Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
BINTANG ANESKA


__ADS_3

“Selamat ulang tahun anak Papa yang cantik!” ucapku memberikan selamat dan membawa cake kecil yang di atasnya terdapat lilin bertuliskan angka sembilan.


“Makasih Papa!” ucapnya dengan raut wajah bahagia.


Namanya Bintang Aneska. Dialah putriku satu-satunya. Berparas cantik seperti Hanna, Mamanya. Ia kini koma karena kecelakaan beberapa minggu yang lalu.


Saat ini aku seolah menjadi Single Parent untuk putriku. Ia terlahir pada tanggal yang cantik 11 November 2011.


Aneska mulai meniup lilin dan memotong cake coklat yang aku berikan untuknya.


“Ini buat Papa!” Aneska memberikan sepotong kue itu padaku.


“Makasih, Sayang!” ucapku setelah memakan potongan kecil kue yang ia berikan.


Aneska tersenyum.


“Makasih hadiahnya ya, Pa? Aneska suka, kuenya cantik. Enak lagi!” ucapnya dengan wajah yang seketika berubah sedih.


“Kamu kenapa?” Tanganku mengusap pipi Aneska.


“Gak papa, Pa! Aneska hanya teringat Mama. Kapan Mama akan sadar dari tidurnya ya, Pa?” tanyanya yang membuat hatiku bak diiris sembilu.


Aku tersenyum lalu meninggalkan ia dalam kamar yang bernuansa pink, sesuai dengan warna favorit Mamanya.


Aku masuk dalam kamar. Dada ini sesak setelah putri kecilku bertanya kapan Mamanya akan bangun? Aneska tidak mengerti kalau Mamanya sedang mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati, ia koma.


Aku membuka jendela kamar lalu menarik napas dan mengempaskan perlahan.


Huuuffff!


Han, andai kau tahu. Hari ini usia putri kita genap berusia sembilan tahun. Apakah kamu tidak rindu dengannya? Hampir satu bulan ini kau tertidur di rumah sakit dengan bantuan selang oksigen dan selang-selang kecil yang menempel di tubuhmu.


Tak berselang lama, pintu kamar ada yang mengetuk.


“Masuk!” jawabku dari dalam kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terdorong masuk dan terlihatlah wajah cantik dari putri kecilku.


Langkah kaki kecilnya kini mengarah kepadaku yang sedang berdiri di depan jendela kamar. Dengan sorot mata sendu, ia menatapku.


“Papa sedih, ya?”


“Sedih? Kenapa harus sedih di hari ulang tahun putri cantiknya Papa?” jawabku menyembunyikan rasa sesak yang ada dalam dada.


“Maafin Aneska ya, Pa?” ucapnya sambil memeluk pinggangku.


Aku menggendongnya dan mendudukkannya di tepi ranjang.


“Tidak ada yang sedih. Malah, Papa semakin bangga sama Aneska. Karena, selain cantik wajah, hati kamu juga cantik, Sayang!” Aku mengecup pucuk kepala putriku.


“Malam ini Aneska mau bobok sama Papa!” pintanya.


“Baiklah!”


Aku mengangkat tubuh kecil itu ke atas ranjang dan memeluknya erat. Tak lupa, aku bacakan buku dongeng kesukaannya. Apalagi kalau bukan cerita Sleeping Beauty?


“Pa, tau enggak kenapa Aneska suka cerita Sleeping Beauty?”


“Entah! Memangnya kenapa?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Aneska ingin, Papa seperti Pangeran yang mencium Mama yang selalu tertidur di rumah sakit.”


“Itu ‘kan hanya sebuah dongeng, Sayang,” ucapku sambil menyelipkan rambut panjang Aneska di telinganya.


“Tapi harapan Aneska semoga itu nyata!”


“Sudahlah, ayo tidur!” Aku membaringkan tubuh kecil Aneska dan menyelimutinya. “Good night, Baby! Muchhh!” Aku mencium pucuk kepala putriku lalu memeluknya hangat dalam dekapan.


***


Pagi ini aku mengantar Aneska ke sekolahan. Kebetulan aku sedang mengambil cuti kerja. Jadi setelah kuantarkan Aneska ke sekolah. Aku langsung meluncur ke rumah sakit untuk menemani Hanna.


Ceklek!


Aku membuka pintu kamar ruang ICU dengan baju khusus dari pihak rumah sakit.


Aku duduk di samping Hanna yang masih terlelap dalam tidur. Wajahnya terlihat pucat pasi tapi tak menghalangi aura kecantikan pada wajahnya. Aku menggenggam jemari Hanna.


“Han? Bangun, Sayang. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Apakah kamu tidak merindukanku? Putri kita semakin pintar. Masa aku disuruh untuk mencium kamu agar cepat sadar?” bisikku di telinga Hanna.


Aku mencurahkan segala keluh kesahku padanya. Terlebih, kerinduan yang membuncah dari putrinya.


Sudah cukup lama aku mengobrol dengan Hanna yang tidak merespon apa-apa. Matanya terus terpejam sepanjang aku bercerita.


“Aku pulang ya, Han? Kapan kamu bisa berkumpul lagi bersama kami?” bisikku yang masih menggenggam jemari tangannya.


Entah apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Tiba-tiba aku mengecup bibir Hanna dengan lembut, mungkin aku rindu? Entahlah.


“Hanna?”


Tangan Hanna bergerak.


Pergerakan tangannya mulai merespon walau matanya masih terpejam. Aku berlari mencari dokter atau perawat untuk memeriksa keadaan istriku saat ini.


Dokter pun masuk lalu mengecek keadaan Hanna.


