
Rayden turun dari ranjangnya, ia tersenyum miring pada Nesya yang masih terkulai lemas.
"Mengapa kau memandangku begitu? " tanya Nesya heran.
"dirimu tak selugu sikapmu! " sahut Rayden.
Nesya membulatkan matanya, ia tak terima dengan ucapan Rayden. " apa maksudmu? " tanyanya.
"kau tidak perawan! " papar Rayden.
Nesya berusaha menelan salivanya susah payah, mengapa Rayden bisa tahu?
"tentu saja aku tahu! " ucap Rayden, seolah ia tahu apa yang ada dalam fikiran Nesya.
Nesya hanya membulatkan pupil matanya, tanpa dapat berkata. sebab yang di katakan oleh Rayden adalah benar.
"anggap saja hal tadi adalah sebuah insiden, sebab Ibuku sendiri telah mencampurkan obat perangsang ke Jus tadi! " ucap Rayden.
Rayden tak peduli dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Nesya, karna baginya hal itu hanya untuk senang-senang saja.
Rayden tersenyum miring, seraya berjalan pergi meninggalkan Nesya yang masih terdiam kaku di tempatnya.
"dari mana dia tahu? " gumam Nesya lirih.
fikiran Nesya melayang pada beberapa tahun lalu, saat keperawanannya harus direnggut paksa oleh seorang Pria yang tidak Nesya kenal. Nesya tidak tahu siapa orang yang telah menodainya.
Nesya mengutuk saat kejadian itu, ia ingin memaki bahkan membunuh Pria yang telah merenggut kesuciannya. namu Nesya bingung harus mencari kemana. hingga akhirnya Nesya bertemu dengan Lion, dan dari sanalah kepercayaan Nesya kembali.
berkat Lion, Nesya bisa bangkit dari keterpurukannya. ia bisa menatap dan mengembalikan kepercayaan dirinya.
"untuk apa aku memikirkan pendosa itu! " ucap Nesya lirih.
Nesya pun turun dari ranjang, dan meraih pakaiannya. kemudian Nesya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
30 menit berlalu, Nesya keluar dari kamar mandi dan berganti pakaiannya. Nesya merebahkan dirinya di kasur.
Rayden mengetuk pintu kamar Margaretha. tak lama kemudian, Margaretha membuka pintu.
"ada apa, Ray? " tanya Margaretha.
"apa yang mama campurkan ke minuman ku tadi? " tanya Rayden.
wajah Margaretha nampak terlihat begitu gugup, kala mendapat pertanyaan dari Rayden.
__ADS_1
Margaretha menggeleng. " ti-tidak, Mama tidak mencampur apapun! " sanggah Margaretha.
"bohong! Mama mencampurkan obat perangsang, bukan? untuk apa, Ma? " tanya Rayden.
Margaretha menghela nafasnya. sepertinya ia harus berkata Jujur, sebab berbohong pun percuma. " maaf, Ray. Mama hanya ingin kau memiliki keturunan! " ucap Margaretha.
Rayden memalingkan wajahnya. sebenarnya Rayden ingin marah, namun ia sadar bahwa Margaretha adalah Ibunya. Rayden berusaha meredam amarahnya. " baiklah! katakan padaku, dimana Williams saat ini? " ucap Rayden.
Margaretha membulatkan matanya, ini adalah pertama kalinya Rayden menanyakan Williams. "untuk apa? " tanya Margaretha.
"bukankah, Mama ingin aku memiliki anak? " sahut Rayden.
Margaretha mengangguk, namun ia merasa heran. apa hubungannya dengan Wiliams. " lalu, apa hubungannya? " ucap Margaretha heran.
"ada hubungannya. aku ingin menanyakan padanya, apa yang membuatnya meninggalkan kita? apakah aku bukan anak yang dia inginkan? apakah aku adalah akibat perceraian kalian? banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. apakah dia pantas aku panggil sebagai Papa atau aku harus memanggilnya pecundang? " papar Rayden. terlihat dadanya naik turun menahan gejolak dalam dadanya.
Margaretha menutup mulutnya, ia tak percaya jika Rayden berfikiran seperti itu Selama ini. ia tak menyangka jika perceraiannya dengan Williams membawa dampak buruk terhadap Rayden.
"dengar Mama, Ray. kau bukan akibat dari perceraian kami. walau bagaimanapun dia adalah Papamu, Ray! " ucap Margaretha seraya memegang bahu Rayden.
