Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Tiga Surat Dari Mama


__ADS_3

#TIGA_SURAT_DARI_MAMA


#CERPEN


By : D. Naveen


Hai, namaku Luna Valentina. Berusia, hampir 21 tahun. Aku mau bercerita tentang sedikit kehidupanku yang tinggal di panti asuhan.


Aku kini telah bertunangan. Aku bekerja sebagai SPG kosmetik dari salah satu brand ternama di indonesia.


Aku dititipkan oleh Ibu karena beliau pergi ke luar negri menjadi TKW di Saudi Arabia. Kata Ibu panti, Mama sudah tidak mempunyai sanak saudara, sehingga beliau terpaksa menitipkanku di panti asuhan.


Tidak pernah kami berkomunikasi. Alasannya, karena tidak diperbolehkan membawa hand phone kata Ibu panti.


Lalu, dari mana Aku tahu Beliau kerja di Arab?


Dari surat.


Kok bisa? Iya bisa! Buktinya Aku sekarang lagi menunggu surat ke 3 dari Mama, yang akan Ibu panti kasih ketika hari kelahiranku 14 Februari. Tapi, di surat ke 3 merupakan surat spesial dari Mama tutur Ibu panti, jadi Aku bisa membacanya setelah menikah.


Kembali ke masa lampau.


.


Aku mendapatkan surat pertama dari Mama ketika berusia 14 tahun.


¤Surat pertama dari Mama¤


Hai Luna, kini usiamu sudah 14 tahun. Pasti kamu tambah cantik ya, Nak.


Sekarang kamu sudah SMP. Jadi, sudah pintar sekali baca dan memahami tulisan yang Mama tuliskan. Sengaja Mama kirim sebagai kado ulang tahunmu.


Sebagai penggobat rindu di antara kita. Selamat ulang tahun Nak. Do’a Mama selalu mengalir teruntuk anak Mama yang paling cantik.


Hatiku senang membaca surat pertama dari Mama, Aku sebut ini surat cinta dari Mama.


Gimana sekolah kamu, Nak? Pasti menyenangkan? Kamu pasti banyak teman.


“Iya Ma, Luna begitu senang, Luna juga punya banyak teman baru di sekolah,” sambil senyum-senyum girang baca surat dari Mama.


Awas! Jangan dulu pacaran ya! Kamu masih kecil. Nanti pelajaranmu terganggu.


“Idih Mama! Luna gak pacaran kok!”


Aku selalu menjawab langsung surat dari Ibu. Seperti sedang ngobrol berhadap-hadapan.


Luna sayang, Ibu mohon kamu jadi anak yang baik, ya? Anak yang ta’at pada ajaran agama. Oh ia jangan tinggalin sholat ya Nak. Terakhir, titip salam buat Ibu panti.


“Iya, Ma! Luna janji, jadi anak yang baik, enggak akan ninggalin sholat.”


Aku berlari menghampiri Ibu panti.


“Ibu, Makasih, ya? hadiahnya indah. Luna senang!"


“Sama-sama Luna,” jawab Ibu panti sambil tersenyum.


“Oh iya, Mama juga titip salam buat Ibu katanya.”


Tiba-tiba Ibu panti mendekapku. Ia memelukku, terharu mungkin.


“Ya udah, nanti tunggu surat ke dua dari Mama, ya?”


“Kapan?”


“Tahun depan sayang!”


Sambil memegang kedua pipiku.


Aku pergi, pamit untuk sekolah dengan Raut wajah senang, yang terpancar jelas melalui senyuman dari bibir tipis ini.


“Hati-hati Luna!” pesan Ibu panti.


Aku hanya melambaikan tangan.


***


Waktu terus berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Yes! Tiba saatnya di usia 15 tahun. Sepulang sekolah, aku berlari menghampiri Ibu panti.


“Bu! Ibu!”


Aku mencari Ibu panti.


Ke setiap sudut, mencari keberadaan Ibu panti, ternyata Ibu lagi ada urusan kata anak panti lain.


Aku menunggu Ibu panti pulang dengan gelisah.


“Mana ibu, ya?”


Dengan raut wajah cemas.


“Assalamu’allaikum!”


“Wa’allaikum salam!”


Aku berlari menghampiri.


“Mana surat dari Mama, Bu?”


“Em ... Em ... yang udah enggak sabar baca surat dari Mamanya.”


“He ... He ....”


Tawa kecil dari bibir tipis ini.


Dengan deguk jantung kencang dan hati yang gembira, aku membaca surat kedua dari Mama.


¤Surat ke dua dari Mama¤


Luna sayang, Selamat ulang tahun. Selamat juga, kamu kini sudah menjadi gadis yang lebih dewasa. Kamu sudah masuk SMA, ya? Udah punya pacar belum?

