pa, maafin Quin, ya?”
Mata ini memandang wajahnya.
“Quin udah salah, nyuruh-nyuruh Papa terus.”
Aku menenggelamkan wajahnya dalam dekapan. Air mata kembali luruh dan pelukan pun semakin erat.
“Maafin Papa juga ya, Nak?”
Aku mencium pucuk kepala Quina. Ia mengangguk, sebagai jawabannya.
***
__ADS_1
Tak terasa, kami sudah dua tahun, hidup berdua di rumah minimalis ini. Tanpa ada sosok Ibu untuk Quina. Terkadang, ia memprotesku untuk mencarikan Ibu untuknya. Entah, itu dari hatinya atau hanya kasihan melihatku yang hidup tanpa pendamping.
Quina sudah menjelma menjadi sosok gadis ABG yang cantik. Ia lebih dewasa. Semua kebutuhanku pun, ia yang memperhatikan dan mengurus.
“Pa, apa Papa tidak punya rencana untuk menikah lagi?” tanya Quina ketika berada di ruang makan.
“Kenapa? Kamu capek ‘ya, urus Papa?”
“Bukan!” Quin menggeleng.
“Lalu?”
Quina mendekatiku dan menggenggam jemari yang ada di atas meja. Tatapannya begitu intens memandangku. Untuk beberapa detik, waktu terasa terhenti.
“Quin tau, kalau sesungguhnya Papa kesepian!” Tatapan matanya sangat lekat memandang netraku.
“Dih ... Anak Papa sok tau!” elakku sambil mencubit hidung mancungnya lalu memalingkan pandanganku, tak ingin ia tahu kalau memang sesungguhnya aku merasa kesepian.
“Papa!”
Quina mencakup kedua pipi dan kembali menatapku dengan tatapan tegas. Sepertinya memang Quina tahu apa yang kurasakan dalam dua tahun ke belakang.
“Quin tau, kalau Papa suka bercerita kerinduan Papa sama foto Mama. Pa, Mama sudah meninggal. Papa harus melanjutkan hidup! Quin minta, agar Papa menikah lagi, pliss, Pa!” pintanya.
Aku tersenyum miring.
Ia kali, cari istri kek beli bakwan? Di mana pun ada yang jual.
“Papa belum ada calon, Quin. Kan cari istri enggak mudah,” elakku. “Lagian, anak-anak lain itu enggak mau kalau Papanya nikah lagi,” sambungku.
“Quin mau! Quin ingin melihat Papa bahagia, ada yang urus dan sayang sama Papa. Bukan berarti Quin gak sayang. Tapi, selama dua tahun ini, Papa telah kehilangan senyuman hangat sepeninggal Mama.”
Lagi, aku hanya tersenyum. Merasa lucu dengan permintaan putriku, entah apa yang ada dalam hatinya.
“Pokoknya dalam satu bulan, Papa harus melamar seseorang!”
Mataku membulat, kaget.
“Satu bulan?”
“He’em, kalau dalam satu bulan Papa belum bisa melamar seorang wanita. Nanti Quin yang akan carikan dan Papa harus nurut, setuju?”
Aku memutar bola mata dan memalingkan pandangan.
“PAPA!” pekiknya kesal ketika melihatku memalingkan pandangan.
***
Quina sudah berangkat sekolah. Aku pun pergi ke kantor, sudah banyak file yang harus kuurus. Pekerjaan sudah menumpuk, berkas di atas meja sudah sangat banyak.
Aku mulai mengerjakan satu per satu berkas di atas meja. Mulai mengecek dan memisahkan yang telah selesai dikerjakan. Tak terasa, waktu istirahat telah tiba. Aku pergi untuk makan siang dan meninggalkan segala pekerjaan yang cukup menuras pikiran dan tenaga.
“Kenapa muke, lu?” tanya Fajar ketika jam makan.
“Pusing kenapa?”
“Anak gue minta dicariin Mama baru,” ucapku sambil menyuapkan nasi.
Bwahahaha ....
