Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
MULAI DARI NOL, YA?


__ADS_3

Malam ini aku mempersiapkan makan malam bersama Monic, pacarku. Kami sudah berpacaran sekitar lima tahun. Pertemuan kami dimulai dari kelas satu SMA. Aku dan Monic disandingkan menjadi ratu dan raja untuk angkatan kami.


Monic memang cantik, wajar saja kalau predikat ratu jatuh padanya. Aku tak menyangka yang awalnya hanya dipasangkan di sekolah, ternyata berlanjut hingga saat ini.


Aku dan Monic sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kami memilih bekerja agar bisa mandiri, karena kami hanya berasal dari keluarga yang sederhana.


Sudah dua tahun kami bekerja. Malam ini, aku akan melamar Monic pada tanggal anniversary kami. Romantis bukan?


“Sayang, aku jemput kamu sekarang! Siap-siap, ya?”


Aku mengirim pesan singkat padanya.


Aku memakai kemeja dan jas model slim fit agar terlihat resmi tetapi tidak meninggalkan kesan trendi. Melesat mengendarai R25 ke rumah Monic.


Ting tong!


Aku menekan bel. Tidak lama pintu pun terbuka.


“Malam, Bu? Monicnya ada?”


“Ada, silakan masuk!” ujar Ibunya, ia lalu membuka pintu lebar.


Melangkah masuk untuk menemui sang pujaan hati. Cincin indah pun telah aku siapkan di dalam kotak kecil berwarna merah yang kusembunyikan dalam saku jas.


Terlihat Monic sedang duduk di sofa berwarna cream, dia terlihat cantik dengan mengenakan dres warna pink baby.


“Malam, Sayang? Makin cantik aja,” sapaku pada Monic.


Ia hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun. Kenapa dengan dia?


“Kita berangkat sekarang, yuk?” ajakku padanya.


“Tunggu bentar lagi, ya?” pinta Monic.


Aku duduk di sofa dengan hati bahagia, karena malam ini aku akan meresmikan hubungan dengan Monic melalui pertunangan. Aku pun sudah siap untuk melaksanakan pernikahan kapan pun ia mau.


Tin tin!


Terdengar suara klakson mobil.


Tidak berselang lama seorang lelaki dewasa datang menghampiri kami. Siapa dia? Apakah itu ayahnya?


“Kenalin, Nav. Ini Om Indra, calon suamiku,” ujar Monic yang membuatku mematung kala mendengar ucapannya.


“Indra!”


Lelaki itu mengulurkan tangan.


“Naveen.”


Kami berjabat tangan.


“Satu bulan lagi kami akan menikah. Kamu datang, ya?” ujar Monic yang sepertinya tidak menghiraukan rasa sakit dalam hati ini.


Ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita. Semuanya berantakan dengan kepingan hati yang terluka.


***


Memacu kendaraan dalam kegelapan malam dengan rintik hujan yang menemani. Semakin sesak ketika motor mogok karena kehabisan bensin.


“Astaga! Aarrrggghh!!!”


Aku memegang kepala dan sedikit mengacak rambut karena kesal.


Terpaksa aku menuntun motor sampai menemukan SPBU yang berjarak cukup jauh.


“Bensin, Full Mbak!”

__ADS_1


“Oke! Dimulai dari nol ya, Mas?” ujarnya ramah sambil menyunggingkan senyuman.


Setelah bensin terisi penuh. Si Mbak pegawai SPBU mengucapkan jumlah nominal yang harus kubayar.


“Bentar ya, Mbak? Aku menepikan motor karena ada antrean dari belakang.


Merogoh dompet dalam saku celana ternyata tidak ada. Ponsel ‘pun lupa kubawa. Ya Tuhan aku harus gimana?


“Maaf, Mbak, dompet saya ketinggalan. Ponsel saya juga tertinggal, bagaimana saya harus membayar?”


Tidak mungkin juga kalau aku bilang pulang dulu untuk mengambil uang, pasti dia tidak akan percaya.


“Ya sudah, Mas tunggu jam kerja saya selesai. Bentar lagi kok. Nanti kita pulangnya bareng untuk ambil uang Mas yang tertinggal.”


Benarkan dia gak percaya?


“Baiklah!”


Aku memperhatikan wajah wanita itu. Ketika tidak ada customer wajahnya seperti sedih tetapi ketika ada customer, ia bisa tersenyum ramah seakan menyembunyikan sebuah luka. Entahlah.


Akhirnya pekerjaannya selesai. Ia masuk dalam ruangan sementara aku duduk di atas motor. Tidak di sengaja aku merogoh saku jas.


“Apa ini?” Aku mengambil kotak kecil dalam kantong jas.


“Cincin?” Mataku membulat.


Aku mempunyai ide, akan gadaikan saja cincin ini padanya. Besok aku ambil lagi untuk menebusnya.


Wanita itu pun keluar dari dalam ruangan. Ia terlihat memakai jaket dan tas selempang, lalu menghampiriku.


“Ayok!” ajaknya.


“Bentar, gimana kalau saya ganti dengan ini sebagai jaminan? Besok saya kembali membawa uangnya. Bisa?”


Kuberikan cincin tunangan itu padanya.


