
"DEVAAAAN". Naya berlari kecil menghampiri ruang OSIS, menghampiri Devan, sang ketua OSIS yang sedang memimpin rapat
Seluruh anggota OSIS pun menatap Naya sekilas lalu mengalihkan pandangan mereka karena hal seperti ini sudah biasa, dimana Naya selalu saja muncul ketika Devan sedang berada diruang lingkup OSIS
Melihat Naya yang tersenyum lebar diambang pintu, Devan pun menghampiri Naya, "Apa lagi sih Nay? Lo ngga liat gue lagi rapat? Ganggu tau ngga". Naya memasang wajah cemberut mendengar ucapan Devan
"Hmmm Devan kan janji mau beliin Naya es krim". Devan membuang nafas kasar, "Ya nanti, pulang sekolah".
Naya menggeleng, "Naya mau sekaraaang". Rengek Naya sambil menghentakkan kedua kakinya ke lantai
"Astaga, rapat gue ngga bisa ditinggal, kelar rapat gue beliin".
"### Janji ya?". Devan mengangguk, "Udah sana pergi". Ucap Devan seraya mendorong tubuh Naya
Setelah memimpin rapat OSIS, Devan membelikan sebuah es krim untuk Naya dan ia antarkan ke kelasnya, "Naya mana?". Tanya Devan kepada teman kelas Naya
"Hmm tadi sih gue liat dia kearah atap". Devan terkejut dan segera berlari menuju rooftop gedung sekolah mereka
"Buruuung, hari ini Naya bawa jagungnya banyak, burung-burung makan yang banyak yaa biar kenyang". Ucap Naya seraya menghamburkan biji jagung untuk beberapa burung dara yang mengelilinginya
"Naya?".
"Devaaaan". Naya berlari kecil menghampiri Devan, "Huh gue kira lo mau lompat lagi". Naya menggeleng, "Naya lagi ngasih makan burung, nih". Naya menunjukkan bungkus biji jagung ditangannya
"Niat amat bawa makanan burung ke sekolah. Ini nih es krim lo". Naya tersenyum semangat dan langsung menyambar es krim ditangan Devan, "Yeay makasih Devaaan". Devan mengangguk
Naya pun segera melahap es krim itu dengan ceria selayaknya anak kecil, "Nanti pulang sekolah ikut gue kerumah". Naya menatap bingung kearah Devan "Kita mau ngapain?".
"Nanti juga tau". Devan berucap seraya menghapus noda es krim pada sudut bibir Naya dengan ibu jarinya
"Ayo turun. Gue ngga tenang ngebiarin lo disini sendirian".
"Ih Naya kan lagi ngasih makan burung".
"Ngasih makan burung gue aja". Ucap Devan ngasal, Naya pun mengerjap polos "Emang Devan punya burung?".
Devan mengangguk, "Ya punya lah".
"Kok Naya ngga pernah liat?".
"Lo mau liat?". Naya mengangguk sambil tersenyum, "Naya penasaran sama burungnya Devan, bulunya warna apa ya? Terus burungnya udah gede apa belum?".
__ADS_1
"****"
"Udah udah lupain! Cepet turun!". Naya mengangguk patuh dan mengikuti langkah besar Devan meninggalkan area rooftop
---
"Gimana Naya? Kamu mau kan jadi istri Devan?". Tanya Santi, mama Devan,
"Iya Nay, sejak ayah sama bunda meninggal gue ngga pernah tenang ngebiarin lo berdua doang sama si mbok dirumah..."
"Lo mau kan nikah sama gue? Jadi istri gue biar gue bisa terus jagain lo". Ucap Devan penuh keyakinan
"Benar, lebih cepat lebih baik kan? Kalian pacaran udah tiga tahun dan dua bulan lagi kalian lulus sekolah, papa rasa ngga masalah kalian menikah sekarang. Gimana Naya? Mau ngga?". Sambung Willy, papa Devan
Naya mengangguk semangat, "Mau! Naya mau menikah sama Devan".
