
“Nav, kapan kamu nikah? Mama mau gendong cucu. Teman-teman Mama udah punya cucu,” keluh Mama pagi ini.
“Nanti, Ma. Belum ada yang cocok,” elakku.
“Ya sudah, Mama saja yang carikan. Usiamu sudah dua puluh tujuh tahun, masa belum punya pasangan?” jawab Mama rada nge-gas.
Hening.
Aku masih menikmati secangkir capuchino.
“Naveen! Denger Mama enggak, sih?” gertak Mama.
“Iya, denger.”
“Lalu?” tanya Mama semakin mendesak.
“Terserah Mama ajalah!”
Bukan hanya kali ini Mama mendesakku untuk segera menikah. Alasannya hanya satu, apalagi kalau bukan ingin menimang cucu?
“Naveen ke kantor,” ucapku sambil mencium pipi Mama.
Aku berlalu pergi dengan menaiki mobil Fortuner warna hitam. Jalanan pagi hari yang cukup macet membuat hati cukup gusar, rekan kerjaku sudah menelepon terus karena meeting akan segera dimulai.
Setelah susah payah, akhirnya bisa juga ke luar dari kemacetan yang cukup parah. Hingga akhirnya mobil kuparkirkan di lobi dasar.
“Selamat pagi!” ucapku ketika menghadiri ruang meeting.
Tidak ada yang menjawab, yang ada hanya tatapan sinis ke arahku. Mungkin karena aku datang sedikit terlambat.
Acara pun dimulai setelah aku meminta maaf atas keterlambatanku menghadiri meeting pagi ini.
Setelah terjadi perdebatan antar karyawan ketika meeting. Akhirnya selesai juga dengan mengambil jalan terbaik untuk kemajuan perusahaan.
“Dari mana aja sih, lu, Nav?” tanya Indra, rekan kerja di kantor.
“Nyokap nyuruh gue kawin mulu!” ketusku malas.
“Haha ... bagus, dong! Biar lu ada yang urusin,” jawab Indra.
“Tapi gue belum siap. Gue belum mapan.”
“Mapan kek mana lagi, Nav? Posisi lu di kantor ini sebagai CEO, banyak kali yang suka sama lu. Lu nya aja terlalu pemilih!”
“Entahlah.”
Usiaku memang sudah dua puluh tujuh, tahun ini. Secara usia, memang sudah sangat matang untuk membina rumah tangga. Jabatan di kantor pun sudah cukup mumpuni. Apa lagi yang sebenarnya kucari?
***
Malam pun tiba. Selepas salat magrib. Mama menyuruhku untuk bersiap-siap, karena akan ada tamu yang datang ke rumah ini katanya.
“Siapa?”
“Teman pengajian Mama sama anaknya,” jawab Mama.
“Naveen dijodohkan?”
“Iya, gak usah protes!!!”
Hufffttt
Aku membuang napas kasar, “Serah Mama deh!”
Menaiki anak tangga lalu masuk ke kamar untuk berganti baju. Sebenarnya ogah banget kalau harus dijodohkan, tapi mau bagaimana lagi? Mama udah kebelet pen timang cucu.
Aku memakai celana panjang dengan atasan kemeja warna gelap, sangat kontras dengan kulitku yang putih sehingga terlihat fres.
Aku duduk di tepi ranjang dan memikirkan nasibku ke depan. Apakah setelah menikah duniaku hancur? Secara, kata teman-teman di kantor, istri itu selalu menyuruh suaminya berdiam diri di rumah. Masa iya kehidupanku hanya ke kantor dan di rumah terus? Bukankah itu menjadi hal yang menyebalkan?
__ADS_1
“Nav! Ayok turun!” ucap Mama lembut sambil mengetuk pintu.
Ceklek!
Kubuka pintu kamar dan terlihat wajah senja Mama.
“Mereka udah datang,” ujar Mama.
“Iya, Mama duluan. Nanti Naveen nyusul,” elakku yang sebenarnya belum merasa siap untuk menemui mereka.
“Ya sudah, Mama tunggu di bawah, ya?” ujar Mama dan berlalu pergi.
Akhirnya kuputuskan untuk menemui teman pengajian Mama yang menungguku di ruang tamu. Rencananya, Mamaku dan temanya ingin menjodohkanku dengan putrinya.
Bismillah ....
Aku melangkah ke luar kamar dan menuruni anak tangga. Di sana ada Ibu-ibu seusia Mama serta seorang perempuan. Gadis itu menatapku.
Astagfirullah hal ‘Azim! Aku kaget dengan rupa si gadis. Ia tersenyum dengan gigi tonggosnya yang disertai mata mengedip genit.
Maafkan hamba ya Allah, hamba tidak bermaksud menghina ciptaanmu. Tapi sumpah, dia bukan kriteriaku!
Hati yang mantap, seketika menjadi gamang karena melihat wajah calon istriku.
Akhirnya kuberanikan menemuinya, “Malam, Tan?” sapaku.
Gadis itu terus mengedipkan mata yang disertai senyum yang menurutku menyeramkan.
