Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Meminang Anak Preman


__ADS_3

Author : D. Naveen Kenan


“Akang siap bertemu sama Papa?” ujar Mega, gadis yang sudah kukenal satu bulan yang lalu.


“Iya, Akang siap, Ega!”


Dengan semangat, aku menjawab pertanyaan dari gadis manis berlesung pipi.


“Akang yakin?” sekali lagi, Mega menanyakan kesiapanku untuk bertemu dengan orang tuanya.


“Iya, Ega! Akang siap lahir batin!” Lagi, aku menjawab dengan mantap.


Namaku Naveen, aku baru pindah sekitar satu bulan yang lalu ke kota Bandung. Awalnya, aku bermaksud untuk mencari pengalaman kerja di luar kota kelahiranku.


Di sana juga, tempat aku bertemu dengan gadis cantik berlesung pipi yang bernama Mega Damayanti.


“Ya sudah, nanti malam Akang boleh datang ke rumah untuk bertemu dengan Papa,” ujar Mega dengan lembut.


Aku mengangguk, sambil mencari informasi tentang makanan yang disukai oleh Papanya. Berharap, dapat restu dari sang calon mertua.


“Papa suka banget sama martabak,” jawab Mega.


Oke, Good! Aku akan beli martabak biar Papamu ngerestuin hubungan kita, Mega.


.


Malam pun telah tiba. Aku bersiap untuk pergi ke rumah Mega. Memakai kemeja dan celana jeans agar terlihat rapi di depan calon mertua. Tidak lupa, singgah dan memesan dua bungkus martabak untuk calon Papa mertua.


Ya, Mega dibesarkan oleh orang tua tunggal. Dari cerita Mega, ia dibesarkan oleh Papanya, sedari kecil Mamanya sudah meninggal dunia.


Sambil menunggu pesanan martabak matang. Aku membuka ponsel dan menyentuh layarnya. Terlihat wajah Mega dalam foto layar gawaiku. Akhirnya aku berbalas pesan singkat dengannya.


[Ega, bentar lagi Akang sampai ke rumah kamu. Tunggu Akang di rumah, ya?]


[Iya, Mega nungguin Akang. Papa juga udah ada bersama Mega.]


Ihiyy! Calon Papa mertua udah nungguin!


[Woke! Share loc alamat rumahmu, ya?]


Bip!


Notifikasi masuk, aku melihatnya dan ternyata itu pesan dari Mega, tertulis alamat tempat tinggalnya.


“Bang, martabaknya udah jadi!” ujar si penjual martabak.


“Oke! Berapa, Mang?”


“Lima puluh ribu.”


Aku pun membayar dan berlalu pergi, tancap gas ke rumah Mega.


'Tunggu Akang, Ega!'


Aku melesat dengan motor matic.


Setelah sampai ke desa yang dituju, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.


“Malam Kang?”


Aku bertanya pada seorang laki-laki.

__ADS_1


“Iya, malam juga, Kang. Ada apa, ya?” jawabnya ramah.


“Mau tanya alamat, Kang. Ini benar ‘kan Desa Cisaat?”


“Iya, benar Kang. Bade ka saha? (Mau ke siapa?)”


“Mau ke rumahnya Om Delis yang mana, ya?” tanyaku sopan.


“Kang Delis?”


Aku mengangguk.


Tiba-tiba sorot lelaki itu berubah. Seperti ada ketakutan pada ekspresi wajahnya.


“Teu terang, Kang! (Gak tau, Kang!) permisi!” Lelaki itu masuk dalam rumah.


Yaelah, apa aku salah bertanya?


Akhirnya aku mengirim pesan pada Mega, aku mulai mengetikan sesuatu.


[Ega, nama Papa kamu itu Delis, ‘kan?]


Send.


Aku mengirim pesan.


Bip!


Pesan masuk.


[Iya. Tanya saja sama warga, udah pada tau kok, Kang!]


[Oke!]


Lagi, aku bertanya pada sekumpulan pemuda yang sedang asyik bersenandung ria, dengan gitar yang ada di tangan dan suara syahdu mendayu-dayu fals terdengar di telinga.


“Misi, Akang. Saya mau tanya, rumah Om Delis, yang mana, ya?” tanyaku.


“Waaahhh ... Kita gak tau, Kang. Ayok, bubar-bubar!” ujar salah satu pemuda yang ada di situ. Dalam waktu kurang dari dua menit, sosok mereka sudah menghilang dari pandanganku.


Why?


Aku merasa heran dengan semua ini. Hampir satu jam bertanya pada warga sekitar tentang alamat ini. Tidak ada satu pun yang berani memberikan jawaban jelas. Yang ada, wajah mereka seperti takut ketika mendengar nama Delis, lalu bergegas masuk dalam rumah.


