CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 12


__ADS_3

Child Free 12


Pagi hari tiba, Rayden bersiap pergi ke kantor. Ia tak lupa sarapan bersama Margaretha dan Nesya.


"Pagi, Ma!! ". Sapa Rayden


"Pagi juga, Ray!! ". Sahut Margaretha.


Rayden pun duduk dan mengambil Roti tawar, kemudian mengoleskan selat kacang diatasnya.


Rayden menikmati sarapannya dengan sangat nikmat hari ini.


"Untuk hari ini, Nesya gak usah masuk ngantor dulu, ya. " Ucap Margaretha.


Rayden menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arah Margaretha.


"Baguslah, setidaknya aku tidak akan melihat wajah si buruk rupa itu!! ". Gumam Rayden pelan.


Nesya yang mendengar gumamn Dayden pun melototkan matanya ke arah Rayden.


"Apa tadi katamu?? ". Tanya Nesya memastikan ucapan Rayden.


"Tidak ada!! ". Sahut Rayden santai.


Rayden segera menghabiskan sarapannya beserta segelas susu.


"Udah ya, Ma. Ray mau berangkat!! ". Pamit Rayden.


"Hati-hati di jalan, Ray!! ". Sahut Margaretha.


Rayden pun mengangguk dan melambaikan tangannya pada Margaretha.


Kemudian Rayden pergi kedepan pintu untuk kemudian mengeluarkan mobilnya dari bagasi. Kala rayden mulai melajukan mobilnya, tiba-tiba dari kaca spion Rayden melihat seorang pria tengah clingukan ke arah rumahnya. Seperti sedang mencari seseorang.


"Siapa lelaki itu dan mau apa dia?? " Gumam Rayden pelan.


Rayden memperhatikan gerak gerik pria tersebut, nampak pria itu begitu mencurigakan. Tak lama kemudian pria itu meletakan sebuah kotak dan bergegas pergi.


Rayden yang penasaran pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju kotak yang di letakan di dekat pagar rumahnya.


"Kotak apa ini?? ". Tanya Rayden, kala melihat sebuah kotak berwarna merah.


Rayden meraih kotak tersebut dan memeriksa untuk siapa kotak tersebut.

__ADS_1


"Nesya! ". Gumam Rayden.


Rayden membaca nama yang tertera pada kotak tersebut. Ternyata kotak itu ditujukan untuk Nesya.


Rasa penasaran Rayden mulai muncul, ia penasaran dengan apa yang berada di dalam kotak itu. Ketika Rayden hendak membuka kotak itu, tiba-tiba Nesya muncul dan merebut kotak itu dari tangan Rayden.


"Jangan buka, itu paket punyaku!! ". Teriak Nesya dari dalam.


Nesya pun menghampiri Rayden dan merebut kotak itu, sebelum Rayden membukanya.


"Kau ini apa-apaan, sembarangan membuka paket orang! ". Ucap Nesya tidak suka.


"Aku hanya penasaran dengan isi dalam kotak itu, sebab aku melihat orang yang mengirimnya sangat mencurigakan! ". Tutur Rayden.


Terlihat wajah gugup Nesya memperlihatkan bahwa kini dirinya tengah gugup luar biasa.


"Gawat, bagaimana jika Rayden membukanya dan tahu semuanya. Bisa kacau!! ". Gumam Nesya.


Rayden merebut kotak itu dari tangan Nesya dan hendak membukanya. Namun lagi-lagi gangguan datang, kini ponselnya yang berdering.


Drtt.. drtt.. drtt..


"Ahh siapa yang menelpon?? ". Ucap Rayden.


"Hallo, ada apa Winda. Mengapa kau menganggu ku?? ". Tanya Rayden dengan nada kesal.


"Maaf pak, jika saya mengganggu waktunya. Namun saya ingin mengingatkan jika pagi ini ada meeting yang sangat penting!! ". Ucap Winda disebrang telepon.


"Oh iya, aku hampir saja lupa. Baiklah aku akan segera ke kantor sekarang!! ". Ucap Rayden.


Raydenpun mematikan teleponnya dan memberikan kotak itu pada Nesya, kini Rayden tak peduli dengan isi kotak itu. Yang terpenting saat ini meeting yang sangat penting.


"Ambil ini. Aku harus pergi! ". Ucap Rayden, ia pun menaiki mobilnya dan pergi dari sana.


