CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 21


__ADS_3

Saat Rayden berjalan keluar dari kantor Williams, tanpa sengaja Rayden berpapasan dengan Lion. Lion menatap Rayden heran sementara Rayden menyipitkan matanya.


"Rayden! mau apa dia kemari? " Gumam Lion.


Rayden berjalan melewati Lion seraya masuk ke dalam mobilnya.


Lion pun langsung masuk ke dalam kantornya, dan menuju ruangan Williams.


"Lion! ada apa kau kemari? " Tanya Williams.


Lion berjalan mendekati Williams. "Ada apa Rayden kemari? " Lion malah balik bertanya.


"Dia menanam saham di perusahaan kita sebesar 40%! " Jawabnya.


Lion membulatkan matanya. " Apa? Rayden menanam saham? lalu, apa Papa menerimanya begitu saja? " Tanya Lion.


Williams tersenyum. " Tentu saja. Jarang-jarang kesempatan datang 2x, Lho! " Sahut Williams seraya menepuk bahu Lion.


Lion tak menjawab Ucapan Williams, ia masih diam di tempat. Sepertinya tengah memirkan sesuatu.


"Apa yang kau rencanakan, Rayden? " Gumam Lion.


Lion tahu ada sesuatu yang tengah di rencanakan oleh Rayden, sebab Rayden tidak mungkin butuh kerja sama dengan perusahaan kecil macam ini.


Banyak perusahaan besar di luaran sana yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Rayden.


"Lion! " Panggil Williams.


Panggilan Williams membuyarkan lamunan Lion, ia pun tersentak kaget.


"Ya! " Sahut Lion.


"Kau kenapa, Lion? apa ada yang kau fikirkan? " Tanya Williams, sebab dari tadi ia melihat Lion sibuk melamun saja.


Lion menggeleng. "Tidak ada! " Sahut Lion.


Lion pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Williams. Lion akan membicarakan soal kemajuan Alexander Grup.


Namun fikiran Lion masih saja tertuju pada Rayden, kira-kira apa yang tengah di rencanakan oleh Rayden?

__ADS_1


Lion harus segera mencari tahu, sebelum semuanya terlambat. Lion harus terlebih dahulu menghancurkan Rayden!


"Kau harus hancur terlebih dahulu, Rayden! " Gumam Lion.


"Lion! ada apa denganmu? sebaiknya kau pulang, sebab Papa lihat kau sedang banyak fikiran! " Ucap Williams.


Williams perhatikan Lion sepertinya sedang banyak fikiran. Ada baiknya, jika Lion beristirahat terlebih dahulu.


"Maaf, Pa. Lion gak papa ko, lagian hari masih siang juga kan? " Sahut Lion.


Lion harus melupakan Rayden untuk sejenak. Ini adalah saatnya untuk bekerja, nanti saja ia akan mencari apa rencana yang akan di buat oleh Rayden.


Lion mulai fokus pada pekerjaannya, ia pun bekerja seperti biasanya. Lion adalah satu-satunya Williams, maka dari itu Lion harus belajar tentang bisnis. Agar bisa menjalani bisnis yang selama ini Williams rintis. Williams ingin menyerahkan perusahaan ini pada Lion pada saat yang tepat.


"Lion. Kau adalah harapan Papa satu-satunya, maka dari itu belajarlah bisnis secepat mungkin. Papa ingin segera pensiun daru dunia bisnis ini! " Tutur Williams.


Lion menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan berusaha sebisa mungkin! " Ucap Lion.


Sebenarnya Lion tidak berminat dengan bisnis. Ia lebih suka dengan dunia kepolisian. Ya, Lion adalah seorang anggota Polisi yang bergelar Intel Polisi.


Ya, Lion mendapatkan tugas dari atasannya untuk menyelidiki Rayden Alexander. Suatu kebetulan bagi Lion, sebab ia pun punya dendam pribadi terhadap Rayden. Maka dari itu ia menyetujui saat di perintahkan untuk menyelidiki Rayden.


Lion juga sengaja, memilih kekasihnya Nesya untuk masuk dalam kehidupan Rayden, dan mencari bukti untuk menghancurkan Rayden dari dalam.


"Bagus, Lion! baiklah, jika begitu Papa ingin keluar sebentar! " Pamitnya.


Lion mengangguk, dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Williams. Rasanya malas sekali jika harus berbisnis. Ia tak menyukai Bisnis dengan sangat terpaksa Lion mengikuti keinginan Williams.


Williams berjalan meninggalkan Lion yang masih sibuk mempelajari tentang bisnis.


Williams masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke suatu tempat. Namun tanpa sengaja ia melihat seseorang yang selama ini dia cari.


