Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
MY FRIST LOVE (Tuhan Membawamu Kembali)


__ADS_3

Pagi itu aku hendak memberikan kerudung purple, warna kesukaannya. Sudah kubungkus dengan rapi dan kumasukkan dalam ransel. Mendatangi sekolah dengan hati yang senang karena hari ini merupakan anniversary ketiga untuk kami.


Tiga tahun lalu kami telah berpacaran. Menjalani masa sekolah dengan berbagai kenangan indah yang terukir bersama Liora.


“Itu dia!”


Aku melihat Liora telah menunggu di bangku taman sekolah. Kala itu memang tinggal membagikan rapor saja. Tak ayal, semua siswa dan siswi telah bebas dari aktivitas belajar.


“Hai, Li?” sapaku kala itu.


Liora melempar seulas senyuman tanpa ada kata. Aku pun duduk di sampingnya dengan perasaan bahagia.


“Maaf, Nav. Hubungan kita sampai di sini saja. Setelah pembagian rapor aku harus ikut Papa ke Batam, karena usaha Papa dipindah ke sana,” terangnya tanpa melihatku.


Mataku membulat, kaget mendengar permintaan dari Liora saat itu.


“Kita kan masih bisa LDR, Li! Kenapa harus putus? Aku gak mau!” bantahku.


“Maaf, Nav aku gak bisa. Aku tidak percaya dengan hubungan jarak jauh. Seumpama kita berjodoh, mungkin kita akan kembali dipertemukan,” jawab Liora dengan air bening yang menggenang dari kedua sudut mata indahnya.


Hening.


Hatiku terasa hancur ketika Liora mengatakan putus pada hari anniversary ke tiga hubungan kami.


“Ya sudah, kalau memang itu menjadi keputusanmu, aku bisa apa?”


Air mata itu akhirnya tumpah ruah dari sepasang netra indahnya yang membasahi pipi Liora. Aku mengusap pelan air mata itu dengan kedua jempol tangan ini.


“Jangan menangis, bukankah ini kemauanmu?” ujarku yang berusaha tegar walau hati sakit bak teriris sembilu.


“Li, aku sudah mempersiapkan kado untukmu sebagai hadiah anniversary kita. Kamu terima, ya? Walau mungkin esok hari kita akan berjalan masing-masing. Semoga kamu selalu bahagia,”


Liora hanya mengangguk samar dengan mata sembab.


***


Aku menghela napas kasar ketika mengingat my first love, Liora Clarissa. Nama gadis yang mampu membuat hatiku bergetar. Dia wanita pertama yang berhasil mengisi relung dalam hati, enam tahun yang lalu.


“Selamat siang, Dok?”


Wanita berseragam putih menyapaku dalam ruangan.


“Siang!” jawabku sedikit terperanjat.


“Pasien baru mulai ngamuk lagi, Dok. Kami hendak menyuntiknya tapi kesulitan karena pasien terus mengamuk histeris. Katanya dia mau bertemu dengan putrinya,” terang salah satu perawat di rumah sakit jiwa ini.


“Oke! Saya segera ke sana!”


Aku langsung ke ruangan pasien.

__ADS_1


Profesiku sekarang sebagai dokter jiwa di rumah sakit yang berada di Batam. Di usiaku yang menginjak angka dua puluh enam tahun, aku mengabdikan segenap jiwa dan raga ini di rumah sakit jiwa yang berdiri sejak dua tahun lalu. Pengalamanku menghadapi pasien seperti ini sudah lumayan.


Pasien atas nama Bu Leoni memang baru di rumah sakit ini. Dia diantar oleh pembantu rumah tangganya sejak tadi pagi. Alhasil, pasien masih sangat sering mengamuk di sini. Namun, ada yang beda ketika ia melihat wajahku. Amukannya menjadi tenang. Entah karena apa? Mungkin karena pengalamanku dua tahun lalu menghadapi orang-orang yang stres karena depresi.


“Maaf ya, Dok. Bu Leoni masih sering mengamuk. Saya disuruh putrinya untuk membawa nyonya ke sini,” ujar seorang wanita paruh baya.


Aku tersenyum.


Asisten rumah tangga Bu Leoni akhirnya bercerita tentang kondisi kejiwaan dari majikannya sampai seperti ini. Awalnya karena depresi suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang merenggut nyawanya saat itu juga. Dari sanalah, Bu Leoni mulai depresi dan Stres. Ungkap asisten rumah tangganya.


“Memang putrinya di mana? Sering sekali Bu Leoni meminta bertemu dengan putrinya,” tanyaku.


“Nona Cla sedang meneruskan magisternya di luar negeri, Dok. Katanya satu bulan lagi selesai dan akan kembali ke sini,” terang asisten rumah tangganya.


***


Seiring bergulirnya waktu. Bu Leoni pun semakin membaik. Emosinya sudah jauh terkontrol, terlebih padaku. Ia mulai mengenal orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya. Seperti padaku, asisten rumah tangganya dan beberapa suster yang menanganinya.


