Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Noda Masa Lalu


__ADS_3

“Bang, bangun!” suara Hanna membangunkanku.


“Abang, ayo bangun!”


Lagi, suara Hanna terus membangunkanku di pagi hari. Bukan hanya menyebut namaku saja. Dia juga terus menggoyang-goyangkan tubuh membuatku kesal.


“Apa sih, Han? Ini hari Minggu, Abang ingin tidur!” jawabku sambil membulatkan mata.


“Kata Mama suruh cepat ganti baju. Kita kan mau ke acara pernikahannya Tante Sandra,” ujar Hanna mengingatkan.


Aku duduk di atas ranjang. Sejenak terdiam mengumpulkan ragaku yang masih belum sadar sepenuhnya.


“Hideki? Hanna? Cepat mandi! Kita hampir telat!” pekik Mama dari bawah.


“Iya, Ma! Nih, Abang susah banget dibangunin!” jawab Hanna.


“Ah ... pake bilang Abang yang ngelamain lagi!”


Aku bangkit dari tempat tidur mengarahkan kaki ke kamar mandi.


Kami merupakan saudara kembar. Hanna dilahirkan lima menit setelah aku lebih dulu menghirup napas di dunia.


Aku ke luar dari kamar mandi dan mengenakan baju yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Tak lupa aku menyemprotkan parfum. Mama sudah berteriak sejak tadi memanggil nama kami. Sepertinya beliau sudah capek memanggil nama kami.


“Hideki, lama banget!” omel Mama.


“Hideki udah siap kok, Ma! Yang ada juga Hanna tuh yang belum selesai mandi.”


“Haduh, kalian itu kebiasaan deh selalu lambat! dari semalam Mama udah ingetin jangan tidur larut malam karena kita akan pergi ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan Sandra, Tante kalian!” omel si Mama panjang lebar.


Aku hanya diam, kalau Mama sudah marah. Tidak ada seorang pun yang berani melawan. Karena Mama suka bawa-bawa nama surga. Siapa sih yang gak mau masuk surga?


“Gini deh, Mama sama Papa berangkat duluan, nanti kamu menyusul sama Hanna. Toh perjalanan hanya satu jam, kamu bawa mobil sendiri. Mama enggak mau telat menghadiri acara pernikahan adik Mama!” terangnya.


“Tapi, Ma!”


“Enggak ada tapi-tapi, pokoknya Mama tunggu kalian di sana! Awas jangan terlalu lama. Bilang sama adikmu supaya lebih cepat dandannya!” ucap Mama kemudian berlalu pergi.


Entah mengapa hatiku berat melepaskan Mama pergi saat ini. Ingin menahan tapi Mama sudah membuat keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.


Terdengar suara mesin mobil Papa yang hendak berangkat ke pesta pernikahan Tante Sandra. Sementara aku hanya menyaksikan kepergian mereka dari jendela kamar di lantai dua.


Setelah mobil tak terlihat. Aku duduk di tepi ranjang, meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Memainkan game online favorit.


Kenapa aku terus teringat Mama?


Aku berjalan ke kamar Hanna yang berada di samping kamarku.


“Han!” panggilku sambil mengetuk pintu.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


“Udah beres belum? Lama banget!” omelku pada Hanna.


“Ish, Sabarlah! Cewek emang lama kalau dandan!” bantahnya.


“Mama sama Papa udah berangkat, kita suruh cepat menyusul!” ucapku yang tak lagi sabar menunggu Hanna yang terlalu lama berdandan.


“Iya bentar, lima menit lagi!”


JEDUK!


Hanna menutup pintu.


***


Aku dan Hanna menaiki mobil merah menuju tempat pernikahan Tante Sandra. Perjalanan cukup lancar, waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Akhirnya kami telah sampai di rumah Tante Sandra. Kakek dan Nenek sudah lama tiada. Makanya, Mama ingin sekali menyaksikan pernikahan saudara satu-satunya ini.


Namun sayang. Sepertinya acara ijab telah selesai. Tamu pun terlihat sedang makan.


“Hideki! Hanna!”


Tante Sandra memanggil nama kami sambil melambaikan tangan.


“Mama kalian mana?” tanya Tante Sandra ketika kami telah menghampirinya.


“Kan udah berangkat dari tadi, Tan!” jawab Hanna.


Hening.


Ddrrrtttt!

__ADS_1


Di tengah kebingungan seketika ponsel Hanna bergetar dalam tas kecilnya. Ia meraih lalu melihat layar ponsel.


“Mama?”


Mata Hanna membulat ketika melihat layar ponselnya.


“Angkat, Han!” titah Tante Sandra.


Hanna pun mengangkat telepon. Seketika sepasang netra coklat itu berkaca-kaca ketika terdengar samar suara seseorang yang entah itu siapa.


Gubrak!


Hanna pingsan.


