
Rayden menuju ruangan CCTV, ia berharap dapat menemukan sesuatu disana.
Rayden melangkah menuju Ruang CCTV yang berada di rumah sakit tersebut.
"mau kemana, Mas?? ". tanya penjaga disana.
"saya ingin melihat rekaman CCTV diruangan xxx!! ". ucap Rayden.
"maaf pak, tidak bisa. hanya petugas yang bisa masuk!! ". ucap petugas tersebut.
"ayolah, saya mohon untuk kali ini saja!! ". ucap Rayden.
"maaf pak!! ". ucap petugas.
Rayden terlihat geram dengan petugas, ia pun mulai berfikir untuk memberikan petugas tersebut dengan sejumlah uang. karna bagi Rayden tak ada orang yang tak suka dengan yang namanya rupiah.
"berapa yang kau mau?? ". tanya Rayden sembari menyodorkan sebuah buku cek pada petugas tersebut.
"apa ini pak?? maaf anda tidak bisa menyogok saya!! ". ucap petugas tersebut pada Rayden.
petugas tersebut menolak sogokan dari Rayden. karna baginya tidak semua bisa dibeli dengan uang. ia ingin bekerja dengan cara jujur dan tak suka dengan namanya sogokan.
"sial!! ". gumam Rayden dalam hatinya.
ternyata masih ada orang jujur di dunia ini. Rayden baru menemukan orang yang tak suka dengan uang.
Rayden nampak berfikir agar petugas tersebut membolehkan dirinya masuk ke dalam dan melihat rekaman CCTV, guna mengetahui siapa orang yang telah masuk ke dalam ruangan Margaretha.
"izinkan aku masuk dan melihat Rekaman CCTV itu, aku mohon. sebab Ibu ku hampir di bunuh seseorang. " ucap Rayden
petugas nampak berfikir, ia pun merasa tak tega dengan apa yang tengah di alami oleh Rayden. ia pun menganggukan kepalanya dan membolehkan Rayden masuk ke dalam.
"baiklah, aku izinkan. tapi tidak lama, hanya 5 menit tidak lebih!! ". ucap Petugas.
"baiklah, aku setuju!! " sahut Rayden
petugas pun membuka pintu dan mempersilakan Rayden masuk.
Rayden duduk di depan komputer dan mulai mencari data, ia mencocokan waktu dan tanggal kejadian.
beberapa menit mencari, akhirnya Rayden menemukan apa yang dia cari.
Rayden menonton rekaman CCTV Tersebut, nampak seorang lelaki yang umurnya tak jauh dari Margaretha. ia menggunakan setelan jas, namun sayangnya ia menggunakan masker. Rayden tak bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut.
__ADS_1
"siapa dia? sepertinya dia pengusaha?? ". Gumam Rayden.
Rayden memperhatikan orang yang berada didalam rekaman tersebut.
Rayden mencoba mengingat siapa orang yang berada dalam rekaman itu.
namun sayang, sepertinya Rayden tak mengenali orang tersebut.
"ahhh, siapa orang itu? ". tanya nya.
tiba-tiba, petugas datang menghampiri Rayden dan menyuruhnya segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
"maaf pak, anda harus pergi. saya takut jika ada yang tahu! ". ucap petugas tersebut.
Rayden mengangguk dan keluar dari dalam ruangan tersebut.
Rayden pun tak lupa membawa VCD yang berisikan rekaman tersebut.
"untung aku membawanya! ". gumam Rayden.
Rayden segera memasukam VCD tersebut kedalam saku jasnya dan bergegas pergi dari Ruangan tersebut.
Rayden akan menacari tahu siapa orang yang telah membuat kondisi Ibunya kian memburuk.
"siapa pun kau, aku pastikan akan segera menemukan mu dan akan menghajar mu dengan tanganku! ". ucap Rayden
"sorry, aku lama!! ". ucap Rayden.
Nesya mengangguk dan tersenyum ke arah Rayden.
Rayden mendekat ke arah ranjang Ibunya, ia memegang tangan Ibunya sembari menciuminya dengan penuh Cinta.
"cepat sembuh, Ma. aku rindu masakan mama! ". ucap Rayden pelan.