__ADS_1


“Makasih Mama atas ucapan ulang tahunnya, semoga kita bisa bertemu Mam. Luna belum punya pacar Mam!” Sembari tertawa kecil.


Kalau udah punya juga enggak apa-apa, asal jangan sampai mengganggu pelajaran dan jangan sampai kamu tidak membantu Ibu panti ya, Nak?


“Iya Mama Sayang,” ucapku.


Selalu Mama mendo’akan mu Nak, Wajah kamu pasti mirip seperti Mama.


“Luna enggak tahu raut wajah Mama.”


Suatu saat, kamu pasti bisa ke tempat Mama, Nak.


“Tapi kapan, Mam?”


Air mataku menetes.


Udah jangan sedih, pasti kamu lagi nangis, ya? Maaf’in Mama ya, Nak? Mama sayang banget sama Luna.


“Enggak apa-apa Mam, Luna juga sayang banget sama Mama.”


Baik-baik di panti ya, Nak! Pesan Mama selalu sama. Jangan meninggalkan sholat, harus jadi orang yang baik, selalu sayang sama Ibu panti, karena beliau yang telah membesarkan dan merawatmu sedari kecil! Mama sayang sekali sama Luna, Muachhhh....


Salam buat Ibu panti ya, sayang!


.


Aku langsung memeluk kertas surat bersama amplop surat dari Mama. Tiba-tiba ada yang jatuh.


“Apa ini?”


Aku mengambil kertas putih yang tercelungkup.


“Eh, ada tulisannya. Monic. Monic itu siapa?"


Aku pergi berlari mencari Ibu panti.


.


“Udah bacanya, Nak?” tanya Ibu panti.


“Udah, Bu!” sambil ter’engah-engah setelah berlari.


“Kenapa Nak?”


“Luna mau ceritain dulu isi surat dari Mama, bu. Katanya salam buat Ibu.”


Napasku masih ter’engah-engah.


“Oh iya Bu, Monic itu siapa?”


Mata Ibu panti seketika membulat, seperti kaget, mendengar nama itu.


“Kamu tahu dari mana, Nak?” tanya Ibu panti.


“Di dalam surat terselip foto ini, Bu. Ada tulisan Monic, tapi Luna enggak kenal dengan Tante ini,” pungkasku.


Ada air mata yang jatuh di pipi Ibu panti, langsung Ibu panti memelukku saat itu.


“Monic itu Mamamu, Luna”


Tangisan Ibu panti tak dapat terbendung.


“Ini Mama Luna, Bu?”


Sambil menunjuk foto yang ada dalam genggaman.


Ibu panti mengangguk.


Air mataku pun berderai, tak percaya bisa melihat sosok Mama yang aku rindukan selama ini.


Aku memeluk, mencium dan terus memandangi foto Mama yang selama ini kurindukan.


“Makasih Bu, berkat Ibu, Luna bisa tahu raut wajah Mama, walau hanya dalam gambar.” Aku memeluk Ibu panti, erat.


Ibu panti mengangguk.


“Mama tadi nulis di surat, suatu saat Luna pasti bisa ke tempatnya Ibu. Luna sudah tidak sabar, Bu!” Hatiku bahagia bercampur haru.


“Ya udah Luna, Ibu masuk kamar dulu, ya?”


“Iya, Ibu!”


***


Kini usiaku menginjak 21 tahun. Rudy adalah kekasihku. Kami sudah bertunangan 6 bulan lalu.


Kadang, rasa minder terlihat jelas pada diri ini. Kata Ibu panti, aku memang gadis yang cantik, dengan kulit putih, badan yang tinggi bak model dan rambut panjang terurai.


Rudy merupakan pemilik dari 5 cabang konter hend phone. Ia termasuk pengusaha muda sukses di kampungnya. Sedangkan aku, hanya gadis yang dibesarkan di panti asuhan.


Kadang, aku berpikir kalau Papa tidak menginginkanku.


Karena, hingga saat ini aku tidak tahu Papa tinggal di mana?


Entah beliau masih hidup atau telah tiada. Ibu panti pun tidak memberi tahu, di mana keadaan Papa.


[Sayang, makan malam di Luar, yu?]


Ajak rudy lewat WA karena kami sama-sama sibuk bekerja.


[Boleh,] balasku singkat.


[Nanti malam Aku jemput, ya?]


[Oke!]


[Love you honey.]


[Love you too sweety.]

__ADS_1


.


Selepas sholat magrib, kami berpamitan kepada Ibu panti untuk minta ijin ke luar, untuk sekedar makan malam berdua.


“Bu, Saya ingin mengajak Luna makan malam boleh?” ucap Rudy.


“Iya, silahkan Nak Rudy,” jawab Ibu panti.


