
Rayden pulang ke rumah dalam keadaan dongkol, bisa-bisanya ia bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Kenapa? Aku harus bertemu dengannya lagi. " Ucapnya seraya berjalan menuju rumahnya.
"Ray! " Panggil Margaretha.
Rayden menoleh. " Ya! " Sahutnya.
Margaretha menyuruh Putranya duduk di sebelahnya, nampaknya ada suatu hal yang penting yang ingin Margaretha bicarakan dengannya.
Rayden menghela nafasnya seraya menjatuhkan bobotnya di kursi.
"Ada apa? " Tanya Rayden.
Rayden tahu bahwa Margaretha akan membicarakan sesuatu.
"Ray. Mama mau kamu segera memiliki keturunan! " Ucap Margaretha sembari menatap Putranya lekat.
Rayden melirik tajam Margaretha. " Jangan memancing kemarahanku! " Sahutnya tak suka.
"Tapi, sampai kapan kau akan seperti ini, Rayden? Coba fikirkan baik-baik. Siapa yang akan menjaga dan mengurus mu Suatu hari nanti, jikalau Mama sudah tiada? " Ucap Margaretha.
Rayden mendengus kesal. " Tenang! Mama tak perlu khawatir tentang hidupku. Aku punya banyak uang, aku bisa menyewa perawat dan aku bisa membeli segalanya dengan uang! " Ucapnya sombong.
Margaretha menghela nafasnya. " Ray. Tak semuanya bisa kau beli dengan uang! Kau juga perlu seorang Anak... "
"Stop! Jangan membuatku marah. Aku lelah hari ini. Jika Mama hanya ingin membicarakan itu, maka tunggu nanti. Oke? " Potongnya seraya bangkit dan berlalu pergi.
"Ray!! " Panggil Margaretha, namun Rayden tak menghiraukan panggilan Margaretha. Ia terus berjalan menaiki anak tangga.
Mood Rayden benar-benar sedang hancur hari ini. Pertama, ia bertemu dengan Viona. Saat ini Ibunya membicarakan soal Anak. Ya tuhan, kenapa dunia ini harus di penuhi dengan Anak? Apakah dengan hadirnya seorang Anak akan menjamin kebahagiaan?
Rayden membuka knop Pintu, Kebetulan Nesya sedang duduk di atas Ranjang. Keadaannya masih lemah.
"Ray! " Sapanya.
Rayden memutar bola mata malas. " Apa lagi? Jangan membuat hariku semakin hancur! " Sahutnya seraya meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Nesya menyipitkan matanya. "Ada apa dengannya? " Gumamnya heran.
Rayden mengguyur tubuhnya dengan air, semoga otaknya bisa dingin dengan sejuknya air.
__ADS_1
30 menit berlalu, akhirnya ritual mandi Rayden pun selesai. Ia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap.
Rayden bercermin seraya menyisir rambutnya, ia tak lupa menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
"Kau mau kemana? " Celetuk Nesya, ia melihat Rayden yang telah rapi dan wangi.
Rayden melirik Nesya. "Apa urusanmu? Jangan bertanya banyak hal, dan jangan ganggu aku! Kau mengerti? " Ucap Rayden seraya meraih kunci mobilnya dan berlalu pergi dari kamarnya.
"Ya tuhan, kenapa dengan Pria itu? Apakah dia sedang menstruasi? " Ucap Nesya heran dengan tingkah Rayden.
Beberapa kali Nesya menggelengkan kepalanya, ia tak tahu ada apa dengan Rayden? Rayden adalah manusia teraneh yang pernah Nesya temui di muka bumi ini, kadang-kadang ia baik. Tapi kadang-kadang ia seperti harimau yang siap menerkam kapan saja!
"Mungkin Rayden di ciptakan dari tanah sengketa, jadi sifatnya seperti itu! " Gumamnya.
Rayden berjalan melewati ruang tamu, Margaretha sedang duduk santai di sana. Ia melihat Rayden yang hendak keluar.
"Mau kemana lagi, Ray? Baru juga datang sudah pergi lagi. Apakah rumah ini adalah terminal? Kau bisa bebas datang dan pergi kapan saja! " Ucap Margaretha.
Rayden tak memperdulikan ucapan Margaretha bahkan ia sama sekali tak menoleh sedikitpun, ia terus berjalan menuju mobilnya.
"Lagi pula di rumah ini tidak ada kenyamanan sama sekali. Semuanya sama saja! " Gumamnya seraya masuk ke dalam mobilnya.
Rayden melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia ingin menikmati udara malam yang terasa sejuk.
"Andai aku bisa menikmati hidup. Mungkin aku bisa bahagia seperti mereka! " Ucapnya lirih.
"Ray! Loe kesini? " Tanya Ben pemilik Bar sekaligus Temannya.
"Gue lagi malas di rumah! " Sahutnya seraya bertos ria dengan Ben, kemudian keduanya duduk.
"Loe mau pesan apa, Ray? " Tanya Ben.
