CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 10


__ADS_3

pagi hari pun tiba. Kini Rayden, Nesya dan Margaretha. mereka akan pulang pagi ini juga, namun sebelum pulang Rayden harus mengunjungi dokter, untuk menanyakan soal keadaan Ibunya.


"gimana, Dok. apa Mama saya harus rawat jalan atau bagaimana?? ". tanya Rayden.


"tidak perlu rawat jalan, Pa. keadaan pasien sudah bagus dari hasil pemeriksaan juga bagus-bagus saja. jadi beliau hanya di sarankan istirahat yang cukup dan jangan sampai kelelahan dan yang terpenting jangan syok yang berlebihan. jika sampai hal itu terjadi, maka saya tidak menjamin keselamatannya!!! ". papar sang dokter panjang lebar pada Rayden.


"baiklah, Dok. jika hanya itu, saya permisi!! ". pamit Rayden.


Rayden pun keluar dari ruangannya dan menuju Ruang rawat Margaretha.


cklekkk...


Rayden membuka pintu ruangan Margaretha dan melangkah dan mendekati ranjang sang Mama. Margaretha nampak sudah bersiap-siap untuk segera pulang.


"gimana, Ray. apa mama boleh pulang sekarang?? ". tanya Margaretha.


Rayden menganggukan kepalanya.


"iya, ayo kita segera pulang!! ". ajak Rayden.


Margaretha pun mengangguk dan berjalan menuju mobil dengan di tuntun oleh Nesya.


"ayo, ma. masuk!! ". ucap Rayden, kala membukakan pintu untuk Margaretha.


Margaretha pun masuk ke dalam mobil yang berada jok belakang.


"apa, kau mah masuk?? ". tanya Rayden, kala melihat Nesya yang berdiri di dekat mobil.


Nesya pun mengangguk, ia berharap Rayden membukakan pintu mobil untuknya.


"masuk saja sendiri. kau punya tangan, bukan. jika kau ingin aku membukan pintu untukmu, maka akan ku potong dulu kedua tanganmu!! ". ucap Rayden dengan dinginnya dan terdengar sadis


"sadis sekali kau, Tuan dekil!! ". ucap Nesya.


"ciiiih, sadis konon. kau perbaiki dulu matamu. aku tak pernah matamu melek, selalu merem. apa kau berjalan sambil tidur?? ". tanya Rayden.


Sontak saja Nesya membulatkan matanya, dan melotot ke arah Rayden.


"lihat ini, aku membuka mataku. aku tidak berjalan sambil tidur. ingat, mataku bukan terpejam tapi sipit!! ". tutur Nesya.


"nah, bagus. lebih baik kau begitu, jadi terlihat pupil matamu. jika tidak, kau pakaikan saja lakban di matamu, agar matamu terbuka dengan lebar." ucap Rayden sinis.


Nesya terlihat geram dengan ucapan Rayden, ia pun tak menjawab ucapan Rayden. Nesya langsung membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.


Rayden pun masuk dan menutup pintu mobilnya, ia pun melirik ke arah Nesya.


"pelan-pelan saja jika menutup pintu mobil. kau tahu jika harga mobil ini tidak murah, dan aku membelinya dengan uang bukan daun!! ". ucap Rayden dingin.

__ADS_1


lagi-lagi Nesya dibuat melongo oleh ucapan Rayden. ternyata Rayden bukan hanya menyebalkan tapi juga perhitungan dan juga pelit.


"selain Dekit, kau juga perhitungan dan pelit, ya!! ". ucap Nesya pelan.


sontak saja Rayden melirik tajam ke arah Nesya.


"kau... "


"Ray!! ". ucapan Rayden dipotong oleh Margaretha, ia hanya menggelengkan kepalanya, kala menyaksikan pertengkaran antara Rayden dan Nesya.


Rayden menghela nafasnya dan mulai melajukan mobilnya menuju Rumah.


"Ray. nanti mampir ke supermarket dulu, ya! ". ucap Margaretha.


"mau ngapain sih, Ma?? ". ucap Rayden.


"belanja donk, Ray. kayaknya setok bahan di rumah pada abis deh!! ". ucap Margaretha.


Rayden pun menganggukan kepalanya dan menepikan mobilnya menuju supermarket.


"sudah, ayo. Ma!! ". ajak Rayden.


"ko Mama sih?? ". ucap Margaretha.


"terus, siapa yang bakalan belanja?? ". tanya Rayden.


