
Rayden tak mampu mendengar kata anak. ia begitu Trauma dengan masa lalunya. sikap dingin yang Rayden tunjukan di depan umum, itu semua hanya sebagai covernya saja. mereka tak tahu Trauma apa yang Rayden alami.
Nesya tak menyangka begitu kacaunya Rayden. Nesya mendekati Rayden seraya memegang bahunya.
"Ray, kau baik-baik saja? " tanyanya.
"pergi kau dari sini!! " teriak Rayden.
Nesya tersentak kaget, ia pun mundur beberapa langkah.
"bahkan dalam keadaan seperti ini saja kau masih bisa berteriak! " gumam Nesya.
Nesya memilih pergi meninggalkan Rayden. ia akan membiarkan Rayden tenang terlebih dahulu.
hingga 1 jam lamanya, Rayden bisa mengendalikan semuanya. ia nampak sudah lebih baik dari sebelumnya.
Rayden berjalan keluar dengan santai tanpa beban. berbeda dengan 1 jam sebelumnya.
Nesya hanya melongo melihat Rayden yang begitu santainya seolah-olah tidak terjadi apa-apa!
"dia itu orang atau kuntilanak sih. tiba-tiba nangis eh sekarang, malah biasa aja. ya tuhan makhluk apa dia sebenarnya? " gumam Nesya.
Nesya mendekati Rayden seraya memegang kening Rayden. "apa-apaan kau ini, Nona. buruk rupa? " ucap Rayden sangar.
"kau baik-baik saja kan? soalnya tadi kau seperti kesurupan! " ucap Nesya sembari menatap Rayden.
"seperti yang kau lihat. aku baik-baik saja! sudah sana pergi. jangan ganggu aku! " ucap Rayden seraya melangkah pergi.
Nesya hanya bisa garuk-garuk kepala bingung. " entah makhluk apa dia sebenarnya, tampan tapi aneh! " gumam Nesya.
Nesya mengedikan bahunya seraya berjalan menuju kamarnya.
mumpung Rayden pergi, ini adalah kesempatan bagi Nesya untuk mencari kelemahan Rayden dan menyerahkannya pada Lion.
"aku harus mencari bukti itu, agar aku bisa segera pergi dari rumah ini! " ucapnya lirih.
gegas Nesya mencari-mencari bukti di dalam kamar. ia mencari-cari ke sudut dan bawah pakaian Rayden. namun nihil, Nesya tak menemukan apapun disana. kemudian, Nesya melihat sebuah brankas yang terdapat di sudut ruangan.
"apa itu? " ucapnya seraya mendekat dan melihatnya.
Nesya meraihnya kemudian memindahkannya ke atas kasur dan berusaha membukanya.
"ah sial. apa paswordnya? " ucap Nesya.
Nesya tak bisa membuka brankas, sebab Rayden sudah menguncinya dengan password. sehingga tak ada seorang pun yang bisa membukanya.
sudah beberapa kali Nesya mencoba memasukan sandi, namun semuanya gagal.
"sulit sekali. padahal aku yakin, semua bukti ada disini? " ucap Nesya.
Nesya tengah berfikir bagaimana bisa membuka brankas tersebut, namun tiba-tiba ia mendengar sebuah ketukan di pintu kamarnya.
"Nesya! " sepertinya itu suara Margaretha.
gegas Nesya menyimpan brankas Tersebut ke asalnya dan merapikan penampilannya, kemudian Nesya membuka pintu.
"ada apa, Tante? " ucap Nesya, sesat membuka pintu.
__ADS_1
Margaretha tersenyum. " ayo kita makan! kamu belum makan kan dari tadi? " ucap Margaretha.
Nesya mengangguk. " ayo, Tante! " ucap Nesya.
Nesya dan Margaretha pun turun ke bawah untuk makan malam yang sempat tertunda.
"kemana, Rayden? " tanya Nesya.
"tadi dia pergi! " sahut Nesya santai.
"o ya, Tente. tadi aku lihat Rayden berada di pojok ruangan, ia begitu terguncang sembari memeluk lututnya! " ucap Nesya.
Margaretha hanya menghela nafasnya. " selalu saja begitu! " gumamnya lirih.
Nesya yang mendengar itu pun menghentikan kunyahannya. " apa Rayden sering begitu? " tanya Nesya penuh tanya.
Margaretha mengangguk. "iya, dia memang begitu. namun saat sadar, Rayden akan bersikap seperti biasa! " ucap Margaretha.
"pantas saja! " gumam Nesya sembari melanjutkan makannya.
Nesya dan Margaretha makan malam tanpa Rayden. mereka tidak tahu kemana Rayden saat ini, mungkin saja Rayden tengah menenangkan dirinya untuk sejenak.
selesai makan, Nesya membawa piring-piring kotor ke wastafel dan mencucinya.
sementara Margaretha, ia pergi menuju kamarnya.
selesai mencuci piring, Nesya menuju kamarnya dan membuka pesan masuk di ponselnya.
