CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 27


__ADS_3

Nesya terus memohon ampun pada Rayden, tetapi Rayden sama sekali tak menggubrisnya. Rayden yang begitu marah, sebab Nesya sudah berani masuk dalam ruangan terlarang miliknya.


"Ampun, Ray. Tolong, lepaskan aku!! " Ucap Nesya mengiba.


"Diam kau! ini adalah hukuman bagi pembangkang seperti kau! " Bentak Rayden penuh penekanan.



Nesya terus memohon, namun Rayden seolah-olah tidak mendengar permintaan Nesya. Ia terus saja mengguyur tubuh Nesya, hingga Nesya sangat kedinginan.


"Astaga, Rayden! apa yang kau lakukan? " Ucap Margaretha kaget.


Tiba-tiba Margaretha datang dan alangkah kagetnya ia mendapati Nesya di perlakukan seperti itu, lekas Margaretha membantu Nesya dan keluar dari kamar mandi.


"Apa-apaan ini, Ray. Apa Mama pernah mengajari mu seperti ini? " Ucap Margaretha marah.


Rayden diam tanpa bergeming, kenapa Ibunya datang di saat yang tidak tepat?


Margaretha memapah tubuh Nesya, wajah Nesha nampak sangat pucat, pandangannya kian memudar dan Nesya pun pingsan.


"Nesya! " Panggil Margaretha seraya menepuk-nepuk pipinya.


Rayden hanya melirik sekilas, kemudian memalingkan wajahnya. Ia berpura-pura tidak melihat hal tersebut.


"Ray, tolong Mama! bawa Nesya ke atas kasur! " Perintah Margaretha.


Awalnya Rayden diam, namun karna Margaretha terus memaksa akhirnya Rayden mengangkat tubuh Nesya ke atas kasur dengan sangat terpaksa.


"Iya, iya! " Sahut Rayden.


Ia pun memindahkan tubuh Nesya ke atas kasur. "Wanita ini menyusahkan sekali! " Gumamnya.


"Panggilkan Dokter! " Perintah Margaretha.


Rayden menuruti perintah Margaretha, lekas Rayden menelpon Dokter keluarganya.


"Wait, Dokter sedang dalam perjalanan! " Ucap Rayden.


Margaretha benar-benar di buat cemas dengan keadaan Nesya, ia pun mengganti pakaian Nesya dengan pakaian yang kering.


Tak berapa lama kemudian, Margaretha menatap tajam Rayden, lantas membawanya menjauh dari Nesya.


"Rayden. Apa yang kamu lakukan? " Tanyanya dengan nada tinggi.


"Apa? " Jawabnya, Rayden seolah-olah tidak mengerti.


"Lihat, Nesya. Apa yang kau lakukan padanya? apa kau ingin seperti Papamu, begitu? " Ucap Margaretha marah.


Nampaknya Rayden begitu marah dengan ucapan Margaretha yang menyamakannya dengan Williams. "Diam! jangan samakan aku dengan pecundang itu. Aku tidak sudi! " Ucap Rayden dengan nada marah.


Margaretha tersentak kaget, kala melihat kemarahan Rayden.


Saat mereka dengan beradu argumen, tiba-tiba Dokter pun datang.


"Maaf, saya terlambat! " Ucap Dokter.


Margaretha menyambutnya, sementara Rayden hanya memalingkan wajahnya, tanpa menyapa atau pun bertanya.


"Biar saya periksa! " Ucap Dokter seraya mendekat ke arah Nesya, dan mulai memeriksanya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok? " Tanya Margaretha.


Rayden hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa mau tahu apa yang terjadi.


"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Dia baik-baik saja! " Tuturnya.


Margaretha bisa bernafas dengan lega. " Syukurlah! " gumamnya.


"Baiklah. Jika begitu, saya harus segera pergi! " Ucap Dokter.


Rayden pun mengantarkan Dokter ke depan rumah seraya mengucapkan wajah terimakasih.


Saat Rayden hendak menutup pintu, tiba-tiba seorang wanita Cantik dan betubuh seksi itu datang.


"Kau! " Ucap Rayden dengan mata yang membulat sempurna.


Wanita itu hanya tersenyum seraya memandang ketampanan Rayden. " Hallo, sayang! apa kabarmu? " Tanyanya.


"Mau apa kau kemari? " Tanyanya.


Wanita itu mendekat ke arah Rayden, wanita itu hendak mencium Rayden. "Ayolah, Ray! apa aku harus mengatakan kejadian malam itu pada Ibumu? " Bisik Jenni.


Rayden mencekal lengan Jenni. " Jangan mengancamku! " Tekan Rayden.


"Lepaskan tanganku! " Perintah Jenni.


Tiba-tiba Margaretha datang menghampiri keduanya.


"Siapa dia, Ray? " Tanya Margaretha.