"Bagus, kamu siap Van?". Devan pun mengangguk mantap, "Siap Pah"
---
"Bagaimana saksi? Sah?".
"SAH"
Satu jam telah berlalu, acara akad nikah yang diadakan secara sederhana itu pun telah selesai dilaksanakan. Memang sederhana, hanya ijab kabul tanpa adanya resepsi mewah dan meriah, mengingat mereka berdua masih sekolah dan tentunya pernikahan mereka masih dirahasiakan
Selepas akad nikah, Devan membawa Naya untuk tinggal bersama dirumah orang tuanya. Orang tua Devan sepakat melepas mereka untuk tinggal dirumah sendiri saat mereka sudah lulus SMA, jadi untuk sementara waktu mereka berdua akan tinggal dirumah orang tua Devan
"Capek?". Devan bertanya seraya mengusap lembut kepala Naya, Naya pun mengangguk lemas, "Naya mau bobo, tapi Naya bobo dimana? Kasurnya cuma satu".
"Dikasur lah, sama gue".
"Naya bobo sama Devan?".
"Ya iya, emang kenapa?".
"Hmm ayah pernah bilang katanya Naya gak boleh tidur sama cowok". Devan menyentil kening Naya, "Oon, sekarang kan gue suami lo Nayaaa, cuma gue yang boleh tidur sama lo".
Naya mengangguk paham, "Gitu ya?".
"Iyaaa, dah sana tidur duluan, gue mau ngecek data dari anak OSIS dulu". Naya mengangguk dan segera mengambil posisi untuk memejamkan kedua matanya
__ADS_1
---
"Oh iya Nay, inget ya lo jangan bocorin ke siapa-siapa kalo kita udah nikah, termasuk ke temen-temen lo".
"Iya, Naya ngerti".
"Nah gitu dong, pinter".
"Tapi kalo cerita ke Sisil sama Mily boleh kan?".
"Ya Tuhan, ternyata masih oon". Devan menghela nafas berat, "Dengerin gue baik-baik. Lo ngga boleh cerita ke siapa pun, ke Sisil kek, Mily kek, similikiti kek, pokoknya ngga boleh".
"Similikiti siapa? Temen Devan?". Naya mengerjap polos sementara Devan mengacak rambut frustasi, "Aarghh capek gue ngomong sama lo, sana turun!".
"Devan ngga turun?".
"Ck, iya ini mau turun". Devan melepas seatbelt dan segera turun dari mobil diikuti Naya dibelakangnya
"DEVAAANN". Devan menghentikan langkah dan berbalik menatap Naya, "Apa lagi sayang?".
Naya pun menatap Devan dengan bibir melengkung kebawah, "Naya boleh minta uang Devan ngga? Naya lupa ngga bawa uang jajan". Naya mengerjap polos menatap Devan
"Ooh, bentar, bentar". Devan berucap sambil mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya,
"Ini nih, potret ayah yang ngasih uang jajan ke anaknya". Ucap Tio teman dekat Devan yang juga anak OSIS
"Bacot lu". Ucap Devan,
"Nih, jangan jajan es krim lagi, kan kemarin udah "Naya mengangguk patuh, "Naya ke kelas dulu ya, makasih Devan, dadaah".
"Naya ngga dadah ke aku?".
"Hehe dadah Tiooo". Naya melambaikan tangan seraya berlari kecil meninggalkan Devan dan Tio
"Hahaha Naya lucu ya, gemesin banget". Ucap Tio membuat Devan melirik tajam kearahnya, "Yaelah santai aja paketu, yok ah ke kelas".
---
Haay guys, aku gatel nih pengen update cerita baru dengan genre favorite ku hehe, tenang guys cerita ini aku jamin bakal beda 1000000% dari novelku sebelumnya
Semoga kalian suka jalan dengan jalan ceritanya yaaa
__ADS_1
Dan mohon dukungannya juga supaya aku rajin update dan cerita ini ngga putus ditengah jalan^^