CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 9


__ADS_3

malam hari pun tiba, Rayden pulang dari kantor. ia pun menuju rumah sakit kembali. Rayden tidak lupa mempir ke sebuah restoran untuk membeli makanan untuknya, Nesya dan Mamanya.


saat Rayden sedang mengantri disebuah Resto. tiba-tiba ia melihat seorang pria dengan ciri-ciri yang pernah ia lihat di rekaman CCTV waktu itu.


"bukakah dia pria dalam rekaman CCTV itu?? ". tanya Rayden dalam hatinya.


Rayden, memperhatikan pria yang sedang duduk sembari menikmati makanannya di restoran tersebut.


"lebih baik aku datangi mejanya, sekarang! ". gumam Rayden.


ketika Rayden hendak menghampiri meja pria itu. tiba-tiba seorang pelayan memanggil dan memberitahu pesanan Rayden sudah jadi.


"maaf Mas, pesanan anda sudah jadi. silakan di ambil dan segera melakukan pembayaran dikasir! ". tutur pelayan tersebut.


Rayden mengangguk san segera mengeluarkan dompetnya dan menuju kasir untuk membayar pesanannya.


"berapa totalnya, Mbak?? ". tanya Rayden, ketika berada di depan kasir.


"totalnya, 789.000 Ribu. Pak! ". ucap sang kasir.


Rayden segera membayar dengan total yang telah diberitahukan oleh kasir tersebut.


"terimakasih pak, kami tunggu kedatangan anda selanjutnya!! ". ucao kasir ramah sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Rayden hanya mengangguk dan tersenyum ke arah kasir.


Rayden berbalik dan hendak mendatangi meja pria tadi. namun, tiba-tiba Rayden tak melihat pria lagi.


"kemana pria itu pergi?? ". tanya Rayden.


Rayden mencari-cari pria tadi, ia nampak clingukan mencari keberadaannya. namun nihil, ia tak menemukan keberadaannya.


"sial, kemana pria itu. aku kehilangan jejaknya! " ucap Rayden.


Rayden pun memutuskan untuk segera pergi dari restoran dan menuju rumah sakit.


Rayden nampak berjalan menuju mobilnya yang berada di area parkir restoran tersebut. Rayden pun masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Mamanya dirawat.


drtt.. drrtt ... drrtt!!


ponsel Rayden berdering, ia melihat siapa yang menelpon dirinya. tertera nomor tidak dikenal.


Rayden memilih mengabaikannya, namun nomor tersebut terus menelpon diirinya. hingga Rayden mengangkatnya.


"hallo, siapa ini?? ". tanya Rayden


"Nesya! ". ucap seseorang disebrang sana.


"dari mana kau mencuri nomor ku, hey si buruk rupa? ". celetuk Rayden


"hey tuan dekil, aku tidak mencuri nomormu. tapi tante Margaretha ingin berbicara denganmu! ". ucap Nesya.


"berikan teleponnya pada mama. telingaku bisa gatal jika mendengar suaramu yang tidak enak itu! " Perintah Rayden.


Nesya terlihat memajukan bibirnya, ia begitu kesal dengan ucapan Rayden yang menyebutnya buruk rupa.

__ADS_1


Nesya segera memberikan ponselnya pada Margaretha.


"hallo, Ma. ada apa?? ". tanya Rayden, ia berkata sembari menyetir mobilnya.


"nggak papa, Mama cuma khawatir sama kamu. udah jam segini kamu belum pulang! ". ucap Margaretha.


"ini Ray lagi dijalan. tadi Ray mampir ke restoran kesukaan mama. Ray juga bawa makanan kesukaan mama, lho! ". tutur Rayden.


"Wah, beneran Ray? ". tanya Margaretha disebrang sana.


"iya donk, yaudah Ma. udah dulu, ya. Ray lagi nyetir nih! ". ucap Rayden


"yaudah, hati-hati dijalan. jangan ngebut-ngebut. utaman keselamatan dari pada kecepatan! ". peringat Margaretha.


"oke, Ma. Ray matikan, ya? ".


Rayden pun mematikan teleponnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"mama selalu saja menganggap ku anak kecil! ". ucap Rayden.


Margaretha selalu menganggap Rayden anak kecil. ia selalu menyakan kemana dia pergi. jika Rayden pergi bersama teman-temannya pun kerap kali Margaretha menelpon dirinya berulang kali.


namun tetap saja, walau pun Margaretha menjaga pergaulan Rayden. Rayden masih saja bisa bebas bergaul dengan siapapun diluar sana. kerap kali Rayden pun pergi ke diskotik ataupun tempat hiburan.


setibanya Rayden di rumah sakit. ia segera menuju ruangan Margaretha.


cklek..


pintu ruangan Margaretha terbuka, Rayden melihat Ibunya tengah bercakap-cakap seru dengan Nesya.


