
“Nav, bangun!” ucap Bapak membangunkanku.
Beliau selalu bangun di sepertiga malam. Bapak seorang kuli panggul di pelabuhan, berangkat sekitar jam enam pagi ke pelabuhan yang tidak jauh dari rumah kami. Kadang, aku merasa kasihan dengan pekerjaan Bapak. Pada usia tuanya, beliau masih harus mencari nafkah.
Sempat aku meminta berhenti kuliah dan menggantikan posisi Bapak sebagai pencari nafkah. Toh, kami hanya hidup berdua saja.
“Pak, kenapa gak nikah lagi ‘sih?”
“Untuk apa? Bapak sudah tua,” jawabnya.
“’Kan dari dulu Naveen sudah suruh Bapak,” jawabku yang masih mengunyah makanan penuh dalam mulut.
“Kalau lagi makan gak usah ngomong, nanti keselek!”
Bapak selalu mengelak kalau membahas pernikahan. Padahal, Ibu dari dulu telah meninggalkan Bapak. Entah, alasannya apa? Hingga kini, aku belum pernah bertemu lagi dengan ibu. Jujur saja, batin rindu ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun, lambat laun rasa itu memudar dan berubah menjadi benci tatkala mendengar kalau ternyata ibu telah menikah lagi dengan laki-laki kaya raya. Ibu seolah lupa, kalau dirinya mempunyai aku. Anaknya.
“Pak, Naveen keluar kampus aja, ya? Biar Naveen bisa ikut kerja sama Bapak,” pintaku terhadap Bapak yang hendak berangkat kerja.
“Nav!” Bapak memegang kedua bahuku dan menatap sepasang netra coklat ini dengan tajam. “Bapak hanya minta, kamu kuliah yang bener. Raih ilmu setinggi-tingginya agar suatu saat kamu menjadi orang sukses. Tidak seperti Bapak yang hanya kuli panggul pelabuhan,” pintanya.
Sorot lelaki senja ini mulai sedikit berembun. Sepertinya, Bapak menyimpan luka karena keadaan ini.
Aku mengangguk, “Iya, Pak!” Hanya kata itu yang dapat membungkam bibir Bapak agar tidak melanjutkan ucapannya.
“Ya sudah, Bapak berangkat, ya?” ujarnya yang kemudian melesat dengan motor butut yang sering mogok.
***
Aku seorang mahasiswa disalah satu kampus di Bandar Lampung. Mengambil jurusan Ekonomi dan Bisnis. Berharap suatu saat bisa jadi pebisnis yang handal.
Kuliah mendapatkan beasiswa pintar, tidak berarti seutuhnya bebas tanpa mengeluarkan uang sedikit pun.
Ponsel bergetar ketika aku berada di kantin kampus. Segera kuangkat telepon ketika ada nomor telepon yang masuk dari tempat kerja Bapak.
“Halo?” sahutku dalam telepon.
“Apa benar ini nomor Naveen, anak dari Pak Andra?” jawab dari dalam telepon.
“Iya, Pak. Ada apa, ya?”
“Saya mengabarkan kalau Bapak Andra pingsan di pelabuhan.”
Kaget mendengar kabar buruk. Aku bergegas tancap gas ke pelabuhan. Cukup jauh jarak antara pelabuhan dengan kampus.
Ya Allah, semoga Bapak baik-baik saja!
***
Sesampainya di pelabuhan. Aku melihat Bapak sudah sadar, tetapi dengan wajah yang sangat pucat.
“Pak! Bapak kenapa?” tanyaku setelah berada di samping Bapak.
“Bapak baik-baik kok, Nav,” jawabnya dengan seulas senyuman.
“Kita ke rumah sakit ya, Pak?” ajakku pada Bapak.
Bapak menggeleng, “Enggak usah, istirahat sebentar juga udah sehat. Bapak hanya kecapean,” elaknya.
__ADS_1
Kkruukk!
Tiba-tiba perut Bapak berbunyi cukup nyaring hingga telingaku mendengarnya.
“Bapak lapar?” tanyaku seraya memandang wajah senjanya.
Lengkungan di bibirnya terukir ragu. “I-iya, tadi pagi Bapak enggak makan,” jawabnya yang membuatku tercengang. “Tadi pagi, Bapak kasih sarapan buat pengemis yang datang ke rumah karena tidak tega.”