Rayden membulatkan bola matanya dan menatap Margaretha.


"apa, belanja sama dia. no, no, no. jangan aneh-aneh deh, Ma. lebih baik aku belanja sendiri saja!! ". ucap Rayen tak setuju.


"mana tahu kamu soal bumbu perdapuran, Ray. " ucap Margaretha.


"siapa bilang, bawang putih, cabe, jahe dan garam. " ucap Rayden.


"awas kebalik, Garam jadi gula pasir. gula pasir jadi tepung lagi. hahhaha!! ". celetuk Nesya disertai gelak tawa.


"bener itu kata Nesya. Nes, kamu temenin Ray belanja, ya! ".


Nesya berusaha menelan salivanya dengan susah payah, ia tak mau jika harus belanja dengan Rayden. namun untuk menolak pun Nesya tak mampu.


"mau kan? ". ucap Margaretha memastikan pada Nesya dan Rayden.


"oke! ". ucap Rayden, terlihat raut wajah Rayden tak senang.


Rayden dan Nesya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket tersebut.


"ingat, jangan dekat-dekat. aku takut jika orang-orang mengira kau adalah istriku!! " peringat Rayden pada Nesya.

__ADS_1


"iddiih, siapa yang mau deket-deket situ. yang ada aku bakalan gatel, jika harus deketan sama kuman air kayak kamu!! ". celetuk Nesya, sembari melangkah masuk mengambil troli dan mendorongnya menuju bahan-bahan yang diperlukan.


Rayden mengikuti langkah kaki Nesya dari belakang. ia sama sekali tak membantu Nesya saat dalam kesusahan.


"bisa tidak, jika melihat orang sedang kesusahan itu bantuin!! ". celetuk Nesya.


Rayden melirik sekilas ke arah Nesya, namun Rayden malah pura-pura tidak mendengar omelan Nesya.


"kau butuh bantuan rupanya, aku kira orang seperti mu bisa segalanya! ". celetuk Rayden.


"jika aku wonder woman. maka aku tidak akan meminta bantuan siapa pun! " ucap Nesya.


Rayden begitu menyebalkan, ia berpura-pura tuli saat Nesya berbicara, sekalipun menyindir dirinya.


namun akhirnya Rayden merasa kasian dengan Nesya yang terlihat sedang kesusahan.


"jika butuh bantuan itu ngomong! ". ucap Rayden sembari mengambil alih troli dan mendorongnya menuju kasir.


"udah selesai saja baru kau bantu. dasar tuan dekil! ". celetuk Nesya.


"untung aku bantuin, jika tidak kau akan mati kelelahan. dasar buruk rupa tak tahu terimakasih! ". geram Rayden.


Rayden dibuat geram dengan Nesya, sudah beruntung dirinya mau membantu. namun Nesya seolah-olah tidak menghargai bantuannya.


memang menurutnya, mendorong troli dengan belanjaan yang penuh tidak berat dan tidak melelahkan, begitu?


"berhenti mengatai ku buruk rupa! ". geram Nesya.


"baiklah, nanti aku fikirkan julukan yang cocok untukmu. " sahut Rayden.


Nesya menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Rayden.


"kau.. " ucap Nesya marah.


Rayden bersikap biasa saja seperti orang tanpa dosa. ia berjalan dengan santainya.


"apa? kau ingin marah!! " ucap Rayden.


semua mata memandang ke arah Nesya dan Rayden. mereka menganggap Rayden dan Nesya sepasang suami istri yang begitu nyentrik, ada pula yang menganggap mereka seperti tuan dan majikan.


"lihat kedua pasangan pasutri itu. mereka bertengkar di depan umum dan nampak nyentrik sekali. " celetuk salah seorang.


"mbak, mbak. itu bodyguardnya tampan banget. " ucap salah seorang wanita muda pada Rayden dan Nesya.


Rayden membulatkan bola matanya dan memandang tak percaya pada orang yang mengatainya sebagai bodyguard Nesya.


"what, aku bodyguard. Dengar baik-baik, saya bukan bodyguard wanita buruk rupa ini. apa kalian tidak mengenali siapa aku?? ". ucap Rayden. Rayden pun melepas kacamata yang ia pakai, sedetik kemudian semua orang memandang Rayden tanpa berkedip.

__ADS_1


"Rayden Alexander!! ". ucap mereka sembari menutup mulutnya dan tak percaya bisa bertemu langsung dengan pengusaha sukses, sesukses Rayden.


__ADS_2