
Dentum musik terdengar jelas di telinga, dalam ruang remang yang dihiasi kerlip lampu-lampu diskotik telah menjadi rutinitas tiap malam. Aku seorang lelaki berstatus mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta. Usiaku kini menginjak angka dua puluh tahun, mempunyai paras tampan, hidung mancung, beralis tebal dan bibir yang menggoda menurut teman-teman terdekatku.
"Levine!" suara wanita memanggil namaku.
Aku menoleh. Rupanya Tante Elsa.
"Malam ini kamu sama aku, ya? Kasih servis yang paling baik untukku," bisiknya manja.
Aku tersenyum.
"Sejak kapan, sih, Levine mengecewakan Tante?" Aku mengedipkan satu mata.
"Emm ... sejauh ini, sih, tidak pernah dan jangan sampai, nanti aku potong bayaranmu!" ancamnya.
Kembali bibir ini tersenyum, mendengar ancaman dari seorang wanita yang berusia dua kali lipat di atasku. Penampilannya trendi, diusia empat puluh tahun lebih dengan rambut panjang berwarna pirang. Bahkan, tidak terlihat di wajahnya yang nyaris tanpa kerutan. Mungkin saja dia rajin perawatan, wajar saja, Tante Elsa merupakan istri dari salah satu pengusaha ternama di Kota Metropolitan ini.
Wanita berkulit putih, bermata sipit dan mempunyai paras oriental ini benar-benar menjadi pemikat bagi yang melihatnya, terlebih wangi aroma tubuhnya yang semakin menggoda kaum Adam.
"Ayo, Vin. Aku sudah tidak sabar," pintanya sambil menarik tangan ini.
Aku tidak dapat menolak, sesungguhnya bukan karena hal itu, tujuan utamaku yaitu uang. Anggap saja menyervisnya sebagai bonus untukku. Kami berjalan ke loby parkir. Di sana sudah terparkir mobil sport hitam yang ia janjikan untukku.
"Wow! Ini buat Levine, Tan?" Mataku membulat kala melihat mobil sport hitam keluaran terbaru.
Tante Elsa mengangguk yang diiringi dengan senyum manis di bibir merahnya.
"Oh my God, thank you Tante El." Aku memeluk wanita itu tanpa segan, karena kami biasanya berlaku lebih daripada ini.
"Sama-sama, Beib. Jangan panggil Tante, dong. Berasa tua," protesnya yang padahal iya, usianya saja sudah dua kali lipat dariku.
"Iya, Sayang." Aku mencubit dagu runcingnya.
Kami melesat dengan mobil mewah di bawah langit malam menuju apartemen miliknya. Di sanalah melakukan hal itu kala suaminya tidak ada di sana. Pengakuan Tante Elsa, dia merupakan istri siri pengusaha terkenal. Uangnya terus mengalir hanya saja dia sering ditinggalkan oleh suaminya, rasa kesepian yang akhirnya mencari pelampiasan untuk hasrat terlarangnya.
Sampailah kami di apartemen mewah miliknya, aku dan Tante Elsa sama-sama keluar dari mobil. Sesampainya di depan apartemen, Tante Elsa membuka pintu dan aku segera menggendong tubuh seksi yang berbalut dress sutra yang begitu lembut. Terdengar suara heels yang terjatuh kala tubuh itu sudah ada dalam pangkuanku.
Tangan Tante Elsa melingkar di tengkuk ini, dia terus bermanja kala aku hendak membawanya memasuki kamar.
Aku membaringkan tubuh molek itu di ranjang king size. Dia begitu menggodaku setelah kurang lebih satu Minggu kami tidak bertemu. Hasrat itu kembali datang dan hubungan terlarang itu kembali terulang.
Sesungguhnya, dulu aku pernah menjadi seorang waiter disalah satu hotel ternama di Jakarta, pertemuanku dengan Tante Elsa 'pun, terjalin dari sana. Karena merasa capek dengan pekerjaanku sebagai waiter bahkan menghabiskan waktu sehingga kuliahku dulu pun sedikit terabaikan. Aku tidak bisa membagi waktu antara kerja dan kuliah karena terlalu mepet bahkan tidak mempunyai waktu untuk beristirahat.
Akhirnya aku banting stir untuk menjadi laki-laki simpanan Tante Elsa. Bayangkan saja, aku yang dulu harus bekerja keras kurang lebih delapan jam dengan menguras keringat bahkan emosi apabila menemukan orang yang rewel membuatku semakin sebal kala itu. Sedangkan sekarang, aku hanya sekedar menemani seorang wanita cantik dan menyervis tidak lebih dari setengah jam saja dia sudah kewalahan.
