Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Janji Nalla


__ADS_3

Pagi ini aku telah bersiap untuk mengikuti kelas disalah satu sekolah luar biasa yang ada di kotaku. Awalnya menolak karena malu, tetapi Kak Nalla selalu menyemangati untuk bangkit dan tidak minder dengan keadaanku.


"Sudah siap, Ci?" tanyanya ketika aku menyisir rambut yang mulai panjang hampir sepinggang.


"Tinggal ikat rambut saja, Kak."


"Sini, Kak Nalla bantu."


Tangannya mulai mengusap rambut ini dengan lembut yang dibantu sisir untuk merapikannya. Tidak begitu lama, rambutku pun terikat oleh bantuannya.


"Nah, sudah cantik," ucapnya dengan tangan mencubit pelan hidung ini.


Aku tersenyum.


"Percuma, Kak. Aku tidak dapat melihat wajahku seperti apa?"


"Jangan bicara seperti itu, berdoa saja. Akan ada masanya kamu bisa melihat dunia yang indah ini."


Ucapan-ucapan Kak Nalla selalu mampu menyejukkan hati, ia pengganti Ibu setelah kepulangannya beberapa tahun lalu. Kami tinggal bertiga di rumah bersama Ayah. Aku mengalami kebutaan sejak kecil. Dahulu, Ibulah yang selalu menyemangati. Setelah kepulangan Ibu, Kak Nalla yang selalu ada untukku.


"Berangkat, yuk?" ajaknya sembari memberikan tongkat padaku.


Aku mengangguk.


Kami melesat menggunakan motor, angin lembut menyibak wajahku pagi ini. Aku mengeratkan pelukanku pada pinggang Kak Nalla.


"Kamu takut?"


"Ah, tidak. Hanya saja Cici ingin memeluk Kak Nalla saja. Kak Nalla sudah baik selalu ada untuk Cici."


Tiba-tiba saja Kak Nalla menghentikan laju kendaraannya. Sepertinya ia turun dari motor, tak lama kemudian pundakku ada yang memegang.


"Ci, Kak Nalla akan selalu jadi mata buat kamu. Jangan sekali-kali kamu takut akan gelap yang selalu bersamamu setiap waktu, karena di situ ada Kak Nalla yang selalu setia menerangi langkahmu. Semangat, ya, Ci?"


Aku mengangguk.


Tidak lama kemudian, Kak Nalla kembali memacu sepeda motornya. Hingga akhirnya motor itu kembali terhenti.


"Sudah sampai 'kah?"


"Sudah, Ci. Mari, Kak Nalla antar," ajaknya.


Tangan halusnya mulai membimbingku untuk berjalan. Hingga akhirnya aku meraba benda keras di depanku. Mungkin ini pintu? Di sini juga terdengar banyak suara. Mungkin mereka teman baruku, entahlah.


"Selamat siang, Bu?" ucap Kak Nalla.


"Siang, ini Suci, ya?" ucap seorang wanita.


"Iya, saya menitipkan adik saya di sini untuk belajar. Tolong bimbing dia, saya tidak ingin Suci dibodohi orang lain."


"Pasti, saya akan membimbingnya semampu saya."


"Mari, Suci ikut Ibu, ya?" ujar wanita yang mungkin saja itu guruku di sekolah.


Aku mengeratkan genggaman tanganku pada Kak Nalla. Aku merasa takut kalau harus berkomunikasi dengan orang baru.


"Suci kenapa?" tanya wanita itu ketika kakiku mematung.


Aku memeluk Kak Nalla, "Cici takut, Kak," gumamku padanya.


"Tidak usah takut, kan ada ibu guru yang akan menjaga dan memberikan ilmu buat Cici."


Aku mengangguk, Kak Nalla selalu berhasil membuatku menjadi seorang yang berani. Ia benar-benar menjadi mata dan penyemangat dalam hidupku yang gelap.


Aku melangkah dibantu oleh wanita yang kata Kak Nalla merupakan guruku. Ah, semoga saja ia pun baik seperti Kak Nalla.


