Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
PENYESALAN


__ADS_3

“Yey!!!”


Kami meluapkan kebahagiaan setelah dinyatakan lulus dan menjadi sarjana dengan melempar topi wisuda berwarna hitam bersama-sama. Lemparan ke atas seperti hendak terbang ke langit, telah terekam dalam kamera digital sang foto grafer.


Rasa bahagia dan haru menjadi satu. Semua mahasiswa terlihat bahagia termasuk Anindya, gadis berhijab yang telah menjadi kekasihku sejak awal kuliah hingga kini meraih gelar sarjana (S1) disalah satu kampus di kota Bandar Lampung.


“Bee, selamat, ya!” ucap Anindya padaku.


“Selamat juga untukmu, Honey,” balasku.


Anindya tampak cantik ketika mengenakan kebaya warna abu dengan make up natural. Keluarga kami telah merencanakan pertunangan malam hari nanti. Semuanya sudah kami persiapkan.


Hingga akhirnya, malam yang dinanti pun telah tiba. Aku beserta orang tua telah bersiap untuk ke rumah Anindya. Bermaksud ingin melamarnya.


Mobil melesat dengan cepat menuju rumah Anindya.


“Kamu kenapa, Nav?” tanya Papa yang sepertinya mengetahui kalau aku dilanda nervous yang luar biasa.


“Gak papa, Pa!” elakku yang terus berpindah-pindah posisi duduk.


Papa tersenyum, terlihat dari kaca spion mobil yang ada di dalam. Astaga! Apa sebenarnya Papa mengetahui apa yang kurasa saat ini?


Akhirnya mobil terhenti di rumah yang cukup mewah. Dadaku semakin berdegup kencang, tatkala pintu mobil telah terbuka.


“Kamu gak mau turun?” ucap Mama sambil membawa bingkisan untuk Anindya.


“Tu-turun kok, Ma!” ucapku dengan keringat yang cukup deras mengalir.


Tenang, Nav!


Langkah kaki kami telah memasuki rumah Anindya. Sambutan hangat dari kedua orang tuanya pun sangat kurasa. Namun tak menghentikan getar yang begitu kencang dalam dada.


Hingga akhirnya, Anindya hadir di tengah keluarga kami. Ia terlihat cantik dengan dres berwarna putih motif bunga. Ia duduk di antara kedua orang tuanya.


Akhirnya, Papa mengutarakan niatnya ingin melamar Anindya untukku. Tidak menunggu waktu lama, pihak keluarga Anindya setuju dengan pertunangan ini.


“Alhamdulillah,” ucap kami bersama.


Mereka mengobrol dalam rumah. Sedangkan aku dan Anindya memilih duduk di teras luar untuk menikmati indahnya langit malam dengan sinar rembulan.


“Bee,” sapaan sayang Anindya padaku.


“Iya, Hon?” jawabku sambil memandang wajah cantik Anindya.


“Janji, ya. Selama di Ausi, kamu tidak akan tergoda dengan wanita lain?” ucap Anindya sambil mengacungkan kelingkingnya. Persis seperti anak kecil.


Aku tersenyum dan mengaitkan kelingku dengannya, “Iya. Aku janji, Hon!”


Senyuman itu terukir indah di bibir merah jambu Anindya. Kami membahas tentang rencana pernikahan. Mulai dari menyewa gedung mana? WO-nya siapa? Catering-nya di mana. Semua kami bahas malam ini.


Baru saja tadi siang aku melihat rona bahagia pada wajah Anindya, kini terlihat sedih. Bukan karena pertunangannya. Namun, karena esok hari aku akan terbang ke Ausi untuk meneruskan kuliah S2 (Magister) di sana.


“Bee, apa S2-nya tidak dapat dilanjutkan di Indonesia saja?” tanya Anindya.


“Gak bisa, Hon. Kan, namaku sudah terdaftar di sana. Kalau ambil di sini keknya harus nunggu gelombang berikutnya.”


Terlihat raut kecewa di wajah gadis cantik berhijab yang akan menjadi istriku kelak.


“Jangan sedih dong, aku cuma dua tahun di sana. Setelah itu kita langsung menikah.”


Hening.

__ADS_1


“Hon?” Aku memanggil Anandya.


