Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
OH MY NAVEEN


__ADS_3

“Sial! Mogok lagi! Mana hampir telat.”


Pagi ini terasa sangat menjengkelkan untukku, bagaimana tidak. Semalam hubunganku dengan Arlan putus begitu saja ditambah mobil malah mogok.


“Mobilnya kenapa, Tan?” tanya seorang lelaki.


Aku mendongak, hampir saja kepalaku kena kap mobil. Heleh, masih bocah SMA rupanya.


“Mogok!” ketusku yang masih terbawa suasana semalam.


“Mau gue bantuin kagak?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.


“Kalau gak mau bantuin mending lu cabut sana!” usirku kesal.


Dia terkekeh, “Jan marah, Tan. Nanti cepet tua!” ledeknya yang semakin membuatku kesal. “Sini gue bantu,” sambungnya sambil membuang puntung rokok.


Si Tengil ini mulai mengecek mesin mobil. Tidak berselang lama dia menyuruhku untuk mencoba menstater mobil.


Greng!


Mesin mobil kembali menyala. Aku bergegas turun dari mobil.


“Thank’s, ya?” ucapku sambil mengulum senyuman.


“Gak gratis!” jawabnya yang membuat mataku membulat.


Dasar, semua cowok sama aja!


“Mau lu apa?” tanyaku kesal.


“Mana nomor hapenya Tante?” pintanya sambil menengadahkan tangan.


“Modus!”


“Biarin, mana?”


Bocah itu masih menengadahkan tangannya, aku menyebutkan nomor ponselku ngasal dan dia mengeceknya.


“Haha ... Tante bohongin gue, ya?”


Sial! Ternyata dia tahu kalau aku memberikan nomor ponsel asal padanya. Dengan terpaksa aku memberikan nomor ponselku pada lelaki berseragam SMA ini.


“Thank’s, Tante!” ucapnya dan berlalu pergi.


Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Hati yang kesal karena putus semalam ditambah pagi-pagi dimintai nomor ponsel oleh bocah tengil.


“Sial! sial! sial!” pekikku dari dalam mobil sambil memukul setir.


Akhirnya aku sampai kantor, dengan bibir meruncing aku melewati meja-meja rekan kerjaku.


“Tuh, si Hanna kenapa?” terdengar sayup-sayup mereka membicarakanku.


Aku menyimpan kunci mobil dan tas di meja kerja. Tidak berselang lama, Meli menghampiri.


“Lu kenapa, Han?” tanya Meli sahabat dekatku di kantor.


“Gue diputusin Arlan!” Aku memeluk Meli dan menangis dalam pelukannya.


Meli berusaha menenangkanku. Hingga akhirnya kami bicara dari hati ke hati.

__ADS_1


***


Tak terasa, jam kantor telah usai aku bergegas memasukkan ponsel ke dalam tas dan mengambil kunci mobil.


Ddrrrttt!


Ponsel bergetar. Aku kembali mengeluarkan ponsel lalu membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal.


[Tan, jemput gue!]


[Dih, lu siapa?] balasku singkat.


[Ini gue, Naveen yang nolongin mobil Tante waktu mogok. Gue share lokasinya, gak menerima penolakan!]


“Dih, ni anak songong banget! Berani-beraninya nyuruh gue, dasar bocah ingusan!”


Meli tersenyum lalu menghampiri.


“Lu kenapa lagi sih, Han?” tanya Meli dengan seulas senyuman.


Akhirnya aku menceritakan kejadian yang menimpaku hari ini. Tentang si Naveen bocah SMA yang menyebalkan.


“Hahaha ... Jangan galak-galak, nanti lu cinta lagi sama dia,” ledek Meli.


“Cihh! Amit-amit gue cinta sama berondong!”


“Sekarang cihh, besok OH MY NAVEEN!” ledek Meli semakin menjadi.


Memacu mobil ke tempat yang telah dishare oleh bocah yang bernama Naveen. Ternyata ia sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Aku menepikan mobil. Ia langsung membuka pintu mobil tanpa permisi.


“Lama banget sih, Tan?”


Aku mengerem mobil ketika melihat Arlan bermesraan dengan wanita lain. Sungguh tidak menyangka, Arlan moveon secepat itu. Tak terasa air mataku menetes. Kagetnya lagi, tiba-tiba lengan bocah ini menyeka air yang terjatuh di pipi.