“Malam ... ini Naveen, ya?” jawab si Ibu ramah.
“I-iya, Tan. Mama ke mana? Kok hanya kalian berdua?”
“Mamamu lagi ke dapur,” jawab wanita paruh baya itu.
“Ya sudah, Naveen permisi dulu ya, Tan?”
Aku berlalu pergi mencari Mama di dapur. Mulutku sudah gatal ingin protes pada Mama. Terlihat Mama sedang menata kue dalam piring.
“Iya, ada apa?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Tangan dan matanya masih fokus pada kue yang sedang ia tata.
“Apa maksud Mama? Mama mau masukan Naveen ke neraka? Masa iya perempuan yang akan Mama jodohkan buat Naveen seperti itu?”
“Memangnya kenapa dengan gadis itu?”
“Yang bener aja kalau cari jodoh, Mam. Masa, anak Mama yang wajahnya cute kek gini mau dijodohkan dengan wanita yang bergigi tonggos? Nanti cucu Mama kek mana coba?” tanyaku dengan semangat empat lima, berharap Mama akan membatalkan perjodohanku dengannya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka.
“Udah beres tata kuenya, Tan?” ujar wanita.
Aku menoleh.
Ternyata wanita cantik yang berhijab. Sungguh, ia wanita yang sempurna di mataku. Mempunyai wajah yang cantik, kulit yang putih bersih, hidung yang mancung, bibir merah muda dan ketika tersenyum ada lesung pipinya.
“Sudah, Lun!” jawab Mama.
“Ya sudah, Luna bawa kue ke depan ya, Tan?”
Mama mengangguk dan gadis itu berlalu pergi.
“Kenapa kamu?” tanya Mama yang menyadarkanku dari lamunan.
“Yang barusan siapa, Mam?”
“Ya itu, Luna. Calon istri kamu. Apakah Mama salah pilih dia untukmu?”
Aku menggeleng.
__ADS_1
Ya Allah, ternyata Mama menyayangiku!
***
Waktu terus berlalu. Selama satu bulan kami mempunyai waktu untuk saling mengenal. Itu pun hanya sebatas SMS atau telepon saja. Kami tidak pernah bertemu lagi.
Akhirnya penetapan acara pernikahan kami akan berlangsung di salah satu hotel di kota Bandar Lampung.
Tibalah saatnya ijab kabul. Suasana menegangkan bagiku ketika akan hendak mengikrarkan ijab di depan penghulu. Jantung berdegup kencang yang disertai keringat mengalir di punggung ini.
“Ananda Naveen Kenan Bin Devic Kenan. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Luna Mahardika Binti Daniel Mahardika dengan maskawinnya berupa seperangkat alat salat dan satu set perhiasan emas, tunai,” uajar sang penghulu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Luna Mahardika Binti Daniel Mahardika dengan maskawinnya yang tersebut di atas tunai.”
SAH!
Akhirnya, kata sah terlontar dari para saksi dan orang-orang yang menghadiri akad nikah kami di salah satu mesjid, di Bandar Lampung.
Aku memasangkan cincin nikah untuk Luna begitu pun sebaliknya dan tanganku dicium Luna, untuk pertamakali. Bahagianya.
Hingga akhirnya, kami meneruskan resepsi pernikahan di salah satu hotel ternama di kota kami.
Setelah akad yang syarat dengan hikmat. Kini giliran kami menggelar resepsi yang cukup meriah. Banyak tamu undangan yang hadir. Baik dari keluarga dan rekan kerjaku. Juga keluarga Luna.
Malam pun tiba. Sungguh, badan ini terasa lunglai ketika acara telah usai.
“Kalian pulang duluan,” ujar Papa mertua.
“Baik, Pa!”
Aku, Luna dan Ibu mertuaku melesat ke rumah yang sama sekali belum pernah kusambangi. Hingga akhirnya, kami telah tiba di rumah sederhana tapi terlihat nyaman.
Aku mengempaskan tubuh lemahku di atas sofa ruang tamu.
“Istirahatnya di kamar, Bang!” ajak Luna.
“Iya, kamu duluan lah. Nanti Abang nyusul,” jawabku sambil memejamkan mata.
“Kamarku ada di sebelah kiri, ya?” ujar Luna memberikan sinyal.
Aku mengangguk.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar menyusul istriku.
Rupanya kamar sudah gelap, hanya terlihat cahaya pantulan dari lampu luar rumah.
Luna pun terlihat sudah tertidur. Jujur saja, aku belum pernah melihatnya membuka hijab. Ternyata, rambut Luna hitam dan panjang.
Aku menaiki ranjang dan memeluk istriku dari belakang.
“Udah pulang, Pah?”
Mataku membulat mendengar suara wanita ini. Aku segera menyalakan lampu kamar.
Inalillahi! Ternyata Mama mertuaku.
“Aaaa!”
Kami sama-sama berteriak. Kaget.
Langsung kuloncat dari tempat tidur.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“Bang Naveen?” ujar Luna dengan mata membulat dan berlalu pergi.
Mati!
__ADS_1
Ternyata aku salah masuk kamar.