CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 32


__ADS_3

Rayden mengikuti langkah Williams, namun fikirannya masih berkelana, ia sangat penasaran dengan Lion. Sebenernya ada hubungan apa antara Lion dan Katty?


"Rayden!! " Pangilan Williams, seketika membuyarkan lamunan Rayden.


Rayden menoleh, dan terlihat gelagapan. " Iya, Pak, maaf. Tadi Anda bicara apa? " Sahut Rayden.


Williams nampak menggelengkan kepalanya, ia pun duduk di hadapan Rayden. Williams memandang wajah Rayden. "Apa yang kau fikirkan, Rayden? " Tanyanya, Williams perhatikan sejak tadi Rayden lebih banyak melamun.


Rayden menggeleng. " Tidak ada. Maaf, jika saya kurang fokus! " Sahutnya berbohong.


Williams tahu Rayden berusaha menyembunyikan kebenaran, namun ia pun mengerti mungkin ini adalah urusan pribadi sehingga ia tak perlu ikut campur.


"Baiklah. Saya harap kamu lebih fokus lagi! Dan, ya. Kau boleh beristirahat dan kita akan atur pertemuan selanjutnya. " Ucap Williams.


Rayden pun mengangguk, mungkin ini lebih baik baginya. Rayden beranjak dan pergi meninggalkan ruangan Williams.


Sejujurnya, Rayden penasaran dengan hubungan Lion. Kenapa Lion tahu tentang Katty?


"Sialan! " Batinnnya kesal.


Sebelum pergi Rayden memilih menemui Lion di ruangannya, ia harus tahu apa hubungan antara Lion dan Katty?


Saat Rayden masuk ke dalam ruangan Lion, tiba-tiba seorang pagawai menghampiri Rayden. " Pak, Lion sedang tidak ada di ruangannya. " Ujarnya.


Rayden mengerutkan keningnya. " Kemana? " Tanyanya.


"Sepertinya keluar, dan mungkin tidak akan kembali! " Sahutnya.


' Sial ' Decaknya.


Rayden tak berhasil menemui Lion, mungkin lain kali ia akan membicarakan Soal ini dengannya.


Rayden memandang ruangan Lion, dan orang yang ada di hadapannya bergantian. " Terimakasih, informasinya. " Ucapnya, kemudian berlalu pergi.


Rayden keluar dari kantor Williams, ia pun mengendarai mobilnya dan membelah jalanan.


Rayden segera pulang ke rumah, ia pun berpapasan dengan Nesya.


Rayden menatap tajam ke arah Nesya, namun tak berkata sepatah katapun. Rayden melangkah melewati Nesya, terlihat tatapan kebencian terpancar dari mata Rayden.


"Hey, Tuan. Apa kau sakit mata? " Tanya Nesya, kala melihat tatapan Rayden padanya.


Rayden sama sekali tak menggubris ucapan Nesya, ia pun terus melangkah sehingga Nesya memegang lengan Rayden. " Hey, apa kau tuli? " Tanya Nesya sambil memegang tangan Rayden.


Rayden menghentikan langkahnya, lantas menoleh. " Singkirkan tanganmu! " Ujarnya.

__ADS_1


Detik kemudian Nesya melepaskan genggamannya pada lengan Rayden. " Kau itu kenapa? Apa aku punya salah? " Tanya Nesya.


"Salahmu terlalu banyak! " Sahutnya.


"Katakan. Apa salahku? " Ucap Nesya.


Rayden menatap ke sembarang arah, ia sama sekali tak memandang wajah Nesya. Rayden begitu malas melihat wajah itu.


"Rey, tatap mataku! " Titah Nesya.


Rayden tidak mau memandang wajah itu, hingga Nesya memegang wajah Rayden dan memaksanya untuk melihat wajahnya. " Katakan padaku. apa salahku? " Tanyanya, kali ini Nesya benar-benar menunggu jawaban Rayden.


"Kau ingin tahu salahmu? Baiklah, akan aku katakan. Pertama, kau sudah masuk dalam kehidupan ku, dan aku tidak suka itu. Kedua, kau telah meracuni Mama dengan sihirmu sehingga Mama sangat menyayangimu! Dan yang terkahir, kau telah sangat salah menerima penikahan yang tidak pernah aku impikan. " Jawabnya dengan tatapan penuh kebencian.


Nampak mata Nesya begitu berkaca-kaca, kala Rayden mengatakan hal itu. Apakah Nesya memang salah telah masuk dalam kehidupan Rayden?


"Tapi, Ray... "


Belum sempat Nesya meneruskan ucapannya, Rayden telah lebih dulu mengangkat tangannya menandakan agar Nesya diam, dan tidak berkata sepatah katapun.


"Silakan pergi, dan tinggalkan rumah ini. Aku mohon! Aku sudah muak dengan pernikahan yang penuh ke pura-puraan ini. " Sela Rayden, dan berlalu pergi.