Hancur hati ini mendengar pengakuan bapak. Aku merasa tidak berguna, hingga tanpa sadar pipi telah basah. Sebenarnya aku tidak ingin menangis tetapi air mata keluar dengan sendirinya.
“Hey, masa anak Bapak menangis? Jangan cengeng!”
Itu yang selalu Bapak tanamkan. ‘Jangan cengeng!’ Dua kata yang sangat berat dijalankan, dua kata yang selalu membuatku sesak ketika melihat semua kenyataan yang menimpa keluarga kami.
Bapak ditinggal Ibu, harus bekerja banting tulang dan masih juga mengurus rumah. Aku sungguh tidak berguna. Rasa sesal yang menyelimuti diri. Andai saja aku punya banyak uang, mungkin saja bapak tidak payah seperti ini.
“Ini makan siangnya, Pak!” ujar salah seorang lelaki.
“Makasih,” jawab Bapak sambil meraih nasi bungkus.
“Naveen, boleh kita bicara di luar?” ajak lelaki itu.
Aku mengangguk, “Bapak makan dulu. Naveen keluar sebentar.”
Lelaki itu berjalan keluar ruangan dan aku mengekor. Di sebuah bangku kami duduk berdampingan. Dengan fiew laut yang membentang luas di hadapan kami. Semilir angin laut tetapi tetap didominasi dengan panas yang menyengat. Terbayang ketika bapak sedang bekerja mengangkat barang.
“Apakah kamu tahu, kalau bapakmu sering tidak sarapan?” ucapnya membuka percakapan.
Mataku membulat. Karena setahuku, bapak sudah ada di depan meja makan dan seolah sedang sarapan.
“Sebenarnya, saya juga tidak terlalu yakin. Hanya saja saya sering mendengar perut keroncongan ketika ia bekerja,” ujar lelaki itu bagai mengiris sembilu.
Aku hanya menyimak karena memang diri ini pun tidak mengetahuinya.
“Sudah sebulan ini ada wanita yang datang ke pelabuhan. Andra terlihat bahagia ketika dia datang. Entah, siapa dia. Saya tanya, tetapi bapakmu tidak pernah menjawabnya.”
Wanita? Siapa? Apakah bapak mau menikah lagi?
Bergelayut pertanyaan yang ada dalam hati. Tidak berselang lama, lelaki yang mengobrol tanpa menyebutkan namanya itu menunjuk pada seorang wanita paruh baya. Terlihat pakaiannya sangat rapi dan modis. Ia melenggang lalu masuk ke ruangan yang ada Bapak di dalamnya.
Siapa dia?
“Itu wanita yang selalu datang kemari, Nav,” ujar lelaki yang sedang duduk di sampingku.
“Permisi, Pak. Saya mau ke ruangan Bapak sebentar,” pamitku yang lalu berdiri dari bangku yang sedang kami duduki.
Berjalan dengan sedikit tergesa, karena ingin mengetahui siapa wanita yang menemui Bapak?
Pintu sedikit terbuka. Aku mulai mendengarkan pembicaraan mereka. Bapak tertunduk dan menangis di hadapan wanita itu.
“Maaf, Re. Aku tidak bisa membahagiakan anak kita,” ucap bapak.
“Kamu tidak bersalah, Mas. Justru saya bangga sama Mas yang telah membesarkan anak kita,” jawab wanita itu.
Anak kita? Ibu? Apakah wanita itu ibu yang kurindukan selama ini? Oh, tidak! Dia telah meninggalkanku. Bagaimana mungkin aku merindukan wanita seperti itu? Jelas-jelas dia telah meninggalkanku dan juga bapak.
“Maafkan aku Renata. Karena kebohonganku, Naveen jadi membencimu,” ujar bapak masih dengan pandangan yang tertunduk.
__ADS_1
“Kenapa harus meminta maaf? Kan memang aku yang suruh, Mas. Aku rela Naveen membenciku, karena kenyataannya aku telah menelantarkan dia. Maafkan aku, Mas!” Wanita itu ikut tertunduk di hadapan Bapak.
Hati semakin bingung dengan keadaan ini. Aku harus meminta penjelasan dari mereka. Akhirnya pintu kubuka lebar. Sontak, ada raut kaget dari keduanya ketika melihatku.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku di hadapan Bapak dan wanita senja itu.
