Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Terpisah Karena Berbeda


__ADS_3

Author : D. Naveen Kenan


.


Semburat warna kuning keemasan telah menghiasi langit pagi. Udara yang sejuk dan nyanyian burung membuatku terlena, serta melihat koloni burung-burung gereja. Mereka terbang dengan bebasnya tanpa terbelenggu oleh ikatan adat maupun kepercayaan.


Secangkir kopi menemaniku. Aku masih melihat pemandangan dari dalam kamar ketika hendak pergi ke kantor. Hawa sejuknya benar-benar menusuk tulang.


Dddrrrtttt!


Ponsel bergetar dari atas nakas. Aku berjalan dan meraihnya, lalu kugeser layar ponsel yang sudah ada dalam genggaman.


[Nav, aku tunggu di ujung jalan tempat biasa kita bertemu,] isi pesan dari Naysila.


[Oke! Aku on the way, tunggu aku di sana!]


Naysila adalah pacarku, hampir satu tahun kami berpacaran. Menurutku, ia gadis yang cantik dan baik di mataku. Kuraih kunci mobil yang berada di atas nakas dan menyambar tas yang berisi laptop.


Kami bekerja di perusahaan yang sama. Pertemuan kami pun berawal dari tempat kerja. Kedekatan semakin intens tatkala kami dipertemukan dalam satu proyek kantor.


“Pagi Sayang, Sarapan dulu, yuk!” ajak Mama yang sudah berada di depan meja makan.


“Maaf, Naveen terburu-buru, Ma!”


Aku mencium kening Mama lalu bergegas pergi menaiki mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


Melesat menunggangi mobil berwarna silver dengan kecepatan tinggi. Waktu menunjukkan pukul enam lewat seperempat. Masih begitu pagi memang, karena aku biasanya sarapan bersama Naysila.


Naysila terlihat sudah menungguku di ujung jalan, agak jauh dari rumahnya. Naysila memakai kemeja pink baby dan bawahan memakai rok selutut dengan sepatu heels yang menyempurnakan penampilannya. Tas selempang kecil tercantel di pundak. Wajahnya cantik dengan polesan make up natural look sudah menjadi andalannya.


Ceklek!


Aku membuka pintu, lalu ke luar dari mobil untuk menghampiri Naysila.


“Udah lama nunggunya?”


“Baru sepuluh menit yang lalu,” jawabnya dengan suara halus disertai seulas senyum yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik.


“Mau sarapan apa?”


“Aku ikut aja.”


“Oke!” Aku membuka pintu mobil untuknya, “Silakan masuk pacar cantikku.”


Naysila tersenyum, “Gombal!”


Kami melesat ke salah satu tempat makan favorit kami. Bukan restoran, hanya sebuah warung makan kecil. Tapi, rasa dari tiap menu makanannya selalu enak, pas di lidah.


Naysila wanita spesial untukku. Selain cantik, ia juga pintar. Tak ayal, bos menyatukan kami dalam satu proyek kantor. Dari sana juga hubungan cinta kami terjalin sampai detik ini.


**


Kami mulai bergelut dengan pekerjaan. Saat bekerja, kami berusaha profesional. Status pacar dikesampingkan demi fokus pada perusahaan. Hingga tak terasa, waktu makan siang pun telah tiba. Aku dan Naysila pergi untuk makan siang. Tidak terlalu lama, karena Naysila harus menjalankan ibadahnya.


“Nav, aku tinggal dulu, ya?” ucap Naysila berpamitan untuk melaksanakan ibadahnya.


“Oke!”


Aku menunggunya di kantin. Sementara Naysila pergi ke Mesjid yang ada di seberang jalan. Masih terlihat dari kantin, Naysila sudah mengenakan mukena dan bersiap untuk menjalankan ibadahnya. Aku memperhatikan tiap gerakan salat dan ekspresi wajah Naysila setelah salat. Semakin terlihat cantik ketika berbalut mukena putih yang ia kenakan.


Akhirnya Naysila kembali ke kantin menghampiriku.


Aneh, setelah dibasuh air wudu, wajah Naysila malah tampak semakin cantik dan memesona.


