Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Naksir


__ADS_3

"Kak, jangan pergi dulu!"


"Makananku belum habis!"


"Kak Arta, ish! Aku belum bayar!"


"KAK ARTAAA!!!"


Dia Mia, anak kelas dua belas A, yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Dia gadis cerewet yang akhir-akhir ini membuntuti.


"Kak Arta!" Dia menarik tanganku.


"Apa, sih?"


"Kakak mau ke mana, sih? Maen pergi aja! Dipanggil gak nyahut! Makanku belum beres, bayar juga terburu-buru," ucapnya dengan bibir mengerucut.


"Udah?"


Dia mengangguk. "Kak Arta! Mau ke mana lagi?" Dia bertanya lagi ketika aku hendak berjalan.


"Toilet!" Aku berlalu pergi.


Lega rasanya dapat terlepas dari Mia walau hanya beberapa menit, aku merasakan kemerdekaan setelah jauh darinya. Damai dan tentram.


"KAK ARTAAA!!!"


"Buset, ntu anak masih nungguin gue?"


Aku bergegas keluar dari toilet, tidak enak dengan kawan-kawan yang sedang mengantre di sini.


Di luar toilet sudah ada yang menungguku, dia tersenyum manis memperlihatkan barisan gigi putihnya dan melambaikan tangan ketika melihatku mendekatinya.


"Hai ...." sapanya dengan tangan yang masih melambai dengan wajah ceria.


"Lu mau ngapain lagi, sih, Micu?" tanyaku sedikit kesal.


"Mia tau kok kalau Mia itu cantik, lucu, gemesin, tapi Kak Arta gak usah singkat kata Mia lucu jadi Micu," ucap gadis bertubuh mungil.


"Wew! Bukan itu kepanjangannya."


"Lalu?"


"Lu, kan, masih kecil. Kata Micu itu kepanjangan dari Mimi cucu biar lu tumbuh tinggi." Aku berlari karena dia pasti akan marah.


"KAK ARTAAA!!!"


Aku bergegas masuk ke kelas berharap dia tidak akan mengejarku, untungnya bel telah berbunyi yang menandakan pelajaran akan kembali dimulai. Aman!


Kembali mengikuti jam pelajaran dengan serius, apalagi kami hendak menghadapi ujian nasional. Betapa bahagianya hati ini yang sebentar lagi akan lulus ujian dan terlepas dari Micu. Good bye, Micu!


Hingga tidak terasa bel sekolah kembali berbunyi, bukan untuk istirahat lagi tetapi saatnya untuk pulang. Seluruh siswa dan siswi telah berbondong-bondong keluar dari pintu kelas. Canda tawa kini menghiasi bibir mereka. Sedangkan aku masih duduk sambil memasukan buku-buku ke tas ransel.

__ADS_1


Keadaan di luar sudah sepi, aku pun melangkah, betapa terkejutnya ketika melihat dia sudah berada di samping kelasku.


"Micu? Lu lagi ngapain?"


Mia mendongak, aku tidak menyangka kini matanya sembab. Apakah dia menangis? Tapi kenapa? Apa karena aku?


"Lu kenapa?"


Bukan jawaban yang kuterima, tetapi air mata menetes di pipi membuatku semakin bingung untuk menerka, apa yang terjadi dengan gadis bertubuh mungil ini?


"Boleh aku bercerita?" tanyanya tanpa ada senyum keceriaan.


Aku mengangguk.


Kami berjalan ke parkiran, di sanalah Mia mulai bercerita. Wajahnya seperti berat untuk membuka percakapan, rasanya dia bukanlah Micu yang kukenal. Keceriaannya benar-benar hilang saat ini. Mia mulai bercerita kalau dirinya harus ikut kedua orang tua ke Singapura, aku melihat air mata meluncur dari kedua sudut matanya.


"Aku berat dengan keputusan ini, Kak. Aku tidak mau jauh dari Kak Arta. Walaupun Kakak orang yang nyebelin, cuek, suka ngomong ceplas-ceplos tapi aku nyaman berada di samping Kakak."


Ya Allah, ini anak sebenarnya merasa kehilangan atau bermaksud mencela, sih?


Hening sesaat.


"Maafin Mia, ya, Kak. Kalau Mia banyak salah sama Kak Arta. Besok Mia terbang ke Singapura," ucapnya sambil memberikan sesuatu pada genggamanku.


"Apa ini?"


"Kenang-kenangan buat Kakak."


"Tapi gue gak punya--" kataku terhenti kala mendengar seseorang memanggil nama Mia.


