Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Cinta Untuk Gadis Buta


__ADS_3

“Aruna! Ayo sekolah!” ucap Mamanya.


“Enggak! Aruna gak mau sekolah, Ma!” bantahnya.


“Kenapa, Sayang? Tuh, Satya sudah menunggu kamu di depan pintu,” ujar Mamanya.


“Aruna malu, Ma! Orang-orang meledek aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak berguna dan lainnya yang bikin hati Aru menjadi sakit!” bantahnya.


Mama Aruna terdiam. Netranya kini berkaca-kaca, mungkin merasa sedih mendengar ucapan putri semata wayangnya yang dia besarkan penuh kasih sayang.


Aku mendekati Anjani, wanita paruh baya yang tak lain orang tua tunggal dari Aruna. Aku memegang kedua bahunya dan memandang netra senja itu.


“Sabar ya, Tan?” aku berbisik kecil padanya.


Anjani langsung menyeka air yang membasahi pipinya dan bergegas pergi dari kamar Aruna. Sudah tidak kuat untuk menangis, mungkin.


Aruna Nasution, adalah gadis buta yang kukenal sejak kecil. Kami satu angkatan, yang membedakan aku sekolah di sekolah umum sedangkan Aruna di sekolah kebutuhan khusus.


“Satya?” ujar Aruna ketika ia sudah menyentuh wajahku.


Aku mengangguk.


Aruna memang sangat mengenaliku, setelah ia mengusap wajahku, mungkin karena wajahku yang pernah dia usap, atau mungkin dari wangi parfum yang kukenakan, entahlah.


“Sekolah yuk, Ar?” ajakku padanya.


Ia menggeleng, dengan bola mata yang bergerak ke sana ke mari tanpa bisa fokus ke satu titik.


“Karena ledekan orang?” ujarku padanya.


Aruna mengangguk.


“Tidak usah mendengarkan kata orang, katanya kamu mau menjadi guru?”


Aku mengingatkan.


“Iya, tapi aku sakit hati mendengar ledekan dari mereka. Bukan cuma sekali, Satya! Mereka seperti itu setiap hari!” pekiknya marah.


“Jadi, sekarang mau sekolah gak?” ujarku memastikan.


“ENGGAK!” dengan suara lantang.


“Ya sudah, lain waktu, pasti akan ada banyak orang seperti kamu.”


“Maksudnya?”


“Orang buta yang tidak mampu baca! Katamu, membaca itu jembatan ilmu? Kamu ‘kan sudah bisa baca dari huruf braille yang kau pelajari di sekolah.”


Hening.


Aku berjalan menjauh darinya. Percuma juga kalau dipaksa.


“Satya, tunggu! Aku mau sekolah,” ujarnya sambil melengkungkan senyuman.


“Gitu, dong!”


Aku mencubit hidung mancungnya.


“Aduh ... Sakit, Satya!”


Aruna mengusap pelan hidung mancung itu.


Kami pun berangkat ke sekolah menaiki sepeda motor.


Aruna memang seorang tuna netra. Papanya pun telah meninggal dunia ketika Aruna masih ada dalam kandungan.


Tapi warisan Aruna cukup banyak dari sang Papa. Semasa hidup, Papa Aruna adalah pengusaha sukses di pertambangan.


“Satya? Mau-maunya boncengin orang buta!” ujar tetanggaku.


“Mending boncengin orang yang matanya buta, dari pada yang hatinya buta!”


Aku memacu motorku dengan kencang karena tersulut emosi. Aku melupakan di jok belakang ada seorang gadis yang sedang kuboncengi.


Tangannya erat memelukku dari belakang, mungkin dia takut. Hal itu yang membuatku tersadar dari luapan emosi yang sedang membuncah. Aku mengurangi kecepatan laju kendaraan.


“Sorry, Ar!”


“Iya, gak papa. Jangan ngebut lagi, ya? Aku takut!” pintanya.


Aku hanya diam tidak menjawab. Karena aku merasa jengkel dengan sikap-siakap orang seperti itu. Pantas saja, Aruna marah. Aku saja yang tidak disinggungnya merasa marah dengan ledekan seperti itu.


***


Hal itu terjadi lima tahun silam. Kini, baik aku dan Aruna sudah selesai kuliah dan kami sudah bekerja.


Aku bekerja sebagai staf di kantor dan Aruna menjadi guru tuna netra seperti cita-citanya. Impian yang mulia yang kini telah menjadi nyata.


Kebetulan malam ini merupakan malam minggu, aku bermaksud ingin merefres otak dari kejenuhan pekerjaanku.