Akhirnya, aku mengirim pesan pada Mega untuk menjemput di sebuah perempatan. Tidak berselang lama, motor Mega pun menghampiriku yang sedang duduk di atas motor matic.


“Akang udah lama?” tanya Mega dengan melempar senyuman, membuat jantung berdebar kencang.


“Lumayan, martabaknya aja udah dingin kek nya.” Netraku melirik pada bungkusan plastik yang tergantung di stang motor.


“Iya, gak papa. Ya udah, ayok ikuti aku!”


Mega melesat dengan motor yang ia kendarai, sedangkan aku mengekor motor yang ia kendarai dengan kecepatan sedang.


Setelah cukup lama berjalan dikegelapan malam. Akhirnya, motor Mega memasuki salah satu rumah yang cukup besar.


“Mari masuk, Kang!” ajak Mega.


Aku mengekor Mega yang berjalan santai, masuk rumah sambil membawa bungkusan plastik, yang berisi martabak kesukaan calon Papa mertua.


“Malam, Neng!” ujar dua pria bertubuh kekar dengan banyak tato di lengannya, sangar.

__ADS_1


Mega hanya tersenyum dan masuk ke dalam rumah yang cukup besar.


Kok hawanya kagak enak gini, ya?


“Silakan duduk, Kang!” ujar Mega. “Nanti, Ega panggilin Papa di dalam,” sambungnya.


Aku mengangguk dan duduk di kursi sofa berwarna hitam polos. Melihat tubuh Mega sudah tidak terlihat. Ia masuk ke dalam ruangan. Rumahnya cukup besar dan nyaman, aku melihat di sekeliling rumah, tidak ada satu pun foto seorang Pria. Hanya ada beberapa foto Mega, selebihnya gambar lukisan yang menurutku menyeramkan.


Tiba-tiba, ada laki-laki yang menghampiriku dengan badan kekar, kulit hitam, rambut ikal dan panjang yang pasti banyak tato di tubuhnya. Ia terlihat menyeramkan.


Siapa dia?


“Lu yang bernama Naveen?” tanya lelaki sangar itu.


“I- Iya, Om!” jawabku terbata.


“Lu serius, mau nikahin anak gue?”


Masih dengan suara berat, mungkin juga memang khas suaranya seperti itu.


Mati! Ini bapaknya? Inalillahi! Si Mbok, tolong! Naveen gak mau mati muda!


Hati berteriak, kala mengetahui lelaki sangar yang ada di hadapan adalah Papa Mega, calon Papa mertuaku.


“I- Iya, saya serius Om,” jawabku yang masih terbata, dengan keringat yang meluncur dari wajah dan punggungku.


“Baru kali ini ada lelaki yang mau datang ke rumah ini. Gue hargai keberanian lu, Tong!”


Buset, dah! Aku pun gak bakal berani kalau mengetahui Bapaknya seperti ini.


“Lu bawa apaan?”


Matanya melirik ke bungkusan yang kubawa.


“Ini ... ini martabak, Om. Silakan!” Aku memberikannya.


Ia tersenyum. Tapi, tetap saja senyumnya itu menyeramkan menurutku.


“Baiklah, kalau lu serius. Gue minta pernikahan dipercepat dan satu hal yang mesti lu inget!” ujarnya sambil membulatkan mata dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Aku semakin syok ketika wajah sangar itu sudah berada di depan mata, hanya berjarak beberapa centi saja, wajahnya seperti siap menerkamku kala itu.


“Apa itu, Om?” tanyaku gelagapan.


“Kalau sampai lu nyakitin anak gue. Cacing lu gue potong!” ancam lelaki sangar itu.


Wanjerrr!!!


Seketika lenganku refleks memegang celana. Merasa ngeri dengan ancaman calon Papa mertua. Keringat pun semakin mengucur deras di dahi dan punggung. Mungkin juga kemejaku terlihat basah oleh keringat.


***


Itu kisahku sebelum menjadi menantu dari preman, dua tahun silam. Mendapatkan Mega yang ternyata anak dari preman pasar.


Ternyata, nama Delis itu hanya singkatan yang berarti Dewa Iblis. Kata itu disematkan karena kata Om Delis yang kini menjadi Papa mertuaku, dirinya dulu begitu ditakuti di pasar bahkan dari penjuru kota Bandung, namanya sudah di kenal. Sosok preman sadis diibaratkan iblis.


Tetapi, sesadis apa pun Papa Delis, ia begitu menyayangi putrinya Mega, yang kini telah menjadi istriku.


Papa Delis pun akhirnya pensiun sebagai preman, ketika putra pertama kami lahir. Kini, ia menjadi sosok agamis walau tato masih bersemayam di tubuhnya.


Semoga Allah selalu membimbing Papa Delis dan tidak kembali terjebak pada jalan yang sesat dan merugikan banyak orang.

__ADS_1


.End.


__ADS_2