Nesya bisa bernafas dengan lega, ketika Rayden sudah pergi dan tak lagi peduli dengan kotak yang berada ditangannya.


"Hampir saja aku ketahuan. Piuhhh!! ". Gumam Nesya, ia pun mengelap keringat yang sempat mengucur dikeningnya.


Nesya pun pergi ke dalam rumah dan terlihat clingukan ketika di ambang pintu. Ia takut jika Margaretha melihatnya tengah membawa sesuatu. Ketika keadaan aman dan tak ada tanda-tanda Margaretha keluar dari kamarnya, Nesya pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan kotak itu.


"Nanti saja aku membukanya jika keadaan rumah sudah sepi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membukanya. Lebij baik aku sembunyikan kotak itu di tempat yang sulit dijangkau!! ". Gumam Nesya.


Nesya tengah mencari tempat yang aman untuk menyembunyikannya, dan tempat yang Nesya pilih adalah sebuah nakas yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


"Sepertinya disini aman!! ". Ucap Nesya.


Nesya pun bergegas memasukan kotak itu ke dalam nakas tersebut dan tak lupa menguncinya.


Setelah berhasil menyimpan kotak itu dengan aman, Nesya pun bergegas keluar dari kamarnya.


"Nesya, kamu habis ngapain?? ". Tanya Margaretha.


Nesya kaget oleh kedatangan Margaretha yang tiba-tiba, namun sedetik kemudian Nesya bisa menetralisir rasa terkejutnya.


"Ehh, Tante. Aku abis istirahat aja ko, Tante!! ". Ucap Nesya berbohong.


Mimik wajah Nesya menunjukan bahwa Nesya sedang gugup. Namun, Margaretha tak menyadari kebohongan Nesya.


"Oh, yaudah. Pasti kamu capek banget kan?? ". Tanya Margaretha.


"Mmm, iya tente! ". Sahut Nesya.


"Yaudah, sekarang kamu istirahat aja gih. Tante juga mau istirahat!! ". Ucap Margaretha.


"Yaudah, tante aja duluan. Nesya mau ke dapur, mau beres-beres! ". Ucap Nesya.


Margaretha pun segera pergi menujun kamarnya dan tak lupa menguncinya dari dalam.


Di dalam kamar Margaretha bukannya istirahat malah dia mengambil sebuah foto dari dalam laci.


Ia memandang foto itu dengan sangat lama, terlihat tetesan bening jatuh dari pipinya.


"Kenapa kamu tega meninggalkan aku, Mas. Kau meninggalkan aku dan anak kita, Ray. Hanya demi wanita murahan itu!! ". Ucap Margaretha pilu.


Walaupun sudah 21 tahun berlalu, sejak suaminya Wiliams Alexander pergi meninggalkannya dan Rayden. Namun rasa Cinta itu masih ada dalam hati Margaretha. rasa rindu ingin berjumpa pun kian menggebu. Walau Margaretha tahu rasa yang ia miliki tak pantas.


Margaretha ingin sekali berjumpa dengan Williams, ia ingin memberitahu bahwa kini Putranya telah sukses dan berhasil.


"kau harus tahu, Willi. Rayden putra yang kau tinggalkan sudah beranjak dewasa. ia sudah bisa sukses seperti dirimu. tidak ingatkah kau padaku, setidaknya ingatlah pada Rayden!! ". ucap Margaretha.


walau luka hati yang ditorehkan oleh Williams sangat perih, namun rasa itu masih sama. rasa yang dulu Margaretha miliki untuk Williams tidak pernah berubah barang sedikitpun.


"aku tahu, aku bisa terbunuh dengan rasa ini. namun entah mengapa aku masih saja mengharapkan kau kembali. walau ku tahu itu tak mungkin, sebab kau telah bahagia bersama gundik itu. " ucap Margaretha.


ia ingin menghapus kenangan bersama Williams, namun begitu sulit melupakan kenangan itu. ya, Margaretha amat mencintai Williams dan pernikahan mereka dijalankan atas dasar perjodohan bukan karna Cinta. maka dari itu Williams pergi meninggalkan Margaretha.


hanya Margaretha yang mencintai Williams, sementara Williams mencintai wanita lain dan kini ia sudah bahagia bersama wanita tambatan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2