"Vin, aku rindu setelah satu Minggu kita tidak seperti ini," ucapnya yang kini berada dalam dekapanku.
"Levine juga kangen, Tan. Eh, Sayang."
"Emm ... kangen aku atau uangku?" godanya sambil memainkan telunjuknya di dada ini.
"Kamu lah!"
Karena tanpa kamu, aku tidak mempunyai uang!
__ADS_1
Dia memelukku erat hingga tanpa sadar kami terlelap setelah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, hubungan terlarang antara aku dan Tante Elsa yang kurang lebih sudah terjalin satu tahun. Pada saat itu juga aku telah menjadi lelaki simpanannya.
***
Aku kaget kala mendengar suara pintu yang didobrak. Mataku terbuka lebar dan sialnya saat itu seorang laki-laki berumur sudah ada di depan ranjang, dimana aku dan Tante Elsa masih ada dalam satu selimut, bahkan tangan Tante Elsa masih melingkar di perutku.
"Elsa!" pekik lelaki tua itu, ia menarik paksa tangan Tante Elsa.
Bukan lelaki tua itu yang kutakutkan, tetapi empat orang pria dengan tubuh kekar serta tato yang terukir pada tubuh mereka yang membuatku bergidik ngeri.
"Hajar dia!" titahnya.
Tanpa ada kata, aku pun dikeroyok oleh empat orang lelaki berwajah sangar. Di sana terdengar Tante Elsa histeris memanggil namaku. Ia memohon pada suaminya untuk memerintahkan orang-orang suruhannya berhenti mengeroyokku. Fix, wajah tampanku kini hancur oleh luka lecet dan lebam dibeberapa bagian.
Pengeroyokan pun berhenti kala Tante Elsa dan suaminya menjalin sebuah kesepakatan kalau Tante Elsa harus ikut dengannya ke luar negeri. Sejak saat itu aku merasa kehilangan, tetapi bukannya sadar, aku malah semakin liar. Aku sering bergonta-ganti pasangan.
***
Dahulu, aku sembunyi-sembunyi melakukan itu bersama Tante Elsa, sekarang aku lebih terang-terangan menggoda banyak wanita di kampus bahkan bukan hanya dengan satu pasangan aku berhubungan. Aktivitas itu seolah menjadi kebutuhanku saat ini, bukan uang yang utama dalam pikiranku sekarang, tetapi hawa nafsu yang lebih mendominasi. Rasa kehilangan Tante Elsa membuatku semakin liar.
"Vin, janganlah seperti itu," tegur Ayana si gadis berhijab yang baru saja memeluk Islam.
Aku hanya tersenyum.
"Hal itu dilarang agama, Vin. Bahkan, bukan hanya dari Islam saja. Seluruh agama pun melarang berhubungan badan di luar pernikahan." Ayana mengingatkan, hanya saja kuanggap sekedar ocehan.
Woy! Kamu baru berapa hari jadi mualaf sudah berani menceramahiku yang sudah beragama Islam sejak lahir!
"Itu bukan ucapanku! Larangan itu tertulis dalam Surat An-Nur ayat 3 yang mempunyai arti : 'Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman'," ucapnya lantang dengan sorot mata tajam. "Dan bukan ayat serta surat itu saja, masih banyak dalam al-quran yang menjelaskan tentang itu!" tegasnya yang membuatku bergidik ngeri.
Tangan mulai melemah, aku melepaskan cengkeraman tangan ini dari pipi Ayana, kaki perlahan melangkah mundur kemudian menjauh darinya. Ada rasa sesak kala mendengar ia menyebutkan arti dari ayat al-quran. Jangankan membacanya, salat pun, aku sudah melalaikannya.
***
Teguran dari Ayana hanya mempan ketika aku mendengarnya, setelah itu kuanggap angin lalu dan kembali pada jalanku, dimana hanya ada wanita yang ada dalam fantasiku. Tubuh seksi, paras cantik, penampilan trendi dan bisa melayani hasrat ini. Hal itu yang selalu ada dalam benak kala Tante Elsa sudah pergi entah ke mana. Ternyata kegiatan itu bagaikan candu, ketika merasakan satu tubuh, aku malah tergoda tubuh yang lain dan begitu seterusnya hingga suatu saat diri ini mengeluhkan rasa nyeri dibagian organ intim.
"Aw!" Mataku terpejam kala rasa nyeri yang hebat melanda organ intimku.
Walau tertatih, aku segera bangkit dari ranjang kemudian masuk ke toilet untuk mengecek apa yang terjadi dalam sini. Perlahan, aku membuka resleting lalu mengeceknya.
"Kenapa ada ruam?"