“Dih, kenapa liatinnya kek gitu?” protesnya ketika aku memandang wajah cantiknya dengan intens.


“Suka aja,” jawabku yang masih menatap wajah cantiknya.


“Gak boleh!”


“Kenapa? Apa ada larangannya? Kan, kamu pacar aku.”


“Baru pacar, belum jadi su--” katanya terputus ketika hendak mengucapkan kata itu.


Suami.


Ya, kata itu yang membuat Naysila begitu berat untuk mengucapkan di depanku, karena kami berbeda keyakinan.


Aku tersenyum, “Berarti, kalau aku sudah menjadi suamimu. Boleh, ya. Aku memandangimu tiap saat?” ujarku menggoda.

__ADS_1


Naysila memalingkan pandangannya tanpa menjawab kata dariku.


Baik Naysila dan aku. Sama-sama berpegang teguh dengan kepercayaan masing-masing. Lalu, kenapa cinta kami masih bertahan hampir satu tahun? Karena kami terus mencoba mencari jalan keluar untuk mempersatukan cinta kami.


Aku menghargai ketika ia sedang beribadah, begitu pun sebaliknya. Kami saling menghargai, tapi orang tua? Akankah dapat menerima? Entah, yang jelas kami masih berusaha untuk mempersatukan cinta kasih kami.


***


Malam minggu ini aku mengajak Naysila makan malam. Meraih hand phone, lalu mulai mengetik pesan untuknya.


[Nay, makan malam, yuk?] Aku mengirim pesan singkat untuknya.


[Kamu gak ke Gereja?]


[Udah, tadi sore.]


[Ya sudah, ketemuan di tempat biasa, ya?]


[Oke!]


Aku meraih dompet dan ponsel. Bergegas meraih kunci mobil dan melesat setelah aku berpakaian rapi.


“Nav, mau ke mana?” tanya Mama.


“Mau jemput wanita impian!” ujarku yang berlalu pergi.


Bergegas masuk ke mobil dan menstater mobil, segera tancap gas dan meluncur ke tempat kami berjanjian.


Benar saja. Naysila telah menungguku di ujung jalan. Seperti biasa, kecantikan wajahnya mampu menghipnotis hatiku. Dialah, karya Tuhan yang terindah untukku.


Ceklek!


Aku membuka pintu dan Naysila masuk ke mobil. Wangi rose essentielle sudah menjadi aroma khas dari tubuhnya. Kini atmosfer mobil telah terkontaminasi wangi tubuh Naysila. Mobil meluncur dengan kecepatan sedang.


“Nay?”


“Iya?” Naysila menatapku.


“Kamu siap gak bertemu dengan Mama?” ucapku sambil memarkirkan mobil.


“Hah?”


“Kapan kamu siap ketemu orang tuaku?”


Naysila membisu.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan dalam mobil ini. Hanya bunyi klakson mobil dan motor yang berseru di malam ini. Hingga akhirnya, aku memarkirkan mobil di Kafe yang cukup ramai.


“Mau pesan apa?”


“Aku pesan hot chocolate aja,” pinta Naysila.


Aku pun memanggil waitress dan memesan satu hot chocolate dan moccachino.


Lagu dalam Kafe mengalun indah, tapi tidak seindah keadaan kami yang tiba-tiba membisu.


Hening.


“Nay?”


Aku memecah keheningan.


“Iya?”


“Sepulang dari sini, kamu ikut aku, ya?”


“Ke mana?”


“Ke rumah, ketemu Mama.”


Sepertinya Naysila merasa bingung dengan ajakanku, tapi mau gimana lagi? Aku ingin Naysila dekat dengan Mamaku.


Akhirnya Naysila mengangguk samar, “Ya udah, iya. Aku mau.”


“Thank’s ya, Nay.”


Sambil aku genggam jemari tangannya.


Tidak terlalu lama, kami menghabiskan waktu di Kafe itu. Aku dan Naysila masuk dalam mobil dan melesat ke rumahku.

__ADS_1


.


Ting tong!


Aku memijit bel rumah.


Ceklek!


Pintu terbuka dan terlihat wanita paruh baya di balik pintu yang terbuka.


