
Keesokan harinya, Rayden bangun dari tidurnya setelah semalaman tertidur dijam 03:00 dini hari.
"sudah bangun, Ray? ". ucap Margaretha.
"iya, mama apa kabar?? ". tanya Rayden kembali.
"seperti yang kamjmu lihat, mama baik-baik saja. mama pengen cepet-cepet pulang, Ray!! ". rengek Margaretha, sebab dirinya sudah tak betah berada di rumah sakit.
"iya, nanti Ray tanya dulu sama dokternya. apa mama boleh pulang atau tidak! ". ucap Rayden.
Margaretha pun mengangguk. sementara Nesya, kini dirinya tengah membeli bubur di depan rumah sakit untuk sarapan.
"Ray, apa kau udah memiliki jawaban atas pertanyaan mama semalam?? ". tanya Margaretha memastikan.
Rayden terlihat menghela nafasnya dan mengangguk. pertanda ia sudah memiliki jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Margaretha semalam.
Margaretha nampak penasaran dengan jawbaan dari Rayden. akankah Rayden menyetujui keinginannya atau tidak.
"jadi, apa keputusanmu. Ray?? ". tanya Margaretha.
"Ray setuju untuk menikahi Nesya. " ucap Rayden.
Akhirnya Rayden harus mengalah dan bersedia menikahi Nesya. walau sebenarnya ini semua bertentangan dengan prinsip hidupnya.
Margaretha nampak tersenyum, terlihat jelas binar kebahagian terpancar dari wajah Margaretha.
"terimakasih, Ray!! ". ucap Margaretha, ia tak hentinya tersenyum ke arah Rayden. hari ini ia merasa begitu bahagia. akhirnya Rayden bisa menjalani hidupnya dengan normal.
tak berapa lama kemudian, Nesya datang dengan menenteng kresek berisikan 3 bubur di tangannya. ia pun menyiapkannnya dan memberikannya pada Rayden satu. Nesya pun tak lupa menyuapi Margaretha.
"ini makanlah. tidak baik jika menunda sarapan!! ". ucap Nesya, sembari menyodorkan satu bubur pada Rayden.
Rayden pun menerimanya dan mulai menyendokan bubur tersebut ke dalam mulutnya.
"Tante makan dulu, Ya!! ". ucap Nesya, ia pun duduk dan mulai menyuapi Margaretha.
Margaretha pun mengangguk dan mulai membuka mulutnya, untuk menerima suapan demi suapan bubur yang berada ditangan Nesya.
Rayden makan dengan lahap, sebab semalam dirinya tidak makan sama sekali. namun dirinya begitu malas melihat Nesya.
setelah sarapannya habis, Rayden segera berdiri dan hendak pergi.
"kau jangan lupa makan, jangan biarkan tububmu menjadi kurus dan kering seperti jelangkung!! ". celetuk Rayden dingin. ia tak peduli dengan perasaan Nesya.
"Ray, jangan begitu!! ". peringat Margaretha.
"apa yang salah, Ma?? ". tanya Rayden, ia seolah-olah berbicara tanpa dosa.
sementara Nesya, ia melotot ke arah Rayden. tatapan matanya begitu tajam melihat Rayden. bak hendak menerkam Rayden hidup-hidup.
__ADS_1
"apa? sekaras apapun kau mencoba mengeluarkan matamu. tetap saja kau tidak akan bisa. lihatlah matamu, saat mau melotot saja matamu sepeti melek. jika kau tersenyum, matamu seperti tidak terlihat. " Ucap Rayden, ucapan Rayden memang sangat menyebalkan.
"kau ini, lihatlah tubuhmu. dekil, hitam dan bau!! ". ucap Nesya, ia pun berpura-pura menutup hidungnya dengan jarinya. padahal ia hanya berbohong.
hahaha
Rayden hanya tertawa menanggapi ucapan Nesya.
"makannya buka matamu, nona. kau tidak bisa melihat ketampanan hakiki yang aku miliki? ". ucap Rayden.
"hey, tuan. kau memang tampan, tapi otak mu busuk!! ". ucap Nesya sebal.
sementara Margaretha hanya bisa cengengesan mendengar perdebatan antara Rayden dan Nesya.
"tidak ada gunanya meladeni orang seperti dirimu. lebih baik aku pergi ke kantor, Bye!! ". ucap Rayden.
Rayden berpamitan pada Margaretha, sementara Ia hanya melirik Tajam ke arah Nesya. begitu pun Nesya, ia pun melirik tajam ke arah Rayden.
"dasar cewek jelek, aneh dan cerewet!! ". gumam Rayden.
Nesya pun memilih melanjutkan menyuapi Margaretha.
