
sebelum pulang kerumah Nesya menyempatkan diri masuk ke dalam tempat pembelanjaan untuk membeli pesanan Margaretha.
ketika pesanan Margaretha sudah cukup, Nesya pun segera pergi dan pulang.
"uhh, capek sekali! " ucap Nesya ketika di dalam mobil.
tak berapa lama kemudian, Nesya sudah sampai di rumahnya.
Nesya meletakan pesanan Margaretha di atas meja makan. sepertinya Margaretha sedang berada di dalam kamarnya.
Nesya bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk melakukan ritual mandi.
"lelah sekali hari ini! " ucap Nesya.
Nesya berjalan menuju kamar mandi. ia pun melakukan ritual mandi cukup lama.
setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Nesya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk semuanya.
Nesya tengah memotong sayuran yang hendak di masak. Nesya juga mengambil ayam di dalam freezer.
Nesya begitu sibuk dengan aktivitas masaknya, hingga tak menyadari kehadiran Margaretha.
"Masak apa, Nes? " tanya nya.
Nesya tersentak kaget. " Mama, kapan datang? aku lagi masak ayam rica-rica sama sayur! " sahut Nesya sembari menoleh sekilas, kemudian sibuk memotong kembali.
"sini biar Mama bantuin? " tawar Margaretha.
"nggak usah, Tante. Tante duduk saja dan lihat aku masak aja, ya! biar Tante gak capek! " ucap Nesya dengan lembut.
Margaretha menghela nafasnya, kemudian ia duduk di depan pantry dan memperhatikan Nesya memasak.
hingga akhirnya, Nesya sudah selesai memasak masakan kesukaan Rayden.
Margaretha mendekat, kemudian mencium baunya. " wangi banget, Nes! " puji Margaretha.
Nesya hanya tersenyum, kala Margaretha memujinya.
Nesya dan Margaretha pun menghidangkan makanannya di atas meja makan, untuk kemudian menunggu Rayden pulang dari kantor.
tak lama kemudian, Rayden sudah pulang.
"Ray, kamu sudah pulang? ayo sini makan dulu! " ucap Margaretha.
__ADS_1
Rayden terlihat melirik ke arah Margaretha sekilas. " Ray, mandi dulu saja! " ujarnya.
saat ini tubuh Rayden sudah benar-benar lengket oleh keringat. sebab, seharian ini ia begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Margaretha mengangguk dan membiarkan Rayden mandi terlebih dahulu.
Rayden pun menaiki tangga, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nesya. begitu dingin sikap yang di tunjukan oleh Rayden pada Nesya.
ada rasa nyeri dalam hati Nesya, kala melihat kelakuan Rayden. walaupun Nesya tahu bahwa Rayden tidak mencintai dirinya, namun haruskah sedingin itu sikapnya padanya? entahlah!
Nesya hanya bisa menunduk dalam ketika mendapati kenyataan ini. kenyataan bahwa ia harus mendapati seorang Pria yang arogan dan sedingin Es, namun di sisi lain Rayden juga seorang Pria menyebalkan.
Margaretha dan Nesya tengah duduk di meja makan, mereka tengah menunggu Rayden.
"Nesya, Mama harap kalian segera memiliki momongan! " ucap Margaretha tiba-tiba.
Nesya melirik ke arah Mertuanya. " sepertinya Rayden tidak berminat pada saya! " ucap Nesya jujur.
ya, seperti yang Nesya ketahui bahwa selama menikah. Rayden tak pernah sedikitpun menyentuh dirinya. ia terkesan tak menyukai dirinya atau memang Rayden seorang gay? itu adalah sebuah pertanyaan dalam hati Nesya!
Margaretha hanya tersenyum pada Nesya. " kau belum memahami sifatnya saja. cobalah untuk mendekatkan diri padanya! Rayden memang orangnya dingin, namun sedingin apapun sebuah Es ia akan meleleh juga, bukan? nah, sama halnya dengan Rayden. perlakukan dia dengan baik. jangan pernah membantah, sebab Rayden tak suka di bantah!! " ucap Margaretha memberi wejangan.
Nesya pun mengangguk mengerti. tiba-tiba Rayden datang dan menghampiri 2 wanita yang beda usia ini.
"lagi ngomongin apa sih, Ma? " tanya Rayden kepo.