Kami panik melihat Hanna yang tiba-tiba pingsan ketika mengangkat telepon. Pesta agak semrawut tatkala tubuh Hanna terkulai di lantai.


Tante Sandra dan warga membopong tubuh Hanna untuk dibawa masuk ke rumah. Sedangkan aku meraih ponsel yang terjatuh, aku kira telah mati tapi ternyata masih ada suara.


[Halo,] jawabku dalam telepon.


[Selamat pagi, kami dari pihak kepolisian mengabarkan bahwa kami menemukan sepasang jenazah suami istri karena kecelakaan, atas nama Ibu Humeera dan Bapak Kavinda Arterio kini jenazah ada di rumah sakit Surabaya.]


Prak!


Ponsel terjatuh.


Kaki gemetar hingga aku terduduk di lantai. Syok mendengar kabar buruk dari pihak kepolisian. Berusaha menyangkal, tapi itu merupakan ponsel Mama.


Kenapa ini semua terjadi Tuhan?


***


Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dan berharap bahwa kabar ini bohong. Berulang kali Tante Sandra menyadarkanku ketika aku hendak menabrak seseorang di jalan. Hingga akhirnya kendali setir diambil alih oleh Tante Sandra karena merasa takut. Sementara pesta ditinggalkan begitu saja, mungkin juga sudah bubar.


Akhirnya kami telah sampai di rumah sakit lalu bergegas ke ruang jenazah seperti yang telah disampaikan dari pihak kepolisian.


Kami dipandu pada kedua jenazah yang telah tertutup kafan, dengan berat hati aku menyibak kain itu.


Kaki gemetar, bahkan tidak dapat menopang lagi tubuhku sendiri setelah melihat wajah kedua orang tuaku yang pucat pasi.


“Tidak, tidak. Itu bukan orang tuaku!” elakku berusaha untuk memungkiri.


Tante Sandra mendekatiku, ia memelukku untuk menenangkan, “Sabar ya, Hid. Ini sudah jalannya,” ujar Tante Sandra yang berusaha menguatkanku tapi sendirinya malah menangis.


Aku berusaha tegar dan menerima kenyataan, tapi bagaimana dengan Hanna?


Aku membuntuti ambulans yang melesat cepat menuju rumah Tante Sandra. Dalam hati berkecamuk, bagaimana ekspresi Hanna nanti?


Akhirnya kami sampai di rumah Tante Sandra. Namun bayanganku salah, Hanna terlihat tegar ketika melihat jenazah kedua orang tua kami yang dikeluarkan dalam ambulans bahkan ketika acara pemakaman. Ia hanya menenggelamkan wajahnya di dada ini sambil memelukku.


Malam pun tiba. Kami ikut tinggal di rumah Tante Sandra. Mendengar ada keributan di dalam kamar Tante Sandra, tapi aku tidak memedulikannya karena ini bukan urusanku.


Aku memilih ke kamar untuk menemani Hanna. Tidak terlalu lama, Tante Sandra menyusul kami.


“Hideki, Hanna. Tante mau minta maaf sama kalian. Esok Tante ikut suami Tante ke Kalimantan dan rumah ini akan kami jual,” tutur Tante Sandra.


“Ya sudah, besok kami pulang kok, Tan,” jawabku.


“Maaf ya Hid, Han?” ujar Tante Sanda sambil berurai air mata.


Aku tersenyum.


*


Pagi-pagi setelah aku dan Hanna ke pusara Mama dan Papa, akhirnya kami kembali ke rumah. Berat memang, tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah suratan takdir.


Baru juga kami duduk di sofa yang cukup nyaman di rumah tiba-tiba pintu rumah diketuk. Hanna beringsut turun dari sofa lalu membuka pintu.


“Mana orang tuamu?” suara seorang lelaki.


Aku menghampiri, ternyata bukan hanya satu tapi cukup banyak lelaki berwajah sangar.


“Ada apa ini, Bang?” tanyaku pada mereka. Sedangkan Hanna langsung bersembunyi di belakangku.


“Mana orang tua lu?” ucapnya kasar.


“Orang tua kami meninggal, Bang.”


Hahaha ... Mereka tertawa.


“Jangan bohong lu! Beberapa hari yang lalu gue melihat orang tua lu masih sehat-sehat saja. Anak durhaka lu!” cercanya padaku.


“Suer, Bang! Saya gak bohong!” Sambil kuacungkan kedua jariku.


Mereka masih tidak percaya. Akhirnya kami berdua diusir dari rumah ini karena akta rumah telah berpindah pada mereka. Kata mereka, orang tua kami telah meminjam uang dalam jumlah yang banyak. Parahnya lagi, kantor pun telah ditutup ketika mengetahui kalau ternyata Papa punya banyak hutang.

__ADS_1


Akhirnya kami ke luar dari rumah ini hanya membawa beberapa baju saja dalam ransel.


