Childish Wife

Childish Wife
CW-26


__ADS_3

"Devan, maafin Naya, ya. Naya harus pergi. Jujur, sebenarnya Naya takut diluar sendirian, tapi Naya butuh waktu buat nenangin diri..."


"Terimakasih selama ini Devan udah baik sama Naya. Terimakasih juga untuk mama Santi, papa Willy dan abang Dilan. Naya senang bisa kenal sama keluarga sebaik keluarga Devan..."


"Oh, iya. Naya titip Tuti sama Bejo, ya, jaga mereka dengan baik. Dan jangan cari Naya. Naya akan baik-baik aja, kok"


"Naya? Lo kabur?"


Devan mengerang keras seraya mengepal kedua tangannya. Ia lempar sepucuk surat yang ada ditangannya lalu berlari menuju lemari pakaian, memperhatikan sebagian pakaian Naya yang hilang. Benar, Naya telah pergi meninggalkan rumahnya


Devan menarik rambut frustasi, seketika wajahnya memanas dengan emosi yang menggebu. Darahnya mendidih, sepanas amarah yang sedang membakar tubuhnya


Berlari keluar kamar, Devan menuruni tangga menuju ruang monitor CCTV setelah menyambar kunci mobil dan ponselnya, ia ingin memantau kepergian Naya secara diam-diam dari rumah mereka


"Setengah jam yang lalu? Naya pergi setengah jam yang lalu?"


"AARGHH!!". Teriak Devan seraya membuang seluruh benda yang ada diatas meja monitor


"NAYA! LO NGGA BOLEH NINGGALIN GUE!".


Merasa sangat emosional, Devan mulai mengusap air di pelupuk matanya, ia segera berlari meninggalkan ruangan menuju pintu utama, namun ia menabrak sang kakak yang hendak masuk kedalam


"Anjir, lo ngapain lari-lari?!". Protes Dilan seraya mengusap bahunya yang sempat berbenturan dengan Devan


"Mau cari Naya, dia kabur". Jawab Devan saat masuk kedalam mobilnya, "Kabur? Lo serius?". Tanya Dilan yang tidak mendapatkan jawabannya


"Naya kabur? Jam tiga?". Batin Dilan seraya melirik jam tangannya


Disisi lain, Naya sedang berada didalam taksi yang entah kemana arah tujuannya. Beberapa kali sang supir bertanya tujuannya, namun Naya tidak tahu arah. Naya hanya melamun selayaknya orang bingung


"Mbak, udah setengah jam kita mutar-mutar, saya juga harus pulang mbak..."


"Gimana kalo mbak saya antar ke kostan putri? Ada di dekat sini". Ucap supir taksi memberi saran, Naya pun hanya mengangguk pelan


Tidak berselang lama, taksi tersebut berhenti didepan sebuah gang sempit yang ada di sebuah perumahan. Naya menoleh ke sekitar, mencari kostan yang dimaksud supir taksi itu


"Ini mbak, mbak nya tinggal masuk kedalam gang, lalu di pertigaan gang belok kanan, nanti disebelah kanan ada bangunan dua lantai berwarna biru. Nah, disitu kostannya". Ucap supir taksi menjelaskan, Naya pun mengangguk paham


"Terimakasih, pak". Ucap Naya seraya memberikan bayaran argo taksinya


"Loh, ini kebanyakan mbak, argo nya ngga segini".


"Gapapa, ambil aja, pak". Ucap Naya sebelum turun dari taksinya


Sambil menggendong tas pink bergambar barbie miliknya, Naya berjalan memasuki gang yang ukurannya cukup sempit, bahkan gang tersebut tidak bisa dilalui mobil sekalipun


Naya menghela nafas panjang seraya melirik jam tangannya


"Kayaknya Devan belum bangun, Devan pasti belum sadar kalo Naya kabur..."


