
MENTAL ILLNESS
Judul : Ketenangan Ilusi
Author : Dareen Naveen
“Naveen! Kenapa nilaimu hancur?” ujar Papa ketika sampai di rumah.
Aku terdiam dan tertunduk.
“Kamu kenapa? Prestasimu ke mana?” tanya Papa.
Lagi, aku hanya terdiam.
Papa pergi setelah puas marah dan meluapkan emosinya. Tamparan pun tak luput meluncur di pipi. Mungkin Papa emosi, karena aku tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan.
Tinggallah aku sendiri dalam rumah, menaiki anak tangga dan menghempaskan tubuh ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata, berharap bisa tertidur sejenak melupakan amukan Papa.
Bukan hanya sekali, Papa menampar, memukul dan memarahiku. Sering kali amarahnya muncul, mungkin karena capek dengan pekerjaan di kantor.
Aku meraih ransel, hendak mengambil obat penenang. Sudah beberapa bulan ini aku mengonsumsinya. Penenang? Itu hanya sebutanku, karena yang kuminum adalah obat-obatan terlarang.
“Shit! Habis lagi!” keluhku, ketika melihat tidak ada sebutir pun obat dalam ransel.
Aku meraih ponsel yang terletak di atas nakas, lalu menghubungi salah satu teman. Jari ini mulai lincah mengetik kata untuk bertransaksi.
[Bro, gue minta barang! Antar ke rumah, ya?]
[Di luar aja, Nav! Gue takut sama Bokap, lu!]
[Sante, Bokap lagi pergi. Cepat! Kepala gue sudah pusing!]
Kuletakan ponsel di atas nakas dan merasakan sakit di kepala. Tenggorokan terasa kering, aku memutuskan untuk minum di dapur.
Mata ini berputar, melihat ke berbagai sudut. Aku mengingat Mama, merasa kehilangan sosok perhatian darinya. Tutur kata halus, tidak pernah sekalipun ia memarahi, apalagi memukulku.
“Ma, Naveen kangen!”
Tidak terasa, air bening jatuh di pipi.
Segera kuminum dan bergegas ke ruang tamu untuk menunggu Vino. Tidak berselang lama, bel pintu rumah berbunyi.
“Vino?”
Aku langsung berlari ke pintu.
“Masuk, Vin!” ucapku ketika pintu sudah dibuka.
“Enggak, gue langsung pulang aja. Cuma mau kasih barang pesanan lu!” ujarnya sambil memberikan satu plastik kecil.
“Oke! Thank’s, Bro!”
Aku memberikan sejumlah uang padanya. Vino pun langsung pergi dan aku kembali ke dalam kamar untuk menikmati sensasi obat yang telah didapat.
Papa terlalu sibuk dengan urusan kantor. Yang ada dalam pikiran Papa hanya perusahaan. Ia ingin aku menjadi orang yang pintar. Tak ayal, Papa sering menyuruhku untuk les di berbagai bidang pelajaran.
Jujur, otakku tidak mampu. Walau aku termasuk siswa yang berprestasi, tapi Papa tidak puas dengan prestasi yang kudapat dari sekolah. Ia selalu menjejali dengan les-les yang menurutnya penting untuk perusahaannya kelak.
Aku semakin terpuruk ketika Mama pergi untuk selamanya. Sosok yang selalu menyayangi dan mendorong untuk selalu bersemangat, kini telah tiada.
Menikmati sensasi obat, walau hanya sesaat aku bisa melupakan semua kegelisahan yang menerpa bertubi-tubi.
__ADS_1
***
Pelajaran telah dimulai. Aku semakin sulit berkonsentrasi sehingga nilai-nilai semakin turun drastis.
Aku hanya terdiam dan pasrah, ketika melihat selembar jawaban yang tertera nilai di sisi pojok atas. Nilai merah yang paling Papa benci.
Menaiki sepeda motor untuk kembali pulang, dan menyiapkan telinga yang akan terasa panas ketika Papa mulai mengomel, juga pipi untuk tamparan tangan Papa.
Aku memarkirkan motor di halaman rumah. Terlihat Papa sedang berfokus pada laptop di atas meja.
“Sudah pulang kamu?” tanya Papa tanpa melihatku.
“Sudah!”
“Mana hasil ujianmu hari ini?” tagihnya dengan sorot mata tajam melihatku.
Mati!
Aku menyerahkan selembar kertas hasil ujian hari ini padanya. Ekspresi wajah itu berubah, ketika melihat lembar jawaban yang kuberikan.
“Sini kamu!” perintahnya.
PLAK!
Tamparan keras meluncur di pipiku.
“Papa sudah biayain kamu sekolah, mengikuti berbagai les, tapi hasilnya seperti ini?”
Papa menunjuk pada kertas yang ada dalam genggamannya.
“Papa tidak mau tau, ujian selanjutnya nilaimu harus bagus!” Papa beranjak pergi.
Tuntutan itu semakin membuatku muak. Aku sangat kehilangan sosok Mama, di mana ia selalu membimbing dalam segala hal. Ia sangat halus dalam bertutur kata, tidak pernah tangan itu menyakitiku.
Air mata kembali meluncur.
Aku masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, aku meminum obat itu bermaksud untuk menenangkan pikiran.