"Margaretha! " Panggil Williams.


Margaretha menoleh seraya berbalik. Nampak matanya berkaca-kaca, namun sebisa mungkin Margaretha harus tetap tegar, agar air matanya tak luruh. " Williams! " Gumamnya.


Williams menghampiri Margaretha yang masih berdiri di tempatnya. "Margaretha, katakan dimana Putraku?" Tanya Williams seraya mengguncang bahu Margaretha.


Margaretha menggeleng. " Untuk apa kau mencarinya, Williams? bahkan sekarang, dia sudah sangat membencimu! " Ucap Margaretha.

__ADS_1


"Tolong maafkan semua kesalahanku di masa lalu, Margaretha. Aku mohon katakan dimana Putraku! " Pinta Williams, terlihat matanya yang begitu berkaca-kaca.


"Hentikan, Williams! aku mohon hentikan. Ingat, 20 tahun. 20 tahun kau meninggalkan kami, Williams! kau tahu apa yang terjadi pada putraku? dia jadi seorang laki-laki yang tidak ingin memiliki Anak! bahkan dia juga enggan memiliki hubungan dengan seorang wanita. Itu semua karna perbuatanmu, William. Karna kau! " Teriak Margaretha.


Williams hanya menunduk dalam, sebesar itukah Trauma yang di alami oleh Rayden. Hingga ia enggan memiliki hubungan, bahkan seorang Anak.


Williams merasa sangat berdosa pada Rayden, namun hingga kini ia tak bisa bertemu dengan Putranya.


Margaretha melanjutkan ucapannya. "Bahkan kau tahu, Williams. Dia sangat membencimu, dia penyebut mu sebagai pecundang! " tutur Margaretha.


Nampak mata Williams yang berkaca-kaca, ia sangat berdosa sungguh berdosa. Namun ini semua bukan kesalahan Williams sepenuhnya.


"Kau tahu bukan, Margaretha. Aku tak pernah mencintaimu? Aku menikahi mu karna perjodohan? " Sanggah Williams.


Margaretha tersenyum sinis. "Ya, aku tahu itu! tapi tak seharusnya kau mencampakan Putramu, Bukan? lihatlah hasil dari perbuatan mu. Kau telah menghancurkan masa depan Putramu! " Teriak Margaretha marah.


Saat ini emosi Margaretha sangat memuncak. Ia amat marah dengan kehadiran Williams, memang awalnya ia bahagia bisa bertemu dengan Williams. Namun jika membicarakan Rayden, hatinya sangat teriris. Apalagi saat mengingat Williams yang meninggalkan mereka berdua, hingga menyisakan sebuah luka, dan trauma bagi Rayden.


Margaretha ingin memaki Williams, namun urung ia lakukan. Lebih baik baginya untuk menghindar dan pergi menjauh dari Williams.


Margaretha hendak pergi meninggalkan Williams, namun Williams mencekal pergelangan tangannya. " Tunggu! mau pergi kemana kau, Margaretha? " Tekannya.


Margaretha melirik tajam ke arah Williams seraya berusaha melepaskan cekalan tangan Williams. " Lepaskan tanganmu dari ku, Williams! " Pintanya.


Namun Williams sama sekali tidak menanggapi permintaan Margaretha, ia menatap bola mata Margaretha, terlihat ada kerinduan di dalam mata Margaretha. Margaretha memalingkan wajahnya ke arah lain.


Williams melepaskan cekalan tangannya, saat tak ada perlawanan dari Margaretha. "Dengarkan aku, Margaretha. Aku hanya ingin tahu dimana Putraku, itu saja tidak lebih! " Ucap Williams sedikit melembut.


Margaretha menatap bola mata Williams, disana terlihat ada sebuah harapan. " Dengarkan aku baik-baik, Williams. Kau tidak perlu menemui Putraku, sebab itu hanya percuma saja. Dia tidak akan menerimamu! Putraku ibaratkan sebuah batu yang besar, keras kepala, dan juga kuat dalam pendiriannya! " Ucap Margaretha.


begitulah watak Rayden, ia memang keras kepala, namun kekeras kepalaannya membuatnya mampu berdiri sendiri. Rayden tidak mudah menerima orang yang telah menyakiti dirinya.


Williams menunduk dalam, ia sadar Putranya begitu sebab karna dirinya. Seperti memiliki kesempatan, Margaretha bergegas berlari meninggalkan Williams. Williams ingin mengejar Margaretha, namun langkahnya terhenti oleh sebuah panggilan dari Lion.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹



jangan lupa mampir ke karya temanku, ya!

__ADS_1


__ADS_2