
“Nav, kemasi barang-barang. Kita keluar dari rumah ini,” ucap Papa yang membuat mataku membulat. Kaget.
“Loh, kenapa?”
“Papa sudah bangkrut. Rumah telah disita oleh bank,” terang Papa.
Ini menjadi hal terburuk untukku. Bagaimana tidak? Menjelang tahun baru, biasanya aku berpesta bersama teman-teman sekolah. Sekarang? Jangankan berpesta, berkumpul saja sudah tidak tahu.
“Kenapa masih diam?” tanya Papa padaku.
“Kan ada Bi Minah, biarkan dia saja yang membereskan baju-baju Naveen,” jawabku yang masih memainkan gawai.
“Bi Minah sudah tidak bekerja lagi dengan kita. Papa sudah tidak sanggup bayar asisten rumah tangga,” terang Papa.
What?
Sepertinya penderitaan baru akan dimulai.
Dengan terpaksa, aku melangkah masuk kamar dan membuka lemari untuk membereskan baju-baju ke dalam koper.
“Jangan terlalu banyak, nanti susah bawanya!” ujar Papa yang kebetulan melewati pintu kamar.
Aku mengemas beberapa pakaian ke dalam koper seperti yang Papa suruh. Menarik koper tanpa banyak tanya kita akan pindah ke mana?
Ternyata taksi sudah terparkir di halaman rumah. Koper berukuran cukup besar pun sudah ada di depan rumah dan bersiap masuk ke bagasi taksi berwarna biru.
Sebenarnya Papa mau ajak aku ke mana?
Melesat dengan menggunakan taksi ke suatu tempat. Aku tidak terlalu memperhatikan jalanan, tiba-tiba saja taksi berhenti di kawasan yang cukup padat penduduk.
“Ayok, turun!” ajak Papa.
Kami turun dari dalam mobil dan memasuki rumah yang sangat kecil menurutku. Hanya ada dua kamar tidur, sepetak ruang tamu, dapur dan kamar mandi yang berukuran sangat kecil.
“Ini rumah siapa, Pa?”
“Rumah baru kita,” jawab Papa sambil menaruh koper di lantai.
Aku menyunggingkan senyum miring, “Jangan becanda ‘ah, Pa! Masa kita mau pindah di rumah ini?” ujarku yang tidak percaya dengan ucapan Papa.
“Papa serius!”
Terlihat sorot Papa memang serius saat ini. Mati! Masa aku harus tinggal di tempat yang sempit dan pengap seperti ini? Luas rumah ini saja, hampir sama dengan luas kamarku dulu.
Aku tumbuh menjadi karakter yang cuek. Mungkin karena aku seorang anak tunggal, dibesarkan oleh singel parent yang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Hari ini, Papa mulai membuka usaha baru. Karena di sini kampung yang mayoritas warganya sebagai petani. Papa membuka toko yang menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan oleh petani.
“Nav, nanti bantu Papa nurunin pupuk dari mobil!” ujar Papa.
__ADS_1
“Yaelah, Pa. Beratlah! Mana Naveen kuat?” elakku yang sebenarnya malas.
“Kalau gak kuat, malu sama badan!” ujar Papa nyelekit.
Kalauseperti ini, mau tidak mau aku harus mengikuti keinginan Papa.
***
Waktu terus berlalu dan kehidupan kami masih seperti ini.
“Pa, bagi duit dong!”
“Untuk apa?” tanya Papa yang sedang menghitung pemasukan dari toko kami.
“Party tahun baru sama anak-anak,” jawabku santai.
“Enggak ada, Nav. Kan duit ini buat kembali memutar modal dagangan,” jawab Papa yang membuatku kecewa.
“Lima juta doang gak ada?” tanyaku sedikit memaksa.
“Jangankan lima juta, satu juta pun untuk saat ini Papa tidak akan kasih!”
Aku begitu kesal sama Papa. Ditambah dengan keadaan kami yang belum juga berubah hingga detik ini. Aku mengambil kunci motor di atas meja dan memakai jaket.
“Mau ke mana kamu?” tanya Papa.
“Naveen, kembali!” pekik Papa yang terdengar sayup karena aku telah berada di luar rumah.
