
Sinar mentari pagi menelusup jendela kamar yang sudah kubuka. Terasa hangat, ditambah cicit burung kecil yang bertengger di dahan ranting pohon flamboyan dengan bunga berwarna merah hampir menutupi seluruh pohon.
Aku meraih pensil, kanvas, kuas, palet serta cat air di samping jendela kamar yang berwarna putih. Tanganku mulai lincah menari di atas kanvas, melukis keindahan yang ada dalam otak kemudian mencurahkan di atas kanvas. Ya, aku sangat suka melukis sedari usia beranjak remaja.
Imajinasiku makin liar ketika tanganku mulai menggoreskan pensil ke atas kanvas. Aku mulai melukis sepasang mata indah, sepasang alis yang seperti ribuan semut berbaris serta hidung yang mancung.
"El, Papa nunggu lu di bawah." Jeon Alardo --Kakak sekaligus kembaranku memanggil.
Aku melihatnya berjalan mendekat dan sekarang dia berdiri di sampingku.
"Lu belum kapok di marahin Papa, El?" Alardo mempersempit jarak. Kini, posisinya tepat di hadapanku, hanya terhalang oleh kertas kanvas putih. Dia melihat tanganku yang masih memegang pensil, bahkan satu kuas kecil yang kuselipkan di telinga, sangat jelas sekali aktivitasku sedang melukis.
"Apa salahnya melukis, Al? Gue suka, dengan melukis imajinasi gue bebas."
"Tapi Papa ngelarang lu buat ngelukis! Dia ingin kita melanjutkan bisnis di perusahaannya yang sudah dirintis sedari dulu."
"Gue gak bisa. Jangan coba paksa gue untuk meraih kebahagiaan. Kita mungkin kembar, wajah kita sama tetapi tidak semuanya harus sama 'kan?"
"Jeon Elenio!" Di sana terlihat pria bertubuh gagah dan wajah penuh karisma berdiri tegap. Siapa lagi kalau bukan Jeon Dylan --Papa kami.
Aku menatap matanya sama tajam, dengan gagahnya Papa berjalan ke arah kami.
"Kau belum juga bisa meninggalkan hobi yang tidak bermanfaat ini, hah? Lihat abangmu! Dia menuruti apa yang Papa suruh. Waktumu habis untuk sekedar corat-coret di atas kanvas, tidak berguna!" Papa mengambil kertas itu.
"Ja--" Aku memekik sambil berusaha meraih kanvas itu, tapi pekikanku seketika terhenti ketika robekan kertas terdengar, bahkan tepat di hadapanku. Rasanya sakit dan aku hanya bisa tertunduk lesu. Tidak mungkin aku mengajak berkelahi, kan?
Hanya sesak yang kurasa ketika Papa merampas kanvas yang menurutku merupakan bagian dari kebahagiaan. Kebebasanku untuk berekspresi seolah dipatahkan olehnya. Dia mengunci seluruh imaji. Padahal, apa salahnya menjadi seorang pelukis?
Aku dan Alardo memang kembar, tetapi untuk meneruskan perusahaan seperti yang Papa inginkan tidak ada padaku. Darahku mengalir seni, mungkin dari Mama yang juga seorang yang suka melukis.
__ADS_1
"Kalau tidak mau mendengar kata Papa, baiknya kau keluar saja dari rumah," ujar Papa yang membuatku mengangkat pandangan dan menatap wajahnya.
Serius? Papa mengusirku saat ini?
"Pa--" Alardo sepertinya mencoba untuk mencegah, tetapi tangan papa menahannya untuk lebih mendekat ke arahku.
"Biarkan Elenio meninggalkan rumah ini. Dia boleh kembali setelah menyadari kesalahan dan meninggalkan kebiasaan melukisnya," jawab Papa dengan suara berat. Papa membalikkan tubuhnya, keluar dari kamar meninggalkanku berdua dengan Alardo dalam kamar.
"El, lu baik-baik saja, kan?"
Aku mengangguk kemudian bangkit dari kursi dan berjalan ke arah lemari kayu yang berdiri tegap di sudut kamar.
"El, jangan pergi. Papa hanya sedang emosi, mungkin karena ada masalah di kantornya." Alardo mencoba menenangkanku.
"Gak, Al. Gue gak bisa diam terus. Selama ini gue diam karena Mama. Sekarang Mama telah tiada, beliau merasa tertekan karena kecintaannya pada melukis dilarang oleh Papa. Apa ini harus terjadi sama gue hingga akhirnya harus menyusul Mama karena depresi?"