Kami menaiki mobil honda jazz warna merah, melesat membelah jalanan yang masih ramai karena belum larut malam. Terlebih, waktu itu malam minggu, jadi jalanan ramai walau tidak menimbulkan kemacetan.


Setibanya di restoran.


Sreettt!


Suara kursi ditarik Rudy agar aku merasa nyaman.


“Silahkan duduk sayang.”


“Makasih!”


Sembari bibir tipisku tersenyum.


Makanan dan minuman pun kami pesan. Hingga akhirnya, kami menikmati makan malam berdua di reatoran itu.


“Sayang, sebenarnya ada hal penting yang mau Aku omongin.”


Mata Rudy memandang dalam.


“Apa?”


“Aku ingin menikahimu tepat di tanggal lahir kamu, 14 Februari,” ujar Rudy, sambil menggenggam kedua tanganku.


“Apa?”


Netraku berkaca-kaca.


“Maukah kamu menjadi istriku?”


Aku memandang dalam mata Rudy, memperhatikan tentang keseriusan Rudy untuk menikahiku.


“Mau kah?” tanyanya sekali lagi.


Aku mengangguk.


***


“Ibu, Saya ingin meminang Luna!” ucap Rudy pada Ibu panti.


“Kapan?”


“Tanggal 14 Februari ini, Bu!"


Karena semuanya sudah setuju, akhirnya pernikahan pun di laksanakan.


Prosesi ijab pun di mulai. Aku dan Ibu panti bahagia, ketika Pak penghulu dan para saksi mengucapkan kata SAH!


Derai air mata bahagia Ibu panti terlihat ketika menyaksikan aku mencium punggung tangan Rudy, yang kini menjadi suamiku.


Para tamu undangan bergiliran memberikan ucapan selamat pada kami.


***


“Luna, besok kita ke Semarang, ya?”


“Iya!” jawabku singkat.


Keesokan harinya, kami benar-benar pergi ke Semarang. Ibu panti juga ikut menemani.


“Kita ke Semarang mau ke mananya, sih? Kok jalannya sepi seperti ini?” tanyaku heran.


“Nanti Kamu tahu, sayang!”


Sesampainya di pemakaman, kami berjalan bersama-sama. Tepat di batu Nisan yang tertulis nama MONICA dan FERDY.


“Ini hadiah dari Mama, Nak!”


Surat pun diberikan padaku dari Ibu panti.


Hatiku sumringah karena surat ini lah yang aku nantikan selama ini. Tak sabar untuk membaca.


¤Surat ke tiga dari Mama.¤


Selamat ulang tahun Anak Mama dan Papa yang cantik. Selamat menempuh hidup baru. Kami di sini bahagia bisa melihatmu datang membawa suami, membawa imam dalam hidupmu.


Kami selalu berharap, Luna menjadi anak yang solehah untuk kami.


Mendo’akan menjadi istri yang baik untuk suamimu.


Nak, sesuai janji Mama. Kamu akan ke tempat Mama, inilah tempat Mama dan Papamu, Nak.


Kami telah tenang di sini, do’a kan kami Nak. Karena do’a seorang anak itu akan menolong kami.


Ingat pesan Kami ya, Luna. Jangan tinggalkan sholat! Patuhlah terhadap suamimu dan sayangilah Ibu panti yang membesarkan mu. Karena Ia sudah menggantikan kami untuk menjagamu.


Kami menyayangimu.


***


Tiba-tiba kakiku tak dapat menopang tubuh ini, karen terlalu berat menerima semua kenyataan.


“Ibu, ini makam Mama dan Papanya Luna?”


Ibu panti hanya mengngangguk lemas.


“Sebenarnya, Papa dan Mamamu telah meninggal karena kecelakaan. Mobilnya masuk jurang, Papamu meninggal seketika di tempat kejadian. Sedangkan Mamamu yang sedang mengandung pada waktu itu selamat. Beliau juga melahirkanmu dengan selamat.


Namun sekitar 3 hari di rawat kondisinya drop. Beliau menitipkanmu pada Ibu dan menuliskan 3 surat terakhirnya yang telah kamu baca semua, Nak,” ujar Ibu panti dengan derai tangis.


“Maafkan Ibu Nak, ini semua pesan dari Mamamu untuk merahasiakan kematian mereka sebelum kamu mendapatkan suami. Karena, mereka tidak ingin kamu berlarut dalam kesedihan seorang diri,” sambung Ibu panti lagi.

__ADS_1


“Insya Allah Bu, Pak. Saya akan menjaga putri Ibu dan Bapak dengan baik. Saya akan menjaganya sekuat saya, insya Allah saya akan bimbing Ia ke jalan yang Allah ridhoi!” Janji Rudy di hadapan makam Mama dan Papa.


.End.


__ADS_2