"Maafin Naya, Devan"


"Jangan kabur!". Teriak seorang pria bersuara berat di sekitar gang yang dilalui Naya


"Itu suara siapa? Jangan-jangan ada maling? Duh, Naya takut"


Kedua kaki Naya bergetar, ia merasa bingung, tidak tahu harus melangkah maju atau mundur seiring dengan langkah gemuruh seperti segerombolan orang yang sedang berlari kearahnya


Dari arah depan, Naya dapat melihat seorang pria berlari tertatih-tatih kearahnya. Naya semakin bingung ditambah rasa panik seketika. Seorang pria memakai hoodie hitam dan kepala yang ditutupi kupluk, menabrak dirinya hingga terhuyung


Pria itu menahan pinggangnya, menahan tubuhnya agar tidak jatuh tertimpa tubuh yang lebih tinggi dan tegap itu


"Naya?".


"Jo, Joseph? Kamu...Joseph?".

__ADS_1


"Ya, lo ngapain disini".


"Naya, Naya kabur- Ya ampun, muka Joseph kenapa? Kok babak belur?". Tanya Naya setelah menyadari wajah Joseph hampir dipenuhi luka lebam kebiruan


"Nanya nya nanti aja, tolongin gue dulu. Kalo ada yang tanya gue lari kemana, bilang aja lo ngga tau".


"Ha? Maksudnya apa?".


"Ck, gue lagi dikejar orang, kalo ada orang yang tanya-"


"Woy! Dimana lo?!". Ucap salah satu orang yang berlari mengejar Joseph


"Joseph, itu mereka-"


"Ikut gue. Lo ngga ngerti apa yang gue bilang". Ucap Joseph seraya menarik tangan Naya untuk pergi meninggalkan posisi mereka


"Joseph, kita...mau kemana?". Tanya Naya dengan nafas ngos-ngosan


"Ikutin aja, kita sembunyi dulu".


"Tapi...Naya...capek".


"Sebentar, Nay". Ucap Joseph seraya melirik kearah sekitar mereka


"Sembunyi disini, masuk". Ucap Joseph menarik tangan Naya agar ikut bersembunyi dengannya pada celah sempit nan gelap diantara dua rumah warga


"Jangan bersuara". Ucap Josep berbisik dengan tangan yang membungkam mulut Naya. Naya pun mengangguk patuh seraya memejamkan kedua matanya didalam pelukan Joseph


"Joseph...Naya...takut...". Gumam Naya


"Sst, jangan bersik, Nay". Bisik Joseph dengan pelukan semakin erat, bermaksud menenangkan Naya agar tidak ketakutan dan mengeluarkan suaranya lagi


Semakin lama, mereka dapat mendengat langkah gemuruh mendekat kearah mereka. Rasa takut Naya semakin menjadi, ia cengkram kuat pakaian Joseph yang ada di genggamannya, seraya berdoa agar mereka tidak ketahuan dan tidak tertangkap


"Joseph? Joseph kenapa?". Tanya Naya cemas, "Gapapa, gue, cuma, capek, hehe. Ayo, keluar". Ucap Joseph seraya membuka kupluk dari kepalanya


"Loh? Joseph? Itu, kening Joseph berdarah". Ucap Naya seraya menunjuk sudut kening Josep yang baru Naya ketahui setelah Joseph melepas kupluknya


"Gapapa, luka kecil. Ayo". Ucap Joseph seraya berbalik untuk keluar dari celah sempit itu, diikuti Naya dibelakangnya


"Nay, ini jam setengah empat pagi". Ucap Joseph melirik jam tangannya, "Lo ngapain diluar jam segini? Lo beneran kabur?". Tanya Joseph saat mereka menyusuri gang menuju jalan utama


"Iya, Naya kabur dari rumah".


"Kenapa? Ada masalah? Tapi tunggu deh, lo lebih mirip anak SD pergi studi tour, dibanding anak SMA yang kabur dari rumah, tas lo lucu banget, hahaha". Ucap Joseph seraya menyentuh tas punggung yang dipakai Naya


"Hehe, Naya buru-buru, jadi asal ambil tas".


"Hmm, terus lo kenapa kabur? Dan kenapa ngga kabur kerumah Devan?Daripada lo diluar kayak gini, bahaya juga buat lo".