"Pagi anak-anak."


"Pagi, Bu ...." Ramai suara terdengar di telingaku.


"Ini teman baru kalian. Ayo, perkenalkan namamu, Cantik," titahnya padaku.

__ADS_1


"Hai teman-teman. Namaku Suci Khanaya. Panggil saja aku Cici, salam kenal semuanya."


"Salam kenal, Cici."


Setelah perkenalan beberapa saat, akhirnya aku dipersilahkan duduk. Guru itu mengantarkanku hingga aku duduk di samping seseorang yang entah namanya siapa?


"Hai, kamu Cici, ya?" Terdengar suara lelaki di sampingku.


"Iya, kamu siapa?"


"Aku Putra, salam kenal," ucapnya kemudian tangan itu meraihku.


"Iya salam kenal Putra, semoga kita menjadi teman baik," ucapku dengan seulas senyuman. Walaupun mungkin ia tidak melihat, tapi aku berusaha untuk ramah pada teman baru.


Pelajaran pun dimulai, tak kusangka sangat mengasyikan mendapatkan ilmu bahkan teman-teman baru di sekolah ini. Hingga tak terasa, jam sekolah telah bergulir cepat dan bel pun berbunyi.


"Suci, ayo kita pulang." Putra mengajakku.


Aku berjalan dengan tongkat sebagai penunjuk jalan. Entah kenapa, aku selalu merindukan Kak Nalla.


"Putra, ayok pulang," ucap seorang wanita memanggil.


"Iya, Ma!" jawab Putra. "Ci, aku pulang duluan, ya?" ucap Putra padaku.


"Oh, iya. Hati-hati, sebentar lagi Kakakku juga menjemput."


Sepertinya Putra sudah berlalu pergi bersama seseorang yang ia panggil Mama. Tidak berselang lama, Kak Nalla memanggil namaku.


"Ci!" pekiknya dengan suara kurang jelas.


"Kak Nalla di depan gerbang sekolahmu!" Lagi, Kak Nalla memanggilku.


Aku berjalan dengan bantuan tongkat menyusuri jalan hingga tanganku memegang besi, mungkin saja gerbang sekolah.


Tiba-tiba saja terdengar suara benda yang terseret dengan disertai suara jeritan dari Kak Nalla.


"Aaa!!!"


"Kak Nalla kenapa?"


"Aku tak berguna," lirihku yang terduduk di jalanan dengan tongkat yang masih kupegang.


"Cici?" Terdengar suara Ayah.


"Ayah, Kak Nalla ....." Aku menangis dalam dekapan hangatnya.


Tak banyak kata, Ayah mengajakku untuk ke rumah sakit menyusul Kak Nalla katanya, dengan air yang terus mengalir di sudut mata, aku hanya bisa berdoa semua akan baik-baik saja.


Sesampainya di sana, Ayah segera mengajakku untuk mencari informasi tentang Kak Nalla. Setelah mengantongi informasi, Ayah pun mengajakku ke suatu ruangan.


"Nalla?" ucap Ayah ketika terdengar pintu ruangan yang terbuka.


Ayah membimbingku untuk masuk.


"Ayah? Cici?" ucap perempuan yang selalu menjadi mata untuk hidupku.


"Kak Nalla." Aku menangis ketika Kak Nalla menggenggam tanganku.


"Gimana keadaanmu, Nalla?" tanya Ayah.


"Nalla baik-baik saja. Oh iya, tolong baca ini, Ayah."


Entah mereka bicara apa dan entah Ayah membaca pesan apa dari Kak Nalla. Aku hanya bisa mematung dan selalu berharap semua akan baik-baik saja.


***


Aku menerima kabar kalau hari ini ada orang yang akan mendonorkan matanya untukku. Ah, baik sekali dia.


"Ayo, sudah siapkah ke rumah sakit?" ajak Ayah.


"Baik, Ayah."

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya, aku mengikuti Ayah. Namun, setelah sampai aku mematung.


