CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 33


__ADS_3

Lion segera menghubungi Nesya, ia ingin tahu bagaimana kabar Nesya sekaligus kelanjutan kasus yang tengah di selidiki.


"Hallo, Nesya! Apa kau sudah mendapatkan bukti itu? " Tanya Lion sesaat panggilan tersambung.


"Belum. Aku masih belum mendapatkan Bukti itu! Memangnya kejahatan apa yang Rayden lakukan? " Nesya balik bertanya sekaligus penasaran.


Lion tidak menjawab pertanyaan Nesya, ia tak mungkin mengatakannya pada Nesya.


"Lion. Kau masih di sana? " Ucap Nesya, menyadari tak ada jawaban dari Lion.


Sedetik kemudian Lion menghela nafasnya. " Iya, aku masih di sini! Ya sudah, jika kau sudah menemukan buktinya segera hubungi aku! Ingat, jika kau berhasil maka aku akan segera menikahi mu. " Ucap Lion.


Mendengar hal itu hati Nesya begitu berbunga-bunga, ia akan segera mendapatkan bukti itu agar ia bisa segera keluar dari rumah ini, dan hidup bahagia bersama Lion.


}Nesya pun menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, ia begitu bahagia bisa bertemu dengan Pria seperti Lion. Nesya sangat mencintainya.


Lion pun menghubungi sahabatnya, sudah lama ia tak saling memberi kabar dengannya.


[Hallo, Lion. Ada apa kau menelepon ku? ] Tanya seseorang di sembarang telepon.


Lion nampak tersenyum kala mendengar suara lembut dari sahabatnya tersebut. Entah mengapa ia begitu senang mendengar suaranya.


[Hallo! Lion! ] Tanyanya sekali lagi.


Detik kemudian Lion tersadar dari lamunannya, ia pun segera mengatur nafasnya.


[Ya. Sorry, sorry! Apa kabarmu, Jenni? ] Tanyanya.


Nampaknya Lion bukan hanya mengagumi Jenni sebagai Sahabat, namun sepertinya ia menganggap sebuah persahabatannya sebagai sebuah cinta. Walaupun Lion tahu bahwa Jenni adalah wanita penghibur.


[Baik. Bagaimana denganmu? ] Sahutnya.


Jenni hanya menganggap Lion sebagai sahabatnya tidak lebih, sebab Jenni mencintai Pria lain.


[Baik. Apa aku boleh main ke rumahmu? ]


Jenni mengernyitkan dahinya. [ Main ke rumah? Untuk apa? ] Tanyanya heran.


[Main saja! ] Sahut Lion.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Jenni mengizinkan Lion untuk main ke tempatnya. Tentu saja Lion sangat senang dengan jawaban Jenni.


Sepertinya Lion mencintai Jenni, bukan Nesya namun Lion menjadikan Nesya sebagai umpan dan perantara untuk masuk dalam kehidupan Rayden.


Lion segera bersiap, ia akan segera pergi ke rumah Jenni.


Sesampainya Lion di rumah Jenni, ia pun mengetuk pintu rumah yang sederhana tersebut.


Jenni keluar, dan membuka pintu. " Lion. Kau datang? " Ucap Jenni.


Lion tersenyum, dan clingukan seperti mencari seseorang.


"Papa! " Teriak seorang bocah perempuan, akhirnya yang di cari oleh Lion muncul juga.


Lion tersenyum, dan menggendong Putrinya dari Jenni. Ya, mereka berdua sudah memiliki seorang Putri namun mereka tidak pernah menikah sama sekali, dan Jenni menolak menikah dengannya.


"Hallo, anak cantik! Apa kabarmu, Diva? " Ucap Lion lembut seraya mencium pipinya yang gemoy.


Tak ada yang tahu bahwa Lion telah memiliki Putri dari Jenni, keluarga maupun Nesya sendiri pun tidak tahu akan hal ini. Lion sukses menyembunyikan kebenaran ini dari orang-orang.


Putri yang di ketahui bernama Diva itu pun sempat Lion tak tahu bahwa ia adalah darah dagingnya, sebab Jenni tak memberi tahukan tentang ini padanya. Diva sendiri adalah anak dari kesalahan Lion, saat itu Lion tengah mabuk berat di bar tempat Jenni bekerja sebagai PSK dan terjadilah hubungan terlarang antara keduanya yang akhirnya menghasilkan Diva.


"Menikahlah denganku! Kasihan Diva, dia masih butuh sosok Ayah. " Pintanya.