"Kayak biasa aja! " Sahutnya.
Ben mengacung jempolnya, ia sudah paham apa yang di inginkan oleh Temannya tersebut.
Ben mengambil dan menyodorkan 1 botol souju ke hadapan Rayden.
"Thanks, Bro. " Ucap Rayden.
Ben mengangguk seraya duduk di samping Rayden.
Ben memperhatikan Rayden yang minum dengan Khalaf, nampaknya Rayden sedang memiliki masalah. " Loe, punya masalah? " Tanyanya.
__ADS_1
Rayden menghentikan aktivitasnya, kemudian melirik sahabatnya. " Sok tahu, Lu! " Sahutnya sembari tersenyum kecut.
"Gue tahu, soalnya gak biasanya Lu minum kayak orang kesetanan gitu! " Ucap Ben yang sedari tadi memperhatikannya.
Rayden menyimpan botol soujunya, kemudian melirik sahabatnya. "Menurut Lu, gimana sih rasanya punya anak? " Celetuk Rayden, entah kenapa Rayden ingin tahu pendapat sahabatnya mengenai seorang Anak.
Ben mengernyitkan keningnya. " Tumben Lu nanya gitu? Bukannya, Lu anti sama Anak? Atau jangan-jangan, Lu punya rencana bikin dedek bayi? " Cecar Ben disertai candaan.
Ucapan Ben sukses membuat Rayden menjitak kepalanya. Ben meringis kesakitan akibat jitakan Rayden. "Gila, Lu! Gue cuma pengen tahu aja, gimana sih rasanya punya anak. " Ucapnya.
Ben menghela nafasnya. " Menurut Gue, punya anak itu bahagia banget. Ini menurut pengalaman pribadi Gue, ya. Saat gue lelah dengan pekerjaan, saat liat anak cepek Gue seketika ilang. Terus kalo liat anak senang, entah kenapa Gue juga ikutan senang gitu, Bro. " Tuturnya.
Rayden hanya manggut-manggut sembari mencerna ucapan temannya. "Benarkah sebahagia itu? " Gumamnya dalam hati.
"Bukannya anak itu biang masalah, ya? " Tanya Rayden.
Ben menyipitkan matanya. " Maksud Lu? " Tanyanya heran.
Rayden menghela nafasnya. "Bukannya, masalah datang dalam rumah tangga itu 100% akibat Anak? Terus perceraian terjadi karna Anak juga, kan? " Jelasnya.
Sontak saja ucapan Rayden membuat Ben tertawa, ia pun tak sengaja menepuk bahu Rayden hingga Rayden meringis. "Kenapa? Ada yang salah sama ucapan Gue? " Tanya Rayden, pasalnya disini tak ada yang lucu, tapi temannya malah tertawa.
"Sorry, sorry. Habisnya ucapan Lu lucu sih! Gini, ya. Gue kasih tahu, sebenarnya masalah dalam rumah tangga itu bukan Real karna Anak. Ingat, perceraian terjadi karna 2 manusia yang berlawanan jenis sudah tak bisa lagi bersama, bukan karna Anak melainkan karna tidak ada lagi kecocokan, atau pun karna masalah lainnya. So, jangan salahkan Anak dalam masalah ini. You know? " Ucap Ben panjang lebar, Ben berharap ucapannya bisa membuka fikiran Rayden.
"Apakah Williams meninggalkan kami karna suatu alasan itu, jadi bukan karna aku! Lalu, karna apa? Apa wanita atau tahta? " Gumamnya.
Rayden sibuk dengan fikirannya, ia harus mencari tahu sebab Williams pergi meninggalkan dirinya dan sang Ibu? Ia harus tahu alasan di balik ini semua.
"Woy! Pasti lagi ngelamun mau bikin dedek bayi, ya? " Tanya Ben membuyarkan lamunan Rayden.
Rayden melirik tajam Ben. " Kalo Gue mau, Gue gak perlu bikin! " Sahut Rayden santai.
Ben membulatkan matanya sempurna. " Wow, amazing! Hebat, Bro. Caranya? " Tanya Ben takjub.
"Ambil di panti asuhan!! " Sahutnya di sertai gelak tawa.
"You Crazy! " Ucapnya.
Rayden menggelengkan kepalanya, ia pun berpamitan untuk pulang, sebab sudah 1 jam ia berada di bar ini. Hari mulai makin larut, ia harus segera pulang walau rumahnya tak senyaman ekpektasinya.
"Hati-hati, Bro. Ingat, utamakan keselamatan dari pada kecepatan! " Pesannya.
"Oke! " Ucapnya seraya mengangkat jempolnya dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
Rayden masih memikirkan ucapan Ben tadi, apakah ia harus memiliki seorang Anak? Agar hidupnya lebih berwarna, namun Rayden tak ingin memiliki anak dari Nesya, sebab tak ada rasa Cinta untuknya.
"Kau harus ku hempasan seperti butiran debu, Nesya! " Gumamnya.