
"Kamu yakin Nay mau ke sekolah?". Tanya Dilan sambil menatap lekat adik iparnya itu, Naya terlihat mengangguk semangat seraya tersenyum sumringah
"Naya mau ngasih kejutan buat Devan, Devan pasti senang Naya bawain dimsum", Dilan tersenyum seraya mengusap kepala Naya
"Semangat banget sih, yaudah abang anterin ke sekolah".
"Makasih abang".
Setelah membawa Naya bermain di mall, Dilan mengantar Naya menuju sekolahnya untuk menghampiri Devan yang saat itu sedang ada kegiatan organisasi
Meski sebelumnya Devan telah melarang Naya, namun Naya bersikeras untuk menemui suaminya itu sambil membawakan makanan kesukaannya, ia yakin Devan akan senang melihat kedatangannya
Setelah turun dari mobil, Naya melangkah kakinya terlebih dahulu menuju toilet untuk menata kembali rambutnya agar terlihat lebih rapih dari sebelumnya
"Devan pasti kaget liat Naya ada di sekolah"
Setelah bersiap, Naya segera meninggalkan toilet menuju ruang OSIS, ia sudah tidak sabar mengejutkan Devan dengan kedatangannya, senyum ceria terus mengembang dibibirnya selama perjalanan menghampiri suaminya itu
"Woy, Nay. Tumben ke sekolah, emang lo ekskul?". Tanya Fero
"Engga, hehe. Naya mau nyamperin Devan".
"Oh, yaudah sana. Pada ngumpul di aula tuh". Jawab Fero, Naya pun mengangguk singkat dan kembali melangkahkan kakinya
Sambil bersenandung, Naya berjalan menuju aula sekolahnya. Namun langkah Naya terhenti saat ia tidak sengaja menoleh keruang OSIS yang terbuka
"Itu...Devan, kan?"
Naya mematung ditempat, hatinya mendadak sesak melihat Devan sedang bersama seorang siswi didalam ruang osis
Naya tidak tahu pasti siapa murid perempuan itu, karena siswi tersebut terlihat sedang dihimpit tembok dan tubuh Devan yang ada dihadapannya, posisi Devan pun terlihat membungkuk kearah siswi tersebut, membuat fikiran Naya melambung jauh, membayangkan hal yang tidak-tidak melihat adegan didepan matanya itu
Naya memundurkan langkahnya sebelum berlari meninggalkan ruang OSIS dengan air mata yang hampir lolos dari kedua matanya. Apa yang ia lihat tadi? Apa Devan sedang mencium siswi lain didepan matanya?
Naya mulai menerka-nerka, apa ini alasan mengapa Devan melarangnya untuk ikut ke sekolah? Karena Devan tidak ingin Naya mengetahui apa yang dilakukannya disekolah selain mengurus organisasi dan mengurus persiapan acara sekolah mereka
Naya menghentikan laju kakinya saat tiba di parkiran, Naya berjongkok sambil memeluk lututnya dan mulai menangis terisak. Naya bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, apakah lebih baik untuk Naya pulang kerumah atau kembali menemui Devan?
"Ini Naya bukan, sih?". Ucap seorang siswa yang sudah berdiri didepan Naya, Naya pun mendongak sambil menghapus air matanya, "Galang?".
"Ck, bener kan, gue hafal banget sama bando kucing lo..."
"Lo ngapain Nay? Lo nangis?". Naya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Galang
"Bangun". Titah Galang, Naya pun bangun dari posisinya
"Ikut gue, kayak anak ilang lo jongkok disini". Ucap Galang seraya menarik tas yang dipakai Naya
Galang membawa Naya dan mendudukkannya dibangku yang ada dibawah pohon dekat parkiran mobil,
"Lo ngapain disini? Pake nangis, lagi?". Tanya Galang
"Naya ngga nangis, Naya cuma kelilipan". Jawab Naya seraya tersenyum tipis
"Bohong?".
"Beneran, Galang. Naya ngga bohong. Oh iya, Naya bawa dimsum buat Galang..."
"Naya buka, ya". Ucap Naya seraya membuka bungkus makanannya
"Buat gue?".
"Iya".
"Stop, Nay". Ucap Galang seraya menghentikan tangan Naya. Naya pun menatap bingung kearahnya, "Kenapa? Galang ngga mau makan dimsum yang Naya bawa?".
__ADS_1
"Berhenti bohongin gue, lo bawa dimsum ini bukan buat gue, dan gue tau lo habis nangis..."
"Sebenarnya ada apa? Lo kesini buat nemuin Devan kan? Mana Devan nya?".
"Devan...lagi...sibuk". Jawab Naya dengan suara pelan sambil menunduk
"Nay? Sebenarnya ada apa? Jujur sama gue?".
"Ngga ada apa-apa, Galang..."
"Hmm, Naya pulang ya, Galang. Naya capek banget mau istirahat. Ini dimsum nya buat Galang aja, sayang kalo dibuang". Ucap Naya sambil bangun dari duduknya
Belum sempat Galang menjawab, Naya sudah berlari meninggalkannya seorang diri, Galang pun menghela nafas panjang, "Ada yang ngga beres"
Menjelang sore hari, Devan baru tiba dirumah, ia berjalan menuju dapur, meneguk minuman dingin yang ia ambil dari dalam kulkas
"Naya udah kekamar?". Tanya Dilan seraya duduk di kursi makan
"Emang Naya dari mana, kok lu nanya gitu?". Tanya Devan
"Loh, kan tadi siang gue nganter Naya ke sekolah. Ini lo ngga balik sama dia?".
