Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Artanabil Titipan Allah


__ADS_3

"Kak, bangun, yuk."


Suara lembut membangunkanku, bukan hanya itu, tangannya pun mulai mengguncang pelan tubuh ini. Sengaja aku berpura-pura tertidur agar dia mau mencium pipi ini.


"Kak, ayok bangun nanti keburu imsak." Dia masih belum menyerah membangunkanku pagi itu.


Tiba-tiba saja kecupan hangat meluncur di pipi, bibirku melengkung bahagia. "Ish! Kakak rupanya sudah bangun dari tadi?" ketusnya.


Aku membuka mata dan melihat dia yang sedang melipat tangan di dada disertai bibir yang mengerucut, mungkin dia kesal. Tetapi wajahnya tetap terlihat manis.


Aku meraih tangannya hingga tubuh yang sedikit gemuk itu kini berada tepat di sampingku. "Jangan cemberut dong," bisikku lembut.


"Bodo!"


"Nanti aku makin cinta sama kamu," ucapku sambil mengecup pucuk kepala yang tertutup hijab purple yang dia kenakan pagi ini.


"Ish! Gombal terus! Gak malu apa, sama calon anak kita yang ada dalam perutku?"


"Eh, kenapa harus malu? Kan aku sayang," godaku yang akhirnya membuat pipi Khumaira menjadi bersemu merah.


Begitulah cara dia membangunkanku ketika hendak sahur dan begitu juga caraku merespons hingga membuatnya kesal setiap pagi. Anehnya, kelakuan itu terus terulang. Mungkin inilah cara kami menunjukkan rasa sayang? Terdengar sedikit gombal, tetapi kalau membuat pipinya memerah karena bahagia, kenapa enggak?


Kami bangkit dari tempat tidur kemudian menuju ruang makan, kebetulan kami masih satu rumah sama ibu jadi aku masih bisa berbakti secara langsung padanya. Alhamdulillah, ibu dan Khumaira sama-sama mengerti dan saling sayang, mereka kompak dalam segala hal termasuk menyayangiku. Rasa syukur tak terhingga pun terus terucap karena dua wanita yang kusayangi selalu harmonis, tidak ada, 'tuh, yang namanya menantu atau mertua julid.


Hingga tidak terasa waktu imsak pun telah tiba, ditandai dengan suara sirine. Bukan kebakaran, tetapi suara itu berasal dari masjid yang menandakan waktu imsak telah usai dan kami kini memasuki puasa yang berarti tidak makan dan minum, bukan itu saja, emosi dan hal lainnya pun harus kita kendalikan agar tidak mengurangi pahala berpuasa.


"Ibu ke mesjid, ya?" ujar ibu ketika azan subuh berkumandang. Beliau wanita yang melahirkanku dua puluh dua tahun lalu.


"Iya, hati-hati, Bu," ucapku.


"Aku pamit, ya, Kak?" Disambung oleh Khumaira yang ikut serta bersama ibu ke masjid.


Dia mencium tanganku. "Hati-hati, Sayang." Aku kembali mencium pucuk kepalanya.


Setelah mereka ke masjid, aku bersegera mandi, salat, kemudian bersiap untuk bekerja. Kebetulan hari ini tempat kerja cukup jauh dari rumah yang mengharuskanku berangkat lebih pagi, dengan sepeda motor aku melesat di bawah langit yang masih gelap. Angin menerpa tubuhku yang terbalut oleh jaket yang cukup tebal tetapi masih terasa dingin kurasa. Telapak tangan dan wajah yang terasa dingin pagi ini. Hingga tidak terasa, sedikit demi sedikit mulai berganti. Dingin itu berubah menjadi hangat ketika mentari mulai bersinar pagi ini. Seperti calon anak kami yang akan menghangatkan keluarga kecil ini.


"Weii, Veen! Sudah datang kau rupanya?" tanya Bang Andi yang menjadi partner kerja, dengan logat Bataknya dia semangat menyapaku pagi ini.


"Iye Bang. Gimana kabar?" tanyaku padanya karena kami baru dipertemukan kembali hari ini, setelah satu bulan Bang Andi izin pulang ke Medan.


"Baiklah, istri kau kek mana? Sudah melahirkan, kah? Seingatku, perutnya sudah membersar dulu."


"Belum, Bang. Harusnya bulan-bulan ini dia melahirkan, tinggal menghitung hari kata Bidan," jawabku dengan seulas senyum, tidak kuat menyembunyikan perasaan bahagia ketika akan menyambut kelahiran anak pertama kami.


Aku dan dia memang menikah muda. Niat kami menikah untuk beribadah dan siapa sangka, Allah mempercayakan pada kami untuk menjadi orang tua secepat ini? Di usia pernikahan kami yang baru menginjak angka tiga bulan, dia telah mengandung benih cintaku di rahimnya.


"Semoga kelahirannya lancar. Ayok kita kerja!" ajak Bang Andi sambil berdiri.