Anindya mendongak lalu menatap mataku lekat.


“Aku berjanji akan setia padamu. Aku tidak akan berpaling darimu walau kita jauh. Nantikan aku kembali di Indonesia ya, Hon?” pintaku padanya.


Anindya mengangguk.


“Aku juga akan setia menunggumu, Bee. Untuk sekarang, hanya hati dan cincin melingkar di jari manis yang mampu kujaga. Semoga niat kita untuk melakukan prosesi pernikahan akan berjalan lancar ya, Bee.”


Janji manis telah kami sepakati bersama. Semua sudah sangat terencana, terlebih untuk acara pernikahan. Semua terdengar indah tatkala janji manis yang kami rajut bersama untuk saling menjaga kepercayaan dan membangun rumah tangga di atas kejujuran.


***


Hingga akhirnya waktu itu telah datang. Anindya mengantarkanku sampai Bandara. Air mata itu berlinang menyaksikanku yang akan terbang ke Ausi.


“Jaga diri baik-baik, Bee! Jangan lupa untuk selalu menghubungiku,” pinta Anindya yang juga membuatku sedih tatkala melihat air bening yang selalu jatuh.


.


Pesawat pun telah terbang meninggalkan Bandara di Indonesia menuju Australia.


Aku terkenang wajah cantik Anindya dan tangisnya saat melepasku pergi untuk menuntut ilmu ke negeri orang.


Aku janji akan selalu menjaga hatiku, Hon.


Hingga akhirnya, pesawat yang kutumpangi telah sampai di Bandara Internasional di Australia. Aku turun lalu segera mencari tempat tinggal di sana yang tidak terlalu jauh dari kampus. Membuka ponsel lalu memberikan kabar pada Anindya kalau aku telah sampai di Ausi dengan selamat.


Kami berbalas pesan hingga tak terasa hari mulai gelap. Aktivitas di sini pun tidak jauh berbeda seperti di Indonesia. Bedanya, aku bekerja paruh waktu dan hanya mempunyai tempat tinggal sementara di sini.


Kegiatanku seolah monoton ketika di Ausi. Hanya kuliah, bekerja dan tidur. Tak ayal, ingin rasanya bermain melepaskan waktu bersama kawan di Club.


Hingga suatu hari, aku dipertemukan dengan seorang wanita berkebangsaan Australia. Dia begitu cantik dan fasih berbahasa Indonesia, sehingga kami semakin dekat.


“Nav, aku mau kita pacaran!” kata itu keluar dari bibir Britney, wanita yang sedang dekat denganku di sini.


Aku tidak menyangka, Britney akan menyatakan rasa cintanya. Karena dari awal, sebenarnya hanya ingin mempunyai teman saja untuk menghabiskan waktu di sini.


“Tapi aku, sud-“ Bibirku ditutup oleh lengan putih Britney.


“Aku tidak menerima penolakan. Terlebih dari orang yang kucintai,” jawabnya sambil memandang lekat mataku.


Aku sadar telah melanggar janji manisku untuk Anindya. Di sini aku berbagi hati dengan Britney. Terkadang terasa sesak ketika aku sedang bersama Britney, Anindya menghubungiku. Britney juga selalu cemberut tatkala aku menerima chat atau telepon dari Anindya ketika ia di sampingku.


Ya Tuhan, sampai kapan ini semua akan terjadi?


Kini aku sadar, telah melanggar janji manisku untuk Anindya. Aku juga bersalah, telah menerima cinta dari Britney yang menyebabkan kedua wanita yang kucintai akan terluka.


Waktu terus berlalu. Pendidikanku pun hampir selesai. Aku menemui Britney untuk membicarakan hal yang sebenarnya terjadi. Di mana sebenarnya aku sudah bertunangan dengan sosok gadis berhijab di Negeriku.


Air mata Britney luluh lantah setelah kuceritakan semuanya kalau Anindya itu bukan sekedar kekasihku, tapi ia merupakan calon istri dan kami akan melangsungkan pernikahan setelah aku selesai menempuh pendidikan di sini.


“Kalau sudah begini, harus gimana lagi? Aku merelakanmu bersamanya, Nav. Semoga kalian bahagia,” ujar Britney yang seperti menelan pil pahit dari pengakuanku padanya.