"Gue ngga ketemu Naya di sekolah".
Devan menaruh gelasnya secara kasar diatas meja dan menghampiri sang kakak dimeja makan
"Lo ngga usah bercanda sama gue. Serius lo nganter Naya ke sekolah?". Tanya Devan
"Ngga bercanda, dia maksa ke sekolah ya gue antar sampe gerbang. Gue kira lo ketemu Naya..."
"Kemana tuh, anak". Gumam Dilan
"Lo kenapa ngga ngabarin gue kalo nganter Naya ke sekolah, ha?! Sekarang Naya dimana?!". Bentak Devan
"Santai, santai. Siapa tau dia dikamar".
Devan mencengkram kuat rambutnya, kepanikan pun mulai menyelimuti perasaannya
"Devan, kenapa, sayang?". Tanya Santi, "Naya ngga ada, ma".
"Ini semua gara-gara lo, awas aja kalo sampe Naya kenapa-napa". Ucap Devan sambil menunjuk Dilan
Devan pun membuang nafas kasar dan berlari menuruni tangga, ia harus kembali sekolah untuk mencari Naya
"Kak Devan, kok balik lagi, ada yang ketinggalan, kak?". Devan menggeleng cepat saat menjawab pertanyaan dari adik kelasnya, ia pun kembali berlari kecil menyusuri lorong koridor setiap kelas
"Lo dimana sih, Nay..."
"Kenapa lo selalu bikin gue panik"
"Van, Van...lo nyari Naya?". Tanya Fero
"Iya! Naya dimana?!".
"Tadi gue liat dia di parkiran sama Galang, tapi ngga tau mereka kemana, udah ngga ada".
"Argh, sial. Lo ada nomor Galang?".
"Engga, coba lo ke warkop, biasanya Galang nongkrong disana, lo tanya aja sama dia".
"Thanks". Ucap Devan seraya menepuk bahu Fero
Devan pun segera kembali menuju mobilnya dan menghampiri lokasi yang diberitahu Fero. Dan benar saja, ternyata Galang ada disana bersama teman-temannya, namun ia tidak melihat Naya disana
"Harusnya gue yang tanya sama lo, gue ngeliat Naya nangis di parkiran, apa yang lo lakuin ke dia?". Tanya Galang
__ADS_1
"Gue ngga ngelakuin apa-apa, bahkan gue ngga tau kalo Naya ke sekolah buat nemuin gue, karna gue udah ngelarang Naya buat kesana".
"Udah gue duga ada yang ngga beres. Coba lo telfon Naya".
"Ck, daritadi udah gue telfon tapi ngga bisa-bisa..."
"Argh!". Devan meninju tembok yang ada didepannya
"Gue kehilangan Naya lagi". Gumam Devan
"Tenang Van, gue bantu lo cari Naya, nanti gue kabarin". Ucap Galang sambil menepuk bahu Devan
Mereka berdua pun segera menuju mobil masing-masing dan berpencar untuk mencari keberadaan Naya
"Ngga ada juga...lo kemana sih, Nay"
Devan membuang nafas kasar, ia sudah mengunjungi beberapa tempat yang sering ia datangi bersama Naya selama dua jam lamanya, namun Naya tidak ada disalah satu tempat tersebut
Devan berlari masuk kedalam mobil, menghindari pakaiannya agar tidak terlalu basah karena saat itu hujan turun sangat deras
Devan melirik jam tangannya, pukul lima sore. Devan pun mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya
Tut...tut...
"Halo, ma"
"Iya, sayang? Gimana? Naya udah ketemu?"
"Loh, justru Devan mau nanya ke mama. Devan kira Naya udah pulang"
"Belum, sayang. Ini papa sama Dilan juga lagi nyari Naya"
"Hmm, yaudah, ma. Devan lanjut nyari Naya lagi"
"Yang sabar, sayang. Nyari nya yang tenang, jangan pakai emosi".
"Iya, ma"
Devan memutus sambungan telfonnya
"Argh!". Devan berteriak seraya memukul stir mobilnya, ia sudah frustasi mencari keberadaan Naya. Ia merasa bingung sendiri, ia menerka-nerka apa yang membuat Naya menghilang seperti ini
Apakah ada seseorang yang menculik istrinya itu atau Naya pergi atas kemauannya sendiri? Tapi mengapa? Devan pun tidak mengetahui alasan Naya menghilang seperti ini
Devan melirik ponselnya saat mendapat panggilan masuk dari Galang. Tanpa pikir panjang, Devan menerima telfon tersebut, berharap Galang membawa kabar baik mengenai keberadaan Naya
"Halo, Lang. Gimana?"
"Naya ada sama gue, gue nemuin dia pingsan di makam orang tuanya, hujan-hujanan ini..."
"Mau gue bawa kerumah sakit A. Lo kesana sekarang"
"Ok, thanks, Lang"
"Yoi"
Tidak mau berlama-lama lagi Devan pun segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit tujuannya
"Naya ke makam ayah sama bunda?..."
"Hujan-hujanan? Pingsan?..."
"Sebenarnya apa yang lo pikirin sih, Nay. Astaghfirullah..."
----
__ADS_1
Wuhuuu akhirnya setelah sekian purnama aku punya mood buat lanjutin cerita ini, kayaknya udah pada kabur nih peminatnya wkwkkw
Yuk, yuk ramein lagi, Doain semoga aku konsisten update ya kawan hehe