Aku tidak menghiraukan ucapan Papa dan memilih pergi bersama teman-teman walau tidak membawa bekal. Ada rasa malu sebenarnya jika gabung bersama mereka, tapi ya bodo amatlah. Yang jelas aku bisa happingfun bareng mereka.
Akhirnya aku tiba di vila salah satu kawan. Di sana sudah banyak orang dengan dentum musik yang sangat kencang. Botol minuman sudah tersaji di meja.
“Woy, Bro! Akhirnya lu datang juga,” ujar Keno yang sepertinya sudah mabuk.
“Yoi, Bro! Masa gue mau ninggalin acara happy kek gini? Bodo banget kan kalau gue sampe gak dateng?”
“Woiihhh ... gitu, dong! Kebersamaan kita harus tetap kompak!” ujar Keno.
Kami larut di malam tahun baru dengan kebahagiaan. Dalam versi kami, bahagia itu bisa menikmati alkohol dengan teman-teman dan menari diiringi dentum musik yang kencang.
.
Aku terbangun ketika ponsel berdering. Entah apa yang terjadi denganku ketika mabuk. Menggeser layar ponsel, ternyata banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Papa.
Aku lebih memilih menikmati malam tahun baru ini bersama teman-teman dan tidak memedulikan ucapan Papa yang menyuruh untuk pulang. Kami melanjutkan pesta tahun baru hingga pagi buta.
“Gue balik, Kuy!” ujarku sambil melangkah ke pintu.
__ADS_1
Mereka masih asyik dengan pesta tahun baru ini. Aku memacu motor dengan kecepatan tinggi di pagi ini. Embusan angin pagi hari membuat mata semakin mengantuk. Sekejap aku tertidur.
“Sadar, Nav, lu lagi bawa motor!” ucapku sambi menampar pelan pipi berharap tersadar dari rasa kantuk yang mendera.
Masih memacu mobil dan kembali mata ini sedikit terpejam karena terlalu mengantuk.
Bruk!
Aku merasa sepeda motorku menabrak sesuatu. Entah apa yang terjadi denganku karena keadaan berubah gelap seketika. Pingsan.
***
Aku membuka mata, “Awwh!” Tanganku memegang kepala, terasa sangat sakit dan alangkah kagetnya aku ketika kaki ini tidak dapat digerakkan.
“Kakiku, kakiku kenapa?” Mencoba menggerakkan tetapi tidak ada respon.
“Sudah bangun, Nav?” tanya Papa dari balik pintu yang hendak masuk.
“Kaki Naveen, Pa. Kaki Naveen gak bisa digerakin!” keluhku sedikit berteriak kesal dan takut menjadi satu.
“Sabar, Nav. Mungkin ini cobaan untuk kamu,” ujar Papa.
“Maksud Papa? Naveen lumpuh?”
Aku menatap wajah senja Papa, meminta keterangan darinya. Papa mengangguk samar.
Dunia seakan runtuh ketika mendengar kaki ini lumpuh. Masa depanku seolah suram tanpa adanya kaki yang dapat menopang badan.
.
Hari-hari kulalui di atas kursi roda. Sementara teman-temanku sampai detik ini tak ada yang mengunjungiku.
Ternyata sahabat seperti mereka, hanya ada ketika senang saja. Justru, Papalah orang yang kuanggap tidak menyayangiku, malah beliaulah yang mengurusi semua keperluanku dan merawat dengan sabar.
Kasih sayang yang dulu tidak kulihat. Setelah kaki ini lumpuh, barulah mata dan hatiku terbuka. Kalau Papa begitu menyayangiku.
“Nav, maafin Papa, ya?”
“Untuk apa?”
“Papa bukanlah orang tua yang baik,” ujar Papa dengan tertunduk.
“Pa? Naveen yang minta maaf sama Papa. Mata hati Naveen kini terbuka, kalau dulu Papa sibuk semata demi Naveen. Papa ingin memenuhi semua kebutuhan Naveen. Maaf, ya, Pa?” Aku menggenggam tangan Papa.
Papa menatap wajahku lekat lalu memelukku hangat.
Terkadang, kasih sayang yang besar itu terhalang oleh setitik kesenangan, dengan seorang yang menyebutnya sebagai sahabat semu.
__ADS_1