“Naveen?” jawab dari keduanya berbarengan dengan mata yang sama-sama membulat. Mungkin mereka kaget ketika melihatku yang sudah berdiri di depan mereka.
Hening.
Mata wanita itu dan Bapak saling pandang. Seolah ada sesuatu hal yang akan mereka bicarakan tetapi bingung harus memulai dari mana.
“Sebenarnya, Ibu yang salah di sini, Nak!” ujar wanita paruh baya yang mungkin ibuku. Aku sudah lupa dengan wajahnya.
“Bukan, Nav! Tapi Bapak yang salah,” ujar Bapak menimpali.
“STOP! Naveen ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya. Jangan malah saling menutupi seperti ini!”
Akhirnya Bapak mengungkap tabir masa lalu. Beliau menceritakan tentang pernikahannya sama Ibu yang tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Dulu, Bapak merupakan karyawan di perusahaan besar yang tak lain perusahaan milik orang tua ibu. Mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah tanpa restu. Akhirnya, Bapak dipecat dari pekerjaan. Perekonomian Bapak semakin memburuk ketika aku telah lahir ke dunia. Sehingga orang tua ibu kembali menarik ibu bersama mereka. Bapak tidak bisa berbuat apa-apa karena memang kesepakatan mereka harus membahagiakan ibu. Usia pernikahan yang berjalan dua tahun, harus kandas begitu saja karena bapak dianggap gagal membahagiakan ibu pada masa itu.
Aku menghela napas panjang dan mengempaskan perlahan. Berharap emosiku tidak membludak saat ini, yang menyisakan kebencian untuk orang tua ibu yang tak lain kakek dan nenekku.
“Ibumu selalu mengirimi uang untuk kamu, Nav. Namun, Bapak selalu memberikannya pada panti asuhan. Jangan benci Ibumu, Nav. Ini semua kesalahan Bapak!”
Hening.
Hanya kebisuan yang terjadi saat ini. Sesungguhnya banyak pertanyaan yang ada di hati, tapi aku tidak bisa memaparkannya. Mungkin seiringnya waktu, pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya.
***
Semenjak saat itu. Komunikasiku dengan ibu berjalan lancar. Kasih sayang yang dulu hanya ada dalam angan, kini kudapatkan secara nyata.
“Bu, kenapa dulu Ibu mau menikah dengan Bapak?”
“Bapakmu lelaki yang tangguh, Nav. Meskipun kami harus berpisah, tapi Ibu bangga sama Mas Andra karena dia merupakan sosok yang kuat dan tangguh. Terbukti, dia bisa membesarkanmu dengan baik dan penuh kasih sayang.”
“Apakah Ibu tidak mau kembali sama Bapak?” Aku menyipitkan mata, karena ragu dengan pertanyaan ini.
“Ibu ingin, Nav. Tapi Ibu malu, usia kami sudah tua,” jawabnya sambil terkekeh dan pipi yang memerah.
“Ibu tau tidak?” tanyaku yang sengaja kugantung.
“Tau apa?”
“Sepertinya Bapak terlalu menyayangi Ibu. Terbukti, hingga saat ini Bapak masih sendiri walau dari dulu Naveen sering menyuruhnya untuk menikah lagi.”
Pipi Ibu semakin memerah. Ahh, seperti melihat ABG jatuh cinta saja. Apakah semua manusia seperti ini, ketika sedang jatuh cinta?
“Perlu kamu tau, Nav. Mas Andra di mata Ibu merupakan laki-laki tertangguh. Dia selalu bilang, ‘Laki-laki tangguh itu akan luluh pada wanita yang ia cintai’, kata itu yang selalu Bapakmu tekankan untuk Ibu. Sehingga, Ibu tidak bisa membuka hati untuk lelaki lain. Ibu memilih hidup sendiri tanpa pendamping kalau tidak bisa bersama Bapakmu.”
Ya Allah ... ternyata kedua orang tuaku saling mencintai. Cinta mereka tetap bersemi walau tidak bersama lagi.
“Semoga kalian mendapatkan yang terbaik. Naveen senang kalau kalian bisa kembali lagi.”
Ibu memelukku hangat.
Bapak yang menurutku lelaki paling tangguh, ternyata luluh di hadapan wanita yang dicintai. Siapa lagi kalau bukan ibu? Dialah satu-satunya yang dapat meluluhkan hati lelaki tangguh yang menjadi panutan dalam hidup.
__ADS_1