"jangan ambil hati dengan apa yang di ucapkan oleh Rayden, dia hanya suka bercanda. " ucap Margaretha.
"iya Tante, Nesya ngerti ko! ". sahut Nesya, namun tak bisa di pungkiri bahwa dirinya begitu sebal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Rayden.
Nesya pun selesai menyuapi Margaretha, kini bagian dirinya untuk sarapan.
Nesya mengangguk dan beralih duduk disofa dan mulai menyantap sarapannya.
tak lama kemudian, Rayden kembali datang ke ruangan Margaretha.
"Ray, ada apa? ko balik lagi. " ucap Margaretha.
"iya ma, kunci sama ponsel Ray ketinggalan! '. ucap Rayden.
Rayden pun megambil ponsel dan kunci mobilnya yang berada di atas sofa.
"bagus, makan yang banyak. agar tubuh mu tidak mengering seperti mayat!! ". celetuk Rayden kala melirik Nesya yang sedang menikmati sarapannya.
Nesya melirik tajam ke arah Rayden, ia pun menyimpan asal sarapan dan tidak melanjutkan sarapannya.
"kenapa tidak dihabiskan?? ". tanya Margaretha
"kenyang, Tante!! ". ucap Nesya berbohong. pdahal ia sebal dengan ucapan Rayden.
"pasti kenyang, ma. sebab dia suka makan angin, jadi makan sedikit pun dia sudah kenyang! ". ucap Rayden kembali.
"Ray!! ". panggil Margaretha, ia pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Rayden hanya tersenyum ke arah Margaretha.
"dasar cowok tengil!! ". gumam Nesya dalam. hatinya.
Nesya menatap Rayden dengan tatapan mautnya. ia begitu geram dengan ucapan Rayden.
"ingin rasanya aku menerkam dan memakan dirimu hidup-hidup!! ". gumam Nesya pelan, namun Rayden dapat mendengarnya.
"apa, ingin memakan ku hidup-hidup. sebelum itu terjadi, kau yang akan aku cabik-cabik dan aku cincang dagingmu!! ". bisik Rayden.
Nesya pun dibuat geram sekaligus ngeri dengan apa yang baru saja Rayden ucapkan. sontak saja Nesya langsung menelan slivanya dengan susah payah. bagaimana jika yang dikatakan oleh Rayden benar adanya.
"psikopat, kau ternyata?? ". ucap Nesya.
"bahkan aku bisa menjadi dewa kematian untukmu. itu pun jika kau mau!! ". ucap Rayden, ia hanya tersenyum miring ke arah Nesya.
Nesya menganggap senyuman Rayden merupakan senyuman mengerikan baginya.
"Ray, mau sampai kapan kamu disini. lebih baik sekarang kamu pergi ke kantor!! ". percakapan Rayden dan Nesya harus berakhir oleh ucapan Margaretha.
"iya ma, Ray pergi!! ". ucap Rayden.
Rayden pergi dari ruangan Margaretha, ia pun menuju mobilnya dan melajukannya menuju kantor miliknya.
setelah kepergian Rayden, Nesya hanya bergedik ngeri mendengar ucapan Rayden tadi.
"seram sekali pria itu! ". guma Nesya.
"kamu kenapa, Nesya?? " Tanya Margaretha, kala melihat Nesya seperti tengah ketakutan.
"nggak, Tante. aku gak papa ko! ". sahut Nesya.
"oh yaudah. " ucap Margaretha.
"lebih baik sekarang tente istirahat, ya! " perintah Nesya.
Margaretha pun mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di rajang, ia dibantu oleh Nesya.
tak berapa lama kemudian, Margaretha pun tertidur dengan lelap.
Nesya pun menyelimuti Margaretha, ia duduk disofa sembari memainkan gawainya.
drtt... drtt... drtt.. !!
sebuah panggilan masuk kedalam ponsel Nesya, ia pun segera mengangkatnya. namun Nesya menjawab telepon tersebut sembari keluar dari dalam ruangan Margaretha.
"hallo, mengapa kau menghubungi ku?? ". Tanya Nesya, ia pun berbicara dengan nada yang sangat rendah. agar Margaretha tidak mendengar percakapannya.
"apa kau sudah menjalankannya, bagaimana dengan Rayden. apakah dia setuju menikah denganmu? ". tanya seseorang diseberang telepon.
__ADS_1
"iya, Rayden setuju untuk menikah denganku. sudah, ya. aku tutup teleponnya, nanti aku kabari kamu selanjutkannya. bye!! ". ucap Nesya.
Nesya pun mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali masuk ke dalam ruangan Margaretha.