CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 20


__ADS_3

keesokan paginya, Rayden bergegas menuruni tangga. Margaretha, dan Nesya tengah menunggu Rayden di ruang makan. namun Rayden sama sekali tidak menghampiri keduanya. Rayden melewati keduanya seraya membuka kulkas dan mengambil susu.


Rayden tak menyapa ataupun berbicara sepatah katapun.


"Ray! " panggil Margaretha.


Rayden hanya menoleh sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Ray, Tunggu!! " teriak Margaretha.


Rayden menghela nafasnya seraya berbalik. " ada apa? " sahutnya malas.


Margaretha menghampiri Rayden, ia pun meminta maaf atas sikapnya yang keterlaluan pada Rayden.


"sudahlah, Ma. untuk apa meminta maaf, jika pada akhirnya kau lebih memikirkan Pria pecundang itu dari pada Aku, Putramu sendiri! " ucap Rayden.


"tapi, Ray.. "


ucapan Margaretha terhenti oleh gerak tangan Rayden.


Rayden tak ingin mendengar pembelaan apapun tentang Williams, sebab bagi Rayden Williams adalah seorang pecundang dan racun bagi Margaretha.


Rayden berjalan melewati Margaretha, dan menuju mobilnya.


Rayden akan datang ke kantor Williams, rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat Rupa sang Papa. namun bukan untuk melepas Rindu, tapi untuk menghancurkannya. hal yang serupa Williams lakukan pada Rayden dahulu.



Rayden telah sampai di kantor Williams, ia pun turun dari mobil mewahnya seraya berjalan masuk ke dalam kantor.


semua orang yang berada di sana tersenyum, sekaligus takjub bisa bertemu langsung dengan pengusaha sesukses, Rayden.


Rayden hanya tersenyum miring, ia pun menunjukan Kharismanya pada semua orang di kantor Williams. hingga semua mata menuju ke arahnya.


Rayden menghampiri resepsionis, seketika itu pula resepsionis pun terpana dengan ketampanan yang di pancarkan oleh Rayden.


"bisa saya bertemu dengan William? " tanya Rayden.


tentu saja resepsionis mengiyakan dan mengantar Rayden ke ruangan Williams. kebetulan Williams sedang berada di ruangannya.


Rayden berjalan di belakang Jessy, kemudian Jessy mengetuk pintu ruangan Williams.

__ADS_1


"masuk! " sahut Williams.


Jessy pun masuk ke dalam ruangan Williams, Williams menatap ke arah Jessy.


"ada apa, Jes? " tanya Williams.


"maaf, Pak. ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda! " ucap Jessy.


Williams mengerutkan keningnya. " siapa? " tanya Williams heran.


tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki Rayden, betapa terkejutnya Williams kala melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya.


"Rayden! " ucap Williams. ia pun berdiri dan menghampiri Rayden.


suatu kehormatan bagi Williams, sebab pengusaha sukses mengunjungi perusahaan kecil miliknya.


"Wah, Pak Rayden. anda datang ke kantor saya? ada apa gerangan? ini adalah suatu kehormatan bagi perusahaan kami! " ucap Williams.


Rayden hanya tersenyum palsu pada Williams. " bahkan kau tidak mengenali Putramu sendiri, Wiliams. tapi tunggu-tunggu! bukankah dia adalah orang yang ada di rekaman itu, dia juga yang saat itu aku lihat di restoran itu? " gumam Rayden.


Williams tersenyum ke arah Rayden, ia pun mempersilakan Rayden duduk. " silakan duduk, dan kita akan berbincang sedikit! " ucap Williams.


Rayden mengangguk, dan mengikuti Williams untuk duduk. " terimakasih! " sahut Rayden.


"ngomong-ngomong, ada apa Pak Rayden datang kemari? " ucap Williams.


bahkan sampai saat ini Williams tidak menyadari bahwa Rayden adalah putranya bersama Margaretha.


terakhir Williams melihat Rayden saat usianya berusia 5 tahun. namun sudah sering kali Williams meminta Margaretha untuk mempertemukannya bersama Rayden, namun Margaretha selalu menolaknya dan tidak mempertemukan keduanya.