"Kok malah diem? Ayo," ajaknya ketika aku masih duduk di kursi mobil.


"Aku ingin bertemu Kak Nalla dulu, Ayah."


"Tidak usah, jam operasi kamu akan dimulai. Jadi kamu harus segera melakukan operasi."


"Oh, seperti itu. Ya sudah, semoga ini menjadi kejutan untuk Kak Nalla. Akhirnya, aku akan melihat wajahku, Kak Nalla juga Ayah," ucapku dengan seulas senyuman.


Akhirnya aku dibawa kesebuah ruangan. Ah, tak dapat kujelaskan karena di manapun dan kapanpun mata ini selalu gelap. Ya, aku Suci Khanya, berusia lima belas tahun yang mengalami kebutaan sejak lahir.


**


Perban yang melilit mata ke kepala akhirnya terbuka.


"Pelan-pelan, ya? Kalau merasa pusing, kamu tutup mata dan kembali membuka pelan," titah seorang lelaki.


Aku pun mengikutinya, benar saja aku merasa pusing kala membuka mata. Segera kupejamkan dan memulai dengan perlahan hingga akhirnya seorang lelaki yang berseragam putih itu tersenyum pun lelaki usia matang dengan wajah tampan di sampingku.


"Suci," ucap lelaki yang kukenal suaranya.


"Ayah? Ini beneran Ayah?"


Aku tak kuasa menahan air mata, merasa takjub bisa melihat lelaki yang selalu membimbingku dan selalu mendekapku dikala gundah. Melihat seisi ruangan, melihat aktivitas dari jendela ruangan. Ah, tunggu, masih ada yang kurang.


"Kak Nalla mana, Yah?"


"Kak Nalla udah pulang."


"Loh, kenapa gak menemui Cici di sini?"


"Kak Nalla istirahat di rumah, Ci." Ayah memalingkan pandangan.


"Oh."


***


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sudah lima hari aku berada di rumah sakit, hingga akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Bahagianya hati ini kala mendengar berita itu. Dengan semangat, aku ikut pulang bersama Ayah.


"Loh, kenapa kita berhenti di sini? Ini tempat apa?"


"Nanti kamu tau, ayo ikut Ayah."


Tanpa banyak bertanya aku pun mengikuti langkah ayah yang masuk ke sebuah areal. Hingga akhirnya langkah itu terhenti.


"Peganglah, itu namanya nisan," ucap Ayah.


Aku memegang. "Ibu, ini nisan Ibu kan?" Aku sangat menghafalnya ketika memegang benda yang Ayah sebut nisan.


"Lalu ini punya siapa?" Aku menunjuk ke nisan yang berada di samping nisan Ibu.


"Kak Nalla." Air mata itu jatuh di pipi Ayah.


"Apa? Kata Ayah, Kak Nalla ada di rumah? Ayah bohong!"


Ayah memelukku bersama isak tangis. "Nalla sudah memenuhi janjinya."


"Janji apa?"


"Akan selalu menjadi mata untukmu dan sekarang mata itu sudah menjadi milikmu."


"Apa?"


Ayah mengangguk. "Ini foto Nalla, katanya kamu ingin sekali melihat dia." Ayah menunjukan foto Kak Nalla.


"Ya Allah, Kak. Kenapa ketika aku dapat melihat, sedangkan Kak Nalla sudah tiada? Untuk apa penglihatan ini? Aku lebih baik tidak melihat daripada Kakak terbaring di dalam sana. Ya Allah, Engkau sungguh tidak adil!" Aku memeluk nisan yang masih terbuat dari kayu.


"Jangan seperti itu, semua sudah jalannya jaga mata Nalla karena ia telah memberikannya padamu. Ayah senang kamu bisa melihat, Ci," lirihnya.


"Akan kujaga mata yang Kakak beri untukku. Tenang di sana bersama Ibu, ya, Kak? Aku akan menjaga Ayah di sini." Aku mengusap nisan Kak Nalla dengan perasaan hancur.

__ADS_1


END.


____________


__ADS_2