CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 15


__ADS_3

pagi hari tiba menyapa Rayden bersiap-siap pergi ke kantor dan menuruni tangga.


kebetulan di ruang makan sudah ada Margaretha.


"pagi, Ma! " sapa Rayden.


"pagi, Ray. gimana malam tadi? " ucap Margaretha sembari mengedipkan satu matanya di sertai senyum.


Rayden menyipitkan matanya. " tadi malam? oh iya, aku tidur dengan nyaman seperti biasanya!! " sahut Rayden.


"hmmm berapa ronde? "


"apaan sih, Ma? " ucap Rayden.


Rayden pun duduk, tanpa menanggapi ucapan Margaretha. kemudian sarapam dengan 2 lembar roti.


Margaretha ikut sarapan, mereka tengah menunggu Nesya.


"pagi! " ucap Nesya, kala turun dari tangga.


"pagi! " sahut Margaretha. terlihat Margaretha tengah tersenyum, kala melihat rambut menantunya basah.


sementara Rayden hanya memutar bola mata malas, tanpa menyapa Nesya.


"semalam tidur nyenyak, ya? " celetuk Margaretha pada keduanya.


"nyaman! " ucap keduanya serempak.


Rayden menatap tajam ke arah Nesya.


"wah! siap donk kasih cucu buat mama? " ucap Margaretha.


uhuukk...


Rayden tersedak, kala mendengar Ibunya berkata demikian.


sontak saja Nesya segera mengambilkan air. namun, Rayden tak menerimanya.


"jangan sok baik padaku!! " ucapnya dingin.


Nesya menatap tajam ke arah Rayden, kemudian meletakan kembali gelas berisi air.


"dasar, di bantuin malah kek gitu!! " gerutu Nesya dalam hatinya.


Nesya melanjutkan sarapannya. begitu pula dengan Margaretha.


Rayden tak melanjutkan sarapannya, ia segera pergi menuju kantor.


"yaudah. aku pamit ke kantor, ya! " ucap Rayden pada Margaretha.


Margaretha pun mengangguk. " yaudah, hati-hati! " ucap Margaretha.


Rayden pun melangkah menuju mobilnya.


"tunggu, Ray!! " teriak Margaretha.


Rayden menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Margaretha.


"ya, ada apa? " tanya Rayden.


"kamu kok gak pamitan sama istrimu, lho! " ucap Margaretha.

__ADS_1


Rayden memutar bola mata malas. " untuk apa? " tanyanya.


"untuk apa, kata mu? ya untuk meminta izin donk, Ray!! " ucap Margaretha.


"gak usahlah, Ma. Ray udah telat nih! " ucap Rayden sambil sesekali melihat Alojinya.


Margaretha melotot, dengan sangat terpaksa Rayden pun menyodorkan tangannya pada Nesya.


Nesya menyalami tangan Rayden, kemudian menciumnya.


"sudah kan, Ma? " ucap Rayden.


"yo, belum. cium kening istrimu, lho! Ray. " ucap Margaretha.


Rayden melotot sempurna. " apa? mencium kening si buruk rupa ini? " ucap Rayden replek. sedetik kemudian, Rayden menutup mulutnya. sebab keceplosan!


Nesya yang terlanjur mendengar hal itu pun melotot ke arah Rayden. ia tak terima dengan ucapan Rayden.


"kau! dasar tuan dekil dan bau!! " sindir Nesya.


Rayden maju. " dekil itu dirimu, bukan aku. dan bau itu tubuhmu!! " ucap Rayden tak mau kalah.


"sudah, sudah. kenapa kalian jadi berantem!! " ucap Margaretha melerai.


"dia yang mulai!! " ucap Rayden dan Nesya serempak sembari saling tunjuk.


Rayden malas berdebat, kemudian ia pun pergi tanpa mencium kening Nesya.


"Mama, apa-apaan sih. buat apa coba cium kening segala? " gerutu Rayden dalam mobilnya.


Rayden melajukan mobilnya menuju kantornya.


"pagi!! " sapa para karyawan, kala Rayden melintas dan baru datang.


Rayden bergegas masuk ke dalam ruangannya.


ia mengerjakan pekerjaan yang memang tugasnya.


jam menunjukkan pukul 12:00, namun Rayden masih sibuk dengan segudang pekerjaannya.


cklek...


tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka menampilkan seorang wanita di ambang pintu.


Rayden menoleh ke arah wanita itu. " mau apa kau kemari? " tanyanya.


wanita itu menghampiri meja kerja Rayden dengan gerakan yang dibuat segemulai mungkin.


"aku merindukan sentuhan yang dulu kau berikan!! " ucapnya manja.


ya, dia adalah Jennifer. wanita di club malam itu.