***


Ini merupakan kabar baik untuk Aneska. Ia pasti senang mendengar kabar ini.


Aku melihat Aneska berjalan gontai dalam halaman sekolah menuju gerbang dengan bibir yang meruncing.


“Kamu kenapa, Sayang?”


“Aneska kesal, Pa! Katanya Aneska tidak akan mendapat nilai yang bagus, karena tidak ada sosok Mama yang bisa mendidik!” pekik Aneska dengan lautan emosi.


“Kan ada Papa,” jawabku melemah.


“Tapi Aneska ingin seperti teman-teman yang lain. Aneska ingin tahun ini Mama bisa hadir ketika pengambilan rapor!” Air mata itu menetes di pipinya.


“Kalau Mama bisa ambil rapor Aneska nanti. Kamu mau kasih hadiah apa untuk Mama?”


“Aneska akan kasih nilai terbaik untuk Mama!”


Akhirnya aku menceritakan keadaan Mamanya yang sudah sadar dari tidurnya. Ekspresi wajah Aneska kini berubah, ceria seketika.


Keadaan Hanna berangsur membaik. Aku pun melihat Aneska yang terus giat belajar. Mungkin ia hendak membuktikan janjinya untuk Hanna.


“Udah malam, Sayang! Tidur, yuk?” ajakku pada Aneska yang masih belajar.


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bagi anak seusianya, ini sudah sangat larut malam.

__ADS_1


Aku menggendongnya dan membaringkan tubuh Aneska di atas ranjang yang banyak dengan boneka. Tak lupa, aku menyelimuti tubuh dan mencium pucuk kepalanya.


“Nice dream, Baby!”


***


Aku melihat semangat Aneska untuk belajar. Ia bahkan tidak punya waktu bermain dengan teman-temannya. Mungkin karena ingin memberikan nilai terbaik untuk Hanna sebagai hadiah atas kesembuhan Mamanya.


“Aneska, mainlah sama teman-teman. Mamamu juga tidak memaksamu untuk terus belajar,” titahku.


“Enggak, Pa. Aneska ingin memberikan nilai-nilai yang baik untuk Mama. Aneska ingin menjadi bintang kelas,” ucapnya menggebu. Ia terus belajar.


Hanna telah kembali pulang dan berkumpul bersama kami. Aneska pun telah selesai mengerjakan ujian semesternya. Esok hari kami akan mengetahui usaha dari putiku, Aneska.


.


Aneska sudah bangun dan mandi pagi-pagi. Ia sudah rapi dengan seragam merah putihnya.


“Semangat sekali anak Mama,” ucap Hanna ketika kami sarapan di ruang makan.


“Iya, dong! Aneska akan mempersembahkan nilai-nilai terbaik untuk Mama!” ucap Aneska sambil tersenyum.


Melesat menggunakan mobil silver ke sekolah Aneska. Sudah banyak orang tua yang sudah memenuhi ruang kelas putra-putrinya. Termasuk kami, yang berada di kelas Aneska untuk mendampinginya.


“Tunggu sebentar ya, Han. Aku mau ke toilet dulu,” pamitku pada istri.


“Iya, tapi jangan lama-lama. Bentar lagi pembagian rapor putri kita,” jawab Hanna.


“Iya!”


Aku berjalan ke toilet, hendak buang air kecil. Setelah itu aku bermaksud kembali ke kelas Aneska. Namun, ada yang menghalangiku ketika keluar dari pintu toilet.


“Om Naveen? Papanya Aneska, ya?” tanya seorang anak laki-laki seusia Aneska.


“Iya, kamu siapa?” tanyaku pada bocah lelaki yang mempunyai paras tampan.


“Om gak perlu tau aku siapa. Tapi aku ingin kasih tau Om Naveen tentang kecurangan teman-teman Aneska padanya,” jawabnya yang membuat seribu tanya untukku.


“Maksudnya?”


Aku mengernyitkan dahi.


Anak laki-laki itu menceritakan bahwa hasil ujian Aneska telah diganti oleh teman-teman yang tidak suka akan kecerdasan putriku. Anak itu tidak dapat melaporkan kejadian ini pada pihak sekolah karena ia tidak memiliki bukti. Ia hanya menjadi saksi.


“Percayalah, Om! Aku berkata jujur. Aneska itu merupakan siswi yang pintar. Saya harap, seandainya nilai Aneska tahun ini jelek. Om tidak akan memarahinya karena ini bukanlah hasil nilai dari Aneska,” ucapnya meyakinkanku.


“Bagaimana Om bisa percaya ini bukan nilai Aneska?”


“Om minta lembar soal dari pihak sekolah. Nanti Om suruh Aneska isi di rumah, ia pasti ingat seluruh jawabannya.”


Akhirnya aku kembali ke kelas Aneska. Aku melihat Aneska menangis dalam pelukan Hanna. Yang membuatku kagum, Hanna sama sekali tidak marah walau Aneska mengatakan nilai ujiannya merah semua.


“Aneska, walau kamu tidak menjadi bintang kelas tahun ini, tapi kamu selalu menjadi bintang di hati Papa dan Mama.”


Aneska menatapku sendu.


“Kamu tau, apa arti dari namamu?”


Aneska menggeleng.


“Bintang Aneska. Yang berarti Cahaya yang bersih dan murni. Engkau merupakan sinar bagi keluarga kami!” Aku dan Hanna memeluk hangat Aneska.

__ADS_1


Karena Papa tahu, Nak. Kamu merupakan korban dari teman-teman yang tidak menyukaimu. Kamu mempunyai hati yang bersih dan murni sesuai namamu dan akan selalu bersinar bagai bintang.


__ADS_2