
Rayden kembali mendatangi kantor Williams, ia tak sengaja berpapasan dengan Lion saat di lobi. Tatapan Lion menyiratkan sebuah kebencian pada Rayden.
"Kenapa dengan matamu? Apa kau sedang sakit mata? " Tanya Rayden bergurau di sertai tawa kecil.
Lion memalingkan wajahnya. " Sorry, ucapanmu tidak lucu!! " Sahutnya tak suka.
"Hufs, sorry. Apa kita pernah ada masalah sebelumnya? " Tanya Rayden, Rayden menangkap kebencian pada Lion terhadapnya, namun entah atas dasar apa?
Lion menatap tajam ke arah Rayden, lalu Lion bergegas pergi dari hadapan Rayden tanpa menjawab pertanyaannya.
"Hey, bukankah aku sedang bertanya? Kenapa kau pergi? Sungguh, tidak sopan!! " Teriaknya.
Lion melirik Rayden sekilas, lantas melanjutkan langkahnya. "Mungkin kau lupa, Rayden? Tapi tidak denganku! " Gumam Lion.
"Sungguh aneh sekali si Singa itu! " Ucap Rayden sembari menatap Lion.
Rayden memilih tidak menghiraukan Lion lagi, ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruang meeting, sebab saat ini ada meeting di kantor ini.
"Mari kita lihat, bagaimana aku mengambil alih perusahaan mu? Williams. " Gumamnya di sertai seringai.
Ya, Rayden akan berusaha mendapatkan perusahan milik Williams dengan cara apapun. Ia ingin menghancurkan Williams dengan tangannya sendiri, ia ingin melihat proses penghancuran Williams dengan matanya sendiri.
Rayden masuk ke dalam ruang meeting, namun sepertinya ia terlambat beberapa menit sebab semua orang sudah menunggu di sana.
Semua orang yang ada disana memandang ke arah Rayden, tanpa kecuali Williams dan juga Lion namun Lion menatap Rayden dengan tatapan tajam dan senyum miring.
Dengan senyum kikuk, Rayden masuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Maaf, saya terlambat!! " Ucapnya tak enak.
"Tidak apa, lagi pula meeting belum di mulai!! " Sahut Williams.
Rayden pun duduk di sebelah Williams, ia pun membuka berkas-berkas yang akan ia bacakan nanti.
"Apa sudah menjadi kebiasaanmu selalu tidak tepat waktu? " Bisik Lion yang kebetulan berada di samping Rayden.
Rayden menoleh dan menghentikan aktivitasnya. " Apa maksudnya? " Tanya Rayden.
"Fikirkan saja sendiri? " Sahut Lion.
Rayden mengernyitkan keningnya, mengapa ia seperti pernah mendengar seseorang mengatakan itu? Tapi dimana?
"Apa aku dan Lion pernah bertemu sebelumnya? " Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Rayden menepis fikirannya, tidak mungkin Rayden mengenal Lion. Ia sama sekali tak mengenalnya mungkin ini semua hanya perasaannya saja.
Kini Rayden dan semuanya telah memulai Meeting hari ini. Semua terlihat fokus pada Rayden yang mulai menunjukan bakatnya.
"Sejak dulu kau selalu mencari muka, Rayden! " Gumam Lion seraya memalingkan wajahnya, Lion benar-benar membenci Rayden hingga kini.
Selesai membacakan berkas yang ia bawa, akhirnya Semua orang bertepuk tangan. Mereka takjub dengan ide-ide yang Rayden sampainya. Mereka yakin bahwa Rayden bisa memberikan keuntungan pada perusahaan mereka setelah bergabung.
Terdengar tepuk tangan dari para rekan bisnis untuk Rayden, mereka begitu suka dengan cara penyampaian Rayden, namun tidak dengan Lion. Lion terlihat membuang muka beberapa kali kala Rayden berbicara, sepertinya Lion benar-benar tidak menyukai Rayden.
"Hebat! Pak Rayden. Saya suka dengan ide-ide Brillian anda. " Ucap salah seorang sembari tersenyum bangga.
"Terimakasih! " Sahut Rayden dengan senyuman.
Hingga akhirnya Meeting pun selesai, semua orang telah keluar dari ruangan. Rayden sengaja belum keluar ia tengah menunggu Lion.
Saat Lion hendak melangkah pergi, tiba-tiba Rayden bangkit. " Tunggu! " Panggilnya.
Lion menghentikan langkahnya, lantas menoleh.
Rayden melangkah menghampiri Lion dan berhadapan dengannya. " Kenapa, aku lihat sepertinya kau tidak suka padaku sejak aku bergabung dengan perusahaan ini? " Ucap Rayden seraya menatap Lion, ia mencari jawaban.
Lion memutar bola mata malas, ia sama sekali tak berniat untuk menjawab ucapan Rayden.
