
Setelah bersiap, Rayden turun ke bawah di ikuti oleh Nesya. Kebetulan Margaretha sedang bersantai di ruang tamu sembari menikmati secangkir teh.
"Eh, Ray. Duduklah, sebentar! kita minum teh dulu, " Tawarnya.
Rayden melirik jam tangannya. " Sepertinya aku tidak bisa, aku sudah telat! " Tolak Rayden, seraya berlalu pergi setelah berpamitan.
Margaretha pun memaklumi sikap Rayden yang begitu sibuk. Sebab Margaretha mengajari Rayden untuk menghargai waktu.
Margaretha melirik ke arah Nesya. " Duduk, Nes! " Perintah Margaretha.
Nesya mengangguk, kemudian duduk bersama Margaretha
Nampaknya Nesya ingin bertanya, namun ia masih segan dengan Margaretha.
"Ada apa, Nesya? " Tanya Margaretha, kala melihat ekspresi Nesya.
Nesya terlihat Ragu-ragu, namun akhirnya Nesya memberanikan diri untuk bertanya. "Tan, kenapa Rayden bersikap demikian? " Tanya Nesya.
Margaretha melirik Nesya. "Demikian bagaimana maksudmu? " Tanya Margaretha balik.
"maksud Nesya, kenapa Rayden tidak ingin memiliki Anak? " Tuturnya menjelaskan maksud pertanyaannya.
Margaretha terlihat menghela nafasnya. " Trauma masa lalu! " Jawab Margaretha.
Nesya mengerutkan keningnya. " Trauma? " Nesya mengulangi ucapan Margaretha.
Margaretha mengangguk. " Ya, Rayden trauma dengan masa kecilnya. Sebab saat usia Rayden baru 5 tahun, Rayden di tinggal pergi oleh Papanya. Hingga Rayden mengira dirinyalah akibat dari perceraian kami. Maka dari itu Rayden tidak ingin memiliki seorang Anak, karna baginya Anak hanya akan membebaninya saja! " Ucap Margaretha.
Terlihat air mata menetes dari sudut mata Margaretha, kala menceritakan kisah Rayden. Ternyata akibat dari perceraian sangatlah fatal. Margaretha tak pernah menginginkan ini semua, namun Williams telah menghancurkan Putranya sendiri.
"Apa ada cara untuk menyembuhkan Trauma Rayden? " Tanya Nesya.
Margaretha menggeleng. " Tante tidak tahu, Nesya. Rayden bisa keluar dari masa lalunya, atau malah makin terjebak! " Ucap Margaretha.
Margaretha tak tahu sampai kapan Rayden akan terus seperti ini. Namun Margaretha juga tak bisa memaksa Rayden untuk keluar dari masa lalu kelam ini. Margaretha tahu semua ini tidak mudah bagi Rayden.
Nesya pun mengangguk mengerti. Ia tahu hal ini memang sulit, namun apa salahnya jika mencoba keluar dari zona nyaman yang Rayden jalani saat ini.
Nesya tersenyum penuh Arti. Sepertinya ia mendapatkan ide yang akan menguntungkannya. " Tenang, Tante. Aku akan berusaha mengeluarkan Rayden dari masa lalu kelamnya! " Ucap Nesya penuh keyakinan.
Margaretha memandang wajah Nesya seraya tersenyum. "Benarkah? Tante berharap kau bisa membuat Rayden pulih! " Ucap Margaretha penuh harap.
"Pasti, Tante. " Jawab Nesya seraya tersenyum.
Ya, Nesya akan melakukan hal itu, namun tujuannya berbeda. Nesya akan membuat Rayden keluar dari masa lalunya dan akan membuatnya jatuh cinta padanya. Kemudian, Nesya akan lebih mudah masuk ke dalam dunia Rayden. Nesya yang memang di tugaskan oleh Lion untuk mencari bukti-bukti kejahatan Rayden.
__ADS_1
"Dengan begitu aku akan mudah menghancurkan mu, Ray! " Gumam Nesya di sertai senyum licik.
Margaretha berharap Nesya mampu membawa Rayden dari masalah ini. Sebab sudah sejak lama Margaretha menginginkan seorang Cucu dari Putra semata wayangnya.
Oleh karna Rayden Putra satu-satunya, maka Margaretha ingin Rayden memiliki seorang penerus. Margaretha tak ingin Rayden hidup sendiri, jika suatu saat Rayden sudah tua nanti.
Kemudian Nesya dan Margaretha menikmati teh yang berada di atas meja.
"Oh iya, Tante. kenapa di rumah sebesar ini tidak ada pembantu sama sekali? " Tanya Nesya penasaran.
Nesya di buat heran dengan Rayden. Ia kaya raya, rumah besar dan di cap sebagai pengusaha sukses. Tapi seorang pembantu saja tidak ada. Sungguh membuat Nesya kian heran!
Apakah Rayden rugi membuang uang yang tidak seberapa untuk membayar seorang pembantu? begitulah kira-kira fikiran Nesya.
Margaretha menghela nafasnya. " Dulu di rumah ini ada seorang pembantu, namun kau tahu apa yang dia lakukan? " Tanya Margaretha.
Tentu saja Nesya menggeleng. Sebab ia tak tahu.
"Memangnya apa yang dia lakukan, Tante? " Tanya Nesya penasaran.
"Dia mencuri uang Rayden yang nilainya tidak sedikit! " Tutur Margaretha.