Tawa renyah terdengar di telingaku siang ini.
“Sssttt! Tawa lu memancing semua orang untuk memperhatikan kita, Jar!” ucapku berbisik.
“Sorry, sorry! Habisnya, lucu banget anak lu.” Fajar masih terkekeh.
Aku melanjutkan makan dengan perasaan yang entah. Waktu satu bulan sangat cepat berlalu. Bagaimana bisa aku mendapatkan seorang pendamping hidup dalam waktu secepat itu?
“Udah ada kandidatnya?” tanya Fajar yang mulai kepo.
Aku menggeleng.
“Hah? Masa Davin Keenan yang digandrungi banyak cewek bisa gak punya kandidat? Pan banyak yang suka sama lu, Vin?”
“Siape?”
“Tuh, si Ani, janda anak satu. Si Hera, janda kembang. Si Wida, yang sudah suka lu sejak lama. Atau si Rindu, sesuai namanya dia selalu merindukan lu, masih lajang lagi!” ujar Fajar yang entah meledek atau memberi saran.
“Gak ada yang cocok!” bantahku.
“Ck! Yang lu mau seperti apa? Marina? Gak bakal ada yang sama, Vin! Lu move on, napa?”
Aku hanya tersenyum. Malas untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Aku memang sangat menyayangi Marina, ia istri yang salihah untukku. Ia juga menjadi Ibu yang baik untuk Quin, putri kami.
Wajahnya yang cantik dan perilaku yang baik, membuatku sulit untuk move on darinya. Banyak yang mendekatiku saat ini, tapi belum ada satu wanita pun yang bisa merebut hati ini.
***
Waktu terus berputar, aku pun belum mendapatkan seseorang untuk menjadi kandidat wanita yang akan dipinang. Sementara Quin, selalu menanyakan hal itu padaku. Ia selalu mengingatkan akan waktu yang terus berputar dan tinggal beberapa hari deadlinenya habis, begitu katanya.
Shit! Apa yang harus kulakukan? Pasrah. Mungkin itu kata terakhirku apabila waktu itu telah tiba.
Aku masih berusaha mendapatkan wanita yang tepat sebagai istri dan Ibu sambung dari putriku. Aku begitu selektif untuk mencarinya dalam waktu secepat ini.
**
Hingga akhirnya, deadline yang diberikan Quina telah usai malam ini.
“Papa udah dapat calon istri sekaligus Mama buat aku?” tanya Quina.
Aku menggeleng.
“Besok pagi ikut Quin, ya?”
“Ke mana?”
__ADS_1
“Mau lamarin calon istri untuk Papa.”
“Hem ....” Aku berdehem.
“Jangan cuma hem doang, Pa!”
“Iya, iya. Papa nurut!”
Quina tersenyum.
Sebenarnya, ada keraguan dalam hati. Aku hanya bisa berdoa di sepertiga malam, agar diberikan jodoh kedua yang baik untukku dan Quina. Mata enggan terpejam, padahal besok pagi aku sudah berjanji untuk melamar seorang wanita pilihan putriku.
“Rin, apa aku salah dengan keputusan ini?” Aku bertanya pada foto istriku.
“Anak kita menyuruhku untuk menikah lagi. Apa kamu setuju, Rin? Jujur, aku berat untuk menikah lagi. Tapi Quina terus memaksa. Maafkan aku, Rin. Semoga kita dapat bersatu di akhirat kelak. Kamu istri yang salihah untukku. Aku begitu menyayangimu.”
Kudekap bingkai foto kecil, yang bergambar wajah cantik Marina dalam pelukan.
Entah jam berapa aku terlelap. Hingga terbangun pagi ini dengan alarm dalam ponsel yang bergetar di atas nakas.
“Papa!” pekik Quina pagi ini dengan ketukan pintu yang bertubi-tubi.
“Iya, Sayang. Sebenatar!”
Aku beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu yang terus diketuk oleh Quina.
Ceklek!
Aku membuka pintu. Seulas senyum telah terpancar dari bibir putri tercantikku.
