
Lagi-lagi Williams dibuat kagum oleh kecerdasan yang di miliki oleh Rayden, sebab ia sudah mampu menggaet para kolega kelas atas.
Williams tak hentinya memuji dan mengagumi Rayden, bahkan Williams membanding-bandingkan Rayden dengan Lion.
Williams bertepuk tangan. " Wah, Pak Rayden. Anda memang hebat! Saya kagum dengan kemampuan Anda! " Pujinya.
Rayden tersenyum. " Aku tidak sehebat itu, Pak Williams. Jika di bandingkan dengan Putra Anda! " Ucap Rayden merendah.
Lion menatap tajam ke arah Rayden. "Dasar, pencari muka! " Gumamnya.
Williams melirik ke arah Lion. " Bahkan Putraku tidak bisa berbuat apa-apa! " Sindirnya.
Lion yang mendengar hal itu pun melirik tajam ke arah Williams, terlihat dadanya naik turun. Ia pun mengepalkan kedua tangannya, lantas pergi dari ruangan tersebut.
Rayden yang menyaksikan hal tersebut pun mulai kian senang, ia tersenyum puas ke arah Lion.
"Pak Lion, anda mau kemana? " Ucap Rayden berpura-pura tak enak hati.
Williams menghentikan Rayden yang hendak mengejar Lion. "Sudah, biarkan saja Anak itu berfikir! " Ucap Williams.
"Tapi.. "
"Sudah, lebih baik kita menikmati secangkir kopi! " Potong Williams.
Rayden pun mengangguk, dan mengikuti langkah Williams ke ruangannya. Mereka akan mengobrol sembari menikmati secangkir kopi.
Lion pergi menuju ruangannya, ia terlihat sangat kesal sekaligus marah dengan Williams. Bisa-bisanya dia membandingkan dirinya dengan Rayden!
"Ah! Rayden, Rayden dan Rayden saja!! " Geramnya, seraya menggebrak meja di depannya.
Lion terlihat sangat marah, dan benci dengan Rayden. Mengapa dari dulu Rayden selalu lebih unggul darinya. Terlihat nafasnya begitu memburu menahan amarah.
"Tunggu saja saatnya tiba, Rayden. Aku pastikan Kau akan menagis darah! " Ucapnya.
Lion akan membalas Rayden atas penghinaan ini. Ia berjanji akan menghancurkan Rayden.
"Lagi pula, kenapa Papa membandingkan aku dengannya. Sudah jelas aku tidak memiliki skill dalam dunia bisnis. Tapi kenapa Dia selalu memaksaku! " Ucapnya kesal.
Semua yang di katakan oleh Lion memang benar, sebab sejak dulu Lion tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis seperti Williams. Ia lebih tertarik dengan dunia kemiliteran, maka dari itu ia memutuskan memilih jurusan Kepolisian dari pada bussines.
Lion hanya tahu tentang menangkap penjahat, menembak lawan dan juga mendesak para penjahat. Bukan mencari kolega seperti yang Rayden lakukan.
__ADS_1
Rayden, dan Williams tengah berbincang di ruangan Williams.
"Siapa nama panjangmu, Pak Rayden? " Tanya Williams.
"Rayden Alexander! " Jawabnya.
Degh...
"Rayden Alexander? " Ulangnya.
Williams seperti mengenal nama itu, nama yang sama dengan nama Putranya dari Margaretha. Namun sayang, hingga kini Williams belum pernah bertemu, bahkan melihat wajahnya yang sekarang.
Williams terlihat sedang melamun, Rayden tersenyum miring. " Kau pasti mengingat sesuatu, Williams? " Gumamnya.
Rayden tahu Williams teringat akan nama itu. Namun Rayden berpura-pura tidak tahu.
"Pak Williams, Pak Williams!! " Panggilnya.
Williams tersentak dari lamunannya, dan memandang wajah Rayden.
"Iya, Pak Rayden! " Sahutnya.
"Apa ada yang salah dengan nama Saya? " Tanya Rayden.
"Maria, dan Wilson Alexander! " Ucap Rayden, sengaja Rayden menyebutkan nama itu di depan Williams agar ia tak curiga.
Williams bisa bernafas lega, ternyata Rayden yang berada di depannya bukan Putranya. Dari nama orang tuanya saja sudah berbeda.
"Apa orang tua mu pembisnis juga? " Tanya Williams.