Angan melayang setelah mengonsumsi penenang ini. Rasa bahagia menghinggapi, walau hanya ilusi. Semua tekanan dari Papa seakan hilang ketika berada dalam pengaruh obat.
.
Bunyi alarm membangunkanku pagi hari. Mata yang masih enggan terbuka, membiarkan alarm itu berbunyi berulang-ulang.
“NAVEEN!” pekik Papa membangunkanku dengan disertai ketukan pintu yang kencang.
Aku terperanjat, lalu mematikan bunyi alarm yang terdapat dalam ponsel. Bangkit dari tempat tidur dan melangkah mendekati pintu.
“Kenapa, Pa?” tanyaku ketika sudah membuka pintu.
“Alarm berbunyi dari tadi, kamu baru bangun?” tanya Papa dengan sorot mata tajam.
“Ya ... Sekarang ‘kan sekolah libur, Pa. Naveen mau tidur sampai siang pun gak masalah, kan?”
“Nilaimu itu sekarang jelek semua! Hari ini kamu harus les!” ujar Papa.
“Mana ada les hari minggu, Pa?”
“Kata siapa? Papa sudah meminta pengajar khusus untuk kamu! Sekarang bersiap, nanti Papa akan antar kamu ke tempat guru itu,” ujar Papa tanpa minta persetujuan dariku.
Aku bergegas mandi, sarapan lalu bersiap mengikuti apa yang Papa mau.
__ADS_1
Lari. Itu yang ada dalam benakku saat ini.
Aku ingin berlari dari Papa, aku mulai bosan dengan segala tuntutan Papa. Ia hanya bisa menuntut dan menyuruhku untuk belajar. Papa tidak mengerti, yang kubutuhkan adalah perhatian dan kasih sayang darinya.
Benar saja, Papa mengantarku sampai gerbang rumah minimalis. Karena Papa ada perlu, ia hanya menyuruhku masuk lalu pergi begitu saja.
Aku memutuskan untuk mendatangi kost Vino, aku melesat menaiki taksi.
.
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku mengetuk pintu kamar Vino.
Ceklek!
Terlihat raut wajah Vino yang sepertinya setengah sadar karena pengaruh obat.
“Mau gabung, lo?” tanya Vino.
Aku mengangguk.
“Masuklah!”
Vino membuka pintu lebar dan segera menguncinya.
Aku memasuki kamar yang sumpek dan bau alkohol. Di sini sudah ada beberapa orang yang tengah menikmati obat dan alkohol yang telah tersaji.
“Nikmatilah, Nav! Hari ini gue ulang tahun, gue kasih gratis!” ujar Vino.
Rejeki nomplok!
Aku ikut bergabung dengan kawan lain. Hanya Vino satu-satunya orang yang kukenal di sini. Kami menikmati semua yang tersaji gratis di hadapan mata. Angan melayang terasa nikmat, canda tawa telah menghiasi bibir, seolah perasaan tertekan dari Papa hilang sirna ketika berada dalam pengaruh obat. Ketenangan ilusi yang kudapatkan saat ini.
BRAK!
“Angkat tangan!” ujar beberapa orang berpenampilan preman yang membawa senjata.
Kami semua terperanjat ketika melihat beberapa orang yang hendak meringkus lengan kami. Seperti seorang penjahat, aku dipaksa masuk ke dalam mobil mereka yang ternyata petugas Polisi. Tetangga pun melihatku dengan tatapan sinis.
Di kantor Polisi, aku dicerca berbagai pertanyaan. Akhirnya Polisi itu menghubungi wali kelas dan orang tuaku. Tak berselang lama, wali kelasku datang.
“Kamu kenapa, Nav?” tanya Bu Lira lembut.
“Naveen ... Naveen. Make, Bu!” terangku sambil tertunduk di hadapannya.
“NAVEEN!” suara menggelegar Papa mengagetkanku.
PLAK!
Tamparan itu terjadi di depan Bu Lira.
“Sabar, Pak. Tahan!”
“Untuk apa? Anak seperti dia sudah sering kali membuat saya malu!”
Bu Lira mengajak Papa menjauh, tapi aku mendengar percakapan mereka di pojok sana.
“Naveen sudah menceritakan semuanya pada saya, Pak. Dia butuh kasih sayang dari orang tuanya. Ia tidak mendapatkan itu dari Bapak. Berulang kali saya memergoki dia hendak loncat dari lantai tiga sekolah. Apa Bapak tau? Apa dia cerita? Naveen itu kehilangan Ibunya. Ini semua bukan salah dia, Pak. Naveen itu anak baik, dia juga berprestasi. Nilainya terus turun sejak kehilangan Ibunya. Dia depresi! Sayangi ia, ajak ke Psikiater untuk mendapatkan penanganan. Bukan malah memukulinya!”
Seketika Papa mengusap matanya. Apa dia menangis? Entah.
__ADS_1
Papa mendekat lalu memelukku erat, “Maafkan Papa, Nav. Papa sangat menyesal! Papa terlalu tegas padamu, sehingga Papa melupakan bahwa anak Papa memerlukan kasih sayang, bukan hanya uang,” ujar Papa dengan dekapan hangat.
.END.