“Malem, Tante?” sapa Naysila pada Mama.


“Malam, mari masuk!” ujar Mama yang sepertinya bingung karena ada wanita yang kubawa tanpa ia kenal sebelumnya.


Kami berbincang hangat di ruang keluarga. Aku bersyukur karena Naysila pandai mengambil hati Mama. Hingga saatnya, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam dan Naysila pun pamit pada Mama.


“Tan, Nay pamit, ya? *** ....” kata Nay terpotong, hampir saja ia keceplosan. Mungkin Nay ingat, kalau hubungan kami masih belum dikatakan resmi, karena masih ada perbedaan yang belum bisa di satukan.


***


Sejak malam itu, Naysila menghilang. Ponselnya tidak dapat dihubungi dan rumahnya pun tampak sepi. Ia menghilang setelah memberikanku kebahagiaan di malam itu.


Aku masih bekerja, walau hati gelisah memikirkannya. Di setiap sudut ruang kerja, seakan terlintas wajah Naysila.


Nay? Kamu di mana, Sayang? Sudah satu minggu ini kamu menghilang tanpa kabar. Apa kamu ingat, esok hari merupakan Anniversary tanggal jadian kita? Aku rindu kamu, Nay!


Anganku terus melayang. Pekerjaan pun sedikit terbengkalai karena angan terus memikirkan Naysila.


Dddrrrttt!


Ponsel bergetar. Aku merogoh ponsel dari saku celana.


“Naysila?”


Mataku membulat kala melihat pesan dari nama wanita yang sangat kucintai.


[Nav, aku menunggumu di Kafe tempat biasa, malam ini pukul tujuh.]


“Yes! Naysila menghubungiku!”


Aku bergegas menghubungi nomor ponselnya, rindu ingin mendengar suara lembut Naysila, tetapi tidak aktif.


“Kenapa, ya?”


Tidak ingin ambil pusing, aku bersiap-siap untuk pulang kantor. Tidak lupa membeli satu buket mawar merah kesukaannya.


Sesampainya di rumah, aku bergegas mandi dan memakai pakaian yang rapi dan wangi. Aku kembali mencoba menghubungi nomor teleponnya, tapi tetap saja belum bisa dihubungi.


“Mungkin Naysila mau memberikan surprise untukku di saat anniversary.”


Aku mencoba selalu berpikir hal positif.


Melesat dengan mobil silver dan membawa satu buket mawar merah, menuju tempat di mana kami sudah mengatur janji. Aku duduk di salah satu meja kosong. Tapi, Naysila belum terlihat juga.


Aku mencoba mengalihkan pandanganku ke gawai yang berada dalam genggaman.


“Assalamualaikum,” ujar seorang gadis berhijab.


“Naysila?”


Mataku membulat ketika melihat penampilan baru Naysila malam ini, dengan hijab yang menutupi rambut indahnya.


“Maaf, Nav. Aku ingin meluruskan hubungan kita.”


“Maksudnya?”


“Dari keluargaku sudah ditanamkan tentang Agama kami. Maaf, kalau aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kita.”


“Kenapa, Nay?”


“Aku takut, terlalu mencintai ciptaan-Nya (Manusia) dari pada yang menciptakan (Allah). Karena diagamaku, sangat melarang mempunyai rasa cinta melebihi dari Sang Khalik. Maafkan aku, Nav!”


Seketika hatiku hancur. Remuk tak berkeping. Satu tahun menjalin cinta dengannya harus kandas karena perbedaan keyakinan. Namun, ia membukakan mata hati ini, memang seharusnya seorang hamba tidak layak untuk mencintai hambanya yang lain melebihi cinta pada Tuhannya.


Cinta kami berakhir di tahun pertama. Anniversary yang kubayangkan indah, malah sebaliknya. Hanya yakinkan diri, bahwa Tuhan akan memberikan pasangan yang terbaik. Mungkin di kehidupan ini, aku tidak berjodoh dengannya tapi entah di masa yang akan datang.


°•Kasih sayang yang abadi, hanya milik-Nya! Tiada cinta abadi, selain daripada cinta-Nya.•°


.End.

__ADS_1


Lampung, 24 September 2020


__ADS_2