CHILD FREE

CHILD FREE
EPISODE 29 #RAYDEN KEMBALI BERTEMU VIONA


__ADS_3

Rayden datang menemui Nesya, namun sepertinya Rayden ragu untuk menemui Nesya saat ini.


"Kenapa aku gugup sekali? " Gumamnya.


Tangan Rayden nampak bergetar, ia tak tahu ada apa dengan dirinya. Kenapa ia begitu bergetar saat bertemu dengan Nesya?


"Ayolah, Ray. Kau pasti bisa! " Ucapnya.


Rayden mulai melangkah dan membuka knop pintu, nampaknya Nesya tengah beristirahat.


"Rupanya dia sedang tidur! " Ucapnya, Rayden pun berbalik dan hendak melangkah pergi.


"Ray! " Panggil Nesya.


Rayden membalikan tubuhnya. "Ya, tuhan dia bangun! " Gumamnya dalam hati.


Rayden menghela nafasnya seraya melangkahkan kakinya mendekati Nesya. " Kau sudah baikan? " Tanyanya dingin.


Nesya mengangguk. " Seperti yang kau lihat! " Sahut Nesya.


"Syukurlah! " Ucap Rayden.


"Ada apa kau menemuiku? " Tanya Nesya.


Rayden mencari alasan. " Mmm, aku hanya ingin melihat keadaan mu saja. Jangan geer! " Ucapnya.


Rayden sedang berbohong saat ini, Nesya bisa merasakan kebohongan dari wajah Rayden.


"Kau berbohong kan? Aku tahu, kau ingin meminta maafkan? " Tebak Nesya.


Rayden menggeleng. "Tidak. Untuk apa? " Sahut Rayden.


Nesya mengedikan bahunya.


"Bagaimana keadaanmu? " Tanya Rayden.


"Baik. Jangan cemas soal keadaanku! " Sahut Nesya.


"Baguslah. Aku kira dia mati! " Gumamnya lirih.


Nesya membulatkan matanya kala mendengar gumaman Rayden. " Apa yang kau katakan? Oh, jadi kau menginginkan aku mati, iya? " Ucap Nesya kesal.


"Siapa yang berkata seperti itu? " Tanya Rayden pura-pura tak tahu.


Rayden heran pada wanita ternyata selain memiliki insting yang kuat, mereka juga memiliki daya dengar yang cukup kuat.


Dari pada berdebat dengan Nesya lebih baik Rayden menghindar dan bergegas pergi dari kamar Nesya.


"Lebih baik aku pergi saja dari pada harus bertemu dengan kucing betina itu! " Gumamnya seraya melangkah pergi.

__ADS_1


Rayden menuruni tangga, lantas segera pergi dari rumahnya. Hari ini Rayden memiliki janji dengan temannya.


"Mau kemana, Ray? " Tanya Margaretha kala melihat Rayden yang sudah rapi.


"Pergi bertemu dengan teman! " Sahutnya santai.


"Teman? Teman yang mana? " Tanya Margaretha penasaran.


Rayden menghela nafasnya, mengapa Ibunya ingin tahu lebih detail tentang hidupnya, hingga hal sekecil ini pun ia ingin tahu. " Andre! Dia baru pulang dari luar Negri. " Sahut Rayden.


Margaretha mengangguk dan ia sudah kenal dekat dengan Andre, Andre adalah teman Rayden sejak masih SD. Pantas saja jika Rayden ingin bernostalgia dengan sahabat masa kecilnya.


Sesampainya Rayden di sebuah cafe, lantas ia masuk dan duduk menunggu sahabatnya datang.


Tiba-tiba seseorang menyapanya, Rayden menoleh ke sumber suara. "Andre.. " Ucapan Rayden terhenti kala melihat seorang wanita yang berdiri di samping sahabatnya tersebut.


"Viona! " Gumamnya lirih.


Andre segera menghampiri Rayden dan membuyarkan lamunannya. "Ray, Loe ngelamun? Ngelamunin apaan? " Tanya Andre.


Rayden menggeleng. " Tidak! " Sahutnya, Rayden melirik ke arah Viona. Begitu juga dengan Viona.


Viona dan Andre pun duduk di dekat Rayden, jujur saja Rayden merasa canggung duduk bersebelahan dengan Viona. Walau bagaimanapun Viona adalah masa lalu Rayden.


Rayden berusaha bersikao seperti biasanya, walau ia tak bisa menampik bahwa ia tidak nyaman dengan kehadiran Viona.


"Kau kenapa, Ray? Aku perhatikan kau seperti tidak nyaman? " Tanya Andre, ia menyadari bahwa Rayden tidak nyaman dengan situasi ini.


Rayden permisi untuk pergi ke toilet. lantas Viona mengikuti langkah Rayden dan pamit ke ruang kecil.


