
"Nai." Aku memanggil Naima––sahabat karibku dari kecil. Entah dari kapan aku mulai suka padanya, hingga saat aku berseragam putih-abu baru menyadari ada debar yang aneh ketika bersamanya.
"Bentar, Natan. Aku lagi ganti baju," jawabnya pelan dari dalam.
Aku masih menunggu dari balik jendela kamar yang tertutup dan hanya terlihat tirai warna biru dari kaca. Naima suka sekali dengan warna biru. Menenangkan katanya.
Namanya wanita, ganti baju saja menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit. Entah apa saja yang dia kenakan hingga menghabiskan waktu selama itu.
Tubuhku mulai digigiti nyamuk, terutaman tangan yang meninggalkan bentol disertai gatal.
Jendela kamar terbuka, diiringi dengan suara lompatan dari tempat yang cukup tinggi. Siapa lagi kalau bukan Naima? Dia memang suka sekalai melompat dari jendela kamar.
"Udah dari tadi?" tanyanya berbasa-basi.
"Ellah ... pan, tau, gue ngetok jendela kamar dari kapan?" jawabku sambil mengangkat satu alis.
Naima tersenyum, lalu menatap ke arahku. "Yaa Tuhan ... banyak banget bentolnya," kata Naima ketika menarik tanganku.
"Hillih, udah biasa, kan?"
"Sini, aku olesi dulu minyak kayu putih biar enggak terlalu gatal," katanya yang lalu duduk di rumput dekat kamarnya.
Aku pun duduk di sampingnya. Naima mulai mengeluarkan botol kecil berwarna hijau yang mempunyai wangi khas bayi. Jemarinya mulai membuka tutup botol lalu menuangkannya sedikit ke telapak tangan dan mengolesi tanganku yang bentol. Seketika, wangi bayi menguar kuat.
"Udah, jangan banyak-banyak. Wangi parfum gue ilang nanti. Lu mau jalan sama orok?" kataku sambil menarik tangan dari jemarinya.
"Biarin, bagus tau jalan sama bayi. Biar enggak diapa-apain," ucap Naima sambil tersenyum.
"Berangkat sekarang?"
Naima mengangguk.
Aku berdiri sambil mengulurkan tangan. Naima meraihnya. Seketika waktu terasa berhenti, disertai dengan desir dalam dada. Mata kami saling menatap bersama debar jantung mulai mengencang. Apa yang terjadi denganku?
"Naima!" Suara seorang wanita memanggil cukup kencang. Siapa lagi kalau bukan Tante Leni––ibu tiri dari Naima.
"Cepat lari," ucapnya pelan sambil menarik tanganku. Kami berdua berlari di bawah langit malam yang disertai angin yang membelai tubuh.
"Nai, tunggu!" Aku menghentikan langkah ketika sudah sampai di dekat taman.
"Ada apa?" jawabnya dengan napas terengah.
"Kenapa kita harus seperti ini, sih? Kenapa terus menghindar dari nyokap, lu?"
Naima masih terlihat mengatur napas. Dia kemudian berjalan menuju bangku di pinggir jalan yang disoroti lampu taman berwarna jingga.
Aku berjalan mendekati dan duduk di sampingnya. Keadaan malam sangat sepi, mungkin karena telah larut. Tidak ada yang kami kerjakan, aku mengajak Naima hanya sekadar ingin melihat bintang.
Bintang? Iya. Naima begitu suka menatap bintang ketika larut malam dengan keadaan sepi di taman.
"Kamu, kan, tahu, Natan. Ibu tiri aku begitu galak. Aku hanya ingin melihat bintang. Hanya itu!"
__ADS_1
"Apa harus dengan cara ini? Kenapa harus di taman ini, sih, Nai?"
Naima tertunduk dan keadaan menjadi hening, hanya desau angin yang terdengar di telinga dan begitu lembut mengusap wajah juga tubuh kami malam ini.
"Nai? Lu gak jawab pertanyaan gue?" tanyaku dengan mata menyipit ketika memandang wajah Naima yang masih tertunduk.
Naima mengangkat wajahnya. Dia memandang sepasang mataku kemudian berkedip yang disertai air mata yang berderai.
"Nai? Lu kenapa? Pertanyaan gue salah, ya?" Aku mulai salah tingkah melihat Naima yang tiba-tiba saja menangis.
"Enggak, Natan," katanya sambil menggeleng.
"Lalu? Kenapa lu nangis?" Mataku menyipit.
Naima kemudian bercerita, bahwa di taman ini menyimpan banyak kenangan bersama ibu kandungnya. Mereka berdua sering melewati malam bersama dan melihat bintang di taman ini ketika malam telah larut. Pantas saja, setiap aku mengajaknya keluar sekitar jam tujuh malam Naima menolakku.