“Papa udah siap, kan?” tanyanya dengan ekspresi bahagia.
“Papa belum mandi!”
“Ya udah cepat mandi, nanti jam delapan harus sudah beres semua, ya?” pintanya.
“Hem!”
“Kebiasaan berdehem terus!” Quina berlalu pergi.
Kembali ke dalam kamar lalu mengambil handuk untuk bergegas mandi dan salat subuh pagi ini. Tak lupa, mengganti baju koko dengan kemeja agar terlihat lebih rapi ketika lamaran nanti.
Ada debar dalam hati. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak mengenal sosok wanita yang akan kulamar. Hanya bisa berserah diri pada-Nya agar diberikan jodoh terbaik yang dipilihkan oleh putriku.
Semuanya telah siap. Aku dan Quina berangkat menggunakan mobil, tak lupa cincin yang telah dibelikan oleh Quina tanpa sepengetahuanku. Aku baru mengetahui ketika di perjalanan menuju rumah wanita yang hendak kulamar.
Sampai juga di rumah sederhana yang mempunyai halaman luas.
Loh ... Ini kan rumahnya Arini. Aku berusaha mengingat, karena telah lama aku tidak pernah mendatanginya.
“Ayok turun, Pa! Malah bengong,” ujar Quina yang sudah membuka pintu mobil.
Aku pun turun dari dalam mobil dan mengekor Quina.
Ting tong!
Quina memijit bel rumah.
Ceklek!
Terlihat seorang wanita bercadar dari balik pintu.
Aku ingat betul, kalau Kakaknya Arini itu memakai cadar. Ya Allah, apakah yang akan kulamar itu Kakaknya Arini, mantan pacarku dulu?
“Silakan masuk!”
Wanita itu membuka pintu lebar.
Aku dan Quina masuk mengikuti wanita bercadar ini. Di sana, kami telah disambut oleh Abi dan Uminya. Aku masih sangat mengenalnya. Karena Arini, cinta pertamaku.
“Assalamualaikum, Abi, Umi? Masih ingat Davin enggak?” tanyaku berbasa-basi walau sedikit ragu. Sedangkan Quina tidak bergabung bersama kami, ia ikut bersama wanita bercadar tadi ke belakang.
Abi tersenyum, “Masih lah, Vin. Jadi, Quina ini putrimu?”
“Iya, Bi.”
“Masya Allah ... Sungguh cantik wajah dan hatinya,” ujar Abi yang terasa seperti teka-teki untukku.
Abi Zaki menceritakan padaku tentang keinginan Quina mempersunting salah satu putrinya untukku. Ia begitu ingin melihatku kembali bahagia sepeninggal Marina. Quina juga bercerita banyak pada Abi Zaki supaya mengizinkan salah satu putrinya kupersunting.
“Abi meridai putri Abi untuk dibimbing olehmu, Vin. Abi percaya sama kamu.”
Aku tersenyum, “Alhamdulillah, kalau Abi sudah ikhlas. Davin akan mempersunting Aruna dengan segera,” ucapku meminta izin.
“Aruna?”
Abi mengernyitkan dahi.
“Iya, bukannya wanita bercadar itu Aruna? Kakak dari Arini?”
Abi tersenyum dan berlanjut tertawa di hadapanku.
“Astagfirullahalazim! Kamu salah paham, Vin. Aruna itu sudah menikah lima tahun yang lalu, ia sudah tinggal bersama suaminya. Calonmu itu ya, Arini.”
“Apa?” Netraku membulat.
“Iya, calon istri yang dilamar oleh Quina itu Arini, bukan Aruna.”
Abi Zaki masih terkekeh, merasa lucu mungkin.
Entah, apa yang aku rasa saat ini? Debar di dada begitu cepat, rasa bahagia lebih mendominasi hati ini. Tidak menyangka, putriku telah melamarkan mantan pacar pertamaku untuk menjadi pendamping dalam hidup.
.End.
Lampung, 23 September 2020
__ADS_1