
"Diikat tuh biar ngga kabur lagi. Kalau perlu masukin kandang bareng Tuti sama Bejo". Sambung Joseph
"Hahaha, thanks, Jo, udah bawa Naya balik ke gue". Ucap Devan
"Yoi, sama-sama. Gue ngga tega ngeliat lo kayak gini". Ucap Joseph menepuk bahu Devan yang dibalas Devan dengan pelukan
"Gue ngga tau lagi gimana nasib Naya kalo ngga ketemu sama lo, mungkin Naya masih hilang dan ngga pernah kembali ke gue".
"Heh, anak nakal, jangan kabur dari rumah lagi". Ucap Joseph menatap Naya yang sedang asik memakan lolipop
"Iya". Jawab Naya
"Yaudah, gue cabut, ya". Ucap Joseph
"Disini aja, dulu? Anak-anak, sebentar lagi balik". Ucap Devan melirik jam tangannya
"Malam aja, gue ada urusan sama si tua bangka".
"Haha, bokap lo?".
"Iya. Gue balik ya, Nay".
"Iya, hati-hati, Joseph". Ucap Naya melambaikan tangannya, "Siap". Balas Joseph dengan mengacungkan ibu jarinya
"Duluan, bro". Joseph menepuk bahu Devan sebelum beranjak dari posisinya
Sepeninggal Joseph, Devan menghampiri Naya yang masih duduk bersandar dengan lolipop dimulutnya. Ia lepas lolipop dari bibir mungil itu lalu ia masukkan kedalam mulutnya, membuat si empunya terkejut dan menatap kesal dengan bibir mengerucut ke depan
"Devan...balikin permen Naya...". Rengek Naya dengan memohon
"Nih, permennya ngga manis, di beliin Jo, ya". Ucap Devan seraya memasukkan kembali permennya kedalam mulut Naya
"Iya, tapi ini manis kok, enak".
"Ada yang lebih manis".
"Apa?".
"Bibir lo".
"Hahaha, Devan mau modus, ya?".
"Engga, kata siapa?".
"Masa, sih? Hayo ngaku? Naya tahu kok Devan pengen cium Naya, kan?".
"Hahaha, pede banget, woy. Tapi emang benar, sih".
__ADS_1
Devan mendekat, menghimpit Naya sampai ujung sofa lalu ia lepaskan kembali lolipopnya
"Gue boleh cium lo ngga?". Tanya Devan menatap lekat bola mata kecoklatan dihadapannya itu
"Engga". Jawab Naya singkat, membuat Devan tertegun dan sedih seketika
"Devan ngga boleh cium Naya". Ucap Naya berwajah serius, Devan semakin sedih dibuatnya, ia menarik nafas dalam seraya mengerjapkan matanya yang mulai berkaca-kaca
"Kenapa, Nay?". Tanya Devan dengan suara rendah dan serak
"Pokoknya ngga boleh!..."
"Bolehnya Naya yang cium Devan". Jawab Naya disusul senyum lebar dibibirnya
"Aah, astaga, Nay. Iseng banget lo". Devan mengusap air yang menggenang di pelupuk matanya
"Hahahaha, gitu aja, nangis".
"Sedih, gue ngga boleh cium lo, takut lo udah ngga sayang sama gue".
"Naya selalu sayang sama Devan". Ucap Naya tersenyum mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan, "Maafin Naya, ya, udah kabur dari rumah, bikin Devan sedih, Naya ngga pikirin perasaan Devan".
"Lo ngga salah, ini salah gue yang bikin lo pergi dari rumah. Maafin gue".
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Naya segera mendekatkan leher Devan yang ada dipelukannya. Ia kecup bibir tebal kemerahan suaminya itu sebagai awal dari ciuman yang menyiratkan rasa rindu keduanya
Ia dudukkan dengan kedua kaki menekuk diatas pangkal pahanya, membuat Naya merasakan sesuatu menyentuh bokongnya. Naya tersentak, ia dorong cepat kedua bahu Devan yang membuat ciuman mereka terlepas
Devan menatapnya bingung, kedua alisnya terangkat seolah bertanya
"Eum, ini, punya Devan bangun, ya?". Tanya Naya gamblang, Devan pun memalingkan wajahnya menahan malu
"Gue...terang sang, Nay". Gumam Devan
Ciuman hangat yang berlangsung cukup lama itu membuat sesuatu di pangkal pahanya perlahan bangkit. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa Naya selalu membuatnya bergairah saat mereka sedang memadu kasih meski sekedar berciuman
Melihat Devan memandang kearah lain, Naya menangkup wajah tampan suaminya dengan kedua tangannya. Ia usap lembut pipi itu dengan ibu jarinya, membuat Devan semakin gugup dan salah tingkah
"Hehe, gapapa, Devan malu, ya?..."