“Aslilah!” jawabku mantap.


Sreetttt!


Tiba-tiba mobil hitam telah menghalangi motorku. Pintunya terbuka dan sesosok lelaki berkarismatik turun dari dalam sana.


“Ci, aku minta maaf. Aku tidak ingin menikahi dia!” ucap lelaki yang baru saja turun dari mobil, sambil menggenggam tangan kiri si wanita yang bekerja di SPBU.


“Kamu harus menikahi wanita itu, Mas. Dia sedang mengandung anakmu!” jawab wanita itu.


“Aku hanya mencintai kamu, Ci!” Sorot mata tajam diperlihatkan oleh si lelaki.


“Maaf, aku sudah punya calon suami. Ia telah melamarku hari ini!”


Wanita itu memperlihatkan cincin pertunangan yang hendak kuberikan pada Monic.


“Tapi--“ ucapnya terhenti.


“Ayok, Sayang!”


Wanita itu tiba-tiba naik ke jok belakang. Tanpa pikir panjang, aku melesat meninggalkan lelaki itu. Walau dalam hati bingung, dengan panggilan 'Sayang' yang tiba-tiba dia ucapkan.


Di sepanjang jalan, aku melihat dari kaca spion air mata yang terus mengalir di pipinya. Kasihan. Itu rasa awalku ketika melihat kejadian yang menimpa wanita ini.


Aku memarkirkan motor dan memberikan sapu tangan untuknya.


“Tengkyu!”


Ia mulai mengusap pelan air yang telah membasahi pipinya.


“Kenapa menangis? Kalau masih sayang ngapain gak balikan saja?” tanyaku.

__ADS_1


“Mana mungkin aku bisa menerima laki-laki yang sudah menghamili wanita lain. Lalu, dia memilih menikah denganku? Tentu saja aku tolak! Bagaimanapun dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," jelasnya.


Hening.


Mungkin ia sedang patah hati, sama sepertiku. Namun, kenapa aku merasa lebih sedih ketika melihat wanita ini menangis? Aku seakan lupa dengan luka yang ada dalam hati ini. Luka ketika Monic lebih memilih lelaki lain untuk mendampingi hidupnya.


“Oh iya, nama Mbak siapa? Saya Naveen,” ujarku sambil mengulurkan tangan.


“Suci!” jawabnya sambil meraih tanganku.


***


Seiring bergulirnya waktu. Tak terasa, entah sudah hari keberapa aku telah menjalin hubungan dengan Suci.


Aku telah membeli cincin baru untuk Suci. Malam ini aku putuskan untuk melamar Suci di pernikahan Monic tanpa sepengetahuannya.


“Ci, aku ke rumahmu sekarang!”


Aku mengirim pesan singkat pada Suci yang kini telah menjadi kekasihku.


Melesat menggunakan R25 ke rumah Suci. Aku telah memutuskan untuk melamarnya malam ini. Hanya dalam satu bulan, diri ini sudah memantapkan hati untuknya.


Suci telah menungguku di kursi depan rumah. Ia terlihat cantik dengan dres berwarna putih dengan motif bunga yang membuat penampilannya semakin anggun.


“Ayok!”


“Nav, apa kamu yakin mengajakku ke pernikahan mantanmu? Aku takut kalau--“ katanya terhenti.


“Kalau kenapa?”


“Kalau kamu belum move on darinya,” sambung Suci.


Aku hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk naik ke motor. Suci pun kini duduk di jok belakang, kami melesat di bawah langit malam yang bertabur bintang.


“Ayok turun! Apa mau kugendong?” ucapku ketika sudah datang diacara pernikahan Monic.


Dengan bibir meruncing, ia pun turun dari motor.


Aku menggandeng erat tangan lentik Suci dan melangkah ke pelaminan Monic, sang mantan.


“Selamat, ya?” ucapku untuk Monic dan lelaki yang kini menjadi suaminya.


“Makasih,” jawabnya dengan seulas senyum.


Aku melihat Suci yang cemberut ketika Monic tersenyum padaku. Mungkinkah ia cemburu?


Aku menarik tangan Suci ke atas panggung. Kini aku dan Suci telah berhadapan, dengan cincin baru yang telah kupersiapkan.


“Ci, aku ingin hubungan kita berlanjut di pelaminan. Aku ingin membuktikan padamu kalau aku sudah move on! Aku ingin menjalin hubungan baru denganmu. Seperti slogan di tempat kerjamu MULAI DARI NOL, YA?”


Aku berlutut dan mempersembahkan cincin yang ada dalam kotak merah untuknya.


“Maukah kau menerima lamaranku?” ucapku yang disambut sorak-sorai dari tamu undangan.


“TERIMA ... TERIMA!!!”


Riuh suara orang yang menyemangatiku.


Akhirnya Suci mengangguk, ia telah bersedia menerima cincin pertunangan ini.


Mungkin, ada kalanya hati yang terluka dapat terobati oleh hati yang sama-sama terluka. Semoga jalinan cinta suci kami berlabuh di pelaminan. Bersatu, hidup bahagia sampai azal merenggut nyawa.


.


Nb :


Pinjam nama lu, Chi wkwk

__ADS_1


__ADS_2