"Aku mau ke toilet dulu, ya! " Izinnya.


Andre mengangguk dan memilih bermain ponsel saat kekasihnya pergi ke toilet.


Viona justru menemui Rayden di toilet kusus laki-laki.


"Mau apa kau kemari, Viona? " Tanya Rayden seraya menyeret Viona.


Viona memeluk tubuh Rayden dengan erat. "Aku merindukanmu, Raydan. Apa kau tidak Rindu denganku! " Ucapnya.


Rayden melepaskan pelukan Viona. " Jangan gila. Aku tidak mungkin bermain dan mengulang masa lalu. Kau harus ingat, kau adalah kekasih Andre, sahabat ku! " Tekan Rayden.


Bukannya menjauh, justru Viona mulai merapatkan tubuhnya pada Rayden. Tentu saja hal itu membangkitkan kelakian Rayden, namun Rayden sadar diri ini adalah tempat umum. Sebisa mungkin Rayden meredam hasratnya.


Rayden mendorong tubuh Viona agar menjauh darinya. "Jangan gila dan jangan berfikiran macam-macam! " Ucap Rayden seraya berlalu pergi.


Viona terus memanggil nama Rayden, namun Rayden seolah-olah tak mendengar teriakannya.


"Ray, Rayden!! " Teriknya.

__ADS_1


"Sial! Dia sama sekali tidak tergoda denganku! " Ucapnya kesal.


Rayden segera kembali ke meja dimana Andre tengah duduk menunggunya. "Ray, kau sudah kembali? " Tanyanya.


"Ya! " Ucapnya singkat.


Rayden merih kunci mobilnya lantas berpamitan untuk segera pergi, saat ini moodnya rusak oleh kehadiran Viona.


"Loe, mau kemana Ray? " Tanya Andre.


"Pergi! " Sahutnya.


"Kitakan baru ketemu. Masa Loe mau pergi! " Ucap Andre tak setuju.


"Next time kita bisa ketemu lagi. Tapi ingat, jangan bawa cewek Lu lagi! " Ucap Rayden sebelum pergi.


Sementara Andre hanya menggaruk tengkuknya heran. " Apa maksudnya sih? Ko Gue gak boleh bawa Viona? Apa yang salah dengannya? " Ucap Andre bertanya-tanya.


Jujur saja Andre tak mengerti dengan ucapan sahabatnya tersebut, mengapa Rayden tak ingin bertemu lagi dengan Viona?


Tak berapa lama kemudian akhirnya Viona datang. " Kemana Rayden? " Tanyanya.


"Pergi! " Sahut Andre.


"Pergi? " Ulangnya.


Andre mengangguk. " Ya, dia sudah pergi! " Ucapnya.


"Ya sudah kalo begitu aku harus pergi! " Izin Viona.


Namun tangannya di cekal oleh Andre. "Mau keman? Kita baru saja bertemu sejak kita LDR. Biarkan Rayden pergi dan kita nikmati masa berdua kita selama aku masih di Indonesia! " Ucapnya.


Mau tak mau akhirnya Viona menganggukan kepalanya dan terpaksa makan bersama Andre, walau hatinya tertuju pada Rayden tapi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.


Rayden melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. " Kenapa harus ada Viona sih? " Ucapnya kesal.


Jujur saja Rayden tidak nyaman dengan Viona. ia begitu risih saat bertemu dengannya.


Rayden tidak pernah ingin mengulang masa lalunya, Rayden akui ia pernah menyayangi Viona namun itu dulu, tidak untuk saat ini.


Walau dulu Rayden sangat menyayangi Viona tapi Rayden tak pernah berniat menikahinya. Rayden hanya ingin menjalani hubungan tanpa ikatan.


"Apa yang kau fikirkan, Rayden? lupakan dia! " Gumamnya.


Entah kenapa Rayden begitu nyaman saat menjalani hubungan tanpa sebuah ikatan, maka dari itu Rayden ingin Nesya pergi dari hidupnya dan meninggalkannya. Sungguh, Rayden tidak nyaman dengan kehadiran wanita dalam hidupnya.


Sebuah pernikahan adalah sebuah kutukan bagi Rayden. Rayden yang ingin hidup tenang, damai dan bebas harus terhalang oleh sebuah tekanan dari seorang Istri.


"Aku harus berusaha membuat Nesya pergi dari hidupku, Ya. aku harus melakukan itu semua! " Gumamnya.

__ADS_1


Rayden akan berusaha membuat Nesya hengkang. Ia tak ingin melihat Nesya dalam hidupnya. Walau semua itu akan menyakiti hati Margaretha.


Rayden tak ingin menjalani sebuah hubungan ini, Rayden tak suka dengan hidupnya saat ini. Rayden lebih nyaman dengan hidupnya yang penuh dengan kebebasan seperti dulu tanpa sebuah ikatan.


__ADS_2