Nesya membulatkan matanya seraya menutup mulutnya. "Apa? mencuri uang? lalu, apa pencuri itu sudah di temukan? " Nesya memberondong Margaretha dengan banyak pertanyaan.
Margaretha mengangguk. "Untunglah, ia berhasil di temukan. Namun uangnya tidak bisa di selamatkan! " Ucap Margaretha seraya mengingat kejadian lalu.
"Ada 1 lagi yang lebih parah! " Tutur Margaretha.
"Ada lagi, Tante? " Tanya Nesya.
"Ya, yang satu ini bukan mencuri uang. Tapi mencuri berkas-berkas penting milik Rayden! " Ucap Margaretha geram.
Nesya menutup mulutnya, Pantas saja di rumah sebesar ini tidak ada seorang pembantu. Ternyata Rayden pernah di tipu oleh pembantu yang curang.
"Pantas saja! " Ucap Nesya.
"Sudahlah, ayo nikmati tehnya! " Ajak Margaretha seraya menyeruput Teh nya.
Nesya pun kembali menikmati Teh miliknya, hari ini adalah hari bersantai bagi kedua wanita ini.
Kini, Rayden melajukan mobilnya menuju kantor milik Williams. Sebab saat ini Rayden sudah menjadi investor di kantor Williams.
"Pagi!! " Sapa para karyawan.
Semua karyawan memberi hormat padanya, kala Rayden berjalan melewati para karyawan. Rayden hanya menanggapinya dengan anggukan.
__ADS_1
Hari ini akan di adakan Meeting penting antara Alexander Grup dan perusahaan lain. Rayden wajib mengikuti meeting ini, sebab ia sebagai investor di kantor ini.
Kini semua orang sudah berada di Ruang meeting, termasuk Rayden, Williams dan Lion. Mereka sudah berkumpul di sana.
Lion menatap tajam ke arah Rayden. "Kau begitu menyebalkan, Rayden. Aku sungguh tidak sabar menghancurkan dan membawamu ke dalam sel tahanan! " Gumam Lion.
Lion benar-benar tidak menyukai Rayden, namun ia berpura-pura bersikap ramah seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tapi jauh di lubuk hatinya, Lion menyimpan dendam pada Rayden.
Sementara Rayden menatap benci ke arah Williams. Ingin rasanya Rayden memaki Williams saat ini.
"Kau begitu memuakan, Williams! " Ucap Rayden dalam hatinya.
Rayden begitu muak melihat wajah Williams, namun demi sebuah tujuan Rayden rela menahan kebencian dan juga dendamnya pada Williams.
Rayden duduk di tempat yang sudah di sediakan. Ia pun membawa berkas-berkas sebagai bahan Meeting hari ini.
"Baiklah. meeting akan segera di mulai! " Ucap Williams sebagai pemegang saham.
Meeting pun di mulai, Williams di buat kagum dengan ide-ide yang di cetuskan oleh Rayden untuk perusahaannya. Williams melihat Rayden yang sudah handal dalam urusan Bisnis, tidak seperti Lion Putranya.
"Rayden begitu cerdas, tidak salah jika dia jadi pengusaha yang sukses di usia muda! " Gumam Williams.
Williams terus memperhatikan Rayden, ia begitu kagum dengan kemampuan Rayden. Selaim cerdas, Rayden juga seorang yang ramah tamah terhadap Klien.
"Saya suka dengan ide Pak Rayden! Sepertinya kita bisa bekerja sama, Pa Williams! " Ucap klien bernama Dito.
Williams membulatkan matanya tak percaya, ini semua seperti mimpi. Bagaimana tidak! Pak Dito adalah Klien yang sejak dulu selalu menolak kerja sama dengannya, namun saat ada Rayden justru ia mau bekerja sama dengannya.
Kerja sama pun mulai di lakukan, kedua belah pihak sudah menandatangani surat kontrak. Meeting pun berakhir, Pak Dito dan sekretarisnya undur diri.
Mereka pun pergi dari ruang meeting. Rayden masih membereskan berkas-berkasnya.
"Pak Rayden. Sungguh, saya sangat takjub dengan kemampuan anda! " Ucapnya kagum.
Rayden pun manampik pujian yang di lontarkan oleh William. " Aku tidak pantas untuk pujian itu, Pak Williams! " Ucap Rayden.
Lion tersenyum miring. "Dasar bermuka dua! " Ucapnya dalam hati.
Williams menatap Putranya. " Lion, kau contoh Pak rayden. lihat dia bisa jadi orang sukses di usia muda dan ide-ide yang dia berikan sangat memuaskan! " Celetuk Williams.
Lion memutar bola mata malas. "Ya, sudah jadikan saja Dia CEO di sini! " Sahut Lion kesal. Lantas Lion pun pergi meninggalkan Williams dan Rayden.
Williams merasa tidak enak dengan sikap Lion. Ia pun meminta maaf seraya mengejar Lion.
"Lion, tunggu! " panggilnya.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Rayden yang masih berada di ruang meeting. Rayden tersenyum penuh Arti. "Kau lihat saja, Williams. Tanpa kau sadari aku akan menjadi duri dalam perusahaan mu ini! " Ucapnya.
Rayden sengaja membuat Williams kagum dengan dirinya, agar Rayden bisa masuk dalam kehidupan Williams. Cepat atau lambat Williams akan hancur oleh perbuatan Rayden.