Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
Hubungan Sedarah


__ADS_3

“Kak! Aku udah siap,” ucap Luna, si gadis cantik berseragam putih abu di seberang jalan.


Aku mengacungkan jempol sebagai pengganti kata oke.


Menuruni anak tangga untuk pergi ke kantor sekaligus mengantar Luna ke sekolah. Saat ini, ia sudah duduk di kelas tiga SMA.


“Naveen berangkat kerja, Pa!” pamitku pada Papa.


“Iya, hati-hati!”


Menyambar kunci mobil lalu membuka pintu pagar. Aku hanya tinggal berdua dengan Papa. Mama sudah meninggal sejak usiaku tiga tahun. Kasih sayang Papalah yang menjadikanku seperti sekarang. Dipercaya menjadi CEO dari perusahaan terbesar di kotaku.


Pintu mobil terbuka, lalu Luna masuk dalam mobil di sampingku. Ia terlihat cantik dengan seragam putih abu yang ia dobel dengan jaket berbahan jeans.


“Kenapa liatinnya kayak gitu?” tanya Luna dengan pipi yang memerah.


“Kamu cantik!”


Hanya kata itu yang keluar dari bibirku.


Memacu mobil melesat ke sekolah Luna. Kami memang sudah dekat sedari kecil. Usia kami terpaut tujuh tahun. Kami menjalin cinta dua tahun lalu ketika Luna masuk SMA. Jantung selalu berdegup kencang tatkala aku berada di sampingnya.


Akhirnya, perjalanan pagi ini membawa kami sampai sekolah Luna. Ia pun tersenyum, lalu jemari lentik itu hendak menarik handle pintu mobil. Segera kutahan lengan Luna, hingga tubuhnya mematung di jok mobil.


“Kenapa, Kak?” tanya Luna.


Sorot mata itu melihat ke tangannya yang sedang aku pegang lalu menatap tajam sepasang mata coklat ini.


“Nikah, yuk?”


Mata Luna membulat, ekspresi wajahnya terlihat kaget.


“Mau enggak?” tanyaku kembali menegaskan.


Luna mengangguk, “Tapi Luna masih sekolah, Kak. Luna masih ingin melanjutkan kuliah,” jawabnya.


“Kamu tetap boleh kuliah kok setelah menikah. Nanti yang bayar biaya kuliahnya aku.”


“Kakak serius mau nikahin Luna?” tanyanya dengan sorot mata sayu.


Aku mengangguk, “Usia Kakak sudah dua puluh lima, bukan saatnya berpacaran. Kakak ingin mempunyai pendamping hidup,” jawabku yang masih ada dalam mobil.


Lengkungan indah terukur di bibir merah jambu milik Luna. Mata sayu tadi berubah menjadi binar bahagia.


“Nanti Luna bilang sama Ibu kalau lulus sekolah, Luna mau nikah sama Kak Naveen,” jawab Luna.


Aku tersenyum, “Thank’s udah bersedia Kakak pinang. Nanti Kakak yang akan datang ke rumah untuk meminta izin dari Ibumu.”


Luna mengangguk, “Luna masuk sekolah, ya? Kalau kita di sini terus nanti Kak Naveen telat sampai kantor,” ujar Luna.

__ADS_1


Aku tersenyum, begitu pun dengan gadis berseragam putih abu. Luna turun dari dalam mobil, aku melihat tubuh Luna memasuki koridor sekolah, aku memacu mobil setelah tubuh Luna tak terlihat lagi di area sekolah.


Hubunganku dengan Ibunya pun baik, sangat akrab malah. Beliau seperti Ibuku sendiri, terlebih sedari kecil aku telah kehilangan sosok Ibu, Ibunya Lunalah yang cukup berperan memberikan kasih sayang seorang Ibu padaku. Apa salahnya kalau aku mengangkatnya menjadi Mama mertua?


Laju kendaraan membawaku sampai area parkir kantor. Aku turun dari dalam mobil, lalu melangkah memasuki koridor kantor.


Hari-hari menjadi CEO sudah menjadi rutinitas dalam hidup. Terkadang timbul rasa jenuh apabila di kantor sedang banyak masalah. Lunalah yang selalu hadir menghiburku, membuat semangat kembali bergejolak dalam diri.


***


Merebahkan tubuh di atas ranjang. Memandang langit-langit kamar, sedikit terbayang tatkala Mama menangis di akhir hayatnya.


“Nav, Mama kecewa sama Papa!” ucap Mama watu lalu.


Tangan Mama menggenggam jemariku erat. Setelah itu genggaman itu melonggar bahkan terlepas dan mata Mama terpejam.


“Ma? Mama?”


Aku yang masih bocah kala itu, terus membangunkan Mama yang kuanggap tertidur. Hingga akhirnya, Mama tidur untuk selamanya.