"sudah pernah aku bilang! kejadian itu adalah kecelakaan!! " ucap Rayden.


Jennifer mendekati Rayden. ia pun duduk di pangkuan Rayden dengan pose menggoda.


Rayden merasa risih dengan kelakuan Jenni. Rayden memalingkan wajahnya ke arah lain.


"menyingkirlah dariku!! " ucap Rayden.


bukannya menyingkir, Jenni malah merapatkan tubuhnya. saat bibirnya hendak menyentuh bibir Rayden..

__ADS_1


bruk...


Rayden mendorong tubuh ramping Jennifer hingga tersungkur.


"awww!! " pekiknya.


Jenni menatap tajam ke arah Rayden. " kau mengapa kasar sekali padaku!! " ucap Jenni.


Rayden berdiri. " bukankah aku sudah menyuruhmu menyingkir, tapi kau yang bebal tak mau mendengar. alhasil inilah resikonya!! " ucap Rayden santai.


Jenni melotot sempurna, ia berusaha bangkit. namun sepertinya kesialan tengah menghampiri. sehingga Jenni terjatuh kembali.


brugh..


Rayden menutup matanya sembari menahan tawa. "hati-hati, sayang! kau bisa terluka nanti! " ucapnya, namun terdengar seperti sebuah ejekan.


Jenni pun berhasil berdiri. namun dengan perasaan kesal, ia pun pergi meninggalkan Rayden tanpa sepatah katapun.


Rayden menggelengkan kepalanya. " wanita memang unik, kadang bersikap manja. kadang pula bersikap konyol. namun, aku tak bisa memahami sifat wanita. bahkan teori tentang wanita pun jika di tulis, maka satu buku pun tidak akan cukup!! " gumamnya.


Rayden melirik jam tangannya. waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. saatnya makan siang, Rayden berencana akan makan di cafe sebelah kantornya.


Rayden keluar dari ruangannya dan menuju cafe langganannya.


Rayden duduk di salah satu kursi yang berada di cafe tersebut. ia pun memesan makan siang untuknya.


saat Rayden sedang menikmati makan siangnya. tiba-tiba seseorang menyapanya.


"hy, Ray. apa kabar? " ucap seorang wanita berkulit putih, berambut panjang dan berparas cantik.


Rayden menoleh ke arah wanita itu. " baik! " ucapnya dingin. Rayden masih melanjutkan makannya.


tanpa bertanya, wanita itu langsung duduk di hadapan Rayden.


Rayden menatapnya sejenak dan kembali melanjutkan makannya, tanpa memperdulikannya.


"kau masih suka makan itu? " ucap wanita itu.


"ya! " sahutnya singkat.


jenni menghela nafasnya. "dulu, saat aku mengajakmu menikah. mengapa kau tak mau? sekarang, kau menikah dengan wanita lain? " ucapnya.


Rayden menghentikan aktivitas makannya, ia pun menatap wanita di hadapannya.


"sudahlah, Viona. aku tak mau membahasnya lagi! bukankah dulu aku pernah memberikanmu pilihan? " ucap Rayden.


Viona hanya tersenyum kecut, kala mendengar ucapan Rayden. " pilihan? pilihan apa yang kau maksud, Rayden? " sahutnya.


Rayden nampak berfikir. " bukankah, dulu aku pernah mengajakmu menjalin hubungan seperti ini saja. tapi jawabanmu, kau ingin mengakhirinya, bukan? " ucap Rayden.


"mana ada wanita yang ingin hidup dan menjalani hubungan tanpa sebuah kepastian? " ucap Viona.


Rayden menghela nafasnya. " sudahlah! lagi pula semuanya sudah berakhir. untuk apa di ungkit? " ucap Rayden.


ia pun berdiri dan menyimpan uang di atas meja, kemudian pergi dari cafe tersebut.


"tunggu, Rayden!! " teriak Viona, namun Rayden tak menghiraukan teriakan Viona.


Rayden terus berjalan keluar dari cafe. ia tak memperdulikan Viona yang terus memanggil namanya.


"wanita tidak berguna. kalian selalu plin plan dalam menentukan sebuah pilihan. dulu aku telah memberikan tawaran yang menarik, namun dia malah menolaknya mentah-mentah!! " ucap Rayden di sertai senyum miring.

__ADS_1


"dunia memang sempit. aku selalu bertemu dengan wanita-wanita aneh dalam waktu yang cukup singkat!! " gumamnya.


Rayden berjalan kembali menuju kantornya, sebab waktu makan siang sudah habis. saatnya melakukan pekerjaan kembali.


__ADS_2