Margaretha menghela nafasnya. "Ray, Mama pengen kalian segera memiliki momongan!! " ucap Margaretha pelan.
duaaaarrr...
ucapan Margaretha seolah bagaikan petir untuk Rayden. mengapa Margaretha harus membicarakan soal anak pada Rayden. padahal Rayden tidak suka berbicara soal anak.
Rayden yang hendak mengambil nasi pun urung ia lakukan. sebab ucapan Ibunya bagaikan sebuah belati bagi Rayden.
"cukup berbicara soal anak! aku tak ingin mendengar hal itu. anak, anak dan anak saja. tidak bisakah Mama membicarakan hal yang lain? " ucap Rayden marah.
ya, begitulah Rayden. ketika mendengar kata anak. ia akan sangat murka. sebab Rayden Sangat membenci hal itu.
Rayden pergi menaiki tangga tanpa sepatah katapun. bahkan Rayden tak sempat makan.
Hati Margaretha begitu sakit, kala Rayden bersikap seperti itu. ia tak mengerti, mengapa Rayden masih menyimpan luka masa lalunya.
Margaretha memegang dadanya, ada rasa sedih bercampur kecewa oleh ucapan Rayden.
__ADS_1
Margaretha hanya terdiam sembari menunduk dalam. ia tak mengerti harus melakukan apapun. Nesya menyadari bahwa saat ini Margaretha tengah bersedih.
"Tante! " panggilnya.
namun Margaretha tak menyahuti panggilan Nesya, Margaretha justru berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Tante! " panggil Nesya kembali.
Nesya hendak mengejar Margaretha, ia mengikutinya. namun langkah ya terhenti, kala Margaretha mengangkat tangannya agar Nesya berhenti tak lagi mengikuti dirinya.
Nesya hanya bisa berdiri mematung sembari melihat kepergian Margaretha ke dalam kamarnya.
Nesya bertanya-tanya mengapa Rayden selalu marah, ketika di tanya soal anak. apakah yang terjadi dengan Rayden?
"ada apa dengan Pria Arogan itu sebenarnya? apakah dia normal atau tidak? " gumam Nesya.
jujur saja, banyak pertanyaan di kepala Nesya mengenai Rayden. apakah Rayden seorang pria normal atau tidak?
sepertinya Nesya harus mencari tahu soal ini. ia harus mencari soal Rayden membenci anak-anak.
apakah luka masa lalu atau karna Rayden memang tak ingin memiliki seorang anak?
Margaretha masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci pintunya dan duduk di kasurnya.
"lihatlah, ini semua karna perbuatan mu. Rayden hingga tak ingin memiliki seorang anak! ini semua karna kau. Wili! " ucapnya lirih sembari memandang sebuah foto Williams.
Margaretha mengutuk perbuatan Williams yang membuat Rayden menjadi seperti ini. Rayden merasa jadi seorang anak yang tidak berguna, menyusahkan dan menjadi alasan perceraian kedua orang tuanya.
padahal itu semua tidaklah benar, Williams pergi buka karna Rayden. namun karna Williams mencintai wanita lain, sebab itulah Williams meninggalkan Rayden dan Margaretha.
"kau sekarang Bahagia bersama keluarga barumu, tapi pernahkah kau memikirkan bagaimana aku dan Rayden disini? ya, pergi meninggalkan sebuah luka dan trauma yang berkepanjangan untuk putraku. kau menghancurkannya secara perlahan. Williams!! " ucap Margaretha.
ingin rasanya Margaretha menemui Williams untuk meminta pertanggung jawaban atas semua ini. ia ingin meminta keadilan untuk putranya.
Nesya pun membereskan masakannya kembali. malam ini tak ada satu keluarga pun yang makan, termasuk dirinya sendiri.
Nesya enggan makan, sepertinya rumah ini begitu tegang oleh terlihat retak di dalamnya.
Nesya menaiki tangga, dan menuju kamarnya. Nesya melihat Rayden tengah meringkuk di pojokan sembari memegang lututnya.
Nesya mendekati Rayden. " kau kenapa, Ray? " tanya Rayden.
baru kali ini Nesya melihat Rayden seperti ini. padahal Rayden seorang Pria yang dingin yang berwibawa. namun kali ini Nesya melihat sisi lain dari Rayden Alexander.
__ADS_1
Rayden tak bergeming, ia masih memeluk lututnya. Rayden trauma jika harus mendengar seseorang membicarakan seorang anak di depannya.
semua itu karna luka masa lalu yang Rayden alami sangat hebat dan luar biasa. hingga sulit untuk melupakan hal itu.