"Tapi enggak baik, loh. Apalagi, gue sama lu berbeda jenis kelamin. Emang lu mau dikawinin sama gue kalau ada yang ngeliat kita berduaan malam-malam gini?"
"Gak papa. Kamu, kan, yang paling baik dan ngertiin aku. Thanks, ya, Natan. Kamu selalu ada untuk aku," katanya sambil meletakkan tangannya di atas tangan kiriku.
Debar dalam dada kian liar berdetak kencang. Aku semakin tak kuasa untuk mengontrolnya. Harus bagaimana ini?
"Nat, ke taman, yuk?" ajaknya. Naima menarik tanganku sesaat aku mengangguk samar karena lebih fokus pada getaran yang ada dalam dada.
Aku dan Naima berjalan ke taman. Kini, hamparan lahan yang ditutupi oleh hijaunya rerumputan telah tersaji di depan mata. Naima menarik tanganku kemudian tubuhnya terbaring di atas rerumputan.
"Sini, deh. Aku suka lihat bintang-bintang dari sini," ajaknya dengan mata yang terfokus pada langit malam yang bertabur bintang.
Aku meraih tangan Naima kemudian menggenggamnya hangat. Sontak, wajah Naima kini menghadapku dengan sorot mata lekat. Tidak ada yang aku katakan, hanya berusaha menetralkan debar yang terus saja berdetak semakin kencang. Menelan saliva ketika bibir merah muda Naima sedikit tersenyum.
"Makasih, ya, Nat," katanya dengan suara pelan.
Aku mengangguk dan kami sama-sama menatap bintang dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat. Bahkan sangat erat.
***
Aku baru tersadar ketika tubuh semakin dingin menggigil. Bahkan seolah beku bersama rerumputan yang basah karena embun.
Ya, aku di taman. Masih terbaring di taman ini. Taman indah dengan banyak rupa bunga kuncup dan bermekanran. Serta kunang-kunang bersinar yang terbang tepat di atas wajahku.
"Gue harus kuat!" ucapku ketika menyadari kalau saat ini Naima tidak ada di sisi. Dia meneruskan kuliah ke luar negeri dengan membawa cinta dan rasa sayangku.
Sudah satu tahun terakhir aku tidak berkomunikasi dengannya. Entah, apakah dia baik-baik saja atau bahkan sebaliknya.
Aku berusaha mencari. Menanyakan kepada saudara-saudaranya bahkan teman-teman yang kuliah bersamanya. Namun, semua bungkam. Tidak ada yang memberitahuku di mana Naima saat ini. Ponsel pun tidak aktif. Entahlah, aku hanya dapat mengenang saat-saat indah bersamanya.
"Di sini, rupanya." Seseorang duduk di samping.
Aku menoleh.
"Move on, Bro! Buka lembaran baru," katanya tanpa memandang ke arahku. Sepertinya dia telah bosan melihatku yang semakin hari seolah tidak bersemangat untuk menjalani hidup.
__ADS_1
"Siapa juga yang gamon?"
"Lu! Siapa lagi?"
Aku tersenyum kecut lalu berpaling dan duduk. "Sotoy!" selorohku.
"Apa buktinya kalau lu gak gamon, hah?"
Aku terdiam.
"Ngejawab enggak gamon, kok, molor di taman ini? Kayak gak punya kamar aja, lu!" ketus Alle––sahabatku.
Alle memang benar, hingga saat ini aku belum bisa melupakan Naima. Bagaimana bisa aku melupakannya? Kami tidak ada masalah sebelumnya. Naima pergi, menghilang begitu saja tanpa kabar. Apa ini artinya memang Naima menginginkan perpisahan?
"Udahlah, capek liat orang gamon terus!" Alle berlalu pergi.
Aku hanya menatap tubuh Alle yang berjalan memunggungiku. Semakin jauh kemudian menghilang dari tatapanku saat ini. Aku menghela napas kemudian mengembuskan perlahan.
🍃🍃🍃
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan kuulangi
Maafkan jika kau kusayangi
Dan bila kumenanti
Pernahkah engkau coba mengerti
Lihatlah aku di sini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
🍃🍃🍃
Aku memejamkan mata seiring lagu yang kunyanyikan di bawah langit malam dan semilir angin. Masih bersama bintang, tapi tidak dengan Naima. Dia pergi.
__ADS_1
Aku membayangkan saat-saat indah bersamanya. Akhirnya tersadar ketika ada air yang membasahi pipi. Aku merindukan Naima yang hilang tanpa kabar dan meninggalkan hatiku yang terdalam.