
“Hahaha ....”
Terdengar gelak tawa ketika aku meminta izin untuk menjadi seorang TNI pada Ibu Aisyah. Beliau merupakan wanita yang bertanggung jawab di panti ini.
Apa yang salah dengan permintaanku?
“Lu hanya mimpi Naveen! Dikata mudah, masuk TNI?” celetuk Arman, teman satu panti.
Aku hanya menghela napas panjang dan mengempaskannya perlahan untuk menahan amarah.
Aku tahu, masuk TNI itu sulit. Namun, apa salahnya untuk berusaha dan mencoba?
Aku hanya diam mendengarkan ledekan dari kawan-kawan yang menganggap mimpiku itu tidak akan pernah menjadi nyata.
“Nav, bukan Ibu melarang. Memang benar, apa yang dikatakan Arman. Masuk TNI itu tidak mudah, akan banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya pendidikannya. Ibu dapat biaya dari mana?” tanya Bu Aisyah.
“Gak usah dengar pintanya Naveen, Bu! Dia terlalu banyak berimajinasi!” ujar Arman yang lagi-lagi menertawakanku.
“Sudah, Bang Arman! Kamu tidak usah memperkeruh suasana. Biarkan Ibu dan Bang Naveen yang menyelesaikannya. Memang ada hubungannya sama Abang?” ujar Hanna.
“Naveen itu pemimpi, Han!” ucap Arman lantang.
“Apa salahnya? Bukankah cita-cita itu berawal dari mimpi? Semua tidak ada yang mustahil, kalau kita berusaha! Pasti ada fasenya jika ingin sukses!” ucap Hanna.
Akhirnya Bu Aisyah pun membubarkan Arman beserta kawan-kawan lain yang dianggap memperkeruh suasana. Mereka semua pergi. Termasuk Hanna. Kini tinggal aku dan Ibu Aisyah yang berada dalam ruangan kecil.
“Nav, jadi bagaimana? Jujur saja, Ibu tidak sanggup kalau harus membiayai masuk TNI,” ujar Ibu Aisyah.
“Naveen tidak meminta itu semua. Hanya satu yang Naveen pinta, Bu!” jawabku dengan mata yang menatap wanita paruh baya berhijab.
“Apa itu?” jawabnya dengan tatap mata menyipit.
“Doa. Hanya doa yang Naveen minta dari Ibu.”
Hening.
“Baiklah, Ibu memberikan izin padamu. Satu syarat dari Ibu, jangan tinggalkan salat lima waktu ya, Nak?” pesannya sambil mengusap pundak ini.
Aku mengangguk, “Insya Allah. Doakan Naveen ya, Bu. Karena Bu Aisyah merupakan pengganti dari ibu kandung Naveen.”
***
Aku ingin menjadi seorang tentara seperti almarhum papa. Beliau merupakan single parent yang telah membesarkanku. Ibu meninggal ketika melahirkanku. Ketika aku beranjak dewasa, papa meninggal dunia sewatku ditugaskan di medan perang. Namun, hal itu tidak membuatku menjadi takut. Bahkan aku bersemangat ingin seperti papa. Menjadi seorang TNI yang tangguh. Beliau sangat disiplin dalam segala hal.
Banyak piala dan piagam penghargaan yang kuraih dari Paskibra (Pasukan pengibar bendera). Aku memang aktif mengikuti ekstra kurikuler baris-berbaris. Hingga pada suatu hari, aku dipertemukan dengan Pak Gavin yang mempunyai pangkat sebagai Letnan Djendral. Kebetulan, dia merupakan seorang TNI yang melatih kami ketika akan melangsungkan lomba ke tingkat nasional.
“Nav!” panggil Pak Gavin.
Aku menghampiri, “Siap, Let!” jawabku.
Pak Gavin tersenyum, “Panggil Pak saja. Ini kan sudah di luar dari latihan,” pintanya dengan seulas senyuman.
“Iya, maaf, Let. Eh--Pak!” jawabku terputus karena belum terbiasa.
Pak Gavin mempunyai paras yang tampan. Bertubuh tinggi dan mempunyai hidung mancung. Mungkin untuk sebagian wanita, Pak Gavin termasuk lelaki idaman.
“Saya tertarik memasukkan kamu ke TNI, Nav,” ujar Pak Gavin.