Aku pun mengikuti Bang Andi, kami bekerja di salahsatu perusahaan yang bergerak di bagian produksi CCTV. Aku dan Bang Andi bertugas memasang CCTV pada peng-order. Tak ayal, pekerjaan kami selalu di luar kantor.


Hari-hari disibukkan dengan pekerjaan ini, apalagi sekarang kami sedang memasang CCTV di kantor baru yang cukup besar, pasti memerlukan waktu yang cukup lama. Semakin sedikit waktuku bersama dia, tetapi tetap kusyukuri karena nikmat dari-Nya selalu melimpah pada keluargaku, terlebih ketika khumaira mengandung, pintu rezeki terasa semkin terbuka lebar.


"Veen! Ayok balik, kesorean ini. Nanti kita balik kemalaman sampe rumah," ajak Bang Andi.


"Iye!" sahutku yang kemudian membereskan alat-alat yang belum selesai semua kami pasang.


Kami melesat dengan sepeda motor masing-masing hingga di persimpangan jalan, kami pun terpisah karena arah rumah kami yang berbeda.

__ADS_1


"Hati-hati, lu!" ucapnya kemudian melesat dengan kecepatan tinggi sebelum aku mengiyakan.


Motor ini melaju kencang menyelesaikan perjalanan yang masih setengahnya menuju rumah. Di pinggir jalan aku melihat para pencari rezeki yang menjajakan makanan takjil berbuka puasa, hingga mata ini melihat es campur kesukaannya. Es yang memiliki kuah kental dan gurih, antara perpaduan santan dengan susu sungguh menggugah selera, terlebih saat puasa seperti sekarang. Aku memarkirkan motor, kebetulan antreannya tidak terlalu panjang sehingga bisa memesan tidak terlalu lama.


"Mang, es campurnya dua, dibungkus, ya," pintaku.


Penjual itu membungkuskan pesananku dengan cepat. Setelah membayar, aku pun kembali melesat dengan bahagia walau dompet jebol. Untuk menyenangkan istri dan ibu, kenapa tidak? Toh, uang dapat dicari lagi.


*


"Assalamualaikum," ucapku di depan pintu.


"Waalaikumsalam." Bidadariku menghampiri. Dia mencium tangan dan aku membalas dengan kecupan hangat di keningnya.


"Tumben lama, Kak?" tanya Khuamira.


"Iya, tadi aku beli ini buatmu dan ibu." Aku memberikan bungkusan itu padanya.


"Apa ini?" tanyanya sambil meraih plastik yang ada di tanganku, "es campur?" Matanya membulat.


Aku mengangguk kemudian tersenyum.


"Ya Allah, Kak. Ini kan es campur yang legendaris itu, ini mahal loh harganya untuk kita."


"Gak papa, sesekali buat kalian bahagia. Maaf, ya, hanya es campur pun aku susah untuk membelikannya?"


Dia tersenyum. "Bagiku kamu itu imam yang baik dan bertanggung jawab. Dua hal itu yang paling berat dalam hidup, terima kasih selalu memberikanku kebahagiaan, Kak," ucapnya yang kemudian menghambur ke pelukan.


Pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuh yang penuh keringat, setelah itu aku pun keluar mengenakan handuk yang dililit ke perut. Pakaian telah tersedia di atas kasur, setelah selesai aku pun keluar dari kamar menuju ruang makan di sana sudah ada menu buka puasa, termasuk es campur yang kubeli sepulang kerja.


Aku pun duduk lalu membuka tudung saji di meja makan. "Wahh ... ada rendang." Mataku berbinar karena rendang daging sapi merupakan kesukaanku dari kecil, maklum saja, kami begitu jarang makan daging.


Tidak berselang lama, azan pun berkumandang kami bertiga menikmati hidangan berbuka puasa. Setelah itu kami bersiap melaksanakan ibadah salat magrib kemudian salat isya yang dilanjut dengan tarawih.


Alhamdulillah tuntas sudah puasa pertama kami beserta ibadah wajib dan sunah hari ini. Aku dan dia bersiap untuk tidur.


"Kak," ucapnya ketika kami sudah ada di tempat tidur.


"Hem?"


"Kalau anak kita perempuan, dikasih nama apa?"


"Emm ... apa, ya?" sejenak aku berpikir, "bagaimana kalau Ciara Allena?"


"Artinya?"


"Terang, bersih lagi cantik. Terang untuk keluarga kita, bersih untuk hatinya dan cantik untuk parasnya," jawabku sambil menyelipkan rambut di telinganya.


"Kalau laki-laki, namanya siapa?"


"Muhammad Artanabil Mauza."


"Artinya?"


"Anak laki-laki teguh, berjiwa pemimpin dan bijaksana yang memiliki sifat seperti Rasulullah SAW. Udah, tidur gih udah malam, besok kita bisa cerita lagi kan aku off kerja besok ini," terangku padanya.