Alardo terdiam. Mungkin dia mengingat kejadian lima tahun lalu di mana Mama depresi yang berujung kematian karena bunuh diri melompat dari lantai tiga rumah.
"Gue yakin dan percaya, kalau lu akan sukses dengan karya lukis lu, El. Tetap semangat, ya? Penuhi impian Mama dan buktikan sama Papa kalau karya lu sungguh berharga!"
***
Kejadian tiga tahun lalu masih terngiang di kepala di mana aku ingin membuktikan pada Papa kalau seni lukis bukanlah hal sia-sia. Semua orang bebas untuk mengejar impiannya. Termasuk aku!
Di dalam ruangan yang cukup besar bercat putih, terlihat banyak sekali lukisan dengan berbagai tema. Kehidupan, benda mati bahkan abstrak telah tersaji menghiasi dinding-dinding putih dan beberapa memang sengaja dipamerkan di meja.
Banyak orang yang berdatangan melihat lukisan. Ya, ini adalah galeri lukisku. Impian terakhir Mama sebelum mengembuskan napas terakhirnya dalam pangkuanku. Mama yang dulu depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 3 rumah yang harusnya jadi istana malah seolah seperti penjara baginya.
Sering sekali Mama melukis sembunyi-sembunyi dari Papa dan aku sedari kecil dimanjakan oleh indahnya lukisan-lukisan yang dibuat oleh jemari lentiknya.
__ADS_1
"Selamat untuk karyanya, Tuan."
"Amazing! Saya terpesona dengan lukisan-lukisan Anda, Tuan."
"Saya baru melihat lukisan sehidup ini. Pasti Anda melukis benar-benar menggunakan hati, sehingga lukisan Anda benar-benar hidup."
Pujian-pujian dari para pengunjung terucap di hari pertama acara pameran lukis digelar. Suasana cukup tenang dengan orang-orang hebat pecinta lukisan berkumpul di sini.
Sungguh, ini benar-benar jauh dari khayalanku. Dulu, angan ini hanya ingin mencari kebebasan berimajinasi, menuangkan ide dan kebebasan untuk jemari melukis di atas kanvas dan kini semua terlaksana. Puji Tuhan. Dia selalu membersamaiku hingga detik ini.
Aku kini duduk dengan kanvas kosong yang siap di hadapan. Aku menutup mata sejenak dan membayangkan wajah Mama. Wajah tercantik yang dulu melahirkanku 22 tahun silam.
"Jika besar nanti, Mama ingin Elenio menjadi seorang pelukis. Bisa buka galeri lukis dan di sana pasti akan banyak karya yang indah." Kata-kata Mama dulu selalu terngiang dalam ingatan.
Sepasang mata ini terbuka dan tangan mulai menari lincah di atas kanvas. Aku mulai kembali menggoreskan pensil membuat sketsa wajah cantik Mama kemudian menyempurnakannya dengan kuas yang dicelupkan pada cat dengan berbagai warna.
'Neona Orlin, 05 Desember 1977.'
Nama dan tanggal lahir Mama telah tergores di kanvas. Ini kali pertama aku berhasil melukis wajah cantik Mama. Napas terembus lega kala semua telah usai dan menjadi karya yang indah. Karya yang akan kuabadikan dalam galeri ini.
Ma, impianmu telah terlaksana. Mama pasti bisa melihatku dari atas sana. Semoga Mama bahagia di alam sana karena aku tahu, Mama di sana bangga melihat karya-karyaku di galeri ini.
"Selamat, Taun Jeon Elenio. Anda hebat!" Suara yang begitu kukenal dibarengi oleh tepukan pelan di pundak.
Aku menoleh, "Papa?"
Bibir lelaki berkarisma itu tersenyum dan untuk kali pertama, dia memelukku erat dan penuh rasa bangga.
"Selamat, El! Lu berhasil menjadi orang hebat oleh karya. Gue bangga sama lu dan ini menjadi pelajaran bagi gue, agar tidak memaksakan keinginan orang lain. Meskipun dia anak sendiri." Al memelukku setelah Papa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Dan ini pelajaran terhebat untuk Papa. Terima kasih sudah membuka mata Papa agar tidak mengikat kebebasan orang untuk berimajinasi. Meski semua terlambat. Mama telah pergi lebih dulu karena kesalahan Papa mengekangnya."
Aku tidak tahu alasan Papa sebenci itu pada seni lukis. Hingga saat ini hal itu masih menjadi misteri. Kami bertiga berpelukan erat dan aku yakin, lengkung indah tersungging dari bibir Mama dari atas sana.