"astaga! banyak sekali pesan di ponselku! " ucap Nesya.
yang menarik perhatian Nesya adalah sebuah pesan dari Lion. Lion mengirimkan sebuah puisi untuknya. hati Nesya begitu meleleh melihat puisi itu.
tiba-tiba Rayen datang, kala Nesya sedang senyum-senyum sendiri.
"kenapa kau? apa kau mendapatkan lotere? " tanya Rayden menaikan sebelah alisnya.
Nesya langsung terdiam. " urusanmu? " sahut Nesya.
"tidak ada. kau tak sepenting itu! " ucap Rayden seraya masuk ke dalam kamar.
Rayden melirik ke arah brankas. ia pun mendekat.
"sepertinya ada yang berubah! " gumamnya.
Rayden melirik ke arah Nesya, Nesya mulai merasa cemas, ia takut jika Rayden mencurigai dirinya.
Nesya mulai di landa rasa tegang, sebab Rayden mulai mendekat ke arahnya. Nesya berusaha menelan ludahnya dan menutup matanya.
"kenapa kau begitu tegang? " tanya Rayden.
Nesya membuka matanya. " ti-tidak, aku tidak tegang! " sahut Nesya gugup.
Rayden mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Nesya. "benarkah? " ucap Rayden mencari kebenaran.
Nesya mengangguk. ia begitu tegang, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Rayden mengusap kening Nesya yang berkeringat. " apakah ini keringat dingin? " ucap Rayden menelisik.
__ADS_1
Nesya menggeleng.
"kau berbohong!! " sentak Rayden.
Nesya melotot sempurna, apakah Rayden sudah tahu atau Rayden curiga padanya?
"katakan! apa kau lakukan saat aku tak ada disini? apa yang kau cari di kamarku? " ucap Rayden.
Nesya menggeleng taku. " a-aku ti-tidak .. "
ucapan Nesya terpotong oleh sebuah ketukan pintu. Rayden menjeda mengintrogasi Nesya.
ia pun membuka pintu, dan terlihat Margaretha tengah berdiri disana sambil membawa nampan berisi jus kesukaan Rayden.
"Mama! " ucap Rayden
"di minum, Ray. Mama sengaja membuatkan ini untukmu! " ucapnya.
tanpa bertanya ataupun curiga, Rayden langsung meminumnya sampai tandas, agar Margaretha segera pergi dari kamarnya.
Margaretha tersenyum, kala melihat Rayden menghabiskan Jus buatannya.
"ya sudah, lekaslah beristirahat! kau pasti lelah, bukan? " titah Margaretha.
Rayden mengangguk dan Margaretha pun pergi dari kamar Rayden.
Rayden melirik tajam ke arah Nesya. Nesya masih berdiri di tempatnya semula, tanpa beranjak sedikitpun.
Rayden mulai mengintrogasi Nesya kembali. setelah beberapa menit berlalu. namun tiba-tiba Rayden merasa ada yang aneh pada tubuhnya. tubuhnya mulai terasa panas, gairahnya makin meningkat dan mulai merasa gelisah.
"ada apa denganku? " gumamnya dalam hati.
Rayden tidak tahu apa yang terjadi padanya, apa karna Jus yang Margaretha berikan tadi? entahlah, Rayden tidak tahu!!
"sepertinya ini harus segera tersalurkan, jika tidak. aku bisa gila!! " gumamnya.
Rayden berjalan menuju nakas, kemudian mengambil obat di laci. ia pun kembali, dan memberikan obat tersebut pada Nesya.
"ambil ini dan minumlah segera!! " titah Rayden.
Nesya menerima obat itu dengan kening mengerut. " obat apa ini? " tanyanya polos.
"pil KB! agar kau tidak hamil! " ucap Rayden santai, walau keinginannya begitu kuat , namun Rayden berusaha bersikap tenang.
Nesya menggeleng. " tidak, aku tidak mau! " tolaknya.
"minum itu! " perintah Rayden.
namun Nesya masih bergeming dan kekeh, tidak mau meminum obat tersebut.
Rayden segera meraih obat itu dari tangan Nesya. kemudian memasukan 1 pil ke dalam mulut Nesya, lantas mendorongnya dengan air putih. hingga pil itu masuk ke dalam tubuh Nesya.
kemudian, Rayden membopong tubuh Nesya ke atas kasur dan mulai melepaskan hasratnya pada Nesya. Nesya begitu menikmati sentuhan Rayden, walau awalnya ia menolak.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
mampir juga ke karya temanku, pada reader yang baik😘
__ADS_1