
Seminggu pun berlalu, hari dimana yang di nantikan oleh Margaretha pun telah tiba. Ya, hari ini adalah hari dimana Rayden dan Nesya akan melangsungkan sebuah pernikahan.
Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi Margaretha, karna ia bisa melihat putra semata wayangnya bisa menikah dengan wanita pilihannya.
"Akhirnya hari ini aku akan melihat putraku menikah dengan wanita pilihanku. Semoga kalian bisa selalu bersama dalam suka maupun duka!! " Ucap Margaretha, sebagai doa seorang Ibu.
Margaretha telah menyiapkan segalanya dari jauh-jauh hari. Ia telah menyiapkan pernikahan ini dengan sangat mewah dan megah. Segala persiapan sudah 100% mulai dari catering, tempat, baju pengantin dan berbagai serba serbi pernikahan.
Margaretha sengaja membuat pernikahan Rayden dan Nesya di adakan di ruang terbuka, karna ia mengundang kerabat dan rekan bisnis Rayden.
Banyak tamu yang datang dihari istimewa ini. Mereka dari kalangan atas, mereka dibuat terpukau oleh acara yang di adakan oleh keluarga Rayden.
"Wah, mewah sekali pernikahan pak Rayden! ". Celetuk salah satu rekan bisnis Rayden.
"Mewah sekali acara ini. Pasti tarifnya gak main-main". Celetuk yang lainnya. Hingga banyak pembicaraan lain seputar pernikahan Rayden.
Mereka banyak yang memuji dengan keindahan dan kemewahan acara ini.
Rayden telah siap dengan pakaian khas pengantinnya, ia menggunakan baju pengantin berwarna putih. Rayden terlihat tampan dengan warna itu dan pakaian yang di kenakannya. Hingga banyak mata yang memuji ketampanan Rayden.
"Lihat, pak Ray. Tampan sekali. Aku mau kalo jadi istrinya yang ke 2 " ucap salah seorang.
"Huss, mana mungkin pak Ray mau sama kamu!! ". Sahut temannya.
Rayden duduk di kursi yang berhadapan dnegan pak penghulu. Kebetulan Neaya seorang yatim, ia tak memiliki ayah Maka dari itu, Nesya menggunakan wali hakim sebagai saksi.
namun raut wajah Rayden tak bisa di sembunyikan. Ia terlihat tidak senang dengan pernikahan ini.
"Pernikahan konyol macam apa ini. Aku sama sekali tidak suka dengan ini semua! ". Gumam Rayden dalam hatinya.
Sementara Nesya, kini dirinya telah selesai dirias oleh para MUA hebat kelas atas. Ia terlihat sangat cantik dengan riasan khas pengantin. Ia pun menggunakan pakaian yang senada dengan yang di gunakan oleh Rayden.
"Wah, Mbak ini terlihat sangat cantik. Tuhan menciptakan mu dengan Sangat sempurna. Aku yakin, pak Rayden akan terpana ketika melihatmu nanti!! ". Ucap asisten MUA, kala melihat wajah Nesya yang terlihat begitu cantik dengan pahatan wajah yang hampir sempurna.
Kini, Nesya tengah bersiap, para Bridesmaids menjemput Nesya dari kamar rias. Mereka mengantarkan Nesya menuju kursi pelaminan dan mendudukannya di samping Rayden.
"Hey, buruk rupa. Dengarkan aku baik-baik, aku menikahi mu bukan karna mencintaimu. Tapi karna aku terpaksa, paham! ". Bisik Rayden.
Nesya memutar bola matanya malas, ia tak mengubris ucapan Rayden. Ia hanya diam dan memandang ke depan.
"Ananda Rayden, apakah anda sudah siap melaksakan ijab Qabul ini?? ". Tanya penghulu sebelum melakukan ijab qobul tersebut.
Rayden mengangguk, pertanda dirinya telah siap dengan pernikahan ini.
Pak penghulu mengulurkan tangannya dan Rayden pun menjabat tangan pak penghulu.
__ADS_1
"Baiklak, ikuti ucapan saya. Ananda Rayden Alexander. Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ananda Nesya Aulia Rahman, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan logam mulia sebesar 50 gram dibayar tunai!! ".
Rayden menghela nafasnya sejenak sebelum mengucapkan kalimat tersebut.
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Nesya Aulia Rahman denga mas kawin tersebut dibayar tunai!! ". Ucap Rayden lantang.
Rayden mengucapkannya dengan lancar hanya dengan satu helaan nafas saja.