"iya, ma. Rayden baru aja nyampe. tadi Rayden udah ngomong sama dokter, katanya besok Mama boleh pulang!! ". ucap Rayden.


"syukurlah, Mama juga udah gak betah disini. bau obat! ". ucap Margaretha sembari menutup hidungnya.


Rayden tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat Ibunya yang tidak suka mencium bau obat-obatan.


"yaudah, nih Ray bawa makanan kesukaan Mama. " ucap Rayden sembari menyodorkan makanan yang ia bawa.


Margaretha menerimanya dan menyuruh Nesya untuk menyiapkan makanan yang dibawa oleh Rayden.


"Nes, kamu siapkan makannnya, ya! ". perintah Margaretha.


Nesya mengangguk dan mulai menyiapkan makanan itu. mereka pun makan dengan sangat nikmat karna kebersamaan.


selesai makan. Rayden berpamitan untuk pergi keluar.


"Mama istirahat, ya. Ray harus pergi ada urusan yang harus Ray urus! ". tutur Rayden.


"urusan apa, Ray?? ". tanya Margaretha.


"bisnis! ". ucap Rayden asal.


sebenarnya Rayden ingin pergi kesebuah diskotik, sebab sudah lama ia tak mengunjungi diskotik Tersebut.


Rayden sengaja berbohong, agar Margaretha tak banyak bertanya.

__ADS_1


"bisnis apa bisnis?? ". celetuk Nesya.


sontak saja Rayden melotot dan menatap tajam ke arah Nesya.


"apa kau mau ikut dan melihatnya sendiri?? ". ucap Rayden geram.


"tidak, lebih baik aku disini. dari pada nanti aku kehilangan banyak darah, akibat gigitanmu! ". ucap Nesya santai.


"oh tentu saja, akan aku habiskan darahmu. setelah itu aku akan melemparkan tubuhmu kerawa-rawa. agar menjadi santapan para buaya dan waaaaaw... " ucap Rayden.


ucapan Rayden membuat Nesya terlihat ngeri, Nesya pun menelan salivanya dengan susah payah.


"sudah, sudah Ray. kamu ini lebih baik sekarang kamu pergi! " ucap Margaretha.


Rayden pun hanya tersenyum dan segera pergi.


Rayden pun pergi dari rumah sakit. malam ini ia ingin sedikit bersenang-senang setelah seharian berjibaku dengan pekerjaannya.


"akhirnya aku bisa menikmati hidupku! ". ucap Rayden.


Rayden pun memarkirkan mobilnya di area parkiran diskotik.


Rayden duduk di sebuah kursi yang disediakan. ia pun terlihat sedang memesan sebuah wine dan souju.


"Rayden!! ". teriak seorang wanita.


Rayden mengerutkan keningnya, pasalnya ia tak mengenali wanita dihadapannya.


"iya, siapa kau. mengapa kau tahu namaku? ". tanya Rayden.


wanita itu nampak tersenyum ke arah Rayden dan duduk di sebelah Rayden.


"kau lupa, kita pernah melakukannya?? ". ucap wanita itu.


"melakukannya, apa maksud ucapanmu?? ". tanya Rayden, ia dibuat heran dengan ucapan wanita disampingnya.


"malam itu, Ray?? ".


Rayden mencoba mengingat-ingat malam yang di maksud oleh Wanita itu. hingga akhirnya, Rayden mengingatnya.


"apa kau sudah ingat?? " tanya wanita itu.


Rayden menganggukan kepalanya, tanda ia telah mengingat malam itu.


"apa kau ingin melakukannya lagi?? ". tanya wanita itu.


Rayden hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu.


"tidak, terimakasih. aku tidak ingin melakukannya lagi. kemarin hanya sebuah kecelakaan! " ucap Rayden.


"tapi kau menikmatinya, bukan? ". tanya wanita itu.


"dalam keadaan mabuk, iya. tapi dalam keadaan sadar sepertinya tidak. lagi pula aku sudah memberimu sejumlah uang " ucap Rayden.


"pria penuh tantangan!! ". gumam wanita itu dalam hatinya.

__ADS_1


Wanita itu hanya tersenyum dan berjanji akan menaklukan hati Rayden dengan caranya sendiri.


__ADS_2