Rayden mengangguk. "Ya, mereka seorang pembisnis juga. Tapi sayang, kami di tinggalkan oleh laki-laki yang bergelar Papa saat usia ku baru 5 tahun. " Ucap Rayden.
Degh..
Lagi-lagi ucapan Rayden membuatnya melayang pada kejadian lalu, ia merasa bersalah pada Margaretha terutama pada Rayden kecilnya.
"Aku akan membuatmu mengingat segalanya! " Ucap Rayden dalam hati.
"Kau tahu Pak Williams? Saat itu usiaku masih sangat kecil. Bahkan di usia itu, aku masih butuh kasih sayang seorang Ayah. Namun apa yang terjadi, dia malah pergi meninggalkan kami, hingga menyisakan sebuah luka yang hampir berkarat! Aku membencinya hingga saat ini, aku tak pernah ingin melihat wajahnya. Lihatlah, tanpa bantuannya aku bisa berdiri di kakiku sendiri. Membangun bisnis dan menjadi orang sukses dengan dukungan dari seorang Ibu yang hebat! " Ucap Rayden seraya melirik ke arah Williams yang terlihat tengah termenung.
Williams memandang ke arah Rayden, kata-kata Rayden begitu menyentil hatinya. Peristiwa yang Rayden alami begitu persis dengan apa yang dia lakukan di masa lalu!
__ADS_1
"Kisahnya mengingatkanku pada masa itu, masa dimana aku meninggalkan mereka berdua demi seorang wanita. Padahal Margaretha yang telah mendukungku selama ini! " Gumam Williams.
Dengan sangat tega, Williams pergi meningglkan seorang Istri dan seorang Anak yang tak berdosa demi seorang wanita yang Dia cintai, Sungguh kejam!
Williams berfikir, apakah Putranya sangat membenci dirinya? Sama halnya dengan Rayden yang membenci Ayahnya!
"Berfikirlah, dan sesali semuanya. Tapi, kau tidak akan pernah selamat dari ku! " Gumam Rayden.
Rayden sengaja mengingatkan Williams pada peristiwa itu, agar Williams menyadari kesalahannya. Namun Rayden tidak pernah berniat untuk memaafkan Williams. Walaupun Rayden percaya bahwa karma itu ada, namun lebih baik ia yang membuat karma untuk Williams.
"Kisah mu begitu mengharukan! " Ucap Williams seraya menghapus sedikit air matanya.
"Begitulah kenyataannya, Pak. Apa ada sedang memikirkan sesuatu? " Tanya Rayden.
Williams menggeleng, sepertinya mood Williams sedang buruk saat ini. Ia pun memutuskan untuk segera pergi dari ruangannya.
Rayden tersenyum setelah kepergian Williams, ia puas telah membuat mental Williams begitu terguncang.
"Itulah hukuman untuk seorang laki-laki pecundang seperti mu, Williams. Bahkan jika bisa lebih parah, dan jika tuhan mengizinkan Aku ingin membuatmu gila! " Ucap Rayden.
Rayden pun segera berdiri, dan ia harus segera pergi menuju kantor miliknya. Banyak urusan yang harus ia selesaikan di sana.
"Sial! Aku terlalu menghabiskan banyak waktuku disini! " Sesalnya.
Rayden pun melajukan mobilnya menuju kantor miliknya, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo! Baiklah. Aku akan segera kesana! " Sahut Rayden.
Seseorang mengajak Rayden bertemu di sebuah cafe yang berada tak jauh dari Rayden.
Sepertinya ada hal penting yang akan di bicarakan oleh Rayden dan orang tersebut!
Rayden memutar mobilnya, dan kembali menuju cafe tersebut.
30 menit kemudian, Rayden sudah sampai di tempat tujuan. Lantas, Rayden masuk ke dalam cafe dan melihat seorang Pria tengah duduk dan menunggu dirinya.
"Maaf, saya telat! " Ucap Rayden.
"Tidak apa! Bagaimana dengan kerja sama yang anda janjian, Pak Rayden? " Ucapnya.
"Baiklah. Saya setuju menandatangani kontrak kerja sama, sebab kau telah membantuku! " Sahut Rayden.
__ADS_1
Pria di hadapannya pun menyodorkan surat yang harus di tanda tangani oleh Rayden. Dan mereka sudah sepakat untuk bekerja sama.