Dia mengangguk. "Assalamualaikum, Suamiku," ucapnya yang lalu memejamkan mata.

__ADS_1


Aku mengecup pucuk kepalanya kemudian memeluk hangat tubuhnya. "Waalaikumsalam, Khumairaku."


***


"Veen, Naveen." Terdengar sayup suara memanggil yang disertai ketukan pintu kamar.


"Khumaira!" Aku terperajat ketika Arta menangis. "Sayang, kamu kenapa, Nak?" ucapku yang kemudian menggendong Arta.


"Veen, Arta kenapa, Nak?" Suara ibu terdengar dari balik pintu.


"Badan Arta panas, Bu! Masuk saja, Naveen gak kunci pintu kok!" teriakku dalam kamar.


Pintu itu pun terbuka kemudian ibu langsung meraih Arta. "Ya Allah, panas sekali, ayok bawa ke rumah sakit saja," ajak ibu.


Kami melesat ke rumah sakit menggunakan mobil yang baru saja kami beli beberapa Minggu lalu. Usia Arta kini genap satu tahun. Tidak terasa, aku telah melewati satu tahun tanpa Khumaira. Dia meninggal karena pendarahan hebat ketika melahirkan Arta. Selama satu tahun ini juga, aku mengurus Arta yang dibantu oleh ibu. Aku menyaksikan tumbuh kembang Arta, dari mulai ia belajar tengkurap, merangkak, belajar mengoceh dan kini dia hampir dapat berjalan.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?"


"Putra Bapak baik-baik saja, sepertinya si Jagoan mau bisa berlari. Nanti saya kasihkan resep penurun panas, ya, Pak," ujar sang dokter sambil mengusap pelan tangan Arta.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan, Dok?" tanyaku memastikan.


"Insya Allah, tidak, Pak. Hal yang wajar untuk anak seusia Arta sakit panas seperti ini," jelas dokter.


Setelah pemeriksaan dan obat yang sudah ada di tangan, akhirnya aku bergegas pulang dan hendak membawa Arta ke pusara Mamanya, saat ini dia berusia tepat satu tahun.


Memacu mobil hitam melesat ke pemakaman umum. Arta tertidur saat itu di gendongan Ibu.


"Loh, kok ke sini, Veen?" tanya ibu.


"Naveen mau ke pusara Khumaira, Bu. Usia Arta satu tahun hari ini."


"Veen," ucap ibu memanggilku dengan lembut.


"Iya?" jawabku tanpa menoleh.


"Ikhlaskan Khumaira, dia sudah bahagia di sana. Ingat, wanita yang melahirkan itu termasuk mati syahid. Dalam riwayat lain, dari Jabir bin 'Utaik, Rasulullah SAW bersabda:


*Syahid ada tujuh macam selain gugur (terbunuh) di jalan Allah; orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid. Orang yang mati tenggelam adalah syahid. Orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid. Orang yang mati terbakar adalah syahid. Orang yang mati karena tertimpa bangunan atau tembok adalah syahid. Wanita yang gugur di saat melahirkan (nifas)* (HR. Imam Thabrani)," jelas ibu.


Aku hanya bisa terdiam, ada yang bilang kehilangan tulang punggung akan menyakitkan dibanding dengan tulang rusuk. Menurutku itu salah besar, karena kini aku merasakan kehilangan tulang rusuk itu bagaikan kiamat dalam hidup.


Akhirnya mobil terparkir di samping gerbang TPU, aku mengajak Arta dari gendongan ibu. Jagoanku pun terbangun dia sedikit mengoceh padahal suhu badannya masih cukup panas.


"Arta, ini pusara Mama. Kalau Arta kangen, Arta bisa ke sini bertemu Mama," ucapku sambil mengulurkan lengan mungil itu pada nisan yang berwarna hitam.


"Ma-ma, Ma-ma," ujar Arta sambil memperlihatkan beberapa gigi yang telah tumbuh, ekspresi wajahnya tersenyum bahagia ketika kami ada di pusara Khumaira.


Khumaira, bidadariku. Tenanglah di sana, aku akan menjaga putra kita, Arta. Kamu benar, Arta sangat mirip denganku. Doakan aku agar bisa membimbing dia sesuai ajaran agama kita. Di sini, doaku takkan pernah putus untukmu. Bahagia di sana, Sayang. Semoga Allah mempertemukan kita di Surga Firdaus.


Tangan ini mengusap nisan hitam yang bertuliskan Khumaira Binti Al-Buqhori.


"Sabar, ya, Veen. Allah jauh lebih sayang pada Khumaira, berbahagialah karena kamu diberikan kesempatan untuk menjalani hidup dengan Khumaira walau hanya sekejap. Semoga kalian kembali dipertemukan di Surga Darul Muqamah."


"Aamiin ...." lirihku dengan air mata yang meluncur dari kedua sudut mata.


__ADS_1


__ADS_2