"Tunggu, Lion!! " Teriak Rayden.
Lion tak menggubris teriakan Rayden, hingga Rayden berusaha mengejar Lion dan berhasil.
"Hey! Apakah kau tuli? Aku sedang bertanya padamu, Lion? " Bentak Rayden kesal.
Kali ini Lion menatap tajam Rayden, nampak giginya mengeretak. " Hey! Jaga ucapanmu, perebut!! " Ucap Lion marah.
Rayden tersentak kaget, apa maksud Lion menyebutnya sebagai perebut? Siapa yang dia rebut? Apa mereka pernah kenal sebelumnya?
"Apa maksudmu, Lion? Aku perebut? Siapa? " Tanya Rayden heran, ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Lion tersenyum miring, jawaban Rayden begitu lucu di telinganya. Apa Rayden lupa?
"Kau lupa, Rayden? " Jawabnya sembari tersenyum miring.
Rayden menggeleng. " Sungguh, aku tidak mengerti! " Sahutnya, Rayden benar-benar tak mengerti maksud Lion.
__ADS_1
Jawaban Rayden benar-benar membuat Lion marah, nafasnya kian memburu. Begitu cepat Rayden melupakan kesalahan dimasa lalunya?
Terlihat dada Lion naik turun menahan gejolak dalam dadanya. Lion menyondongkan kepalanya ke arah Rayden. " Kau pasti ingat Katty, bukan? Wanita yang kau tabrak beberapa tahun silam hingga tewas? " Ucap Lion mengingatkan.
Rayden menelan liurnya dengan susah payah, dari mana Lion tahu wanita itu? Apa hubungan Lion dengan Katty?
'Ya tuhan. Ini adalah bencana! Apakah Lion tahu apa yang aku lakukan? ' Batinnya
keringat dingin mulai membasahi keningnya, Rayden benar-benar di landa rasa bersalah pada kejadian beberapa tahun silam.
memang Rayden dan Katty pernah saling mengenal, bahkan keduanya pernah terlibat perasaan saling mencintai namun kejadian naas menimpa Katty.
"Katty!! " Teriak Rayden begitu menggema di seluruh ruangan, sesaat membuka kamar hotel yang ternyata Katty sedang terlelap bersama seorang Pria. Rayden benar-benar tidak percaya dengan apa yang matanya saksinya, kekasih pujaannya sedang terlelap bersama Pria lain. Bagaimana hati Rayden tidak hancur?
Katty, langsung bangkit dan menatap Rayden. "Ra-rayden. " Gumamnya.
Katty beralih menatap Pria yang terlelap di sebelahnya, tentu saja Katty kaget. " Hey! siapa kau? kenapa kau berada satu Ranjang denganku? " Ucap Katty sembari menutupi tubuhnya.
Rayden menghampiri Ranjang keduanya, ia pun menghajar tubuh Pria tersebut sampai babak belur, kemudian Rayden manatap tajam ke arah Katty.
"Kau! perempuan laknat! setelah segalanya aku berikan, kau malah bermain dengan Pria lain. ckk, menjijikan!!! " Ucap Rayden marah sembari meludah ke arah Katty.
Katty menggeleng, tak terasa air matanya jatuh. " Tidak, Rayden. Semua ini tidak seperti yang kau lihat!! " Bantahnya.
Katty benar-benar tidak tahu dengan semua ini, kenapa ia bisa bersama Pria lain dalam satu Ranjang.
Beberapa Bulan kemudian, Rayden tak pernah lagi menemui Katty, ia terkesan menjauh dan Katty tak pernah keluar dari rumahnya dan yang lebih memprihatinkan saat ini Katty sedang mengandung.
"Katty. Katakan siapa Pria yang sudah menghamilimu? " Tanya seseorang.
Katty selalu mengatakan bahwa Raydenlah orang yang telah menghamilinya, namun semuanya adalah kebohongan.
Seseorang meminta pertanggung jawaban Rayden untuk menikahi Katty, namun Rayden menolak dengan keras. " Aku bukan ayah dari bayi itu! " Sanggahnya.
Rayden menentang hal itu, namun Katty terus berbohong dan mengatakan bahwa Rayden-lah Ayah dari Bayinya. Rayden benar-benar dibuat marah dengan pernyataan Katty yang menghancurkannya hingga Rayden pun Khalaf dan akan membunuh Katty.
'Awas kau! akan aku buat Perhitungan denganmu! ' Batinnya
"Apa kau sudah ingat, Rayden? " Tanya Lion.
pertanyaan Lion membuyarkan lamunannya, ia pun beralih menatap Lion.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Perempuan laknat Itu? " Tanya Rayden.
belum sempat Lion menjawab, tiba-tiba Williams datang menghampiri keduanya, ia pun mengajak Rayden untuk berdiskusi prihal pekerjaan.