CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 22


__ADS_3

Williams harus segera kembali ke kantornya, sebab Lion belum mampu menghadapi kendala sendirian.


Williams harus lebih giat mengajari tata cara berbisnis pada Lion.


Williams melupakan soal Putranya dengan Margaretha, walau bagaimanapun Williams tetap menyayangi Rayden, ia ingin bertemu dengannya dan memohon maaf atas kejadian di masa lalu.


"Maafkan, Papa. Rayden! Papa menyesal sudah meninggalkanmu. Kau harus menanggung trauma atas apa yang Papa lakukan padamu! " Ucapnya lirih.


Rasa bersalah kian menyelimuti hati Williams, ada rasa sesal dalam hatinya. Seharusnya ia tak meninggalkan Rayden, walau ia tak mencintai Margaretha. Sebab bagaimanapun Rayden adalah darah dagingnya, Putra kandungnya.


Bertahun-tahun lamanya Williams berusaha mencari keberadaan Rayden, namun hingga kini ia tak kunjung menemuinya. Margaretha selalu menyangkal, kala Williams bertanya soal Rayden.


Williams tak menyangka jika perbuatannya akan berakibat fatal pada Putranya. Ia tak mengira Rayden akan membencinya, bahkan yang lebih parah lagi, Rayden menjadi penganut Child Free.


"Tuhan, izinkan aku bertemu dengan Putraku. Aku ingin meminta maaf padanya! " Harapnya.


Williams sudah lebih 20 tahun tak bertemu dengannya, kala Margaretha di rawat di rumah sakit, Williams sempat bertemu dengan Margaretha, namun tidak dengan Rayden.


"Katakan padaku, Margaretha. dimana Putraku? " Gertak Williams.


Namun setelah itu kondisi Margaretha malah makin memburuk, sebab ia tidak bisa menerima tekanan saat kondisinya belum pulih. Sehingga membuat jantungnya kumat.


Williams mengepalkan tangannya, dan berlalu pergi dari hadapan Margaretha. Ia takut di sangka akan membunuh Margaretha jika tetap berada di sana. Sehingga Williams memutuskan untuk pergi.


Williams memang salah, karna telah meninggalkan Rayden kecil. Namun semua itu ia lakukan, sebab sudah tak sanggup lagi hidup bersama orang tidak sama sekali ia Cintai.


Fikiran Williams melayang pada 20 tahun silam, kala ia meninggalkan Margaretha demi hidup bersama wanita yang dia Cintai.


Williams menyeret kopernya, dan berjalan melewati Margaretha yang tengah bermain bersama Rayden kecil.


Margaretha memandang Suaminya dengan heran. " Mau kemana kamu, Pa? " Tanya Margaretha.


Williams melirik Margaretha sekilas. " Aku mau pergi! Aku sudah tak bisa hidup bersama mu lagi, Margaretha! " Jawab Williams.


Margaretha menggeleng, ia pun mencekal tangan Suaminya agar tidak pergi meninggalkannya. "Tidak, Pa. Kau tidak boleh pergi! Aku belum sanggup hidup tanpamu! " Pintanya.


Namun Williams seolah tak peduli, ia pun menyingkirkan tangan Margaretha dari tangannya. "Sudahlah, Margaretha. Lupakan aku, mulailah hidup dengan caramu sendiri! lagi pula sekarang, Orang tuaku sudah tiada. Apalagi yang ingin aku pertahankan? Aku pamit, dan jangan cari aku lagi! " Ucap Williams seraya berlalu pergi dari hadapan Margaretha.

__ADS_1


"Jangan, jangan pergi Williams, aku mohon. Jangan tinggalkan aku dan Rayden! " Teriak Margaretha seraya meneteskan air matanya.


Namun Williams tak menghiraukan teriakan Margaretha, ia berlalu pergi tanpa memikirkan Margaretha dan Rayden yang masih sangat kecil kala itu.


Williams langsung masuk ke dalam mobilnya, setelah memasukan kopernya ke bagasi.


Margaretha hanya bisa meratapi kepergian Williams dengan deraian air mata seraya memeluk Rayden kecil.


"Ma, kenapa Mama nangis? Mama jangan sedih! " Ucap Rayden.


Margaretha menghapus air matanya, kemudian memandang Rayden yang nampak begitu menggemaskan. Margaretha mencoba tersenyum di hadapan Rayden. " Mama cuma kelilipan aja ko, Ray! " Jawab Margaretha berbohong.


"Kau sungguh tega, Williams! " Gumam Margaretha.


Margaretha harus tetap kuat demi Rayden, ia harus tetap berjuang demi kemajuan Rayden.


bertahun-tahun Margaretha membesarkan Rayden seorang diri, Margaretha tak berniat untuk menikah kembali. Sebab ia lebih fokus membesarkan Rayden. Margaretha berjanji akan membuat Rayden sukses di kemudian hari.