"Justru itu, Naya kabur dari-"


"Woy! Jangan lari lo!". Teriak seseorang yang tadi mencari keberadaan mereka. Disusul segerombolan orang dibelakangnya


"Anjing". Gumam Joseph saat menoleh kearah mereka


"Joseph, itu mereka, kan? Ayo lari". Ucap Naya mengguncang lengan Joseph


"Ayo". Ucap Joseph yang kembali menarik tangan Naya untuk berlari


"Naya...ngga kuat...lari...lagi". Keluh Naya seraya mengusap keringatnya


"Tahan, Nay. Gue telfon supir dulu". Ucap Josep seraya merogoh ponsel disaku hoodie nya


"Halo, pak, dimana pak?"

__ADS_1


"Ok"


Itu lah percakapan Joseph yang terdengar ditelinga Naya. Joseph pun membawanya menuju sebuah mobil mewah yang telah menunggu mereka


"Masuk". Ucap Joseph seraya mendorong tubuh Naya masuk kedalam mobil disusul olehnya. Sang supir pun segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi


"Maaf tuan muda? Kita pulang ke mansion atau apartmen?". Tanya supir tersebut


"Mansion". Jawab Joseph


"Baik, tuan muda". Jawab supir mengangguk patuh


"Tuan muda? Sebenarnya Joseph siapa?". Batin Naya menatap wajah Joseph


"Biasa aja ngeliatinnya". Ucap Joseph seraya menyapu wajah Naya dengan telapak tangannya, membuat Naya tersentak dan tersenyum kaku


"Hehe, itu, Naya ngeliatin luka di muka Joseph. Joseph dipukulin sama orang-orang tadi, ya?".


"Iya".


"Kenapa? Kok mereka tega pukulin Joseph? Joseph maling, ya?".


"Ehem, maaf nona, tolong perhatikan ucapan nona pada tuan muda". Ucap sang supir memberi tahu Naya dengan kepala sedikit memutar ke belakang


"Haha, ngga apa-apa, pak. Ini teman saya, jangan di tegur". Ucap Josep tertawa kecil


"Baik, tuan muda".


---


Jam telah menunjukkan pukul enam pagi, Devan baru tiba dirumah dengan kondisi wajah yang kusut, mata sembab dan rambut berantakan. Kepulangannya sudah dinantikan oleh kedua orang tua dan kakaknya


Santi segera memeluk Devan, menenangkan sekaligus memberikan kata-kata sebagai penguat dan penyemangat untuk anak bungsunya itu


"Devan ngga tau mau cari Naya kemana lagi, HP Naya ngga bisa dihubungin dan lokasinya ngga bisa dilacak". Ucap Devan seraya mengusap kasar wajahnya


"Sabar, sayang, mama yakin Naya akan pulang, kok. Ngga mungkin Naya bisa bertahan sendirian diluar sana, iya, kan?".


"Ya, semoga begitu, ma".


"Hmm, kalau kayak gini, Naya sekolah atau enggak, ya?". Ucap Willy bertanya-tanya


"Oh, iya, siapa tau Naya sekolah, lo bisa temuin Naya di sekolah, Van". Ucap Dilan menatap Devan


"Apa gunanya Naya kabur kalau tetap sekolah? Udah pasti Naya kabur karna menghindari gue..."


"Argh! Ini semua sama salah Devan, ma, pah. Devan selalu kasar sama Naya, selalu bentak Naya, salahin Naya..."


"Naya pasti ngga tahan, Naya pasti capek dengan sifat Devan yang kayak gini".


"Ya, jujur papa sempat berfikir begitu".


---


Bersambung


Yuk yuk, siapa yang kepo sama kelanjutannya?


Tombol kepo ada disini ---> klik komentar, ya, hehehe


Aku juga kepo, nih. Gimana pendapat kalian pada chapter ini? Menurut kalian, keputusan Naya kabur dari rumah, benar atau salah?


Ok, sekian dulu, ya~


Jangan lupa dukungannya kalau mau lihat kelanjutan kisah pelarian Naya yang tidak sengaja bertemu tuan muda, hihihi. Makin seru, niccchhh

__ADS_1


__ADS_2