What? Salah dengarkah aku?
“Saya melihat cara baris-berbaris dan juga kedisiplinanmu kala mengikuti pelajaran ini,” ujar Pak Gavin.
__ADS_1
Entah aku harus bahagia atau sebaliknya. Aku mengingat Bu Aisyah yang sedari awal tidak menyanggupi kalau aku masuk TNI. Apakah ini merupakan jawaban atas doa yang sering kupanjatkan?
“Kamu bersedia masuk TNI atau tidak?” tanya Pak Gavin. lagi.
“Naveen dapat uang dari mana, Pak? Kan Bapak juga tau, kalau Naveen itu tumbuh besar di panti asuhan. Jadi, mana mungkin Naveen bisa bayar untuk pendidikan di sana?”
“Kamu tidak usah memikirkan biaya. Itu semua saya yang bertanggung jawab. Tugasmu hanya berlatih dengan sungguh-sungguh dan mempunyai disiplin yang tinggi!” pinta Pak Gavin.
Mimpikah aku?
Ingin rasanya hati ini berteriak, menyerukan kegembiraan yang barusan kudapat. Namun, aku masih sadar. Ada Pak Gavin di hadapanku saat ini.
“Baik, Pak. Naveen bersedia!” jawabku dengan penuh semangat.
***
Serasa tidak percaya dengan apa yang kualami sekarang. Aku telah masuk di TNI AD. Namun, jangan bayangkan dapat bersenang-senang ketika sudah bekerja sebagai TNI. Aku ditugaskan di area konflik yang sering berperang.
Banyak yang bilang, kalau diri ini tidak mempunyai rasa takut. Entah, apa yang harus ditakutkan? Semuanya telah kuserahkan pada Allah. Aku hanya berusaha mengabdi untuk negara.
Tiba saatnya aku kembali ke mes. Bangunan sempit dan terdiri dari beberapa kamar. Dalam kamar, berisi empat orang. Membaringkan tubuh yang lunglai setelah bekerja. Aku memejamkan mata beberapa saat. Hingga akhirnya, terbangun karena ponsel yang berdering.
Aku meraih ponsel dari nakas. Menggeser layar ponsel lalu membaca pesan dari seseorang.
“Bang, apakah abang serius ingin menikahiku?” Isi pesan dari Hanna.
Astaga! Ternyata Hanna bukan sekali ini menghubungiku. Banyak panggilan tidak terjawab dari nomor ponselnya.
“Kalau memang Abang beneran mau nikahi aku. Tolong, temui Abi. Beliau ingin mendengar kepastian dari Abang!” Isi pesan kedua.
“Aku memang mencintaimu, Han. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa pulang karena masih ada dalam masa tugas negara,” balasku pada Hanna.
Pesan terkirim, bahkan sudah dibaca. Namun, Hanna tidak membalasnya. Mungkin dia marah.
***
Aku bersimpuh di antara makam Papa dan Mama. Mendoakan mereka dan berbicara layaknya mereka sedang berada bersamaku saat ini.
“Pa, kini Naveen sudah jadi Tentara seperti papa dulu. Naveen ingin seperti papa, kata mama, papa itu lelaki yang paling tangguh.”
Bangkit dari pusara papa dan mama setelah mencurahkan rasa rindu di antara pusara mereka. Lalu ke rumah di mana aku dititipkan oleh papa. Aku dibesarkan di panti asuhan milik Ibu Aisyah.
Hati sangat senang ketika membuka pintu gerbang. Aku telah disambut oleh keluarga besar di panti asuhan. Bahkan, beberapa balita kecil bergelayut di kaki dan pinggangku. Berharap digendong, mungkin.
Aku menggendong balita kecil. Mungkin usianya sekitar empat tahun dan melangkah, menuju pintu yang terbuka lebar.
“Ya Allah, Nav. Akhirnya kamu kembali, Nak. Ibu bangga sama kamu,” ujar Ibu Aisyah yang lalu memelukku dengan tangis haru yang terbalut bahagia.
Aku membalas pelukan hangat dari wanita senja yang merawatku sedari dulu.