Lion menyerah, untuk meminta Jenni menikah dengannya. Ia pun akhirnya memilih berteman dengan Jenni dan Jenni menyetujuinya.


"Aku setuju, jika kita hanya berteman. Aku tidak ingin ada pernikahan antara kita! " Sahut Jenni, jujur saja kata-kata Jenni bagaikan sebuah sembilu namun Lion berusaha tersenyum walau hatinya teriris.


Lion sempat terpuruk untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia bertemu dengan Nesya yang sama-sama patah hati oleh sebuah keadaan, dan Lion mendekatinya tentu saja tujuannya hanya untuk melancarkan aksinya.


Setelah menjalin hubungan cukup lama dengan Nesya, akhirnya Lion memutuskan untuk menyuruh Nesya agar masuk dalam kehidupan Rayden.


"Nesya. Kau mencintaiku, bukan? " Tanya Lion di sela pertemuan mereka, tentu saja Nesya mengangguk, sebab setelah mengenal Lion kini hidupnya berwarna.


Lion tersenyum, ia membingkai wajah Nesya dengan jemarinya. " Kau mau melakukan apapun untukku? " Tanyanya lagi.


Nesya tersenyum dan mengangguk. " Tentu saja. Apapun! " Sahutnya sembari memandang wajah Lion.


"Menikahlah dengan Rayden! " Ucap Lion.

__ADS_1


Sontak saja Nesya menatap Lion dengan tatapan tak percaya, ia tak habis fikir mengapa Lion menyuruhnya untuk menikah dengan orang lain.


"Mengapa? " Tanyanya tak percaya.


"Kau tahu bukan, Nesya? Aku adalah seorang polisi. Aku di tugaskan untuk mencari bukti, dan menjebloskan Rayden ke penjara. Setelah itu aku berjanji akan menikahimu! " Ucapnya dengan penuh keyakinan, dan terdengar serius. Namun sayang, semuanya hanya bualan semata.


Tentu saja perkataan Lion membuat Nesya di lema, namun detik kemudian ia pun mengangguk dan menyetujui permintaan Lion untuk menikahi Rayden.


Lion senang, akhirnya misinya akan segera tercapai dengan bantuan Nesya, ia bisa menjebloskan Rayden ke dalam penjara sekaligus membalaskan dendamnya.


Lion Tersenyum penuh kemenangan, ia pun memeluk Nesya dengan sangat erat. Begitu pula dengan Nesya, ia memeluk Lion dengan sangat erat sebab Nesya amat mencintai Lion.


' Bagus, Nesya. Kau akan menjadi jalan bagiku! ' Batinnya.


Lion mengurai pelukannya, ia pun mencium kening Nesya sekilas kemudian bergegas pergi dan meninggalkan Nesya.


"Aku harus pergi! " Ucapnya.


Nesya mengangguk dan membiarkan Lion pergi dengan mobilnya, ia pun melambaikan tangannya melepas kepergian kekasih hatinya.


"Papa! " Suara Diva membuyarkan lamunan Lion. Ia pun menatap Putrinya dan tersenyum.


"Iya, ada apa, sayang? " Sahutnya lembut.


Jenni mempersilakan Lion duduk, dan Lion pun mengangguk sembari menggendong Diva ke sofa.


Lion meletakan barang bawaannya di atas meja, Diva tersenyum girang kala melihat mainan yang baru saja Lion belikan untuknya.


Diva mengambilnya, dan memperlihatkannya pada Jenni. " lihat, Ma. bagus, kan? " Tanyanya.


Jenni mengangguk, dan tersenyum. " Iya, bagus! " Sahutnya.


Jenni, dan Lion mereka tak saling bicara mereka hanya saling pandang saja.


Hingga akhirnya Jenni bertanya lebih dulu. " Lion. Apa kau sudah menikah? " Tanyanya.


Lion menatap Jenni, ia pun menggeleng. " Belum! " Sahutnya.


Jujur saja hingga kini di hatinya masih ada namanya, namun Jenni selalu acuh padanya.

__ADS_1


"Ma. Pa. kenapa kalian tidak tinggal bersama saja? lihat, teman-teman ku mereka tinggal bersama Ayah, dan juga Mama mereka. " Celetuk Diva, sontak saja Jenni, dan Lion saling pandang satu sama lain.


Jenni, maupun Lion. Mereka berdua kehilangan kata-kata untuk pertanyaan Diva kali ini. Mereka tak tahu apa yang harus mereka katakan.


__ADS_2