Rayden terlihat gelapan, ia pun mencari alasan. " Bukan siapa-siapa! " Sahutnya cemas.


Rayden melirik tajam ke arah Jenni, namun Jenni membalasnya dengan senyuman.


"Yaudah duduk! Tante buatkan minum! " Ucap Margaretha.


Jenni pun duduk, namun tidak dengan Rayden. " Pergilah kau dari sini! " Usirnya.


"Kau mengusir ku? " Tanya Jenni.


"Ya! " Sahut Rayden.


"Baiklah. Tapi sebelum aku pergi, ada baiknya aku ceritakan malam indah itu! " Ancamnya.


Rayden mengepalkan kedua tangannya, ia terlihat sangat kesal dan marah. Namun Rayden berusaha menahannya.


"Sial! " Gumamnya.


Jenni tersenyum melihat ekspresi Rayden, ternyata Rayden selemah itu.


"Katakan. Apa yang kau inginkan? " Ucap Rayden.


Rayden tahu Jenni menginginkan sesuatu. Entah itu uang atau apalah!


"Kau mau uang? katakan Jumlah yang kau inginkan? " Lanjutnya lagi.


Jenji hanya tersenyum seraya menggeleng. " Tidak, simpan saja uangmu! " Sahut Jenni.


Rayden mengernyitkan keningnya. " Lalu, apa yang kau inginkan? " Tanyanya.

__ADS_1


"Menikahlah denganku! " Ucapnya.


Rayden membulatkan matanya, ia pun terlihat marah. " Jangan gila! Aku tidak akan menikahimu! " Sahut Rayden sedikit tekanan.


"Mungkin sekarang tidak, tapi tidak dengan nanti! " Sahut Jenni.


"Kurang ajar! " Ucap Rayden marah. Rayden hendak mencekik Jenni, namun tiba-tiba Margaretha datang membawa nampan berisi minuman. Rayden mengurungkan niatnya.


"Ray, Duduk! Kenapa hanya berdiri saja? Kamu temani Dia, dan Mama akan menemani Nesya! " Ucap Margaretha.


Rayden mengangguk, dan Margaretha pun pergi dari hadapan keduanya.


"Lekaslah Pergi dari rumahku! Aku muak melihatmu. " Ucap Rayden.


Rayden heran, dari mana Jenni bisa mengetahui alamat rumahnya. Ia tak suka dengan wanita di hadapannya, i terlalu bar-bar.


kenapa juga Rayden begitu bodoh? ia bisa tidur dengan wanita seperti Jenni.


"Kenapa terburu-buru? Apa kau tidak rindu dengan sentuhanku? " Tanya Jenni dengan mata genitnya.


"Apa kau sedang sakit mata? jika iya, maka jauhkan matamu dariku. Aku tidak ingin tertular! " Ejek Rayden.


Rayden muak dengan wanita-wanita genit, ia ingin muntah kala wanita-wanita ****** menawarkan diri di sertai tingkah yang di buat-buat.


Jenni terlihat kesal dengan ucapan Rayden. "Mana ada aku sakit mata! " Jawabnya.


"Pergilah! Aku tidak ingin mendengar ocehan burung Beo di sini! " Ucap Rayden.


"Kau begitu menyebalkan, Rayden! " Ucap Jenni kesal.


Selain angkuh dan sombong, Rayden juga seorang Pria yang menyebalkan. Ia tak bisa berkata manis dan lembut dengan seorang wanita.


"Then what should I do? " Sahut Rayden.


"Kiss me! " Ucap Jenni.


"Crazy! jangan harap! " Ucap Rayden.


Jenni tetap tidak mau pergi dari rumahnya dengan terpaksa Rayden menggunakan cara yang kasar, yaitu dengan menyeretnya paksa keluar.


"Lepaskan tanganku, Ray! " Mohonnya.


Rayden tak menggubrisnya, ia terus menyeret Jenni hingga ke ambang pintu. "Pergilah dan jangan kembali! " Ucap Rayden seraya menutup pintunya kembali.


Rayden segera pergi menuju lantai atas, ia harus melihat keadaan Nesya.


Rayden berdiri di ambang pintu, ia menatap Nesya yang masih tidak sadarkan diri. " Wanita lemah! " Gumamnya lirih.


Rayden tidak mengerti dengan wanita, mengapa mereka begitu lemah dan Rayden tidak suka akan hal itu. Ibunya pun begitu lemah dengan Williams.


"Wanita malang! salahmu sendiri, kenapa kau ingin masuk dalam hidupku! " Gumanya dalam hati.


Rayden meninggalkan kamar ke Ruang kerjanya, ia harus menenangkan dirinya di sana.


Jenni tetap tidak beranjak dari rumah Rayden, ia menggedor-gedor pintu. Hingga akhirnya Jenni lelah dan pergi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa mampir ke karya temanku, ya.

__ADS_1



__ADS_2