Rayden memalingkan wajahnya, sungguh Rayden tak habis fikir dengan Margaretha. mengapa ia masih saja membela Williams? padahal sudah jelas bahwa Williams adalah seorang pecundang yang meninggalkan anak dan istrinya.
"apa dia begitu berarti untukmu? " tanya Rayden.
Margaretha tetap mencintai Williams, walau Williams sudah menyakiti hatinya. namun rasa cinta itu tetap ada hingga kini.
Margaretha selalu pasang badan, kala ada seorang yang berusaha menjatuhkan Williams.
Margaretha tak tahu apakah itu adalah suatu kebodohan atau cinta yang dia miliki terlalu besar?
"tunjukan padaku, bagaimana Rupa dari pecundang itu! " gertak Rayden.
Rayden sudah lupa dengan wajah Williams, sebab Williams pergi saat usia Rayden berusia 5 tahun, dan sekarang usianya sudah 25 tahun. 20 tahun berlalu, namun Williams tak pernah menemui ataupun memberikan kabar padanya.
"Ray! " sentak Margaretha.
Margaretha tak suka jika Rayden menyebut Williams sebagai pecundang. walau bagaimanapun Williams adalah Papanya.
Rayden menatap Ibunya tak percaya, kemudian Rayden tersenyum miring. " sadarlah, Ma. dia sudah pergi meninggalkan kita sejak 20 tahun lalu. tapi Mama masih mengharapkan dia, bahkan Mama masih membela pecundang itu! apa yang dia lakukan padamu? " ucap Rayden.
plak...
Margaretha menampar pipi Rayden dengan sangat keras, hingga menimbulkan rasa perih di pipi Rayden.
__ADS_1
Rayden tak menyangka jika Margaretha melakukan hal itu padanya, nyaris dalam hidupnya Rayden tak pernah mendapatkan tamparan dari sang Mama sejak dulu.
Rayden memegangi pipinya sembari tersenyum kecut. " terimakasih! anda sudah menunjukkan dimana posisi saya. anda lebih membela pecundang itu ketimbang saya! " ucap Rayden sembari bertepuk tangan.
Margaretha hilang kendali, ia tak sengaja menampar putranya sendiri. namun entah mengapa ia begitu marah, kala mendengar Rayden menjelekan Williams.
Margaretha tak percaya bahwa tangan ini sudah menampar buah hatinya. Margaretha meminta maaf, namun Rayden tak bergeming.
Rayden pun pergi dari hadapan Margaretha. ia tak peduli ataupun menghiraukan teriakan Mamanya.
"ya tuhan, apa yang aku lakukan ini? " gumamnya lirih.
Margaretha tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Margaretha mengutuki dirinya sendiri. ia begitu bodoh, sangat bodoh!
Rayden berjalan menuju keluar rumah, ia pun masuk ke dalam rumahnya dan melajukan dengan kecepatan kencang.
saat ini Rayden sangat marah dengan tingkah Margaretha. mengapa ia begitu mencintai Williams?
Rayden memukul setirnya. " ahh Williams, pelet apa yang kau berikan pada Ibuku? " ucap Rayden marah.
Rayden merasakan perih, namun bukan tamparan dari Margaretha. melainkan betapa Margaretha memasang badan demi laki-laki yang telah membuat hidupnya hancur.
Rayden tak mengerti mengapa Margaretha begitu mencintai Williams, lalu apa penyebab mereka bercerai dan dimana Williams berada saat ini?
"aku harus segera menemukanmu, Williams! " ucap Rayden.
Rayden menghubungi seseorang untuk mencari informasi tentang Williams. ia ingin mengetahui siapa Williams yang sebenarnya!
"tunggu saja saatnya tiba, Williams. aku akan membuat mu hancur, sehancur-hancurnya! " ucap Rayden.
tak berapa lama kemudian, seseorang mengabari Rayden. ia memberikan alamat Kantor Williams, namun tidak dengan fotonya. sebab Williams memprivasi kehidupannya.
"baiklah akan aku temui dirimu! " ucap Rayden.
kini Rayden sudah mengantongi identitas Williams, ia akan menemuinya. ingin rasanya Rayden mencabik-cabik tubuh Williams. mengapa ia begitu tega pada Margaretha dan dirinya?
Rayden tak sabar menunggu hari esok, sebab ia akan mengatahui siapa Williams! Ayah yang meninggalkannya dan harus berjuang sendiri tanpa bantuan seorang Ayah.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa mampir ke karya temanku, ya. para reader!
__ADS_1