Satu wanita telah terluka olehku. Aku tidak ingin menambah luka untuk Anindya. Takkan kubiarkan wanita ini menelan pahitnya janji manis yang telah kami rajut bersama.


***


Akhirnya aku pulang ke Indonesia. Hati rindu pada Anindya, si gadis berhijab yang akan menjadi istriku.


Aku menutup lembaran suram ketika ada di Ausi bersama Britney. Janji yang telah kuingkari beberapa bulan lalu, akan kembali kubersihkan walau mungkin terlambat. Namun, selama Anindya tidak mengetahui, menurutku aman-aman saja.

__ADS_1


“Bee!”


Anindya berlari dan memelukku erat.


Aku pun membalas pelukannya dengan hangat. Terlihat air bening itu jatuh ke pipinya.


“Aku rindu ....”


Hanya kata itu yang ia ucapkan ketika berada dalam pelukan. Ia juga terlihat mengenakan cincin di jari manisnya seperti yang dulu ia janjikan. Akan menjaga hati dan cincin yang telah kuberikan di malam itu, ketika kumelamarnya.


Kenapa rasanya sakit ketika Anindya mencurahkan perasaan rindunya untukku?


Aku merasa telah berdosa padanya karena selama di Ausi, aku telah membagi hati dengan yang lain.


“Kamu memenuhi janjimu ‘kan, Bee?” tanyanya ketika kami masih berada di Bandara.


Aku mengangguk, tidak berani menjawab. Senyumannya terukir indah tatkala aku menganggukan kepala. Mungkin baginya anggukanku ini merupakan sebuah jawaban, bahwa aku menjaga hati ini. Semakin sakit kurasa ketika ia tersenyum atas semua kebohongan yang telah kulakukan.


Kami melangkah untuk menuju lobi parkir. Di perjalanan, aku meminta berhenti karena aku ingin membeli tempoyak. Aku sangat rindu dengan salah satu makanan khas daerahku.


“Kamu di sini aja, biar aku yang belikan,” ujar Anindya padaku.


Ia turun dari mobil, lalu menyeberang karena warungnya ada di seberang jalan. Sementara kumenunggu dalam mobil, aku membuka layar ponsel untuk memberikan kabar pada orang tua bahwa aku sudah berada di jalan menuju rumah.


DUARR!


Terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu.


“Tolooongggg!”


Terdengar jeritan histeris dari seorang wanita.


Aku mendongak dari pandangan yang sedang fokus menatap layar ponsel.


“Anindya?”


Mataku terbelalak tatkala melihat Anindya yang sudah bersimbah darah karena tertabrak mobil.


Segera kubuka pintu mobil dan berlari ke arahnya.


Aku menggenggam jemari lentik itu yang tersemat cincin pertunangan kami. Aku hendak menggendongnya untuk membawa ia ke rumah sakit. Namun, tangan ini ditahan oleh Anindya.


“Bee, makasih udah penuhi janji manismu untukku. Kamu telah menjaga hatimu hingga saat ini. Aku ingin kamu tau, bahwa di sini aku pun telah memenuhi janji kita untuk saling menjaga hati.”


Aku sungguh sakit mendengar ucapan Anindya.


“Tapi, maaf. Aku tidak dapat memenuhi janjiku untuk melanjutkan hidup bersamamu. Karena, a-aku su-dah tidak kuat lagi.”


Tubuh Anindya terkulai lemah. Matanya terpejam dan napasnya menghilang.


“Hon, Honey! Bangun, Hon!” Aku berusaha membangunkan Anindya.


Ada seorang pria yang mendekatiku. Ia mengecek denyut nadi dan napas Anindya.


“Sabar ya, Mas. Wanita ini telah meninggal,” ucapnya sambil mengusap pundakku.


Aku mematung di pinggir jalan dengan jasad Anindya yang ada dalam pangkuan.


Ya Tuhan, aku sangat menyesal telah mengingkari janjiku untuknya. Baru saja ingin memperbaiki, tapi Engkau telah mengambilnya dariku.


Air mata ini mengalir deras menimpa tubuh Anindya yang penuh luka.

__ADS_1


__ADS_2