Aku mematung ketika lengan bocah itu mengusap lembut air mata yang ada di pipi. Entah, rasa kesalku padanya seketika hilang begitu saja.


Tidak, tidak! Masa iya aku suka sama berondong? Aku membuang jauh angan yang ada dalam hati.


***


Hubunganku dengan Naveen semakin dekat. Entah, aku merasa nyaman dengan sikapnya yang tidak pernah mengekang. Berbeda dengan Arlan yang terlalu posesif.


Perhatian-perhatian kecil yang diberi Naveen dapat meluluhkan hatiku. Bahkan, suatu hari Naveen pernah mengutarakan perasaannya padaku.


.


Ke kantor dengan wajah ceria dan senyum mengembang di bibir ini. Merasakan atmosfer baru ketika dekat dengan Naveen, walau kami bukan sepasang kekasih.


“Happy banget keknya?” tanya Meli yang menghampiri meja kerjaku.


Aku hanya tersenyum lembar padanya.


“Gue tau, lu balikan lagi ya, sama Arlan?”


“Sembarangan, amit-amit!”


“Lalu?” Meli menyipitkan mata.


“Ada deh!” jawabku menggantung membuat Meli semakin penasaran.

__ADS_1


Ddrrtt!


Ponsel bergetar, dengan cepat aku menyentuh layar ponsel dan membaca pesan dari Naveen.


[Temui aku di Kafe rembulan selepas kerja! Gosah balas, langsung datang aja!]


Hal yang dulu menjengkelkan, kini terasa menyenangkan. Bahkan, aku sangat menunggu pesan darinya.


Tidak, tidak. Masa aku mencintai berondong? Usiaku dengannya saja terpaut tujuh tahun.


Berangkat menuju Kafe Rembulan untuk menemui bocah tengil yang mampu membuatku bahagia.


Naveen masih mengenakan seragam SMA. Ia duduk dengan ponsel yang ada dalam genggaman lalu melambaikan tangan ketika melihatku di depan pintu.


“Duduklah,” pintanya.


“Kamu mau pesan apa?” tanyanya menjadi begitu manis. Eh, gak salah dia menyebut kamu? Bisanya Tante.


“Orange jus aja.”


Tiba-tiba Naveen menggenggam tanganku. Tatapan matanya mampu membuat hati menjadi tenang.


“Han, dari awal aku mencintaimu. Tolong kasih kesempatan untukku agar bisa membuktikan cintaku padamu.”


Deg!


Debar dalam dada semakin kencang. Entah mengapa badan rasanya panas dingin untuk menjawab apa yang kurasa. Di satu sisi, aku memang tenang bersamanya. Di sisi lain, aku ilfeel dengan usia kami yang terpaut cukup jauh.


“Tapi, usia kita --”


“Ck! Usia lagi. Usia tidak menjamin kedewasaan! Pliss, kasih kesempatan untukku agar bisa membuktikan sayangku padamu!” ucapnya dengan tatap mata tajam.


Hening.


“Esok aku akan membuktikan bahwa usiaku bisa lebih tua darimu!” ucap Naveen yang entah apa maksudnya.


***


Seperti biasa, aku berangkat ke kantor. Memakai kemeja warna salem serta rok pendek selutut. Meluncur dengan mobil merah.


Aku menyimpan kunci mobil di atas meja lalu duduk di kursi. Tidak berselang lama Meli pun datang.


“Han, ada yang mau bertemu sama lu,” ujar Meli.


“Siapa?”


Tiba-tiba seorang lelaki memakai kemeja yang didobel dengan jas slim fit, celana panjang dan sepatu pantofel mengilat menghampiriku. Ia terlihat dewasa.


“Han, aku tidak bisa berbasa-basi. Aku ingin membuktikan kalau aku benar-benar sayang sama kamu. Ini, aku bawa bukti kalau usiaku dimulai hari ini sudah lebih tua dari kamu!”


Naveen memberikan KTP-nya padaku.


“Apa ini?” tanyaku.


“Lihat saja. Kamu baca baik-baik,” pintanya.


OMG! Ternyata tahun lahir KTP Naveen diganti lebih tua dariku menggunakan pulpen.


Oh my Naveen, haruskah aku menerima cintamu?

__ADS_1


__ADS_2