“Ar, jalan, yuk?” ajakku.


“Enggak bisa, Sat. Nanti malam, Mama akan mengenalkanku pada seorang pria,” ujarnya dengan bibir agak cemberut, sepertinya dia tidak suka.

__ADS_1


“Oh ... Ya sudah, dandan yang cantik, ya?”


Bibir Aruna tampak meruncing.


Siapa laki-laki itu? Untuk apa pertemuan itu? Ah ... Tapi itu bukan urusanku! Tapi, kenapa dada ini terasa sesak? Dan hati pun terasa sakit. Apa yang terjadi denganku?


Aku hanya dapat bergumam dalam hati dan melihat ekspresi wajah Aruna yang seperti sedang kesal.


Aku menghabiskan malam hanya dalam kamar. Kebetulan, kamarku dan Aruna saling berhadapan hanya terhalang oleh jalan kecil saja. Sehingga aku dapat melihat aktivitas Aruna dalam kamar.


Ia tampak sedang duduk di kursi rias. Tapi, bukan berhias yang ia lakukan. Ia malah terus menerus menyeka netra itu.


“Aruna menangis?”


Aku ke luar dari dalam kamar melewati jendela dan mendekat ke jendela kamarnya.


Saat itu waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Aruna masih terlihat menangis di depan meja riasnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Aku mengetuk jendela kaca kamar. Sepertinya Aruna mendengar, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela.


“Siapa?” terdengar sayup-sayup suara Aruna bertanya.


“Aku, Satya!” ujarku setengah berbisik takut mengganggu orang lain yang sudah tertidur.


Ceklek!


Jendela kamar Aruna terbuka.


“Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Aruna dengan tatapan mata yang entah ke mana.


“Kamu ngapain masih berdiam diri di meja rias? Kamu nangis? Kenapa?”


“Enggak, aku gak papa. Pulanglah, tidak enak sama tetangga kalau lihat kita seperti ini,” ujar Aruna.


“Biar saja. Palingan kita dinikahin!” jawabku spontan.


Aruna tersenyum kecut mendengar ucapanku yang mungkin baginya seperti bualan semata.


“Gak mungkin ada yang mau sama perempuan buta sepertiku, Sat!”


Aruna mendongakkan wajahnya ke langit.


Aku terdiam. Sepertinya Aruna sedang sedih.


“Lelaki tadi pun bicara seperti itu,” sambungnya.


“Lelaki? Siapa?”


Aku memperhatikan seraut wajah cantik memerah padam, mungkin ia menahan marah atau kekesalannya.


“Kenapa aku ditakdirkan menjadi orang buta? Kenapa aku tidak seperti orang normal lainnya? Apa salahku?”


“Ssttt! Jangan bicara lagi!” Aku menutup bibir tipis itu dengan jari, “Aku cukup mengerti perasaanmu, Ar! Aku akan selalu ada buatmu! Aku janji, selama aku bernyawa, aku akan selalu ada untukmu.”


Aruna hanya tersenyum.


Aku menggenggam kedua tangannya, “Ar aku menyayangimu!”


Wajah yang sedang mendongak ke langit seketika merunduk, “Kamu gak usah menghibur aku, Sat!”


“Aku serius! Entah dari kapan aku mulai menyangyangimu, aku sangat mencintaimu, Ar!”


“Sudahlah, Sat. Lebih baik kamu pulang, besok kamu kerja ‘kan? Selamat malam!” Aruna memindahkan tanganku sebelum ia menutup pelan jendela kamarnya.


***


Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Rumah Aruna masih tampak sepi, aku tidak terlalu menghiraukannya dan melesat dengan sepeda motor.


Tiba-tiba ketika jam istirahat, aku mendengar kabar dari karyawan kantor tentang temannya yang barusan dikenalkan pada wanita cantik, bermaksud dijodohkan tetapi si perempuannya buta. Jadi temannya menolak untuk dinikahkan.


“Apa itu Aruna? Ia dijodohkan lagi?”


Aku menyentuh gawai dan bermaksud menelepon Aruna.


“Sial! Nomornya tidak aktif!”


Mau tidak mau, aku harus menunggu jam pulang kerja untuk mendapat kabar dari Aruna.


.


Setelah jam kantor usai, aku melesat menggunakan sepeda motor ke rumah Aruna. Rumahnya tampak sepi. Tetapi, tatanan ruangannya terasa sangat rapi, seperti akan mempersiapkan sebuah jamuan pertemuan keluarga.