Aku kecewa, karena hingga saat ini tidak mengetahui maksud dari ucapan Mama dulu. Terkadang, aku merasa Tuhan itu tidak adil. Dia mengambil Mama dariku sedari kecil, padahal waktu itu aku sedang haus-hausnya memperoleh kasih sayang dari Mama. Tapi Dia telah merampasnya dariku. Sudahlah, semua akan baik-baik saja! Itu yang selalu Papa tanamkan padaku.


Ddrrttt!


Ponsel bergetar di atas nakas.


“Kak, temui aku di tempat biasa, sekarang!” pesan singkat dari Luna.


Aku melihat Luna berdiri di pinggir pantai dengan bertelanjang kaki di atas pasir putih. Hal ini memang sering kami lakukan bertelanjang kaki dan merasakan embusan angin pantai.


“Na?” sapaku dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.


Luna menoleh, ia kembali menatap laut luas di pinggir pantai.


“Ada apa? Kok suruh Kakak ke mari?” tanyaku dengan mata lekat memandang wajah cantiknya.


“Luna mendengar Ibu sama Om Devic yang sedang membicarakan pernikahan mereka,” jawabnya lirih yang disertai bulir air bening yang mengalir di pipinya.


“Apa? Papa akan menikahi Tante Lian?” tanyaku dengan menyebut nama Ibunya Luna.


Luna mengangguk, masih dengan air mata mengalir di pipi.


“Tidak, tidak! Ini tidak mungkin terjadi, kamu pasti salah paham, Na! Mungkin mereka bercerita soal pernikahan kita nanti.”


Luna menggeleng.


“Luna jelas-jelas mendengarnya sendiri, yang mereka bicarakan itu tentang pernikahan mereka, bukan kita, Kak!”


“Ayok, pulang!”

__ADS_1


Aku menarik lengan Luna lalu masuk ke mobil.


Tidak habis pikir kalau Papa akan melakukan hal itu. Padahal Papa sangat tahu, kalau aku dan Luna berpacaran. Melesat dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah.


“Pa? Papa!” panggilku ketika masuk dalam rumah. Luna juga ikut bersamaku.


“Mungkin Om Devic ada di rumah Luna, Kak."


Tanpa banyak bicara. Kami ke rumah Luna. Benar saja, Papa ada di sana. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


“Papa lagi apa?” tanyaku ketika aku masuk dalam rumah Luna yang memang pintunya sudah terbuka.


Terlihat ketegangan dari raut wajah keduanya.


“Naveen ingin menikahi Luna sekarang juga! Papa tau Naveen menjalin hubungan dengan Luna ‘kan?”


“Nav, ada yang mau Papa sampaikan padamu dan juga Luna. Duduklah!” pintanya.


Aku dan Luna duduk di sofa bersama Papa dan Tante Lian, yang tak lain Ibunya Luna.


“Papa ingin mengungkit tabir kelam masa lalu Papa dengan Tante Lian,” ucap Papa dengan menghempas napas kasar.


Hening.


Keadaan menjadi senyap tanpa ada kata, bahkan helaan napas pun terasa tidak terdengar. Setelah beberapa menit, akhirnya Papa melanjutkan pembicaraannya.


“Luna itu anak Papa sama Tante Lian,” ucap Papa yang membuat hatiku hancur dan kecewa.


Jantung berdegup kencang menahan amarah dalam diri. Apakah ini yang dimaksud Mama kecewa terhadap Papa?


“Papa dan Tante Lian khilaf karena--"


“Tidak usah bayak alasan, Pa! Naveen kecewa sama Papa!”


Aku berlalu pergi meninggalkan rumah Luna. Melesat kembali ke pantai hanya untuk berteriak. Amarah dalam jiwa sudah tidak tertahan lagi.


“KENAPA PAPA SEPERTI INI? NAVEEN KECEWA SAMA PAPA!!!”


Aku berteriak di tepi pantai. Tiba-tiba ada yang mendekapku dari belakang.


“Luna sayang Kakak!”


Sungguh, hati ini hancur ketika mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Aku kecewa sama Papa, aku kecewa sama Tante Lian. Apakah aku harus kecewa dengan Luna juga? Oh, tidak! Luna hanya seorang korban dari perbuatan biadab Papa dan Tante Lian waktu lalu.


“Lun, maaf. Kakak tidak bisa menikah denganmu. Kita itu saudara,” ucapku sambil menggenggam kedua tangan lentik itu.


Sungguh, dada ini terasa sesak ketika harus mengambil keputusan ini. Hati berontak, tapi aku bisa apa dengan kenyataan ini?


Serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai, akhirnya tercium juga bau busuknya!

__ADS_1


Di bulan November ini menjadi saksi perpisahan kami, bahwa dua orang yang saling mencinta harus rela terpisah karena hubungan sedarah.


__ADS_2