“Bu, hari ini putri Ibu akan datang dari luar negeri. Apakah Ibu bahagia?” tanyaku mengajak berkomunikasi dengannya siang hari.


“Cla? Dia akan pulang?” tanyanya dengan netra membulat juga berkaca.


Aku mengangguk dan tersenyum.


“Dokter Naveen gak lagi bohongin Ibu kan?” tanyanya yang seakan minta kepastian.


“Tidak, saya tidak berbohong.”


Jujur saja. Aku merasakan kasih sayang darinya. Terlebih, aku telah hidup sebatang kara beberapa tahun lalu. Dengan hadirnya Bu Leoni, seakan mengembalikan kasih sayang Ibu yang telah meninggal.


Kami mengobrol panjang lebar. Kebetulan, hari ini aku sedang off bertugas. Namun, aku selalu rajin menemui Bu Leoni untuk berkomunikasi. Menurutku, kesadarannya hampir kembali, dia hampir sembuh secara medis.


“Mama?” panggil seorang wanita dari pintu kamar.


“Cla?”


Terlihat bulir bening dari sepasang netra senja ketika melihat pada wanita yang berdiri di depan pintu kamar.


Aku melihat kerinduan dari sepasang mata senja itu. Persis seperti aku tengah merindu seseorang. Cinta pertama yang telah hilang.


Wanita berhijab purple itu berlari dan memeluk erat tubuh wanita senja yang berada di hadapanku, tanpa aku sempat melihat wajahnya yang masih tertutup masker.


Sungguh. Aku terharu melihat mereka berpelukan hangat. Diri ini turut bahagia, ketika kesadaran Bu Leoni membaik, putrinya pun datang untuk menemani masa senjanya.


“Oh, iya, Nak. Kenalin, ini Dokter Naveen yang merawat Mama di sini,” ujar Bu Leoni pada putrinya setelah pelukan mereka terlepas dan terganti oleh tatapan rindu.


Gadis itu membuka maskernya lalu tersenyum manis padaku. Seketika mata membulat merasa tidak percaya dengan yang kulihat saat ini.


“Liora?”

__ADS_1


Entah apa yang kurasakan saat ini. Senang, haru, sedih, rindu semuanya menjadi satu dalam dada.


“Nav, gimana kabarmu?” tanya Liora dengan seulas senyum manis seperti dulu.


“Ba-baik, Li,” jawabku gelagapan.


“Loh ... kalian sudah saling mengenal?” tanya Bu Leoni.


Liora mengangguk, begitupun denganku.


Kami mengobrol panjang lebar. Ada rasa takut di hati ini, takut kalau saja Liora telah menikah. Sanggupkah aku kehilangan dia untuk kali ke dua?


“Li, kamu tampak cantik dengan hijab purple itu,” ujarku yang memulai percakapan.


Liora tersenyum, “Kamu masih seperti dulu ya, Vin?” ujar Liora.


“Maksudnya?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


“Selalu baik terhadap orang lain. Aku tau dari Bi Mumun asisten rumah tangga di rumah Mama. Kamu dengan sabar menghadapi Mama,” ujar Liora.


“Itu kan sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang dokter, Li,” jawabku dengan seulas senyum, merasa tersanjung.


“Nav?”


Liora menggenggam pergelangan tanganku yang terhalang oleh kemeja berwarna navy.


Sungguh, dada ini berdegup kencang kala tangan Liora menyentuh pergelangan tanganku walaupun terhalang oleh kemeja. Keringat terasa mengalir, karena grogi kala Liora menatap sepasang mata coklat ini.


“Cukup satu kali kita berpisah. Aku ingin mengulang kembali masa indah itu dalam indahnya mahligai rumah tangga. Aku ingin menghabiskan sisa umurku denganmu,” ujar Liora dengan tatapan hangat.


Sungguh, aku tak menyangka Liora akan berbicara seperti itu. Sesungguhnya, aku pun ingin mengatakan hal yang sama dengan dia.


Hening.


“Gimana, Nav? Kok gak dijawab?” tanya Liora.


“Kalau kamu maunya seperti itu. Aku gak bisa berbuat apa-apa, dari SMA kan kamu tukang maksa,” ujarku sambil mengedipkan satu mata.


“Ish! Kamu juga sama, masih aja suka genitin aku!” tangan Liora memukul pelan lenganku.


“Aduh! Sakit tau, Li,” ujarku berpura-pura.


“Maaf, maaf. Habisnya kamu ngeselin! Mana yang sakit? Yang ini?” Liora mengusap lenganku.


Aku menggeleng.


“Lalu?”


“Yang ini.” Tanganku membimbing jemari Liora ke menunjuk ke dada. “Ini jauh lebih sakit, apabila kamu tinggalin aku lagi,” bisikku di telinga yang tertutup hijab purple.

__ADS_1


Liora tersenyum.


Terima kasih Tuhan, Engkau membawa kembali cinta pertamaku.


__ADS_2