Aruna menyentuh wajahku, “Satya?”


“Iya, ini aku, Ar. Tadi kamu dijodohkan lagi?”


Aruna mengangguk. Lagi, air mata itu kembali menetes.


“Malam ini pun, Mama mau mengenalkanku pada lelaki lain, Sat!” ujarnya dengan air mata yang masih berlinang.


“Dengan siapa?”

__ADS_1


“Entah. Apa mereka akan menerimaku, Sat?” ujar Aruna dengan netra sendu.


Aku terdiam.


“Mamamu ke mana, Ar?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Ke pasar. Mama mau memasak banyak untuk nanti malam sepertinya.”


“Ya sudah aku pamit, ada urusan, bye!”


Aku bergegas melesat ke simpang jalan untuk menghadang Tante Anjani.


Akhirnya, mobil Tante Anjani terlihat. Aku menyetop mobil itu, Tante Anjani pun turun dari dalam mobilnya.


“Satya? Ada apa ini?” tanya Tante Anjani.


“Tan, Satya mau menjadi pendamping hidup untuk Aruna. Satya mau menerima Aruna dengan segala kekurangannya.”


“Tapi, Sat! Malam ini Tante akan mengenalkan calon untuk suami Aruna.”


Seketika, langit terasa runtuh menimpaku. Dada terasa sakit, aku seolah mati saat itu.


“Permisi, Sat! Tante buru-buru.”


Tante Anjani pun melesat pergi meninggalkanku yang sedang mematung tanpa arti.


***


Malam pun tiba. Aku hanya dapat berdiri di dalam jendela kamar. Mengamati keadaan di rumah Aruna yang cukup ramai. Hingga aku melihat, tamu-tamu mereka telah pulang.


Aku menunggu Aruna masuk dalam kamar. Setengah jam aku menanti dan mengamati kamar yang masih gelap. Satu jam telah berlalu, kamar itu pun masih gelap. Setelah dua jam berlalu akhirnya lampu kamar Aruna menyala. Seperti biasa ia duduk di depan kaca riasnya.


Aku segera melompat dari jendela dan menyeberangi jalan untuk dapat menuju ke kamar Aruna.


“Ar! Aruna!” ucapku sambil mengetuk jendela kamar.


Aruna sepertinya mendengar, ia langsung bangkit dan membukakan kaca jendelanya.


“Kamu siapa?”


Sengaja aku diam. Aku hanya menggenggam tangannya dan mengarahkan ke wajahku. Ia mengusap seluruh wajahku. Dari mulai mata yang terpejam, hidung, bibir dan rambutku.


“Satya?”


Aku mengangguk.


“Bagaimana perjodohanmu?”


Aruna menggeleng, “Batal.” Ia tersenyum.


Aku tahu, itu merupakan senyum kesedihan untuknya.


“Tunggu saatnya tiba, ya, Ar?”


“Kapan?”


“Secepatnya! Kamu tidurlah. Tunggu, akan ada yang melamarmu!”


“Siapa?”


“Kamu akan mengenalnya, Ar.”


Aku menyuruhnya untuk tidur, menutup jendela kamarnya dan segera kembali ke kamarku.


Aku berunding pada orang tuaku. Meminta izin untuk mempersunting Aruna. Walau pada awalnya mereka keberatan, tapi akhirnya mereka mengerti dan memberi restu padaku.


Aruna pergi mengajar. Sedangkan aku meminta izin pada Tante Anjani untuk melamar Aruna dan mempersuntingnya. Walau awalnya ragu, akhirnya Beliau memberi restu untukku.


.


Aku dan keluarga sudah ada di rumah Aruna. Sengaja kami bungkam, berharap jadi surprise untuk Aruna.


“Ar, Mama mau mengenalkan kamu pada seorang pria yang ingin menikahimu,” ujar Tante Anjani.


“Ah ... Lupakan saja, Ma!” elak Aruna.


“Tapi, kamu mengenalnya!” ujar Tante Anjani.


“Mengenalnya?”


Aku meraih tangannya dan kembali mengarahkan ke wajahku agar ia bisa merabanya.


“Satya?”


Aku mengangguk.


Seketika air bening itu menetes di pipinya.


“Aku sudah janji, akan selalu ada untukmu. Inilah janjiku, Ar! Aku akan menghabiskan sisa umurku bersamamu.”


Aruna tersenyum walau matanya masih saja menitikkan air mata.


“Ar, will you marry me?”

__ADS_1


Aruna tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.


.End.


__ADS_2