Rayden menghela nafasnya. "saya ingin menanam saham di kantor anda! apakah bisa? " ucap Rayden.


bola mata Williams begitu berbinar, kala mendengar Rayden akan menanam saham di perusahaan miliknya. ini adalah langkah yang baik untuk perusahaannya. sebab Rayden begitu berpengaruh dalam dunia bisnis.


"tentu, tentu bisa, Pak! " ucap Williams semangat.


Rayden memalingkan wajahnya sejenak. " kau tidak tahu saja, ini adalah langkah awal untuk menghancurkan mu! " gumam Rayden.


awalnya Rayden ingin menghajar Williams, dan memaki dirinya. namun hal itu tidak etis dan tidak seru. Rayden ingin bermain-main terlebih dahulu, sebelum Williams hancur. mungkin secara perlahan Williams akan hancur dengan sendirinya.


Rayden sengaja menanam saham dalam jumlah besar di perusahaan Williams, sebab ia sudah punya rencana licik untuk menghancurkan Williams sampai akar-akarnya.

__ADS_1


Rayden menatap Williams sembari tersenyum. " baiklah! Jika begitu saya akan menjadi investor, sekaligus menanam saham sebesar 40% disini! " ucap Rayden.


bola mata Williams melotot sempurna, ia tak habis fikir dengan Rayden. ia begitu percaya dengan perusahaannya. hingga menanam saham sebesar itu.


"apa anda tidak salah? " ucap Williams masih tidak percaya.


Rayden menyipitkan matanya. " kenapa? apa anda tidak setuju, atau masih kurang? " tanya Rayden.


Williams menggeleng. "tidak, tidak. bukan tidak setuju atau pun kurang, namun itu sudah cukup bagi saya. hanya saja saya tidak percaya! Anda menanam saham dengan jumlah besar. padahal kita baru bertemu! " tutur Williams.


"aku sudah banyak mendengar tentang perusahaan mu ini, Pak Williams! " sahut Rayden.


"jangankan perusahaan mu, bahkan aku sudah tahu seluk beluk tentang mu. bagaimana kau menghancurkannya Ibuku, dan mengorbankan masa depanku. ingin rasanya aku bertanya mengapa dulu kau pergi meninggalkan kami? tapi aku tahu ini bukan waktu yang tepat! " gumam Rayden.


Williams begitu tersanjung dengan pujian Rayden.


kini Rayden sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Alexander Grup.


Rayden sudah resmi menjadi pemegang saham sekaligus investor di perusahaan ini.


ini adalah langkah awal bagi Rayden untuk masuk ke dalam perusahaan Williams, ia akan mencari kelemahan tentang perusahaan ini dan akan menghancurkannya secara perlahan.


"Tunggu saja kehancuran mu, Williams! " gumam Rayden.


Rayden menjabat tangan Williams, sebagai tanda serah terima atas kontrak kerja sama mereka.


Williams begitu senang, sebab Rayden mau bergabung dengan perusahaannya. Williams berharap dengan adanya Rayden bisa membuat perusahaannya maju dengan sangat pesat.


Williams tidak menaruh curiga sedikitpun pada Rayden, ia hanya mengira niat Rayden baik. tanpa Williams sadari ini adalah langkah awal menuju kehancurannya.


Rayden pun berpamitan seraya melangkah pergi menuju ruangan Williams.


"bahkan jika aku mau, aku bisa membeli perusahaan mu ini. namun tidak menyenangkan jika kau harus hancur dengan mudahnya! " gumam Rayden seraya melangkah pergi.


Rayden menuju mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


"jadi yang membuat Mama down itu Williams, dia orang yang sama yang aku lihat saat ini! sebenarnya apa yang dia inginkan? " gumam Rayden.


sementara Williams, ia merasa senang. ia seperti mendapatkan sebuah lotre. hari ini adalah hari keberuntungan baginya. sebab ia tak menyangka jika Rayden seorang pengusaha sukses di kota ini mau bekerja sama dengan perusahaan remahan miliknya.


Williams tak menyadari niat jahat yang Rayden rencanakan. Williams tak tahu jika Rayden adalah putranya yang selama ini dia cari. ia tak menyadari bahwa putra yang dulu ia tinggalkan sudah sesukses ini.

__ADS_1



__ADS_2