“Kamu telah membuktikan pada Ibu, tanpa meminta uang sepeser pun. Kamu bisa masuk TNI AD. Ibu bangga Nav! Alhamdulillah ... ya Allah....” ucapnya penuh dengan syukur ketika memeluk erat tubuh ini.
“Nav!” ujar seorang lelaki dari belakang.
Ibu Aisyah melepaskan pelukannya dan aku berbalik ke belakang, “Arman?” jawabku dengan mata yang membulat.
“Maafin gue, Nav! Dulu gue meragukan kegigihan lu untuk masuk TNI,” ujar Arman dengan raut wajah penuh penyesalan.
Aku memeluknya dan Arman menangis ketika membalas pelukanku.
“Thank’s, Bro! Walau dulu gue jahat, tapi lu masih mau memaafkan gue!” lirih Arman.
__ADS_1
Pertemuanku di panti terasa sangat khidmat. Aku benar-benar bersyukur, tumbuh dilingkungan panti ini.
Kok Hanna tidak ke sini? Dia ke mana?
***
Hari ini aku meminta Ibu untuk menemaniku membeli cincin pernikahan. Sengaja tidak mengabarkan pada Hanna. Namun, aku telah meminta izin pada Abinya sejak lalu. Alhamdulillah, Beliau merestui niatku untuk mempersunting Hanna.
Malam pun tiba.
Aku datang seorang diri ke rumah Hanna. Di sana aku bertemu dengan kedua orang tuanya. Bersikap biasa saja, seolah tidak ada apa-apa.
“Abi, Umi. Naveen pamit mau makan malam dengan Hanna,” pamitku pada orang tua Hanna.
“Jangan malam-malam, ya?” pesan Abi.
Aku mengangguk seraya mencium tangan Abi, “Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam,” jawab Abi dan Umi.
Melesat di bawah langit gelap mengendarai motor menuju restoran yang telah kupesan. Meja yang telah tertata rapi dan indah dengan bunga dan lilin yang menyala menambah kesan romantis.
Aku menarik kursi, “Silakan!”
Hanna pun duduk, “Terima kasih,” jawabnya dengan seulas senyuman.
Tanpa pikir panjang. Aku menceritakan maksudku malam ini.
“Han, dulu kamu pernah menanyakan keseriusanku. Kini aku pulang walau nanti harus kembali ke medan perang. Namun, malam ini aku ingin melamarmu. Apakah kamu mau menjadi istriku?” tanyaku pada Hanna.
Terlihat wajah syok dari gadis berhijab coklat mocca, dengan tatapan mata yang membulat hampir sempurna.
“A-aku belum tau. Kenapa kamu gak minta izin sama Abi?” tanya Hanna.
“Sudah. Ini semua tinggal menunggu jawaban darimu, Han.”
Hening.
Akhirnya Hanna mengangguk.
“Maksudnya?” tanyaku mengernyitkan dahi.
“Aku bersedia.”
**
Pernikahan pun digelar dengan sederhana. Maklum, aku belum mengurus surat izin dari militerku. Karena biasanya ada upacara militer ketika seorang TNI menikah.
Pernikahan berjalan dengan khidmat. Abi lah yang menjadi wali nikah untuk Hanna. Putri kandungnya. Hingga akhirnya kata ‘SAH’ telah terdengar dari para saksi dan orang-orang yang menghadiri pesta kecil kami.
Malam pun tiba. Aku pertama kali melihat Hanna membuka hijabnya. Untuk kali pertama, aku merundukkan kepala di depan wajahnya.
“Abang kenapa?” tanya Hanna.
“Selama hidup. Aku tidak pernah merunduk karena pikirku, merunduk sama artinya dengan lemah. Aku merundukkan kepala di depanmu, bukan karena lemah, tapi karena percaya engkau merupakan tulang rusuk untuk hidupku!”
Kali pertama, Hanna memelukku erat, “Suami tangguhku. Aku tidak pernah menilaimu lemah. Dari dulu, aku telah melihat kegigihanmu. Kamu lelaki tertangguh untukku, Bang!” lirih Hanna ketika ada dalam pelukan.
Percayalah. Setangguh-tangguhnya lelaki, akan luluh juga pada orang yang ia cintai. Itulah, aku!
_____
__ADS_1
Ane tamatin dulu, Gan! klo ada cerpen lagi. Ane bakal up di sini. Tengkyu🙏😅