“Bang, kita mau ke mana?” tanya Hanna ketika langkah kaki terayun tak tahu arah.


Hening.


Aku hanya diam, tidak bisa menjawab apa pun karena diri ini juga belum tahu hendak melangkah ke mana? Punya Saudara satu dari Mama, akan pergi, bahkan rumahnya akan dijual.


“Abang? Kita mau ke mana?” kali kedua Hanna mempertanyakan padaku.


“Kita ngontrak ya, Han.”


“Memang ada duit?”


“Ada kalau untuk ngontrak satu kamar.”


Hanna mengangguk.


***


Sudah sebulan kami keluar dari sekolah karena tak mampu untuk membiayainya. Sepeninggal Papa dan Mama, aku bekerja di bengkel ikut orang. Sedangkan Hanna ada di rumah ia berjualan nasi uduk di teras kontrakan.


Hingga suatu hari aku kaget ketika melihat kontrakan berantakan.


Hanna duduk terdiam di sudut dekat lemari dengan penampilan yang acak-acakan dan baju yang telah robek.


“Kamu kenapa, Han?” tanyaku lalu menghampiri.


“Abang!”


Hanna memelukku erat.


“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan tatap heran.


Hening.


Hanna bungkam, ia membisu tidak mau menjawab apa pun pertanyaan dariku. Akhirnya setelah aku memaksanya, Hanna mau bercerita kronologi kejadian yang menimpanya saat itu.


Ada seorang lelaki yang masuk ke kontrakan, ia memakai topeng sehingga wajahnya tak terlihat lalu memperkosa Hanna.


Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau beri untukku?


.


Hari ke hari Hanna semakin tak terkontrol. Hingga aku sering mendapatkan komplain dari tetangga karena ulahnya.


Ada yang aneh dengan perut Hanna yang sepertinya bertambah besar dari waktu ke waktu. Aku membujuknya untuk ke bidan agar ia diperiksa.


Sungguh, aku terkejut dengan hasil pemeriksaan sang bidan yang memberitahukan bahwa Hanna tengah hamil.


Bagai petir di siang bolong yang menyambar tubuh ini. Duniaku terasa hancur ketika mendengar adikku satu-satunya tengah hamil akibat diperkosa. Bagaimana mau melapor pada Polisi? Hanna saja keadaannya seperti ini, depresi.


Hal ini merupakan titik nadir bagiku. Di mana aku merasa lelah dengan kejadian yang bertubi-tubi menimpaku. Mulai dari kehilangan kedua orang tua dan kini adikku depresi karena diperkosa.


Mempunyai saudara tapi merasa sendiri. Kini aku harus bekerja bukan hanya untuk membiayai makan dan kontrakan saja, tapi aku juga harus memikirkan Hanna yang ada di rumah sakit jiwa.


**


Perut Hanna pun semakin membesar hingga anaknya lahir dan aku juga yang harus merawatnya.


Tetapi tangisan si kecil membuatku bangkit dari keterpurukan untuk kembali bersemangat menghidupinya, karena aku masih mempunyai keluarga yaitu malaikat kecil yang tak lain putra Hanna yang sedang berada di rumah sakit jiwa.


Aku mulai membuka bengkel di kontrakan agar bisa bekerja sambil memperhatikan malaikat kecil yang mempunyai paras yang tampan.


***


Tahun pun terus berputar, bengkel pun semakin besar seiring bertambah usia si tampan yang kuberi nama Kenan.


“Pa, kita mau ke mana?” tanya Kenan padaku.


“Ke rumah sakit.”


“Asyik!”


Kenan tampak bahagia ketika mendengar bahwa kami akan ke rumah sakit.


Kenan sudah sekolah dasar. Ia belum mengetahui keadaan yang sesungguhnya, kalau sebenarnya aku ini adalah Omnya bukan Papanya. Aku akan tetap merahasiakannya hingga ia dewasa dan bisa memahami apa yang dulu menimpa Mamanya yang kini menjadi gila.


Kami berangkat menggunakan motor. Kenan tampak bahagia. Terlihat sekali keceriaan itu ketika mengobrol dengan Hanna. Mungkin, walau sekarang Hanna gila, ikatan batin antara Ibu dan anak tetap ada.


“Pa, Ma. Kenan mau ke toilet sebentar, ya?” pamitnya pada kami.


Aku mengangguk.


Kenan pun berjalan menuju toilet ia sudah sangat hafal posisinya di mana, secara kami cukup sering mengunjungi Hanna di sini, di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


“Han, jangan anggap Kenan sebagai Noda di masa lalumu. Anggap Kenan berlian, karena ia memang berharga bagikan berlian. Kenan tidak berdosa, ia hanya korban dari lelaki bejat itu,” ucapku pada Hanna.


Walaupun terasa sia-sia, tapi aku selalu mengingatkan Hanna bahwa Kenan bukan merupakan sebuah noda baginya!


__ADS_2