Parahnya, bukan hanya ruam dibagian intim saja, ada ruam di punggung ketika aku mengusap bahkan terasa sakit.
"Aku kenapa?"
Walau rasa sakit tak tertahan, aku melesat ke rumah sakit dengan mobil sport untuk memeriksa keadaanku.
Sesampainya di sana, aku pun disuruh masuk untuk diperiksa, ada rasa malu ketika menceritakan keluhan yang kualami, terlebih ketika dokter itu menyuruhku untuk menunjukkan ruam di bagian **** *****.
Walaupun malu, akhirnya aku relakan aset ini diperlihatkan pada seorang dokter. Betapa terkejutnya diri ini, setelah serangkaian tes telah dilakukan dokter mengatakan bahwa sakit yang kuderita merupakan sipilis/sifilis/raja singa, yaitu salah satu jenis infeksi menular seksual (IMS).
Tubuh bergetar hebat, aku tidak menyangka kalau diri ini bisa terjangkit penyakit yang menjijikan dan juga memalukan seperti sekarang.
__ADS_1
"Saat ini, anda berada pada gejala Sifilis Primer. Gejala pada kondisi ini umumnya muncul berupa luka denganĀ 10 hingga 90 hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh," jelas dokter.
"Apakah bisa sembuh, Dok?"
"Bisa, pemulihannya memakan waktu sekitar 3 hingga 6 minggu."
**
Aku memutuskan untuk menunda kuliah, entah dari mana datangnya hingga teman-teman di kampus tahu tentang penyakit menjijikan dan memalukan yang kuderita. Begitu banyak pesan masuk bahkan di media sosial pun membahas tentang sakitku yang membuat diri ini menjadi down.
Aku jadi teringat Ayana yang lebih dulu menegur, tetapi pada saat itu aku tidak menghiraukannya dan sekarang sepertinya Allah menegur dengan sakit yang kuderita.
Pintu kontrakan terketuk, dengan susah payah, aku berjalan untuk membukakan pintu. Tampak seraut wajah cantik, dia wanita berhijab yang pertama mengingatkanku akan larangan berzina.
"Mau apa lu?" ketusku.
"Aku mau menemanimu."
"Untuk apa? Ngetawain gue?"
"Jangan salah sangka, aku benar-benar ingin membantumu."
Setelah beberapa saat kami berdebat, akhirnya tanganku melemah dan membuka pintu lebar untuknya. Ternyata dia malah mengajakku duduk di teras Samping kost.
"Indah, ya, Vin," ujar Ayana kala melihat langit senja berwarna jingga.
Aku menatap wajah itu tanpa menjawab iya ataupun tidak.
"Akan lebih indah lagi apabila kita berjalan dalam ridho-Nya."
"Maksud lu?"
"Kembalilah pada jalan Allah, Vin."
"Tapi gue sudah banyak dosa sehingga Dia mengazab gue dengan penyakit ini."
"Bukan mengazab, Vin. Allah mengingatkanmu. Ingat tidak, ketika aku yang mengingatkanmu? Tetapi kamu seolah menganggap angin lalu."
Bibir terdiam tetapi hati mengiyakan.
"Apakah pendosa seperti gue bisa diampuni?"
"Vin, Allah lebih mencintai tangisan taubat seorang pendosa, daripada lantunan tasbih orang shaleh yang sombong. Aku akan menemani dan selalu ada saat kamu butuhkan, tolong kembalilah pada jalan-Nya."
Entah, kata-kata Ayana membuatku sedikit tenang. Terlebih, ia menjanjikan selalu ada untukku. Dalam keadaan saat ini, hanya Ayana yang ada dan tidak menjauh dariku.
Malam ini aku mandi untuk membersihkan diri kemudian berwudu untuk melaksanakan Salat Taubat. Rakaat demi rakaat telah dikerjakan.
"Ya Allah ... ampunilah segala dosa-dosaku, aku tahu begitu banyak dosa yang telah kuperbuat malah dengan bangganya ketika mendapatkan tubuh seorang perempuan yang bukan muhrimku. Dosaku terus mengalir bak sungai di musim hujan yang tak pernah surut. Ampuni aku, ya Allah. Ampuni dosa dan kekhilafan atas diri ini, ya Rabb." Aku bersujud dengan penyesalan yang disertai air mata berlinang di atas sajadah.
Hari ini merupakan awal bulan suci ramadhan, di hari ini juga aku memulai hidup baru untuk memperbaiki diri. Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan kesempatan padaku untuk meraih pahala di bulan penuh berkah dan ampunan. Semoga Engkau selalu membimbingku agar tidak kembali terjerumus pada lingkar hitam kemaksiatan.
__ADS_1