Rayden dan Nesya menunggu Margaretha. mereka akan bermalam di rumah sakit. Nesya tidur disofa, sementara Rayden tidur dikursi dekat ranjang sang Ibu.
saat tengah malam tiba, Margaretha terbangun. ia baru menyadari bahwa disebelahnya ada Rayden dan Nesya. Margaretha nampak tersenyum dan bahagia melihat kebersamaan keduanya. ia berharap semoga ini adalah awal yang baik bagi Rayden.
Margaretha membelai lembut rambut Rayden, ia begitu menyayangi putranya. namun karna kesahan mantan suaminya, Rayden menjadi seperti ini.
"mama, udah bangun?? ". tiba-tiba Rayden bertanya. ia baru saja bangun dari tidurnya, sebab ia merasa ada yang membelai rambutnya.
Rayden mengucek matanya, khas seseorang yang baru saja bangun tidur.
__ADS_1
"iya Ray, udah kamj tidur lagi aja!! ". perintah Margaretha.
"nggak ma. " sahut Rayden.
Margaretha tersenyum ke arah putranya, Rayden adalah anak yang baik. ia selalu mengikuti keinginan Margaretha.
"Ray, boleh mama minta sesuatu?? ". tanya Margaretha.
Rayden mengerutkan keningnya, apa yang akan namanya minta darinya.
"apa?? ". tanya Rayden.
"segeralah nikahi Nesya!! ". ucap Margaretha, ia pun melirik ke arah Rayden.
Rayden nampak berfikir, ia belum bisa mengambil keputusan sekarang juga. sebab, jujur saja Rayden belum siap jika harus melangkah ke jenjang pernikahan. ia terlalu takut, jika nasib rumah tangganya kelak bernasib sama seperti pernikahan Mamanya dan juga papanya.
"Ray, fikir-fikir dulu ya, Ma. tanpa Ray jelaskan pun mama pasti tahu jawabannya! ". ucap Rayden.
Margaretha menghela nafasnya, selalu saja itu yang dikatakan oleh putranya.
Rayden berpamitan pada Mamanya untuk keluar, alasannya mencari angin dan makan diluar. namun itu hanya alasan Rayden saja. sebenarnya ia ingin memikirkan dan mencari ketenangan.
"Ray keluar dulu ya, Ma? ". pamit Rayden.
"kemana, Ray? ini udah malam, lho! ". sahut Margaretha, ia cemas karna saat ini sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari.
"Ray, mau cari makan diluar! ". sahut Ray, terpaksa ia mengatakan ingin mencari makan. sebab jika ia mengatakan ingin mencari ketenangan, maka Margaretha takan mengizinkan dirinya pergi.
"yaudah, jangan lama-lama dan lekas kembali. jangan buat mama khawatir!! ". ucap Margaretha.
Rayden mengangguk dan keluar dari ruangan Margaretha. ia pun terlihat berjalan menelusuri jalan raya yang nampak tak terlalu ramai dilalui oleh pengendara. mungkin di jam begini, pengendara sudah terlelap dalam buaian mimpi yang indah.
"keputusan apa yang akan aku ambil? keduanya sama-sama membingungkan. di sisi lain Mama dan di sisi lain Prinsip! ". ucap Rayden.
jika ia mengikuti ego, maka Rayden akan mengikuti prinsipnya. namun jika ia tetap memilih Ego, maka di pastikan Margaretha bisa terkena serangan jantung kembali.
jika Rayden memilih mengikuti keinginan ibunya, maka ia akan merubah prinsip Ibunya. di pastikan pula, ia takan bisa menerima pasangannya dan kemungkinan terburuknya adalah Rayden takan pernah menyentuh pasangannya. bukankah itu semua Secara tidak langsung akan menyakiti pasangannya.
"aaaahhh, pilihan ini begitu membingungkan. mana yang harus aku pilih? ". gumam Rayden.
Rayden terus berjalan dan menelusuri jalanan malam. ia pun sesekali memainkan kerikil kecil dengan sepatunya.
ketika Rayden lelah berjalan, ia pun duduk di pinggir jalan. ia merenung dan menutup wajahnya dengan tangannya.
__ADS_1
"ya tuhan, pilihan apa ini. keduanya bagaikan buah simalakama. sana sini kena! ". gumam Rayden.
setelah puas dan Fikiran Rayden tenang, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit. Rayden takut jika Margaretha cemas, karna dirinya lama tidak segera kembali.