"Naya mau cium Devan lagi". Ucap Naya memohon, "Boleh kan?". Sambung Naya yang dibalas tawaan Devan setelah keheningan sesaat
"Semangat banget, sih, kenapa?".
"Naya kangen banget sama Devan".
"Makanya, kalo marah, marah aja. Jangan kabur dari rumah, kangen kan, lo".
__ADS_1
"Hehe, Nay- hmpph..."
Devan lebih dulu mencium Naya, ia memulai sesi kedua ciuman mereka yang semakin intens dan saling mendominasi. Keduanya sudah terbawa suasana, Naya pun merapatkan tubuhnya pada tubuh Devan, membuat Devan merasakan kencang dan sekalnya buah da da Naya
Devan mulai penasaran, satu tangan yang melingkari pinggang ramping Naya, berpindah menelusup kedalam kemeja merah muda bergambar bunga yang dipakai Naya, tangannya menjelajah tepat diarea dada, membuat Naya kembali tersentak disela-sela ciumannya
Naya berusaha tenang meski rasa geli tidak tertahankan saat Devan mulai meres mas satu buah da da nya secara perlahan
Lambat laun, merasa tidak sanggup melanjutkan ciuman yang dibarengi dengan rasa geli di da danya, Naya pun melepas pagutannya dan menunduk menahan rasa geli itu
Tangan Devan semakin aktif setelah melihat wajah Naya yang bersemu kemerahan, ia pindahkan tangannya ke belakang punggung Naya, melepas pengait br* agar tidak ada penghalang aktifitasnya
"Aah". Naya melenguh, telapak tangan Devan telah menyentuh permukaan kulit dada nya yang selembut sutera
Memutar dan menekan pu ting payu dara Naya dengan jari, seakan membuat Naya hilang dari kesadarannya. Naya mendongak bersamaan suara indah yang terus lolos dari bibir mungilnya
Sentuhan hangat telapak tangan Devan berhasil membuatnya terbius merasakan sensasi nikmat yang baru pertama kali rasakan
Melihat sang istri menikmati permainan kecilnya, membuat rasa penasarannya semakin menjadi. Satu tangannya ia gunakan untuk melepas satu persatu kancing kemeja Naya. Membuat dua gunung kembar terpampang nyata didahapannya dengan jarak yang sangat amat dekat
Devan meneguk ludah. Disuguhkan pemandangan seindah ini, siapa yang bisa menolak? Tanpa basa-basi, Devan mendaratkan kepalanya disana, ia kecup lembut seluruh permukaan kulit payu dara itu. Sangat kenyal dirasa saat menyentuh wajahnya
"Eunghh...geli". Rintih Naya saat Devan melu mat satu pu ting payu dara nya yang sudah menon jol keras
Suara decak dari mulut Devan mulai terdengar, suara yang sangat halus ditelinga Naya karena Devan memanjakan payu dara nya dengan lembut tanpa menyakitinya sedikitpun
"Naya...mau...pipis..."
"Devan...ugh...udah".
Naya menjauhkan kepala Devan yang masih terbenam diantara kedua payu dara nya. Devan mendongak, menatap Naya yang meringis seperti sedang merasakan sesuatu
"Naya mau pipis, toiletnya dimana?". Tanya Naya terburu-buru
"Itu, dipojok". Jawab Devan seraya menunjuk, Naya mengangguk paham dan segera turun dari pangkuan Devan
Naya berlari menuju toilet seraya merapihkan kembali pakaiannya
"Astaghfirullah, apa yang udah gue lakuin ke Naya. Maafin gue, Nay". Batin Devan mengusap kasar wajahnya
---
Duh, satu chapter isinya adegan mereka lagi melepas rindu 😥 harap maklum, guys, Devan super penasaran wkskkw
Kasihan juga Devan udah stress selama Naya hilang, jadi aku mau bikin Devan senang lagi. Tapi diakhir dia kayak nyesal, ya? Kenapa?
Yang kepo lanjutannya, bisa di like dulu, komen, vote dan hadiahnya biar aku semangat update. Saranghaeyoooo😚
__ADS_1