"Bagaimana saksi, Sah!! ". Ucap Penghulu.
Sah.. sah.. sah!!!
Sahut para tamu yang hadir dengan serempak dan kompak.
Syukur pun Margaretha panjatkan pada pencipta langit dan bumi, karna telah membuatnya bahagia hari ini.
"Mempelai wanita boleh salim dulu sama suaminya!! ". Ucap penghulu pada Nesya.
Dengan terpaksa Nesya meraih tangan Rayden dan menciumnya takzim.
"Jika bukan karna terpaksa, aku ogah melakukannya! ". Gumam Nesya dalam hati.
Prok.. prok.. prok..!!
"Baiklah, untuk suami. Boleh cium kening istrinya! ". Ucap penghulu.
"Apa, saya harus cium kening si buruk rupa ini. Tidak salah?? ". Ucap Rayden.
Nesya melotot ke arah Rayden, mengapa disaat situasi seperti ini Rayden sempat-sempatnya mengatai dirinya buruk rupa.
Sementara penghulu pun mengerutkan keningnya, kala Rayden mengatakan buruk rupa pada Nesya yang saat ini berjuluk istrinya.
Rayden yang menyadari hal itu pun, segera melarat ucapan.
"Ehh, maksud saya Nesya. Maaf, maaf. " Ucap Rayden melarat ucapannya.
Penghulu pun mengangguk dan melanjutkannya. kemudian menutupnya dengan doa, agar pernikahan keduanya SAMARA, langgeng dan awet sampai Kakek Nenek.
Selesai berdoa, penghulu pun mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
Setelah selesai, kami pun berdiri dan menerima ucapan demi ucapan selamat dari para tamu yang turut hadir dalam acara pernikahan kami.
"Selamat, ya. Atas pernikahan kalian, semoga kalian bahagia dan langgeng sampe kakekakek Nenek!! ". Ucap tamu yang hadir.
"Terimakasih!! ". Jawab Nesya.
__ADS_1
Sementara Rayden hanya bisa tersenyum kecut. Ia tak berharap pernikahannya langgeng. Ia ingin Nesya menyerah dan hengkang dari hidupnya. Sehingga ia tak harus merasa bersalah.
"Jangan berharap banyak padaku, Nesya!! ". Bisik Rayden tepat di telinga Nesya.
Sontak saja Nesya melirik tajam ke arah Rayden.
"Terserah dirimu saja, aku pun tak ingin berharap pada laki-laki Dekil dan sombong seperti mu!! ". Sahut Nesya.
"Kau.. " geram Rayden.
Rayden hendak maju dan manampar pipi Nesya, namun langkahnya terhenti kala seseorang tami datang menghampiri.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya Loe kawin juga!! ". Ucap Boy yang merupakan teman karib Rayden.
Rayden hanya tersenyum kecut, kala menanggapi ucapan sahabatnya.
Kemudian 2 sahabat itu pun berpelukan, Boy pun berbisik di telinga Rayden.
"Nanti malam, Gas. Bro!! ". Bisiknya.
"Gila, Lue Boy!! ". Sahut Rayden.
Boy hanya cecengesan dan berlalu pergi setelah bersalaman serta memberikan ucapan selamat.
Kini, semua tamu tengah sibuk menyantap hidangan yang di sediakan dalam acara tersebut.
Rayden pun memutuskan untuk duduk sembari memainkan polselnya. Tiba-tiba, Rayden di kejutkan oleh suara seorang wanita yang begitu familiar.
"Selamat atas pernikahan kamu, Ray!! " Ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Rayden mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang wanita.
"Viona, sedang apa kau disini?? ". Tanya Rayden.
"Memberi selamat atas pernikahanmu, Ray!! ". Ucapnya sembari melirik ke arah Nesya.
"Tak seharusnya kau ada disini, Viona. Cepatlah pulang!! ". Perintah Rayden.
Rayden tak ingin Viona membuat kekacauan dalam acara ini. Jika hal itu sampai terjadi, maka Margaretha bisa saja kembali terkena serangan jantung.
"Aku kesini hanya ingin memberimu selamat, tidak lebih dari itu. O ya, dulu kau bilang apa. Kau tak ingin menikah bukan, lalu mengapa sekarang kau menikah?? ". Tanya Viona.
"Kau tak perlu tahu apa alasanku. Cepat pergi dari sini!! ". Ucap Rayden.
Viona pun pergi meninggalkan panggung sembari tersenyum penuh arti pada 2 pangantin. Yaitu, Nesya dan Rayden.
__ADS_1