***


Itu merupakan kisahku tujuh tahun lalu bersama seorang gadis yang membuatku muak karena selalu membuntuti, tetapi ada rindu ketika jauh darinya. Tidak menyangka aku pun susah untuk mendapatkan kekasih yang seperti dia. Dia? Padahal aku dulu tidak pacaran sama Mia, tetapi aku merasakan hal itu ketika kami berjarak, bahkan tanpa kabar selama tujuh tahun.


Aku kini bekerja di salah satu perusahaan sebagai Manager Pemasaran dimana aku mempunyai tugas menangani hal-hal yang terkait promosi dan penjualan bisnis yang dimiliki perusahaan.


"Pak Arta, nanti meeting dengan Direktur baru," ujar sekretarisku.


"Sudah sampai Jakarta? Katanya dia di luar negeri?"


"Sudah datang dan langsung meluncur ke mari."


"Oh, oke!"


Dia mengangguk kemudian berlalu pergi, sedangkan aku kembali berkutat dengan pekerjaan dan menyiapkan berkas untuk meeting. Tidak berselang lama, aku disuruh ke ruangan sang direktur.


"Pemisi!" ucapku sambil mengetuk pintu.


"Masuk!"


Aku mendorong pintu dan terlihat seorang wanita yang duduk membelakangiku, dia tampak sedang memandang ke jendela kantor. Padahal, di sana hanya terlihat jalanan macet saja. Apa bagusnya melihat kemacetan di kota ini?

__ADS_1


"Permisi, Bu. Saya mau memberikan berkas laporan pemasaran Minggu lalu," ucapku yang masih berdiri.


Wanita yang sedang duduk di kursi itu pun memutar badannya. Betapa terkejutnya tatkala melihat wanita itu merupakan orang yang kukenal, gadis yang sempat membuatku muak karena merasa terus dibuntuti, tapi tidak memungkiri ada rasa kehilangan setelah dia pergi. Aku baru sadar ketika telah jauh darinya bahwa diri ini mulai menaruh rasa padanya. Naksir? Mungkin.


"Hai, Kak Arta, apa kabar?" tanyanya lembut, sungguh sangat berbeda ketika dia masih sekolah, sangat cerewet.


"Baik, Micu," jawabku spontan, "eh, maaf, maksud saya Bu Mia," ralatku mengulang kata.


Dia tersenyum.


"Panggil Micu juga gak papa. Padahal, aku sudah Mimi cucu seperti yang kamu suruh, Kak. Tetapi tubuhku masih seperti ini, kurang tinggi," ucapnya dengan seulas senyum yang membuat wajahnya semakin manis.


Astaga! Aku bicara apa? Arta sadar, dia atasanmu di kantor ini!


Kami mengobrol panjang lebar, sayangnya bukan maslah pekerjaan yang kami bahas, melainkan rasa kami setelah berpisah. Matanya menatap gelang yang ada di tanganku, gelang yang dia berikan sebelum pergi ke Singapura dulu.


"Kakak masih pakai gelang dari aku?"


Aku mengangguk.


"Kenapa?"


"Karena aku baru sadar bahwa ada yang hilang dalam diri setelah kamu jauh dariku." Aku menggenggam tangannya. "Mia, aku tak peduli kamu itu atasanku di kantor, yang ingin kuberitahu, bahwa ternyata hati ini begitu mencintaimu."


Pipi Mia terlihat merona, entah apa yang dia rasa saat ini. Aku merasa lega walau tidak tahu dia akan menerima atau bahkan menolakku.


"Kak, sebenarnya aku pun dari dulu sudah menyayangimu. Kamu tidak pernah peka, dulu kamu terlalu dingin bagaikan balokan es. Hari ini aku beneran capek, tetapi aku bela-belain langsung meluncur ke kantor ini. Apakah kamu tau alasannya apa?"


Dahiku mengernyit.


"Karena kamu, Kak. Aku mencari informasi tentang keberadaanmu selama tujuh tahun kita terpisah dan aku tidak menyangka kalau ternyata Kakak malah bekerja di perusahaan Almarhum Kakekku."


"Micu?"


"Iya?"


"Boleh aku meminta sesuatu darimu?"


"Apa?"


"Jangan pergi dariku, cukup sekali kamu menghilang dan cukup tujuh tahun kita terpisah. Aku sayang kamu," ucapku mengalir begitu saja.


Mia tersenyum lalu mengangguk.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Aku akan tetap di sini dan tidak akan pergi dari Kakak. Aku mau kok, menjalin hubungan serius sama Kak Arta."


"Serius?"


Mia mengangguk.

__ADS_1


Ya Allah .... Sungguh, hari ini merupakan hari terbahagia untukku. Aku menemukan, bahkan memiliki Mia saat ini. Tinggal menunggu halal. Semoga tiada aral melintang, sehingga kami bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, aamiin ....



__ADS_2