"Kau harus sukses, Rayden. Kita tunjukan pada Papamu, bahwa kita mampu hidup tanpa bantuannya sepeserpun! " Ucap Margaretha.


Rayden telah berhasil, kini dirinya telah berhasil menjadi orang hebat sesuai keinginan Margaretha.


"Akhirnya kau berhasil mewujudkan harapan, Mama. Rayden! " Ucapnya bangga.


Margaretha begitu bangga dengan keberhasilan Rayden. Rayden akan membawa nama baik baginya.


Namun sebisa mungkin Margaretha menyembunyikan Identitas Rayden, agar Williams tidak dapat menyangka bahwa Rayden adalah Putranya.


"Aku harus menyembunyikan jati dirimu, Rayden. Aku tak ingin Williams tahu tentang mu! " Gumamnya.


Sebisa mungkin Margaretha berusaha menyembunyikan identitas Rayden dari semua Media. Maka, tidak ada satupun stasiun TV ataupun media cetak yang dapat mengendus identitas dari Rayden.


"Ray! sebaiknya kau sembunyikan data dirimu. Jangan sampai satu orang pun tahu! " Sarannya.


Rayden menyipitkan matanya heran. "Kenapa? " Tanya Rayden.


Banyak pertanyaan dalam hati Rayden, mengapa ia harus menyembunyikan identitasnya dari semua orang? bukankah ini adalah keinginan Margaretha, agar ia bisa menjadi manusia yang sukses! lalu, kenapa sekarang Margaretha menyuruhnya menyembunyikan identitasnya?

__ADS_1


"Mama, Mama hanya ingin ada musuh yang melacak mu! " Sahut Margaretha asal.


Padahal tujuan Margaretha adalah, agar identitas Rayden tidak di kenali oleh Williams. Ia terpaksa melakukannya, agar Rayden tidak tahu banyak tentang Williams.


Rayden mengangguk, dan setuju dengan usulan Margaretha. Menurut Rayden saran dari Margaretha memang ada benarnya juga.


"Baiklah, aku setuju! " Sahut Rayden.


Margaretha bisa bernafas dengan lega, akhirnya Margaretha bisa menjauhkan Rayden dari Williams.


Namun semuanya tak sesuai harapan Margaretha. Walau Rayden telah berhasil membanggakan dirinya.


Tapi siapa sangka, jika Rayden menyimpan sisi gelap yang Margaretha baru tahu saat ini. Ya, Rayden seorang Child free. Ia tak ingin memiliki seorang Anak, sebab menurut Rayden seorang Anak hanya akan membuatnya pusing, dan menambah beban saja.


"Ray, ayolah menikah. Lihat teman-teman mu, mereka sudah memiliki istri bahkan Anak! " Sindir Margaretha.


Namun Rayden hanya menanggapinya dengan senyum.


Margaretha heran dengan Rayden, mengapa ia hanya tersenyum tanpa menyahut atau pun merespon ucapannya?


"Ko malah senyum sih, Ray? " Tanya Margaretha.


Sekali lagi Rayden menampilkan senyumnya. "Apa Mama fikir mereka bahagia? " Rayden malah balik bertanya.


Margaretha mengangguk. "Ya, tentu saja mereka bahagia! " Jawab Margaretha.


Lagi-lagi Rayden tersenyum. " Mama salah! " Ucap Rayden.


Margaretha dibuat heran oleh ucapan Rayden. "Sebenarnya apa kau katakan, Rayden? " Tanyanya.


"Biar aku jelaskan. Jika mereka bahagia, lalu kenapa ada perceraian? jika pun itu soal tidak adanya Cinta, mengapa mereka harus menikah? jika alasannya soal Anak, lalu kenapa mereka harus menghadirkan seorang Anak di tengah pernikahan mereka? kebahagian macam apa itu, Ma? " Papar Rayden.


Margaretha tak bisa menjawab ucapan Rayden jika soal itu, sebab ia begitu tersentil dengan ucapan Putranya sendiri.


Maka dari itu Rayden tak ingin memiliki seorang Istri, namun Rayden kerap kali terlibat asmara dengan beberapa gadis. Tapi tidak berujung pada sebuah pernikahan.


Hingga akhirnya Margaretha tak tahan, ia pun meminta beberapa Foto pada temannya untuk di jadikan Istri oleh Rayden. Hingga Margaretha melihat foto Nesya, hatinya begitu cocok saat pertama kali melihatnya. Hingga akhirnya Rayden dan Nesya menikah, walau dengan paksaan Margaretha.

__ADS_1


__ADS_2