Nesya menggeleng. " Tidak. Aku tidak bisa pergi! Aku belum mendapatkan bukti kejahatan Rayden. " Batinnnya.


Nesya pun berlari mengejar langkah Rayden, ia akan berusaha meluluhkan hati Rayden demi melancarkan aksinya mengungkap kejahatan Rayden.


Rayden masuk ke dalam kamarnya, dan di susul oleh Nesya. Nesya ingin bicara dengan Rayden sehingga Nesya mengikuti kemana Rayden pergi.


Rayden nampak begitu kesal dengan tingkah Nesya. " Hey, apa yang kau inginkan? Kenapa kau mengikutiku seperti ekor? Pergilah, dan jangan ganggu aku! " Ucapnya.


Nesya menatap Rayden. " Aku ingin bicara denganmu! " Jawabnya sembari memainkan jemarinya.


"Aku tidak punya waktu. " Ucap Rayden ketus.


Rayden berjalan, dan mengambil sebuah handuk dan Nesya masih saja mengikutinya.


"Hanya sebentar! " Pinta Nesya.


"Tidak. " Sahutnya.


Tanpa sadar Nesya mengikuti Rayden hingga pintu kamar mandi. " Apa kau juga ingin ikut mandi bersamaku? " Tanya Rayden.


Nesya membulatkan matanya. " Ya tuhan. Tidak, tidak, tidak. " Sahutnya sembari berbalik membelangi Rayden yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Nesya pun berjalan menjauh dari kamar mandi, Nesya menunggu Rayden sampai selesai mandi dengan duduk di tepi ranjang sembari membaca sebuah koran.

__ADS_1


Saat Nesya hendak mengambil ponselnya di atas nakas, tiba-tiba ia tak sengaja menjatuhkan sesuatu di atas nakas.


"Aku begitu ceroboh! " Ucapnya sembari memunguti barang yang terjatuh.


Detik kemudian, Nesya mengambil sebuah foto, ia pun membaliknya dan melihat Foto tersebut.


"Bukankah ini Rayden? Bersama siapa, Ray? Wanita ini? " Tanyanya.


Nampak Rayden bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih dan berhidung mancung dalam sebuah foto, namun tidak ada keterangan dalam foto tersebut. Nesya beranggapan bahwa ini merupakan foto Rayden saat masih kuliah.


Saat Nesya mengamati foto tersebut, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan cepat Nesya segera mengembalikan buka yang sempat terjatuh, dan menyembunyikan foto tersebut di bawah tempat tidur.


Rayden menatap Nesya dengan tatapan intimidasi. " Sedang apa kau disana? " Tanyanya sembari mengelap rambutnya yang masih basah.


Nesya menggeleng, namun raut ketegangan tak bisa ia sembunyikan. " Tidak. Aku tidak sengaja menjatuhkan sesuatu tadi, dan aku ingin membereskannya! " Sahutnya dengan wajah tegang, bak seorang maling yang hendak ketahuan.


Rayden menyipitkan matanya. " Benarkah? " Tanyanya seraya berjalan ke arah Nesya.


Nesya kian di buat tegang oleh Rayden. Bagaimana jika Rayden menyadari foto itu? Nesya bisa celaka.


Beberapa kali Nesya menelan salivanya dengan susah payah.


"Kenapa wajahmu tegang? " Tanya Rayden curiga.


Nesya menggeleng. " Tidak. Mana ada tegang! " Sahutnya bohong, padahal tertera jelas bahwa Nesya sedang tegang.


Rayden tak ingin memperpanjang obrolan. Ia pun pergi meninggalkan Nesya.


Nesya bisa bernafas dengan lega, akhirnya Rayden tidak menyadari bentang foto itu.


"Syukurlah! " Batinnya lega.


Rayden keluar dari kamar, ia akan menemui Margaretha untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.


Tok.. tok.. tok..


Sesaat kemudian Rayden mengetuk pintu kamar Margaretha, dan Margaretha mempersilakan Rayden masuk.


Rayden masuk, dan menghampiri Margaretha yang sedang sibuk dengan korannya.


Margaretha menatap Putranya sekilas. " Ada apa, Ray? Tidak biasanya kamu kesini? " Tanya Margaretha.


Memang benar jika Rayden jarang menemui Margaretha. Jika Rayden menemui Margaretha itu artinya ada hal penting yang akan di bicarakan.


"Aku ingin berpisah dengan Nesya! " Ucap Rayden tanpa menoleh.

__ADS_1


Margaretha menoleh ke arah Rayden, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja Rayden ucapkan. " Ray, Kau. " Ucap Margaretha.


Rayden menoleh ke arah Margaretha. Mama! " teriak Rayden.


__ADS_2